"Teteh ... dia anakmu?" tunjuk Angga mengarah pada Hilman yang ternyata Anak sang mantan.
“Zalfa ....” Hanin berusaha menebak siapa Zalfa. Zalfa yang sudah ditarik masuk oleh Anah dan meninggalkan kebingungan di wajah Lutfi, Fajar dan Hilman dan sepasang laki-laki dan perempuan yang berdiri di teras rumah mereka.
“Zalfa putriku.”
Duar.
Bak, tersambar petir Hanin langsung limbung saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Angga. Bagaimana bisa dunia yang begitu luas ini terasa sangat sempit. Dari jutaan gadis yang tersedia di muka bumi, kenapa Hilman justru memilih Zalfa untuk dijadikan istri.
“Bun ....” Lutfi merengkuh badan sang istri.
“Ini kenapa, Yah?” tanya Hilman pada Angga. Keningnya berkerut tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ibunda Zalfa tiba-tiba berteriak lantang kalau pertunangan mereka batal dengan menarik masuk Zalfa ke dalam rumah. Padahal pagi tadi Hilman sudah mendapat restu dari keduanya.
Semua tampak bingung, sementara Angga dan Hanin pun tak mampu menjelaskan apa yang terjadi.
__
Flashback
“Gila, tuh cowok kaku banget kayak karet, males banget berurusan dengan cowok model es batu kayak gitu,” gerutu Yani , sahabat Hanin.
Mereka baru saja menghadiri panggung gembira yang diadakan SMK Negeri satu Cirebon. Acara yang dibuka untuk umum sehingga Yani dan Hanin bisa datang ke sana meskipun mereka bukan siswa di sekolah tersebut.
“Kamu lihat saja, minggu depan dia pasti sudah jadi pacarku.”
“Apa!” teriak Yani di depan muka Hanin.
“Gila! Kamu mau pacaran sama cowok model es batu kayak gitu. Aku sih ogah banget.”
“Seru kali punya pacar takut sama cewek. Kagak bakal tuh ada cerita diselingkuhin,” cetus Hanin yang hanya bisa membuat Yani menggelengkan kepala.
Mereka berdua datang ke sana diajak Nugi, teman satu kos mereka yang ternyata sudah menunggu kedatangan Hanin dan Yani bersama seorang temannya yang bernama Angga. Nugi yang humble, ramah, dan kocak saat berbeda dengan Angga yang tak banyak bicara dan diam bak patung di antara keseruan dan teriakan mereka bertiga. Namun, Hanin yang punya bakat menggombal tingkat akut justru tertantang untuk menaklukan kekakuan Angga. Dia juga sudah mengantongi nomor ponsel Angga yang didapat dari Nugi.
“Kamu lihat saja, minggu depan aku bawa dia ke acara sekolah kita,” kata Hanin dengan begitu percaya diri.
“Terserah lah, tapi tolong ya, jangan mainin hati anak orang. Kualat kamu, suka gonta-ganti pacar kayak ganti sandal,” tanggap Yani yang sudah hapal dengan sahabatnya yang begitu mudah menjalin hubungan dan pacaran, kemudian putus begitu saja kala sudah menemukan seseorang yang baru tanpa mempedulikan perasaan mantannya yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Seminggu berlalu, Minggu ini ada kreasi seni di sekolah Hanin. Hanin sudah siap dengan celana jeans, kaos lengan panjang berwarna merah. Rambutnya diikat tinggi, dia juga membawa gitar kesayangannya karena nanti Hanin akan menyanyikan sebuah lagu diiringi petikan gitar.
“Mana si cowok es itu, katanya kamu mau bawa dia datang,” tanya Yani mencari Angga yang belum terlihat batang hidungnya.
“Santai, bentar lagi juga datang bareng Nugi.”
“Eh, tuh mereka,” tunjuk Hanin pada empat pria yang berjalan ke arah mereka.
Nugi ternyata bukan hanya datang dengan Angga, tapi juga bersama kedua teman lainnya yang belum Hanin dan Yani kenal.
“Hi girls, kenalin nih Bimo dan Reza.” Nugi langsung mengajak Yani dan Hanin berhigh five sebelum memperkenalkan kedua temannya pada Hanin dan Yani.
Mereka mengobrol sejenak, Angga sesekali mencuri pandang pada Hanin. Sebuah pesan singkat yang dia terima dari Hanin pagi ini benar-benar membuat Angga penasaran apa yang sebenarnya ingin Hanin ungkapkan sehingga menyuruhnya untuk datang ke acara ini.
Obrolan mereka terjeda saat sang pembawa acara memanggil nama Hanin untuk naik ke atas panggung karena sebelumnya Hanin memang sudah mendaftarkan diri untuk menyanyikan sebuah lagi di acara tersebut,
Hanin naik ke panggung bersama gitarnya, dia duduk di sebuah kursi dengan memangku gitar.
“Tes … tes ....”
Setelah memastikan microphone yang ada didepannya berfungsi dengan baik, HAnin menarik napasnya perlahan sebelum mengucapkan sebuah kalimat pembuka sebelum dia menyanyikan sebuah lagu.
“Selamat pagi Guys ….”
“Pagi,” balas penonton dengan serempak.
Hanin melempar senyum manisnya, tangan kanannya memegang gagang microphone untuk mengurangi kegugupan yang hinggap sebentar saat melihat ramainya penonton di bawah panggung.
“Lagu ini saya persembahkan untuk orang spesial yang satu minggu ini benar-benar mengganggu pikiran.”
“Huuuuu, siapaaaa Hanin?” teriak salah seorang dari bawah panggung.
“Tempat terindah, spesial untuk Kholid Anggara,” ucap Hanin dengan menunjuk Angga yang berdiri bersama teman-temannya.
Tentu saja aksi gila Hanin langsung menimbulkan sorak sorai yang tak henti bersahutan hingga denting gitar yang dia petik mulai menggema.
Bait pertama lagi tempat terindah dinyanyikan Hanin dengan penuh penghayatan. Sesekali netranya mengarah pada Angga yang berdiri kaku bak patung kayu tanpa ekspresi.
Yani dan teman-temannya yang berdiri tak jauh dari rombongan Nugi dan Angga jelas tidak menyangka kalau si Hanin bisa berbuat senekad ini. Sungguh di luar logika mereka kalau Hanin seolah menembak Angga di atas panggung dan disaksikan banyak mata yang jelas kini menjadikan Angga sebagai pusat perhatian mereka
Tepuk tangan menggema saat Hanin selesai menyanyikan sebuah lagu dari band Ungu yang sedang digandrungi remaja seusianya. Lagu tempat terindah yang membuat seorang pria berdiri terpana menyaksikan Hanin melantunkan lagu dengan begitu merdu. Lagu yang katanya dikhusukan untuk dirinya.
“Gila, Bro. Itu beneran ya dia nembak kamu atau apa sih?” tanya Bimo pada Angga. Namun, Angga hanya mengangkat kedua bahu.
Dia pun tidak mengerti kenapa Hanin mengatakan hal tersebut dan apa maksud Hanin melakukannya di depan umum seperti ini. semua pertanyaan itu tak terjawab hingga Angga dan ketiga temannya pulang.
Bayangan Hanin saat mengatakan kalimat pembuka lagu dan menyanyikan lagu tersebut dengan penuh penghayatan membuat Angga terus dihantui senyum manis Hanin. Tak kuasa menyimpan rasa penasaran dengan maksud Hanin melakukan hal itu. Angga pun mengambil ponselnya mengetik sebuah pesan yang berkali-kali dia hapus dan diganti pesan yang baru. Namun, kembali dia hapus saat usai membaca ulang isi pesan yang sudah dia ketik.
[Hanin, apa maksud kata spesial yang tadi pagi kamu katakan?]
Angga langsung mengirim pesan terakhir yang dia ketik tanpa membaca ulang pesan tersebut. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Entah apa tanggapan Hanin, dia sudah tidak peduli karena rasa penasaran begitu saja berkembang sehingga membuat dia terus menebak dan menerka tanpa tahu mana yang benar.
[Spesial karena kamu tak ada duanya.]
Ponsel bergetar dan balasan pesan dari Hanin membuat Angga tanpa sadar mengembangkan senyumnya. Hanin wanita pertama yang berhasil membuat Angga merasakan bunga-bunga cinta yang mekar dan merebak mewarnai hidupnya.
Berawal dari sana Hanin dan Angga menjalin satu hubungan dengan label pacar. Hanin memanggil Angga dengan Aa dan Angga memanggilnya dengan Teteh. Panggilan kesayangan mereka berdua yang kadang membuat Nugi dan Yani tergelak karena pasangan Aa dan Teteh yang dikenal mereka benar-benar memiliki sikap bagai langit dan bumi, bagai api dan air.
Angga dan Hanin, si ceriwis dan si pendiam yang ternyata mampu membawa hubungan pacaran mereka hingga keduanya sama-sama lulus dari sekolah.
Lulus sekolah.
Satu momen yang seharusnya membuat keduanya berbahagia. Namun, tidak dengan Hanin dan Angga. Kelulusan akan membuat jarak mereka melebar begitu jauh. Hanin akan kembali ke kota mangga, ke tempat kelahirannya, tempat dimana dia tinggal bersama kedua orang tuanya.
Besok kedua orang tua Hanin menjemput sang putri dan malam ini Angga kembali mengajak Nugi menyambangi kosan Hanin dan Yani. Selama berpacaran dengan Hanin, keduanya memang hampir tidak pernah jalan berdua karena Hanin selalu mengajak Yani, begitupun dengan Angga yang mengajak serta Nugi bersamanya.
Mereka sepakat kalau tidak akan membiarkan setan di antara mereka sehingga keduanya selalu meminta Yani dan Nugi untuk menemani mereka.
“A, besok aku pulang,” ucap Hanin dengan suara begitu berat. Seberat beban rindu yang pasti akan dia rasakan.
“Emak nyuruh, Teteh untuk melanjutkan kuliah di sana saja. Supaya tidak perlu ngekost karena bisa bolak-balik setiap hari,” sambung Hanin.
“Apa rencana Aa ke depannya?”
“Rencana?” ulang Angga dengan nada bertanya.
“Aa mau lanjut kuliah atau-”
“Kerja, Aa mau kerja. Mau ngumpulin duit buat melamar Teteh, boleh?”
Hanin mengangguk disertai dengan tetes air mata yang perlahan membasahi pipinya. Awalnya dia memang sekedar bermain-main untuk menaklukan hati Angga. Namun, seiring berjalanannya waktu, kepolosan dan ketulusan Angga membuat Hanin pun jatuh hati padanya. Bukan pacaran main-main seperti biasanya. Dia benar-benar berharap hubungannya dengan Angga berakhir dengan lebih baik meskipun kenyataannya saat kelulusan, mau tak mau jarak mereka akan menjadi jauh.
“Teteh teruskan pendidikan Teteh dan Aa akan memantaskan diri Aa untuk bisa bersanding dengan Teteh,” janji yang Angga ucapkan tulus dari lubuk hatinya.
Janji yang bukan hanya sekedar kalimat semu semata karena nyatanya empat tahun dia menjaga cinta dan jani tersebut untuk direalisasikan menjadi kenyataan sesuai dengan apa yang dia harapkan, bersanding dengan Hanin Agustina. Wanita pertama yang membuat dia terpesona, wanita pertama yang menjadi ratu di singgasana hatinya, cinta pertama yang membuat Angga begitu semangat untuk mencapai cita-citanya.
Empat tahun berlalu, Angga kini sudah mendapatkan jabatan terbaik di pabrik Indocement tempatnya bekerja. Minggu ini, 28 oktober, dia melajukan motornya membelah jalanan menuju kota mangga. Tepat di hari sumpah pemuda dia ingin membuktikan kalau janjinya nyata.
“Bu, maaf saya mau nanya rumah Hanin Agustina?” tanya Angga pada seorang pedagang bakso yang mangkal di depan balai desa Sumbon. Desa tempat tinggal gadis yang ditujunya.
“Mau kondangan ya, Mas?” tanya si Ibu yang langsung mengenali foto Hanin yang ditunjukan Angga.
“Kondangan?”
“Iya kondangan, tuh rumahnya masuk gang yang ada janur kuning,” tunjuk ibu pedagang bakso mengarah lurus ke janur kuning yang begitu indah melengkung di depan gang rumah Hanin.
“Hanin menikah, Bu?”