Dalam ruangan bercat putih s**u ini, kami duduk dengan tertib menunggu Papa memulai pembicaraan. Aku yang duduk di sebelah Mama, sesekali kulihat ke arah Oji yang lebih banyak menunduk. Mungkin grogi.
Barulah setelah Bi Lasmi berlalu dari mengantar minuman dan teman-temannya, Papa mulai membuka suara. Seperti biasa, tenang dan bijaksana.
"Silahkan, diminum dulu, Nak."
"Baik, Pak."
Kenapa suasananya jadi canggung seperti ini, seperti calon mantu yang sedang berhadapan dengan calon mertua. Hehe.
"Begini Nak Oji, Naura sudah memberi tahu saya alasan kamu mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya. Sebelumnya, saya selaku Papa Naura meminta maaf dan berterima kasih karena kamu sudah mencoba melindungi putri saya dari Erga," ucap Papa terdengar tulus.
Ya, aku pun tidak lupa. Jika Oji tidak ada, mungkin tangan Mas Erga sudah mendarat ke wajahku.
Oji mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Papa, "iya, Om. Sama-sama. Sebenarnya itu sudah menjadi tugas saya, walau bagaimanapun, selama saya berkerja di sana, Bu Naura adalah majikan saya. Jadi, Om tidak perlu meminta maaf."
"Tapi, sekarang saya bukan lagi majikan kamu, kan. Jadi, tidak perlu panggil Bu Naura lagi dong. Kedengarannya saya sudah tua sekali," timpalku yang mengundang tawa kecil dari mereka.
"Baiklah, Nak Oji. Kebetulan anak saya Doni baru membuka restoran cabang di jalan Sejuk Asri, kalau berkenan, saya ingin merekrut kamu sebagai manager di sana. Bagaimana?"
Perkataan Papa membuatku sedikit kaget, Kak Doni buka cabang lagi, dan mereka sudah membicarakan akan memperkerjakan Oji tanpa memberi tahuku. Memangnya kapan mereka berdiskusi masalah ini, sepertinya hanya aku yang tidak diberi tahu di sini.
Apa aku masih dianggap anak kecil, atau tidak dianggap siapa-siapa? Meski sedikit jengkel, aku sangat berterima kasih dengan Papa dan Kak Doni, mereka mau membantu menyelesaikan masalah yang menimpaku. Mereka tidak menelantarkanku dan Afra. Juga tidak pernah menyalahkanku atas kejadian ini.
Padahal, Papa dan Mama bisa saja mengungkit ketika dulu aku berkeukeuh ingin menikah dengan Mas Erga, dulu. Hanya Mas Erga. Namun, mereka tidak melakukan itu. Lagi-lagi rasa bersalah kembali menghantuiku.
"Eum, sebelumnya saya sangat berterima kasih atas tawaran Bapak. Tapi, saya mengundurkan diri dari tempat Pak Erga bukan karena Bu Naura eh, Naura. Saya sendiri yang tidak betah bekerja di sana. Apalagi dengan sikap Bu Rumana dan saudara perempuan Pak Erga yang angkuh suka semena-mena.
Jadi, Pak Abdul, Bu Wardah, maupun Naura tidak perlu merasa bersalah atas pengunduran diri saya. Di sini, saya juga turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Naura."
"Saya tidak meminta kamu untuk menjadi manager karena alasan itu, Nak. Jadi, kamu tidak perlu merasa tidak enak. Selama ini saya tidak pernah sembarangan memperkerjakan orang, apalagi untuk posisi penting seperti itu.
Saya berani merekrut kamu, karena kata Naura kamu orang yang jujur dan disiplin dalam bekerja," jelas Papa panjang lebar. Membuat Oji menoleh sekilas ke arahku. Aku memang sempat bercerita tentang sosok Oji saat dalam perkantoran oulang, semalam.
Dan berdebat dengan Papa kujamin, laki-laki baik itu tidak akan menang. Aku kenal Papa dengan baik.
"Ibu akan sangat sedih kalau kamu menolak tawaran kami, Nak. Zaman sekarang susah sekali mencari orang yang bisa dipercaya. Sementara kamu, Naura sudah mengenal kamu dengan baik. Jadi, kami tidak perlu open recruitment lagi yang banyak memakan waktu." Mama ikut bersuara.
Namun, kebimbangan masih terlihat jelas di wajah laki-laki di ujung sofa sana. Sekilas aku melihatnya sebagai orang yang tulus dan berprinsip. Mungkin, jika aku yang di posisi Oji sekarang, kesempatan seperti ini sudah kusikat dari tadi. Apalagi jika diukur dengan logika, akulah penyebab dia kehilangan pekerjaannya.
"Iya, Oji. Terima saja pekerjaan ini, hitung-hitung sambil kamu mencari pekerjaan lain. Nanti kalau memang kamu merasa kurang cocok dan sudah menemukan pekerjaan lain, kamu bisa keluar."
"Jadi, bagaimana, Nak?" tanya Papa.
"Jujur, sekarang saya memang sedang membutuhkan pekerjaan, tapi, saya juga merasa sungkan kalau saya ditawari bekerja karena ada hubungannya dengan kejadian semalam."
"Tidak sama sekali, Nak Oji. Kamu tenang saja, ini murni karena saya mempertimbangkan kinerja kamu selama ini."
"Kalau begitu, saya mau menerima tawaran Bapak."
"Alhamdulillah kalau begitu."
Hatiku pun ikut berucap syukur, setidaknya aku tidak lagi berhutang rasa bersalah pada laki-laki itu. Aku sedikit lega sekarang.
"Tapi, untuk posisi manager, saya belum berpengalaman sama sekali."
"Tenang saja. Nanti Doni akan memberi kamu arahan, terkait apa yang harus kamu lakukan. Dulu sebelum restoran saya serahkan sepenuhnya pada Doni, saya menempatkannya sebagai manager di restoran cabang, sama seperti kamu, dia juga beralasan belum berpengalaman. Saat itu, saya sendiri yang mengawasinya, sampai anak itu cukup berpengalaman dan siap turun tangan sendiri dalam bisnis yang kami geluti."
"Baik, Pak. Terima kasih atas kebaikannya kalian semua. Saya senang sekali, dan tidak menyangka bisa mendapatkan pekerjaan secepat ini. Semoga nantinya saya tidak mengecewakan kalian."
"Hehehe. Mungkin ini memang sudah jalan rezeki kamu. Jagalah baik-baik kepercayaan yang saya berikan."
"Baik, Pak."
"Silahkan diminum teh nya, Nak!" seru Mama.
Kami masih berbincang-bincang di sofa, sebelum akhirnya Oji pamit untuk pulang. Tidak lupa Papa juga memberinya sedikit uang untuk biaya hidupnya sampai dia gajian nanti.
"Mama." Afra menghampiriku dengan wajah lesu khas anak kecil baru bangun tidur.
"Eh, Sayang! Udah bangun? Sini cium dulu."
"Kok bau acem, sih."
"Hehehe. Geli, Ma! Hehe."
"Hehehe. Anak Mama udah pinter bobo siangnya tanpa perlu nangis dulu sekarang, ya."
"Iya dong, Ma. Kata Kakek, Afra bakal diajak jalan-jalan sore kalau mau bobo siang. Iya kan, Kek?" Anakku menoleh papa kakeknya. Meminta jawaban.
"Iya dong. Tapi, Afra harus mandi dulu."
"Yaudah, ayo, kita mandi, Sayang."
"Ayo, Ma. Cepetan Ma, nanti Afra ditinggal jalan-jalan sama Kakek!" seru bocah itu girang sambil menarik-narik bajuku.
"Awas jatuh, Sayang. Hati-hati."
"Iya, Nek."
"Ma, Pa, Naura ke atas dulu ya, mau mandiin Afra."
Setelah mendapatkan anggukan dari mereka, aku segera mengikuti langkah putri kecilku yang tampak tidak sabar untuk segera sampai ke kamar.
Besar harapanku untuk melihatnya terus ceria seperti itu.
.
Setelah Mama dan Papa pergi membawa Afra jalan-jalan. Aku kembali melanjutkan kegiatan menyiram tanaman yang tadi sempat tertunda.
Tiba-tiba suara yang begitu kukenali terdengar berisik di telinga.
"Naura!"
"Mama, Kak Santi, untuk apa kalian kemari?"
"Asal kamu tahu, ya, anak saya turun jabatan! Dan Erga bilang ini semua karena kamu!"
Aku menghirup udara sebanyak mungkin, mencoba mengatur emosi agar tetap terkontrol. Tadi pagi Mas Erga, sekarang Ibu dan kakaknya. Entah kapan hidupku bisa tenang tanpa dihantui bayang- bayang mereka.
Next?