Harusnya Dia Pengantinku

1773 Words
“Iya Hanin hari ini menikah tuh di janurnya tertulis nama Hanin sama siapa tuh Er?” tanya si Ibu pada anak perempuannya yang sedang melayani es tebu. “Tulisannya mah Lutfi, Mi, tapi Erni tidak tahu Lutfi yang mana dan dari mana,” jawab seorang gadis yang memanggil dirinya Erni. Seketika lututku melemas mendengar jawaban si Ibu dan anak yang menegaskan kalau hari ini pernikahan Hanin. Ya Allah, tulang belulang ini serasa rapuh seketika tidak kuat menopang badanku. “Eh, Nang, jangan pingsan. Duduk … duduk, nanti kamu pingsan dikira keracunan makan bakso lagi,” seloroh si ibu yang membantuku untuk duduk di bangku panjang. Dari tempatku duduk, janur kuning dengan kotak tergantung bertuliskan Hanin dan Lutfi melambai diterpa angin. Badan kekar, otot yang besar nyatanya tidak membuatku cukup kuat menerima kenyataan kalau ternyata gadis yang empat tahun mengisi hatiku ternyata malah menikah dengan pria lain tanpa memberikan kepastian terlebih dulu tentang nasib hubungan kami. Iya, kami … aku dan Hanin bukannya saling memegang janji untuk saling menunggu. Aku menunggunya lulus dengan mencari pekerjaan yang nantinya bisa membuat aku layak bersanding dengan seorang sarjana. Yups, Hanin kuliah dan aku pastikan dia sudah lulus mendapat gelar sarjana pendidikan bahasa Inggris sehingga hari ini dia sudah melangsungkan akad nikah dilanjut dengan resepsi dengan seorang pria bernama Lutfi. Aku tidak peduli siapa Lutfi, yang aku pedulikan cuma satu. Kenapa Hanin melupakan janji yang dia ucapkan sebelum kami berpisah empat tahun lalu. Harusnya dia tahu kalau selama ini aku menunggunya. Harusnya dia tahu kalau di hatiku hanya dia yang bertahta. Banyak keharusan yang tidak semestinya dia langgar dan malah membuat aku mendapatkan kenyataan yang tidak sesuai impian. “Nang … nang, kok melamun sih, minum dulu Er. Erni ambilkan minum cepat,” suruh Ibu penjual bakso memerintahkan anaknya. Erni pun segera mengisi gelas kosong dengan air putih dari galon yang tersedia di sana. Dia memberikannya padaku, aku langsung meneguknya hingga tak bersisa. Jangan tanya bagaimana perasaanku saat tahu kalau hari ini, hari dimana aku berniat melamar Hanin justru menjadi hari pernikahannya dengan pria lain. Sakit, kecewa, merasa dibohongi dan dikhianati, itu yang membuat badanku serasa tak bernyawa. Aku lunglai tak bertenaga, hanya duduk diam memandang janur yang terus melambai diterpa hembusan angin. “Nang … sebenarnya Nang ini darimana? Mau kondangan atau ada niat apa cari rumah Hanin?” tanya Ibu penjual Bakso yang kini duduk di sampingku.Sedari tadi dia memanggilku Nang, sebutan untuk anak laki-laki di daerah Indramayu. “Tidak, Bu. Aku ….” “Panggil Mimi saja, Mimi Cas, pedagang Bakso sor Asem Sumbon,” selanya memperkenalkan diri dengan menatap bangga kedai bakso miliknya yang tepat berada di bawah pohon asem yang rindang di sampingnya ada pondok kayu panggung yang kokoh dimana para bapak-bapak terlihat sedang duduk mengobrol sembari menikmati mangkok bakso dan es tebu di hadapan mereka. “Aku teman Hanin dari Cirebon, Mi, Angga.” Aku memperkenalkan diri dengan suara getir. Tidak mungkin aku mengaku pacarnya sementara hari ini dia sedang melangsungkan pernikahan dengan pria lainnya. Sakit, tak berdarah. Merasa teraniaya, tapi tak ada lebam di sekujur badan. Tidak bisa aku gambarkan sakit seperti apa yang menimpaku hingga aku tidak kuasa untuk segera menjauhkan diri dari janur kuning yang melengkung di depan gang rumahnya. “Teman atau pacar, Mas. Teman kok langsung lunglai gitu pas Mimi bilang Hanin nikahan,” sambar Erni yang terlihat cekatan melayani pembeli Bakso. Aku tak menanggapi ucapannya, pacar, mantan pacar atau sekedar teman. Aku pun tidak tahu status apa yang ada di antara aku dan hanin. Setahuku empat tahun lalu kami masih baik-baik aja, kami saling berjanji untuk tetap menjaga hati hingga saat waktu yang ditentukan tiba aku bisa melamarrnya. Hari inilah waktu yang aku tunggu, hari ini seharusnya aku melamar dia untuk menjadi tambatan hati sekaligus kekasih halalku. Namun, hari ini seolah ada batu besar yang menggelinding dan melindasku. Remuk dan redam menerima kenyataan gadis yang selama ini selalu mejadi sumber semangatku malah menikah dengan orang lain. “Iya, ya Er, jangan-jangan pacarnya Hanin. Makanya mau pingsan pas Mimi bilang Hanin nikahan,” sambung Mimi Cas dengan gaya ceplas-ceplos yang membuatnya terlihat ramah di hadapanku. “A-ku, te-man sekolah kok Mi,” gagapku mencoba meyakinkan kalau tidak ada hubungan spesial antara aku dan Hanin. “Masa cuma teman kok wajahnya pucat mirip mayat hidup pas denger Hanin nikah,” imbuh Mimi Cas membuat wajahku mungkin terlihat semakin pias di hadapannya. “Wis, bakso dulu, biar bertenaga, terus kondangan deh lihat suaminya si Hanin gantengnya selevel tidak sama Mas.” Kali ini Erni mulai mengompori agar aku berani melangkahkan kaki ke tenda biru, halah … aku sok tahu menebak tendanya berwarna biru. Hanya saja dalam lagu kan ada ya judul tenda biru. So, aku pikir tuh janur kuning sudah satu paket dengan tenda biru yang bakal menghiasai lokasi hajat rumah si pengantin. Pengantin … saat memikirkan satu kata itu jelas bagai ada ribuan duri yang menghujam dadaku. Harusnya Hanin itu pengantinku. Harusnya aku yang beranding dengannya di pelaminan, bukan pria lain yang sama sekali tidak aku kenal. “Gimana, Mas. Mau bakso tidak?” tanya Si Erni. Aku terpaksa mengangguk sebagai tanda terima kasih sudah singgah ke tempat ini meskipun aku tidak tahu tenggorokanku ini bisa tidak dibawa menelan bulatan-bulatan bakso. Aku memang pria, tapi aku berhak kecewa dan patah hati. Seandainya aku bisa menangis, mungkin itu akan lebih baik untukku menumpahkan semua beban perasaan dan kecewa yang membuat tubuhku terasa terhimpit tembok besar Cina “Ni, Nang … obat galau paling ampuh, bakso Mimi Cas sor asem Jembatan Kemisan Sumbon, paling mantul tenan,” kata Si Mimi sambil menghidangkan semangkuk bakso di hadapanku. Baunya harum, sedap pasti. Namun, rasa hati yang sedang tidak baik-baik saja jelas membuat aku tidak berselera untuk menyantapnya. Tanganku bergetar mengangkat sendok, aku harus mnghormati Mimi Cas dan putrinya yang menyambut ramah orang asing sepertiku. Mereka memang pedagang yang sudah seharusnya memperlakukan pembeli dengan ramah. Namun, aku tidak datang sebagai pembeli, tapi sebagai musafir cinta yang sedang melakukan pencarian dan justru mendapatkan kekecewaan. Mereka bagai malaikat yang memberiku tempat beristirahat sejenak sebelum kembali pulang. “Enak tidak?” tanya Mimi Cas saat aku memasukan suapan pertama ke mulutku. “Enak, mantap, sedap.” Aku mengacungkan kedua ibu jari untuk memuji rasa bakso kuah di hadapanku. Awalnya aku terpaksa menyantapnya, tapi sakit hati itu butuh tenaga ekstra untuk membuat badan ini tetap tegar dan perkasa menghadapi kenyataan yang ada. Satu mangkuk bakso pun masuk ke dalam perutku tanpa ada perlawanan. “Kenyang, Mi. Siap nih menghadapi kenyataan,” ujarku disertai cengiran yang membuat Erni seketika tertawa. “Ngaku juga kan, mantannya Hanin ya,” tebak Erni. Aku mengangguk mantap, meskipun status kami belum ada kata putus sama sekali. Semuanya masih baik-baik saja menurutku. Entah Hanin menganggap hubungan kami seperti apa hingga dia memilih menikah dengan pria lain. “Belum mantan sih, aku masih pacarnya kami belum putus,” akuku dengan memasang senyum lebar untuk menutupi kesedihan yang aku rasakan. “Wah … masih pacarnya Hanin, keren sekali dia sudah nikah belum putus sama Mas,” seru Erni. Matanya membola lebar dan tertarik duduk di hadapanku. Mungkin si Erni ingin sedikit mengorek informasi tentang hubungan aku dan Hanin yang kini sudah tinggal kenangan. Tidak mungkin aku perjuangkan Hanin karena dosa untukku masih berharap wanita yang sudah bersuami untuk aku milik. “Kok bisa Mas, belum putus sudah ditinggal kawin.” “Nikah, Mbak, bukan kawin,” ralatku membuat Erni menepuk dahinya. “Er, kawin sama nikah beda ya?” Mimi Cas bertanya pada putrinya. “Beda, Mi. Kalau nikah mah terima kula, kalau kawin mah berdua saja malam pertama.” “Bhahahaha.” Aku terbahak mendengar jawaban Erni. Tawa di saat berduka itu cukup bagus efeknya. Setidaknya aku tidak melulu menggerutu dan melebarkan luka di hati yang bisa terus menganga setiap mengingat kenangan aku dan Hanin, si ceriwis manis yang membuat aku jatuh cinta hingga mampu setia dalam penantian empat tahun lamanya. “Bisa ketawa juga ditinggal nikah, Mas,” sindir Erni yang terpaksa membuat tawaku berhenti seketika. “Mungkin belum jodoh Mbak. Kalau kata lagu mah aku bukan jodohnya.” “Wis lah mantap, tapi tetap sakit Mas, lara, perih plus nyeri hati,” sahut Erni cepat. Aku meringis dan mengangguki sebagai tanda setuju dengan omongannya. Memang seperti itu rasanya, sakitnya tuh perih seperti tersayat pisau, tapi tidak berdarah. “Mau diantar ke sana,” tawar Erni. Aku langsung menggeleng, buat apa aku ke sana. semakin menambah luka hati yang sudah kadung membuat aku terlihat konyol di depan ibu dan anak yang berusaha menghibur dan menegarkan aku. “Lah, lumayan Nang, numpang makan gratisan,” cetus Mimi Cas. “Oh my god.” Aku menepuk dahi. Bisa-bisanya si Mimi berpikir bab makan gratisan saat aku di sini merasa kesakitan. Makan bakso saja aku paksa supaya masuk dan tertelan, ini malah suruh maka di prasmanan si Hanin. Tidak … aku melambaikan tangan tanda menyerah dan tidak bisa tegar untuk mengucapkan selamat pada Hanin dan suaminya. “Mi, baksonya berapa?” tanyaku yang sudah merasa lebih baik dan memutuskan untuk segera pulang. Buat apa terlalu lama di sini, tidak akan ada efek berarti. Tidak baik juga aku datang bikin huru-hara mengaku pacar si Hanin di hadapan keluarganya. “Sepuluh ribu sama es.” Aku mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribuan. “Kembaliannya buat Mimi saja, terima kasih ya Mi,” ucapku menyalami Mimi Cas dan Erni bergantian. “Wah matur suwun Nang, nanti kapan-kapan mampir lagi ya,” katanya. Aku mengangguk saja, meskipun rasanya tidak mungkin kembali lagi ke tempat ini. Aku terlambat … aku tidak menyangka kalau wanita juga bisa tidak setia dengan janjinya. Rasanya ingin bertanya kenapa dan menyalahkan keputusan Hanin. Hanya saja, ini semua mungkin alur dan lakon yang sudah Allah pilihkan untuk kami, terlebih spesial untuk aku yang yang harus belajar menata hati dan mengubur semua impian manis yang sudah aku susun dan siap direalisasikan bersama Hanin. “Hati-hati ya Nang, semoga dapat jodoh yang lebih baik dari Hanin,” pesan Mimi Cas melepas kepergianku. Aku tersenyum sebelum membawa motor ini menjauh dari kedai bakso miliknya. Roda motor ini aku bawa kembali berputar dan beradu dengan aspal jalanan. Indramayu-Palimanan tadinya terasa begitu dekat saat semua angan dan cintaku belum terpatahkan. Namun, sakit hati membuat aku merasa roda ini begitu lama berputar. Palang pintu kereta api menghentikan laju motorku. Aku membuka helm full face untuk memindai pemandangan asri pesawahan yang sejuk dipandang mata. “Angga?” Sebuah suara seperti memanggil namaku. Aku pun menoleh ke samping dan mendapat wajah yang tak samar aku kenali sedang menatap ke arahku. “Habis kondangan ke Hanin?” tanyaku mencoba mengontrol agar tidak ada unsur emosi dalam suaraku. Dia mengangguk dengan tatapan miris seolah mengasihaniku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD