Dari beragam bentuk wajah yang telah mereka tunjukkan, wajah yang mereka perlihatkan hari ini adalah yang paling mengerikan.
"Asal kamu tahu, ya, anak saya turun jabatan! Dan Erga bilang ini semua karena kamu!"
Aku menghirup udara sebanyak mungkin, mencoba mengatur emosi agar tetap terkontrol. Tadi pagi Mas Erga, sekarang Ibu dan kakaknya. Entah kapan hidupku bisa tenang tanpa dihantui bayang- bayang mereka.
"Anak Ibu yang turun jabatan kenapa malah menyalahkan saya?" Aku masih mencoba tetap tenang, meski dalam hati dongkol bukan main.
Jika tidak menganggapnya orang yang lebih tua dan harus dihormati, mungkin selang air yang sedang kugunakan untuk menyiram tanaman, sudah berubah fungsi.
"Memangnya siapa lagi yang harus disalahkan selain kamu, hah? Pasti ini ulah kamu dan keluarga kamu! Jangan pikir kami bodoh, tidak tahu kelakuan busuk kalian. Keluarga kamu pasti tidak terima, kan, anaknya ditalak sama adikku!
Secara kan, adikku sudah kaya sekarang, mandiri, punya jabatan. Enggak kayak kamu, percuma punya orang tua kaya, tapi anaknya cuma jadi IRT, bisanya cuma ngabisin duit suami," pongah Kak Santi dengan berkacak pinggang.
Aku hampir terbahak mendengarnya, 'orangtuaku tidak terima aku ditalak Mas Erga?' Yang benar saja.
"Ternyata Kak Santi cukup percaya diri dalam mengambil kesimpulan, ya. Padahal, baru tadi pagi Mas Erga datang kemari untuk mengemis agar aku mau kembali menjadi istrinya? Jadi, yang belum bisa terima perpisahan ini sebenarnya, siapa?" tanyaku tersenyum sembari memainkan helain rambut dengan ujung jari.
Sementara dua wanita beda generasi yang berdiri dalam jarak beberapa meter di sana sama-sama membelalakkan mata, tidak percaya.
Lalu, mantan Ibu mertua maju beberapa langkah dengan angkuhnya.
"Jangan ngarang kamu, ya. Tidak mungkin Erga kemari, saya kenal betul anak saya. Lagian, sebentar lagi juga dia akan mencari ganti yang lebih baik dari kamu. Asal kamu tahu, Naura, bukan hanya orang tua kamu yang tidak setuju dengan pernikahan kalian, saya juga tidak pernah setuju kamu menikah dengan Erga.
Erga itu anak laki-laki satu-satunya di keluarga kami, saya ingin dia menikah dengan wanita yang lebih kaya, punya karier bagus, banyak uang, bisa beliin saya ini itu, bukan kayak kamu yang cuma bisa bergantung sama dan ngerepotin suami."
Kudengar Ibu mendesah kasar, sepertinya sangat melelahkan berbicara panjang lebar.
"Coba kalau dulu kamu punya kerja, atau harusnya minta sebagian bisnis orangtua kamu, saya akan menerima kamu sebagai menantu. Alah, emang dasar kamu itu tidak bisa diandalkan."
Meski tidak begitu terkejut mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu—mengingat sikapnya yang tidak kalah mengerikan dari ucapannya. Tapi, setiap poin yang berhasil tertangkap oleh indra pendengaran membuat hatiku tergelitik.
Ternyata begini rupa asli Ibu dan iparku sebenarnya. Aku tak sudi diperlakukan layaknya menantu, tersebab tak terpenuhinya salah satu persyaratan yang sudah mereka tetapkan. Karena bukan wanita karier aku tak masuk kriteria menantu idaman. Sepicik itu.
Lalu, apa kabarnya Kak Santi? Bukankah kerjaannya hanya menghabiskan duit suami dan Mas Erga. Berfoya-foya bersama sang Ibu dengan gaya hidup melebihi para sosialita.
Entahlah, semakin ke sini, hatiku semakin mantap untuk berpisah. Dan rasa hormat terhadap dua orang yang kini berdiri di hadapan kian menipis. Sekarang, bukan lagi saatnya menunduk penuh takzim, tapi, harus bersikap tak kalah angkuh dari mereka.
Bukankah keangkuhan sepatutnya dibalas dengan keangkuhan?
"Asal Ibu dan Kak Santi tahu, ya, sekarang aku malah sangat bersyukur telah dijatuhkan talak oleh anak laki-laki satu-satunya di keluarga kalian. Punya menantu kok buat diporotin? Serem amat. Aku jadi ikut prihatin untuk wanita yang akan menjadi istri Mas Erga selanjutnya. Kasian sekali dia, punya mertua dan ipar seperti kalian," ujarku dengan mimik wajah yang sengaja kubuat-buat. Hingga yang mendengarnya seperti cacing kepanasan. Untung berada di rumah sendiri, kalau masih di rumah milik anak mereka, entah bagaimana nasibku sekarang.
"Heh, berani sekali kamu, ya. Tidak punya sopan santu bicara sama orang tua. Apa orangtua kamu terlalu sibuk sampai tidak sempat mengajari anaknya tata krama?"
"Iya. Orangtuaku memang sangat sibuk berbisnis, mengembangkan bisnis sampai punya restoran di mana-mana. Jadi enggak sempat ikut campur dalam rumah tangga anak-anaknya."
"Dasar anak tidak punya etika ...."
"Oh ya, nanti Ibu kalau mau nikahin Mas Erga sama wanita kaya dan berkarier, kalau biayanya kurang, jangan sungkan-sungkan buat minta bantu sama orangtuaku, ya. Soalnya, kalau mau menikah dengan wanita yang seperti ekspektasi Ibu, modalnya harus gede, loh.
Secara kan, sumber penghasilan Mas Erga dari kerjaan doang, apalagi sekarang udah turun jabatan, kan. Kayaknya enggak bakal cukup deh, belim lagi buat biaya hidup Ibu dan saudaranya yang selangit. Ingat, Bu, kalau mau mancing ikan kakap jangan pake udang rebon," ucapku panjang lebar, sengaja membuat suasana semakin panas.
Muka Ibu terlihat memerah seperti kepiting rebus dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya, serta tangan yang terkepal. Seperti siap menerkamku sekarang juga.
"Mulut kamu benar-benar tidak disekolahin, ya!" Ibu kembali maju dan gerak-geriknya seperti ingin menghajarku.
"Kalau mau merasakan sensasi mandi di alam terbuka seperti ini, ayo, silahkan mendekat, Bu."
"Bu, udah, Bu. Jangan diladenin, dia lagi stres karena dicampakkan sama Erga. Mending kita pulang sekarang," bisik Kak Santi yang masih bisa kudengar.
Selangkah pun mereka tidak mau kalah sampai mengarang cerita segala.
"Yang ada aku malah stres dan berakhir di rumah sakit jiwa kalau tidak segera diceraikan oleh adik Kak Santi," bantahku dengan masih mencoba bersikap sesantai mungkin. Yang semakin panas biarlah sampai mendidih sekalian.
"Heuh, dasar menantu k*rang ajar. Untung Erga sudah menceraikan kamu!"
"Aku juga beruntung kali, Bu, bisa keluar dari neraka. Oh ya, jangan terlalu haus akan dunia, ingat umur, Bu. Dunia ini fana, akhirat yang kekal."
"Jangan sok ceramahin saya, kamu, ya. Bilang sama keluarga kamu, kalau sampai anak saya dipecat, saya tidak akan tinggal diam." Tunjuknya tepat depan wajahku. Kalau tidak mundur beberapa langkah, mungkin telunjuk Ibu akan mengenai mataku.
"Coba di periksa dulu, Bu. Barangkali Mas Erga turun jabatan itu karena kesalahan dia sendiri."
"Ayo, Santi kita pulang. Enggak ada gunanya ngomong sama wanita stres seperti itu!" Ibu berseru sembari berkacak pinggang. Sebelum akhirnya melangkah pergi.
"Dasar stres!" Mantan kakak iparku masih sempat berteriak saat mereka sudah di depan gerbang.
"Hati-hati, Bu, Kak Santi! Ingat tawaran tadi masih berlaku, ya. Kalau kekurangan biaya minta aja!" balasku tak kalah keras.
Semoga tidak ada tetangga yang lewat dan mendengar drama sore yang terjadi di rumahku. Kalau sempat ada, mau dibawa ke mana wajah Mama sama Papa. Lebih-lebih aku yang kini berubah status, terima tidak terima, pasti ada gunjingan yang akan sampai ke telinga, memang sudah seperti itu aturan mainnya. Seolah janda sangat hina dan membahayakan.
.
Setelah selesai dengan kegiatan siram menyiram, aku memilih bersantai di teras sembari memperhatikan setiap bagian dari perkarangan rumah ini. Tempat di mana aku lahir dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang.
Tidak banyak yang berubah, setelah lima tahun aku tidak tinggal di sini. Hanya area taman yang semakin luas dengan beragam tanaman di dalamnya. Mengingat hobi Mama yang tidak bisa jauh-jauh dari bunga.
Pohon palem di kedua sisi gerbang yang sudah bertambah tinggi dari yang kulihat dulu.
Rindangnya pohon mangga dan rambutan yang mengelilingi gazebo. Serta kolam kecil tempat berkembang biaknya beberapa jenis ikan hias milik Papa yang dibangun memanjang di samping pagar.
Tempat yang sudah lama tak kupijaki, ternyata sangat memanjakan mata saat bersantai di sore hari.
Aku hampir dibuat hanyut oleh suasana damai dan terpaan angin sore yang menembus kulit, hingga suara mobil Papa terdengar memasuki halaman rumah.
Dari jauh, kulihat mereka turun dari mobil dengan wajah sumringah dan bahagia. Dan putriku yang tampak berlari kecil dengan sepasang tangan mungilnya memeluk erat boneka.
"Mama! Afra pulang!" teriak gadis kecilku yang akhirnya mendarat ke pangkuanku bersama boneka barunya.
"Gimana, senang enggak, jalan-jalan sama Kakek sama Nenek?" tanyaku sembari mengelus rambut panjangnya.
"Senang banget, Ma. Kami jalan-jalan ke mall, makan-makan, terus Afra dibeliin ini sama Kakek!" Putriku bangkit dan menunjukkan benda di tangannya. Sementara Papa dan Mama hanya tersenyum menyaksikan tingkah lucu cucu mereka.
Sepertinya suasana hati mereka terlalu cerah untuk kuceritakan kejadian yang baru saja membuat hatiku mendung. Perihal kedatangan Ibu dan Kak Santi mungkin sebaiknya tidak perlu kuberitahu Mama sama Papa.
" Kakek bilang besok bakal diajak jalan-jalan lagi. Iya, kan, Kek?" Gadis kecilku menoleh ke arah Kakeknya.
"Iya, dong. Besok Abang Kenzo mau ke sini, nanti kita jalan-jalan lagi bareng Abang Kenzo."
"Ma, Abang Kenzo, siapa?" Afra bertanya padaku dengan wajah bingung.
"Abang Kenzo, anaknya Om Doni dan Tante Namira. Jadi, Afra dan Abang Kenzo saudara. Jadi, Afra adiknya Abang Kenzo, dan Abang Kenzo adalah Abangnya Afra."
"Oh, ya, makin asik dong kalau di sini Afra ada Abang. Tapi, apa Abang Kenzo dikasih main bareng Afra sama Mama Papanya? Kan, kalau di rumah, kalau Afra main sama Abang Rafa, Tante Santi selalu enggak ngebolehin."
Mendengar pertanyaan putriku membuat hatiku sedikit nyeri. Ingatan, tentang Kak Santi yang selalu melarang anaknya bermain dengan anakku ternyata begitu membekas dalam ingatan Afra.
"Tentu dikasih dong, Sayang. Kan Abang Kenzo sama Afra saudara. Abang Kenzo juga pasti bakalan senang kalau ketemu Afra."
"Iya, Sayang. Afra sama Abang Kenzo kan, sama-sama cucu Nenek. Jadi, pasti boleh dong main sama-sama, nanti ditemani Kakek, ada Nenek juga."
"Horee ...! Makin seru, dong! Ma, Afra lebih suka tinggal di sini daripada di rumah kita. Soalnya di sini orangnya pada baik-baik sama Afra."
"Jadi, Afra senang liburan ke rumah Nenek?"
"Iya, Ma."
"Kalau gitu, gimana kalau kita liburan lebih lama lagi di rumah Nenek?"
"Boleh, Ma. Afra mau!" Seru putriku antusias. Tak hanya aku, Mama dan Papa pun terlihat lega mendengar jawaban dari Afra.
"Kalau nanti Afra jarang ketemu Papa, gimana, Sayang?"
Putriku tampak berpikir beberapa saat. Sementara aku menanti jawabannya dengan perasaan tidak tenang. Pun Mama sama Papa yang terlihat tidak sabar menunggunya bersuara