Kembali Datang

1741 Words
Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakukan. Jalaluddin Rumi. . "Kalau nanti Afra jarang ketemu Papa, gimana, Sayang?" Putriku tampak berpikir beberapa saat. Sementara aku menanti jawabannya dengan perasaan tidak tenang. Pun Mama sama Papa yang terlihat tidak sabar menunggunya bersuara. Afra seperti dilanda kebimbangan, padahal, tak sabar kunantikan jawaban dari sosok mungil yang lebih banyak mengandung bagianku dalam dirinya. Bentuk dan warna bola mata, caranya tertawa, warna kulit, rambut lurus yang kami punya. Semua milikku melekat pada malaikat kecil itu. Hanya bentuk hidung dan bibir yang diambil bagian dari Mas Erga. Selebihnya, aku seperti melihat diri sendiri. Begitu pula kata Mama, yang seperti melihat kembali Naura kecil, saat ini. "Memangnya, Papa nggak akan ke sini buat jenguk kita, Ma?" tanya anakku dengan polosnya. Afra menatapku dengan pupil mata berkedip. Gemas dan lucu. Sekilas aku melirik Mama dan Papa sembari mempersiapkan jawaban paling tepat untuk Afra. "Kan Papa harus kerja, Sayang. Kalau tiap hari ke sini pasti Papa bakal kecapean, soalnya jauh. Kalau hari libur mungkin Papa bisa jenguk Afra." "Jadi, nggak bisa ketemu Papa tiap hari ya, Ma?" tanyanya lesu. Putriku memang dekat dengan Papanya. Kalau aku berterus terang sekarang mengenai hubunganku dan Mas Erga, aku takut membuat Afra hancur. Dia terlalu kecil untuk dipaksa mengerti masalah orang dewasa. "Iya, Sayang, kalau kita lagi di rumah Nenek, Afra nggak bisa ketemu Papa tiap hari." "Kenapa Papa enggak tinggal di sini aja, Ma. Ikut liburan sama kita?" Nyes. "Jarak Jarak kantor Papa sama rumah Nenek kan, jauh juga. Kalau Papa ikut tinggal di sini nanti Papa kejauhan ke kantornya." "Oh gitu ya, Ma. Yaudah, nggak apa-apa kalau kita jarang ketemu Papa. Afra tetap mau terus di sini, Nenek di sini baik, beda sama Nenek di rumah Papa." "Iya, Sayang. Kita tinggal di sini bareng Nenek sama Kakek." 'Maaf, Sayang, Mama harus bohong sama kamu. Semoga suatu saat kamu bisa mengerti dengan keputusan yang Mama ambil.' "Sekarang kita masuk, yuk. Udah mau magrib. Afra sini Kakek gendong." "Wah, cucu perempuan Kakek udah gede, ya!" Aku dan Mama mengekori Papa untuk masuk ke dalam. Meninggalkan langit yang sedang memamerkan pesonanya di luar sana. " Aduh, Afra geli, Kek!" "Hehe!" . Hingga larut malam, mataku belum juga terpejam, karena teringat dengan ucapan menyakitkan yang dilontarkan Ibu tadi sore. Seketika hatiku kembali penuh mengingat perlakuan semena-mena mereka selama ini. Salahku hanya satu, tanpa karier. Padahal, Mas Erga sendiri yang memintaku untuk tidak bekerja, karena dia lebih suka aku fokus mengurus rumah dan anak-anak. Masalah nafkah, biarlah menjadi tanggung jawabnya Begitu, katanya saat hendak melamarku, dulu. Karena terlanjur melayang dengan bujuk rayu Mas Erga, beberapa bulan setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, aku merengek pada Mama dan Papa untuk segera dinikahkan dengan laki-laki pilihan hatiku. Awal-awal menikah, aku merasa diri paling bahagia di dunia, apalagi Mas Erga memberiku rumah sebagai hadiah pernikahan. Hingga tabir tersingkap, dan semuanya berubah. Mas Erga mulai menunjukkan wajah aslinya. Kekasih hatiku tipe laki-laki yang terlanjur nyaman berada di bawah ketiak ibunya. Sementara Ibu mertua dan kakak ipar, mereka memang sudah tidak menyukaiku dari pertama kali kaki ini berpijak di sana. Aku tak pernah dihargai tanpa mereka sebut penyebabnya secara nyata. Hingga membuatku sibuk menerka-nerka. Apa kesalahan diri. Padahal, sebagai istri, ipar, serta menantu, aku sudah berbakti sepenuh hati. Baru tadi sore lapis tabir terakhir terbuka, dan aku bersyukur telah lebih dulu terlepas dari perangkap di mana aku terkurung selama ini. Namun, PR-ku bertambah satu lagi, setelah Afra dan keluarga, karier juga harus kupertimbangkan, agar diriku tidak dipandang rendah orang-orang. . Minggu pagi. Selesai sarapan, aku memilih bersantai di ruang kerluarga sembari menemani Afra bermain. Hingga terdengar suara Kak Doni dan Kak Namira yang sedang berbicara dengan Mama, dari depan. Sepertinya mereka baru tiba. "Sayang, Om sama Tante udah dateng. Kita samperin, yuk!" seruku pada Afra yang tengah asik dengan bonekanya. "Ayo, Ma." Segera kuraih tangan Afra dan membawanya ke depan. "Hai, Afra, salim dulu dong, sama Tante." Kak Namira mengulurkan tangannya pada putriku. "Kenzo, sini kenalan sama Afra!" ujar Kakak iparku pada putranya yang setahun lebih tua dari Afra. "Nah, ini yang namanya Afra, yang Mama cerita semalam. Afra ini anaknya Tante Naura yang Bunda cerita semalam. Jadi, Afra adiknya Abang Kenzo." Kak Namira memperkenalkan Afra pada Kenzo. Mereka memang belum pernah bertemu, kecuali saat mereka masih bayi. Keponakanku mengulurkan tangannya pada Afra, "Hai, namaku Kenzo." "Hai, Abang Kenzo, aku Afra." Putriku menyambut tangan sepupunya, dan keduanya bersalaman. Membuat kami semua tidak bisa menahan senyum. Gemas, melihat tingkah lucu mereka. "Abang Kenzo di belakang ada kolam ikan milik Kakek, terus ikannya besar-besar, kita kasih makan, yuk!" "Ayo, tiap ke sini, abang juga sering diajak Kakek kasih makan ikan." "Ya sudah, ayo Kakek temani kalian untuk kasih makan ikannya. Gimana kalau kita kasih makan ikan yang ada di kolam depan saja, di situ ikannya warna-warni dan cantik-cantik." "Wah, boleh, tuh, ayo, Kek. Ayo, Afra!" "Etts, tungguin Kakek, dong!" "Papa juga ikut." Papa melangkahkan keluar sembari menggandeng kedua cucunya. Sementara Kak Doni mengekor di belakang mereka. Tanpa kusadari, mataku menghangat melihat pemandangan ini. Rumah ini memang cocok untuk tumbuh kembang Afra. Putriku butuh berada di sekeliling orang-orang yang hangat lagi baik dalam bertutur kata. "Mereka cepat akrab, ya." Ucapan Kak Namira seketika membuyarkan lamunanku. "Iya, Kak. Naura pasti senang bisa punya teman, sekarang." "Eh, mumpung anak-anak lagi anteng, mending kalian jalan-jalanlah berdua. Namira ajaklah adikmu itu ke salon. Mama lihat, tubuhnya seperti tidak pernah mendapatkan perawatan. Selama di sana, sepertinya dia tidak pernah disuruh ke salon sama suaminya." Ucapan tajam Mama membuat Kak Namira menatapku dari ujung rambut sampai kaki. "Iya, kusam." "Benarkan, Mama. Sepertinya, selama di sana adikmu terlalu sibuk memperhatikan orang lain sampai tidak sempat memperhatikan diri sendiri." Kalau mertua dan menantu itu sudah mengutarakan pendapatnya, lebih baik aku diam saja. Pasti akan kalah berdebat sama mereka. "Naura, cepetan siap-siap sana! Lupakan masa lalu, sekarang waktunya kita happy-happy! Iya kan, Ma?" seru wanita berkerudung pashmina itu antusias. Dan Mama mengangkat dua jempolnya, tanda setuju. Tidak, sangat setuju. Memang menantu dan mertua yang sangat kompak. . Selesai dari salon dan berbelanja, aku dan Kak Namira mulai merasa lapar. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, tentunya selain lelah akibat berputar-putar, perut juga mulai memberi kode untuk di isi. Hingga akhirnya kami menuju restoran terdekat. Saat menunggu pesanan kami datang, Kak Namira terlihat tengah sibuk dengan ponselnya. Sementara aku, kembali termenung memikirkan ucapan Ibu Mas Erga yang kembali mengganggu. 'Cuma menadahkan tangan pada suami.' Heuh, kalimat itu sudah lewat, kenapa sakitnya masih terasa sampai saat ini? "Kak, Naura boleh nanya, nggak?" Kak Namira menaruh ponselnya di atas meja dan menatapku. "Ya bolehlah. Kamu ini kayak sama siapa aja. Emang mau nanya apa? Kakak perhatiin kamu asik termenung aja dari tadi, kayak ada yang hal serius yang sedang dipikirin." "Emang benar ya, Kak, kalau wanita enggak bekerja atau punya penghasilan posisinya bakal lemah dalam rumah tangga sama di mata keluarga suami?" tanyaku pada wanita cantik yang tampak anggun itu, namun, kalau sedang marah sama garangnya seperti Mama. "Kenyataan di lapangan memang kebanyakan seperti itu, sih. Sering kita dengar, wanita yang tidak bekerja sering dipandang sebelah mata oleh suami atau keluarga suami. Tapi, enggak bisa dipukul rata juga. Itu semua kembali lagi bagaimana cara pandang dan sikap si suami itu sendiri dan keluarganya. Enggak usah jauh-jauh nih ya, Kakak sama Kakak kamu, contohnya. Dulu, pas awal-awal nikah Kakak masih tetap kerja, meski sebenarnya Mas Doni keberatan. Karena Kakak juga sempat berpikir sama dengan kamu, kalau wanita tidak punya power akan hina di mata keluarga suami." Kak Namira tampak menghela nafas." Tapi, setelah Kenzo lahir, akhirnya Kakak memutuskan resign karena ingin menikmati masa-masa bersama anak dan mengurus suami. Dan setelah Kakak murni jadi Ibu Rumah tangga sikap Mas Doni tetap enggak berubah. Dia tetap menghormati Kakak sebagai istri, tetap romantis, bahkan Kakak merasa semakin disayang. Bahkan, semenjak Kakak full di rumah, Kakak kamu mulai pulang lebih awal dan sering menghabiskan waktunya bersama kami ketimbang di luar. Mama sama Papa juga enggak pernah mempermasalahkan status Kakak yang hanya seorang IRT. Malahan Mama pernah bilang, dia senang kalau Kakak punya banyak waktu buat Kenzo dan Mas Doni," jelas Kak Namira panjang lebar. Mendengar ceritanya membuatku sedikit iri. Rumah tangga yang kujalani tidak semanis itu. Sangat jauh perbedaannya. Apakah ini balasan untuk rasa kecewa yang sempat kutoreh di hati Mama dan Papa? Hendak dijodohkan, tapi, malah ngotot harus dengan pilihan sendiri. "Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kamu nanya, gitu?" "Kemarin waktu Papa sama Mama keluar bawa Afra jalan-jalan, Ibu Mas Erga dan Kak Santi ke rumah." "Hah. Buat apa?" "Mas Erga turun jabatan, dan mereka menyalahkan keluarga kita. Terus Ibu sempat bilang, alasan Ibu tidak menyukaiku karena aku tidak berkerja. Padahal, dulu Mas Erga sendiri yang melarangku bekerja agar bisa fokus mengurus rumah." "Jadi itu alasannya, sampai mereka anggap kamu pembantu. Lucu ya, mereka. Memangnya, mereka pikir bisa menemukan tebu yang kedua ujungnya manis? Kalau Erga menyuruhmu tetap di rumah, harusnya mereka bisa menerima kalau kamu tidak bisa menghasilkan uang. Begitupun sebaliknya. Memangnya, menantu bukan manusia apa? Sampai dituntut harus selalu sempurna di hadapan suami, ipar dan mertua. Kalau keluarganya seperti itu, harusnya dulu Erga menikah sama bidadari saja yang bisa memenuhi semua ambisi Ibu dan kakaknya! Emosi Kakak dengarnya!" "Ya begitulah, Kak. Aku juga tidak habis pikir dengan mereka." "Kamu tidak perlu berpikir macam-macam, dulu. Mending sekarang, fokus saja mengurus perceraian. Setelah itu baru kita pikirkan jalannya sama-sama. Kamu tidak sendiri, kamu punya keluarga. Kami semua pasti akan selalu ada buat kamu dan Afra," ujar Kak Namira tersenyum. "Iya, Kak. Makasih ya, buat semuanya. Nanti setelah urusan ini selesai, aku berencana untuk belajar berbisnis sama Papa dan Kak Doni. Aku ingin bangkit dan membungkam mulut orang-orang yang menghinaku." "Keren. Pokoknya selama bukan kembali ke mantan suami kamu itu. Kakak akan selalu dukung kamu." Seru Kak Namira mengacungkan jempolnya. Iparku memang paling best. "Tengkyu, Kakak ipar. Eh, itu pesanannya udah datang." . Menjelang zuhur, mobil yang membawaku dan Kak Namira baru memasuki halaman rumah. Saat turun dari mobil, aku melihat sebuah mobil asing terpakir tidak jauh dari mobil Papa. "Sepertinya ada tamu, Kak. Tuh, ada mobilnya di sana," ujarku pada Kak Namira saat sedang mengeluarkan belanjaan kami dari bagasi. Membuat ipar "Oh, itu, mobilnya anaknya teman Papa. Dia sering ke sini, kok. Kakak sering ketemu kalau lagi di sini." Teman Papa? Sering ke sini? Apa jangan-jangan .... 'Saya memang sering datang kemari.' Tidak mungkin. Semoga itu tidak benar, aku belum siap. "Kalau enggak salah, namanya Bilal." "Apa?!" Ya Tuhan, bahkan ingatanku tentang kejadian memalukan kemarin saja, belum sirna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD