bc

Anuradha, Cinta Tak Pernah Salah

book_age16+
93
FOLLOW
1K
READ
dark
HE
heir/heiress
mystery
like
intro-logo
Blurb

Radha baru saja menamatkan sekolahnya. Ibunya meninggal. Ayahnya harus menanggung hutang yang tidak sedikit guna pengobatan ibunya. Semuanya berubah saat Radha harus menerima lamaran dari Willy, bos ayahnya. Masalah muncul ketika Janu mulai memperhatikan Radha. Janu berpikir Radha adalah perempuan matrelialitis yang menikah hanya untuk mendapatkan harta Willy. Kebencian Janu perlahan memudar begitu tahu penyebab Radha menikah dengan Willy. Apalagi ketika Janu melihat bagaimana Radha semangat dan berjuang menyelesaikan kuliahnya. Benci yang sempat mampir di hati Janu berubah menjadi benih-benih cinta. Lalu bagaimana jika Radha pun menyimpan perasaan yang sama? Akankah mereka bersatu? Lalu bagaimana dengan status keduanya?

chap-preview
Free preview
BAB 1 PILIHAN TERSULIT
“Tapi Pak, Teteh mau kuliah dulu.” Aku menjawab pelan. Kepala ini semakin menunduk tak berani memandang bapak. Jemariku erat meremas ujung kaos yang sedang aku pakai. Permintaan bapak agar aku menikah dengan bosnya sungguh di luar dugaan dan nalarku. “Bapak tidak punya pilihan Teh. Kita butuh uang untuk mengganti semua biaya pengobatan ibumu. Maafkan Bapak. Sungguh, Bapak juga tidak ingin menikahkan Teteh secepat ini. Tapi Pak Willy sudah berjanji akan tetap membiarkan Teteh kuliah. Selain itu, Pak Willy juga akan menanggung semua biaya hidup kita Teh. Termasuk biaya untuk sekolah Nanda dan Putra.” Dengan suara bergetar, bapak masih berusaha meyakinkanku. Aku termenung. Perlahan air mata mulai menetes. Mengapa aku yang harus menanggung semua ini. Batinku mulai berontak. Hening. Bapak dan aku sama-sama diam. Yang terdengar hanya detak jarum jam di dinding. Ruang keluarga yang merangkap ruang tamu itu terasa menyesakkan. Beruntung kedua adikku tidak ada di sini. Nanda sedang di kamarnya. Sementara Putra sedang main ke rumah tetangga sebelah. Aku ingin berontak dan menolak permintaan bapak. Tapi aku tak sanggup. Selama bertahun-tahun bapak telah berjuang untuk tetap membuat keluarga ini baik-baik saja ketika ibu harus melawan kanker kelenjar getah bening yang kian menggerogotinya. *** Bapak bekerja sebagai sopir pribadi Pak Willy. Penghasilan bapak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah dan biaya sekolah ketiga anaknya. Untuk pendidikan, bapak selalu mengupayakan agar aku dan kedua adikku bisa bersekolah di tempat yang bagus. Meskipun dengan begitu bapak dan ibu harus berjuang mati-matian mencari tambahan biaya. Aku pernah meminta pada bapak agar aku bisa bersekolah di sekolah yang biasa-biasa saja. Tapi bapak menolak. Alasan bapak, aku dan kedua adikku harus mampu bersaing di tempat terhebat. Hanya dengan cara seperti itu, maka kami bertiga akan memiliki kemampuan yang mumpuni. “Bergaullah dengan orang-orang pintar. Sehingga kalian bisa memiliki cara berpikir yang hebat.” Itu prinsip yang dipegang bapak. Ibu kami semula hanya ibu rumah tangga yang fokus mengurusi suami dan anak-anak. Namun lambat laun ibu mulai mencoba berjualan kue untuk membantu meringankan beban bapak. Awalnya, setiap pagi ibu menitipkan kue-kue di kantin kantor Pak Willy. Sampai akhirnya ibu memberanikan diri menerima pesanan ketika Pak Willy mencicipi kue ibu dan mengatakan kue itu enak. Sejak itu, Pak Willy selalu memesan pada ibu jika ada acara di kantornya. Ibu yang pendiam dan selalu tersenyum ternyata memendam sakit namun tidak pernah mengeluh sepatah katapun. Ibu baru mau diajak berobat ke dokter setelah beberapa kali demam dan terdapat beberapa benjolan di lehernya. Sejak itu ibu sudah tidak bisa lagi membuat kue. Ibu harus bolak balik ke rumah sakit untuk memeriksakan tubuhnya. Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau ibu terkena kanker getah bening dan sudah stadium lanjut. Kabar ini tentu saja membuat bapak sangat terpukul. Aku dan kedua adikku pun tak kalah sedih. Aku melihat bapak yang mencoba tetap tegar mendampingi ibu berobat dan terus semangat untuk sembuh. Beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar kalau ibu harus segera melakukan operasi. Setelah itu baru kemoterapi. Namun karena ibu menggunakan asuransi, penanganannya relatif lambat. Kondisi ibu yang semakin menurun membuat bapak memutuskan agar ibu berobat ke rumah sakit terbaik dan tidak memakai asuransi. Aku tidak tahu dari mana bapak mendapatkan uang sebanyak itu untuk pengobatan ibu. Selama ibu sakit, aku mulai mengambil alih peran ibu di rumah. Nanda yang kelas 1 SMA sudah bisa membantu mengerjakan sebagian pekerjaan rumah seperti beres-beres dan mencuci baju. Sedangkan Putra yang masih kelas 6 SD aku minta untuk tetap fokus belajar guna menghadapi ujian akhir. Aku sendiri harus pintar-pintar membagi waktu antara sekolah dan mengurus rumah. Sama seperti Putra, aku yang saat itu kelas 3 SMA harus bersiap menghadapi ujian akhir. Operasi ibu berjalan lancar. Kankernya sudah dapat diangkat. Ibu tinggal melanjutkan kemoterapi. Namun sayang, ketika kemoterapi baru berjalan tiga kali, ibu sudah tidak sanggup lagi bertahan.   Pagi itu mendung memayungi keluarga kami. Ibu pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Tak ada tangis di wajah bapak. Namun aku tahu bapak sangat hancur. Bapak memeluk kami bertiga sambil mengantarkan ibu ke peristirahatan terakhirnya. Aku dapat merasakan bahu bapak yang sangat rapuh. Putra tak henti menangis. Dia yang paling dekat dengan ibu. Nanda menggenggam erat jemariku seakan saling berbagi kekuatan. Setelah kepergian ibu, aku baru mengetahui kalau selama ini bapak meminjam uang dari rentenir. Bunga yang harus dibayar oleh bapak berlipat-lipat dari jumlah pinjamannya. Beberapa kali rentenir itu datang ke rumah tanpa mau peduli kondisi bapak. *** “Sebetulnya berapa hutang Bapak ke rentenir itu?” Aku memberanikan diri bertanya. “Semuanya 850 juta Teh.” Bapak menjawab lunglai. Aku kembali termangu. Bahkan rumah yang kami tempati saat ini pun harganya tidak sampai segitu. Apalagi rumah ini adalah rumah warisan dari orang tua ibu. Bapak tidak akan pernah mau menjualnya. “Kalau Teteh mau menerima lamaran Pak Willy, apa semuanya akan baik-baik saja?” Aku merasakan lidahku kelu dan ada sesuatu yang menyumbat di tenggorokan ketika mengucapkan pertanyaan itu. Air mata mulai menganak sungai. Bapak diam. Beranjak pindah dari duduknya dan menghampiriku. Setelah bapak duduk di sampingku, tangannya terulur merangkul bahuku yang sedikit terguncang karena isak yang tertahan. Andai bisa memilih, mungkin bapak pun tidak ingin menikahkan aku dengan Pak Willy. “Apa tidak ada cara lain Pak, selain menikahkan Teteh?” Suara Nanda tiba-tiba saja terdengar. Lalu Nanda menghambur ke pelukanku. Kami bertiga akhirnya sama-sama menangis. “Kalau Teteh keberatan tidak apa-apa. Bapak akan mencari cara lain. Ini semua tanggung jawab Bapak. Bukan tanggung jawab anak-anak Bapak.” Bapak mengusap puncak kepalaku penuh sayang. “Bapak mau membayar rentenir itu dengan cara apa? Bapak mau mencari uang sebanyak itu kemana Pak?” Aku bertanya sambil terisak. “Bapak belum tahu Teh. Tapi Bapak yakin akan ada jalan nantinya. Bapak akan mencoba mencari pekerjaan lain sebagai sampingan.” “Jangan Pak. Tubuh Bapak mungkin sudah tidak akan kuat lagi untuk terus menerus bekerja. Teteh mau menerima lamaran Pak Willy. Tapi dengan syarat, Teteh diizinkan tetap kuliah.” Aku menjawab lirih. Melihat kondisi bapak, aku tidak akan sanggup jika harus menambah beban bapak. “Tapi Teh...” Ucapan bapak terhenti oleh tangis yang terdengar dari mulutnya. “Teteh siap Pak. Asalkan Pak Willy benar-benar menepati janjinya untuk melunasi semua hutang kita dan membantu biaya kuliah Teteh serta sekolah Nanda dan Putra.” “Nanda bisa berhenti sekolah Teh. Kita sama-sama bekerja mencari uang saja.” Nanda terisak. Membayangkan Radha yang harus menikah di usia semuda itu membuat Nanda benar-benar bersedih. “Pikirkan dulu baik-baik Teh. Bapak juga mau coba mencari jalan keluar lain.” Bapak berusaha memberikan semangat. “Keputusan Teteh sudah bulat Pak. Tidak apa-apa Teteh menikah dengan Pak Willy. Asal semua masalah kita bisa terselesaikan.” Aku berusaha meyakinkan bapak dan Nanda. Padahal aku sendiri tidak tahu bahwa keputusan ini mungkin saja akan menjadi awal dari berbagai masalah pelik yang kelak aku hadapi. Masalah yang aku anggap selesai sebetulnya baru saja dimulai. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Desahan Sang Biduan

read
54.4K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.5K
bc

After We Met

read
187.2K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
2.9K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.0K
bc

Istri Pilihan Ibu

read
26.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook