Jangan berduka. Apapun yang hilang darimu akan kembali dalam wujud lain. -Jalaluddin Rumi.
.
"Hai, Naura," sapanya membuatku kaget, bersamaan saat Mas Erga menoleh dengan mata memicing.
"H—hai, maaf siapa, ya?"
"Saya Bilal Azizi. Panggil saja Bilal. Saya ke sini ingin bertemu Om Abdul?"
"Tapi, bertamu ke rumah orang tidak harus pagi-pagi sekali, kan?" potong Mas Erga membuatku melotot ke arahnya. Selain tidak setia, ternyata laki-laki itu juga nir adab.
"Oh, saya memang diundang sama Om Abdul dan Tante Wardah untuk sarapan."
Jawaban laki-laki yang baru saja memperkenalkan dirinya itu membuatku kaget setengah mati. Diundang untuk sarapan? Memangnya, sedekat apa laki-laki asing ini dengan keluargaku? Namun, ketika aku hendak bersuara, lagi-lagi Mas Erga dengan cekatan mengambil alih.
Seolah laki-laki yang baru berstatus mantanku secara agama itu, memiliki segudang rasa penasaran yang tak kalah besar terhadap laki-laki bernama Bilal Azizi, yang jika dilihat dari perawakannya jauh di atas Mas Erga.
Tiga dan sembilan-lah perbandingannya.
Jauh.
"Diundang buat sarapan? Memangnya Anda siapanya?" Mas Erga kembali bertanya dengan wajah angkuhnya.
" Ayah saya dan Om Abdul sudah lama berteman. Jadi, keluarga kami sudah seperti saudara. Saya sering kemari kalau senggang, tapi, baru kali ini bertemu Naura. Oh ya, Anda sendiri siapa?"
Mendapat serangan balik secara tiba-tiba membuat Mas Erga salah tingkah. Lalu, tanda kuduga, laki-laki itu malah mengulurkan tangan pada lawan bicaranya.
"Kenalkan, saya Erga, suaminya Naura."
"Oh. Saya Bilal."
What!
Suami? Apa laki-laki ini benar-benar sudah hilang kewarasannya? Baru semalam dia mengucapkan kata talak dengan lantang, dan sekarang malah mengakui dirinya sebagai suami. Ingin sekali kusiram teh yang masih panas ini ke wajahnya.
"Eum, siapa tadi, Mas Bilal mari masuk dulu, Mas, nanti kita bicara di dalam. Sepertinya Papa sudah menunggu di dalam."
"Ayo, silahkan Mas!"
Sengaja kupersilahkan Mas Bilal masuk lebih dulu. Tidak mungkin kan, mengusir sang mantan di hadapan tamu Papa dan Mama. Tidak elok, rasanya.
Setidak eloknya kisah cinta kami. Kisah cinta yang jauh berbeda dengan yang digambarkan dalam syair sang sufi: cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam. -Jalaluddin Rumi.
"Kalau begitu, saya duluan."
"Iya, Mas." Aku mencoba bersikap seramah mungkin, dan wajah jengkel Mas Erga terlihat jelas lewat ekor mata. Maaf, tapi aku sangat menikmati momen berharga ini, Mas.
"Ganteng ya, Mas."
Sengaja aku berbasa-basi dengan Mas Erga. Ah, lebih tepatnya membuat suasana yang tadinya canggung menjadi sedikit panas.
"Hah, siapa?" tanyanya tampak salting.
Apa laki-laki ini berpikir aku baru saja melempar pujian tersebut untuknya. No, di mataku Mas Erga tidak lagi tampan sama sekali. Perlakuannya terhadap 'ku-lah yang menentukan kadar ketampanannya bertambah atau berkurang.
"Itu Mas Bilal. Ganteng banget, ya. Udah tampan, punya tubuh atletis lagi. Sepertinya juga berkelas. Idaman cewe-cewe banget, apalagi janda muda sepertiku."
Ya Tuhan, baru sehari menjadi janda, aku sudah bertingkah mur@han seperti ini. Tapi, tidak apa-apa. Selama itu bisa membuat mantan panas dingin apapun akan kulakukan. Toh, dia sendiri yang mencari gara-gara ke rumahku pagi-pagi begini. Menggagalkan acara minum tehku saja.
"Eum, begini Naura. Kasih waktu sebentar untuk Mas bicara. Kita berdua harus ngobrol dengan kepala dingin, dari hati ke hati. Aku mengaku salah, Nau—"
"Mas, sebaiknya kalau bukan hal penting yang mau diomongi, mending Mas pulang saja. Rumah kami lagi kedatangan tamu soalnya, sebagai tuan rumah yang baik aku harus ikut sarapan bersama, untuk menghormati. Apalagi tamunya ganteng gitu, rugi dong kalau diabaikan."
"Tapi, Naura ...."
"Oh ya, Mas, lain kali kalau ada yang nanya Mas siapa, tolong jangan ngaku-ngaku suami aku, ya. Ingat, kita baru saja cerai."
"Naura, kamu ...."
Tanpa menunggu Mas Erga menyelesaikan kalimatnya, aku mundur beberapa langkah dan menutup pintu dengan keras. Namun, baru saja hatiku berbunga karena berhasil membuat panas sang mantan, kini seonggok daging dalam dadaku mendadak kuncup.
Tubuhku menciut,sesegera mungkin aku ingin bersembunyi di lapisan kerak bumi, selamanya. Sejak kapan Mas Bilal berdiri di situ. Bukankah tadi aku sudah menyuruhnya untuk masuk lebih dulu.
Bagaimana ... kalau ada ucapan absurdku yang terdengar olehnya. Mau dibawa ke mana muka ini.
"Mas Bilal, eum ... sudah lama di situ?"
"Oh, tidak. Maaf, mengganggu waktu kamu dan suami eh, man—tan, tadi Afra menanyakan Mamanya, jadi saya ke sini mau memanggil kamu."
Mantan suami? Kenapa aku menjadi tidak yakin kalau Mas Bilal baru saja berdiri di situ. Apa jangan-jangan dia juga ikut mendengar saat aku memujinya. Ya Tuhan, semoga saja itu tidak terjadi. Mati aku, mati.
Tapi, tunggu dulu, wajah Mas Bilal bahkan terlihat sedikit memerah. Tidak mungkin kan dia kepanasan, setiap ruangan di rumah ini dilengkapi Ac, dan sejuknya suasana pagi juga masih terasa.
"I—ya, Mas. Terima kasih. Kalau begitu saya ke belakang dulu."
Tanpa menunggu lagi, aku segera kabur dari hadapan Mas Bilal. Entah mimpi apa aku semalam, pagi-pagi sudah mempermalukan diri sendiri.
.
Ada banyak menu makanan terhidang di atas meja. Orang-orang pun sudah bersiap untuk mencicipi masakan Bi Lasmi yang tanpa diragukan lagi kelezatannya.
Saat masih gadis dulu, aku sering sekali meminta diajari memasak oleh wanita paruh baya yang sudah 15 tahun lebih bekerja di rumah. Saat ingin belajar menu baru, bukan Om google yang kuincar, tapi Bi Lasmi.
Namun, entah kenapa pagi ini masakan Bi Lasmi terlihat tidak menggugah selera. Meski sudah kutepis mati-matian, ingatan itu tetap masih mengganggu pikiranku. Ingatan tentang Mas Bilal dan hal memalukan yang kulakukan di hadapannya.
"Mama, Afra mau ayam goreng." Suara cempreng Afra membuatku tersadar, dan perhatianku segera teralihkan untuk putri kecilku.
"Iya, Sayang. Sebentar Mama ambilin."
"Mama suapin, ya."
"Iya, Ma."
Setidaknya begini lebih baik, kesibukanku dengan Afra membuatku tidak terlalu fokus dengan keberadaan Mas Bilal, yang posisi duduknya tepat di hadapan kami.
Sarapan pertama di rumah sendiri, kenapa harus secanggung ini?
.
Setelah membantu Mama membereskan meja makan, aku langsung kembali ke kamar, sementara Afra kubiarkan bermain bersama Neneknya.
Sedangkan Papa, masih di ruang tamu dan terlihat sedang membahas hal serius dengan Mas Bilal. Ah, mengingatnya membuatku terus menerus mengutuk diri sendiri. Kenapa aku harus bertingkah sememalukan ini.
Apa Mas Bilal akan mengira kalau aku 'Janda Genit?'
Ya Tuhan.
Semoga saja laki-laki itu cepat pergi dan tidak pernah datang lagi.
'Baiklah, Naura. Lupakan. Ada banyak hal lebih penting yang harus kamu pikiran sekarang.'
Teruntuk Afra, saat gadis kecil itu bertanya tentang keberadaan kami di sini, aku bisa mengatakan, kalau kami sedang berlibur di rumah Nenek. Setidaknya itu alasan yang bisa diterima untuk beberapa hari. Ke depannya, entah bagaimana cara menghadapi bocah yang mulai kritis itu.
Apalagi saat dia menanyakan keberadaan papanya. Belum lagi berkas-berkas perceraian yang harus kusiapkan, serta prosesnya yang harus kujalani. Mungkin akan sedikit sulit, setelah ini.
Baiklah, semangat Naura. Daripada harus menderita sampai mati di sana. Di rumah yang lebih cocok disebut neraka.
.
Pukul 4 sore.
Aku diminta membantu Mama merawat tanaman-tanamannya di halaman depan. Mama bagian mengganti tanah serta memberi pupuk pada beberapa jenis tanaman, aku bagian menyiram yang lainnya.
Kami saling bercerita tentang beberapa kejadian lucu saat aku dan Kak Doni kecil dulu. Hingga sesekali kami tertawa bersama. Sangking lucunya.
Terima kasih, Ma, setidaknya Mama tidak pernah mengungkit bagian yang menjadi lukaku saat ini.
"Assalamualaikum," ujar seseorang yang membuat kami menoleh bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawabku dan Mama berbarengan.
"Oji?"
"Bu Naura, Buk. Saya di suruh Mas Doni kemari untuk bertemu dengan Bapak."
"Oh iya-iya, ya ampun saya sampe lupa. Padahal, baru tadi dibilang sama Papa kamu loh, Ra. Ayo, Nak masuk dulu." Mama menoleh ke arahku, "Naura tolong bawa Oji masuk ke dalam, Mama mau cuci tangan dulu."
"Iya, Ma. Ayo, Ji."
Aku berjalan di depan Oji, sembari membenarkan rambut yang sedikit berantakan karena tiupan angin sore.