Kepalaku entah kenapa terasa berat. Mata pun rasanya juga berat untuk terbuka. Ada apa denganku? Kucoba mengingat-ingat hal terakhir yang kulakukan.
Melihat Pak Bejo, minum es yang berwarna pink, terus aku nggak ingat apa-apa lagi. Kuketuk-ketukkan tangan pada kepalaku. Siapa tahu aku mengingat lebih banyak hal. Tapi sebelum itu, bagaimana aku sudah berada di dalam kamar kesayanganku?
"Princess .... Ya Tuhan. Untunglah kamu sudah sadar, Sayang?" Mami muncul dari balik pintu dengan wajah khawatirnya. Aku semakin bertanya-tanya, apa yang terjadi padaku? Apa semalam aku cuma mimpi pergi ke club bareng Bora?
"Kenapa Alia di sini, Mi?" Tentu saja aku bingung dengan keadaanku saat ini. Sinar matahari menyusup ke dalam kamar, pertanda hari sudah sangatlah siang.
Bukannya menjawab, mami malah memelukku erat. Ternyata senyaman ini dalam pelukan mami.
"Mi! Ada apa sama Alia, Mi?" Aku benar-benar tak sabar ingin segera mengetahui yang baru saja terjadi padaku.
"Oh! Princess. Papi benar-benar khawatir terjadi hal buruk padamu!" Aku merasa sedikit bersalah setelah melihat papi yang memelukku sambil menangis.
"Pa ... pi ...," kataku lirih. Apa aku kemarin terlalu jahat menilai papi?
"Iya, Sayang." Papi melerai pelukannya. Kini dia menatapku dalam.
"Papi sayang, sama Alia?" Entah kenapa hanya pertanyaan itu yang kutanyakan pada papi.
"Tentu saja, Sayang. Papi sama Mami sangat menyayangimu." Kulihat netra papi yang masih berkaca-kaca. Hatiku tetap saja sakit melihatnya.
Mereka berdua mengangguk padaku.
"Tapi, apa yang terjadi dengan Alia, Mi, Pi?" Bergantian aku menatap keduanya. Kepalaku benar-benar pusing, aku tak bisa mengingat semuanya.
"Bagaimana kamu bisa berada di tempat seperti itu, Al?" Papi menatap tajam ke arahku. Di mana tatapan penuh khawatir tadi yang aku lihat?
"Tempat ... itu?"
"Club! Bagaimana bisa kamu berada di sana, Sayang?" Dengan lembut, mami bertanya padaku. Aku menggigit bibir bawahku, bingung harus bagaimana menceritakannya.
“Kata Papi Alia harus dewasa, bukankah orang dewasa mainnya ke club? Alia hanya menuruti omongan Papi.” Aku mengalihkan pandanganku, tak ingin bertatap muka dengan keduanya.
Kudengar papi membuang napas kasar, “Bukan gitu maksud Papi, Sayang.” Kurasakan tangan papi mengelus rambutku pelan. Aku selalu nyaman mendapatkan perlakuan yang seperti itu.
Kurasakan sudut mataku mulai memanas, ada cairan bening yang menunggu untuk dikeluarkan.
“Semalam Mang Asep menghubungi Mami. Dia khawatir karena memang tidak biasanya kamu ke tempat seperti itu. Dan saat Mami dan Papi masuk kamu sudah tak sadarkan diri karena mabuk.”
“Aku mabuk, Mi?” tanyaku mencoba meyakinkan lagi tentang apa yang baru saja kudengar.
Mereka hanya mengangguk, “Perasaan Alia cuma minum segelas sirup.” Masak minuman yang terlihat imut itu bikin mabuk, sih?
“Kamu terlalu lugu, Sayang. Itu bukan sirup. Tapi, sejenis minuman keras. Untung tidak ada yang berniat jahat padamu.”
Apakah kini aku harus berterima kasih pada Mang Asep karena sudah menghubungi mami sama papi. Seketika aku merinding membayangkan jika mami dan papi nggak segera datang.
“Bora, Mi?” Baru kuingat temanku yang satu itu. Benar-benar nggak ada akhlak, malah bersenang-senang sendiri.
“Mami sama Papi nggak lihat orang lain selain kamu. Meski Mang Asep juga bilang kamu sama Bora. Tapi, kami nggak liat dia.”
Emang beneran itu anak. Mungkin kecanthol temen ena-ena, jadinya aku ditinggalin.
“Pokoknya Mami nggak mau kamu ke sana lagi, Sayang. Bahaya banget buat kamu. Coba kalau ada laki-laki jahat yang manfaatin keadaan ….” Mami menangis, “Mami nggak bisa bayangin hal itu.”
Mami benar-benar menangis kini. Aku benar-benar merasa bersalah. Baru kurasakan kasih sayang mereka begitu besar.
“Maafin Alia, Mi.” Buru-buru kupeluk wanita yang telah melahirkanku itu. Tak pernah bisa kubayangkan aku benar-benar jauh dari mereka. Atau benar ada hal buruk yang menimpaku.
“Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu. Akan ada tamu hari ini.” Mami melerai pelukanku dan mulai mengusap pipinya yang telah basah.
Akhirnya papi dan mami meninggalkanku sendiri di kamar. Tamu? Kenapa sepertinya penting? Sudahlah, aku mau mandi dulu. Aku bersyukur karena aku masih diberi keselamatan oleh Tuhan. Tapi, aku harus bikin pelajaran buat temen laknat yang nggak ingat temen itu.
Sekeluarnya aku dari kamar mandi, di atas kasur telah tergeletak sebuah gaun yang sangat indah. Gaun berwarna peach yang terlihat simple tapi elegan. Apa aku harus mengenakan gaun ini?
Sepenting apa tamu yang akan datang? Apa investor di perusahaan papi? Nanti juga aku bakal mengetahuinya.
Setelah mandi keramas, badanku terasa lebih segar. Pusingku tadi benar-benar hilang. Sepertinya aku memang benar-benar mabuk.
Aku mesti minta penjelasan ke Bora, tapi nggak sekarang. Kata mami sebentar lagi bakal ada tamu, nanti aja setelah tamunya pulang. Penasaran aku dengan tamu yang mami maksud.
“Princess … kamu udah siap?” Mami muncul dari balik pintu. Aku baru saja selesai ganti baju, belum sempat make up.
“Belum, Mi.” Kini aku duduk di depan meja riasku. Mami datang menghampiri dan mulai mendandani wajah cantikku ini. Wajah cantik keturunan dari mami. Tentu saja semua kosmetik yang aku gunakan adalah produk dari Cantika Cosmetic.
Sekali-kali jadi brand ambassador produk kecantikan milik keluarga nggak ada salahnya, ye, ‘kan?
“Sekarang buka mata, Al!” titah mami padaku. Aku pun mengikuti instruksi mami. Aku melihat seorang putri cantik lewat pantulan cermin di hadapanku.
"Ehm …!” Aku benar-benar terpaku dengan hasil pekerjaan tangan mami. Mamiku itu memang bisa segalanya. Tapi, ada satu hal yang mami nggak bisa. Bukan benar-benar nggak bisa, tapi nggak mau. Yaitu menggunakan uang yang dia punya untuk menyenangkan dirinya sendiri.
“Mi, Alia boleh nanya, nggak?” Kini wajah kami berpandangan. Rasa penasaran ini benar-benar menyiksaku.
“Ehm … yang pasti tamu ini sangat penting buat kamu.” Jawaban macam apa itu, Mi? Nggak bikin penasaran Alia hilang malah bikin tambah penasaran. Tamu seperti apa yang penting buat Alia?
“Tok … tok … tok …!” “Masuk, Bik.” Mami sudah sangat yakin jika yang mengetok pintu itu Bik Rini, salah satu asisten rumah tangga kami.
Benar! Bik Rini muncul dari balik pintu, “Tamunya sudah sampai, Nyonya.”
“Baik, Bik. Terima kasih.” Sambil terus menunduk, Bik Rini meninggalkan kamarku.
“Nah! Princess, kamu nunggu di kamar dulu. Biar Mami sama Papi yang menyambut mereka.” Mami pergi meninggalkanku yang masih bengong dengan teka-teki yang sedari tadi berputar-putar di kepalaku.
“Sambutan? Apa tamunya seorang presiden? Tapi, apa hubungannya dengan Alia?” Kini aku hanya bisa berbicara dengan cermin ajaib di hadapanku, yang akan selalu mengatakan bahwa akulah putri paling cantik.
Dengan harap-harap cemas, aku menunggu mami memanggilku untuk keluar. Aku sudah tak bisa menahan rasa penasaran ini. Apa mungkin mereka orang tua kandungku?
Tentu saja mataku membola membayangkan kenyataan itu. Apalagi sikap papi yang mulai berubah. Hanya itu satu kemungkinan yang bisa kupikirkan.
“Apa Alia bukan anak mereka, Tuhan?” Ingin kutanyakan langsung pada Tuhan, tapi tetap saja tidak langsung mendapat jawaban.
“Sayang … gih keluar.” Mami muncul kembali dari balik pintu. Dengan senyum mengembang dia menghampiriku.
Apa artinya senyum itu? Apa mungkin mami merasa bahagia bisa lepas dari gadis manja sepertiku. Membayangkannya, membuat bibirku bergetar. Tentu saja mataku juga memanas hendak mengeluarkan cairannya.
“Jangan buang Alia, Mi.” Spontan aku memeluk mami. Aku nggak mau berpisah dengan mami dan papi dan juga kemewahan yang ada tentunya. Aku sangat mencintai ketiganya.
Mami melerai pelukan kami, “Siapa yang mau buang kamu, Princess?” Mami mengangkat wajahku, namun aku cuma bisa menggeleng dan kembali memeluk mami erat. Seakan benar-benar takut berpisah dengan mereka.
“Alia janji bakal ngurangin manjanya Alia, tapi jangan buang Alia. Alia maunya jadi anak mami sama papi. Nggak mau jadi anak orang lain.” Mamiku yang cantik itu tak langsung menjawab. Aku semakin curiga dengan pikiranku. Jangan-jangan itu memang benar.
“Kamu ngomong apa sih, Sayang. Siapa yang bakal buang kamu? Kamu dapat dari mana pemikiran itu?” Tangisku berhenti, benarkah yang dibilang mami?
“Terus tamu yang datang apa hubungannya sama Alia, Mi?” Tentu saja aku masih penasaran tentang itu.
“Jangan pikir macem-macem. Ini nggak seperti yang kamu bayangin. Udah, ayo keluar!” Dengan patuh aku mengikuti mami yang berjalan menuju ruang tamu.
Jantungku benar-benar berdebar kali ini, entah apa yang menungguku di sana.
Aku masih menunduk saat mami menghentikan langkahnya. Takut melihat apa yang ada di depanku.
“Perkenalkan, ini Alia anak kami.” Aku sangat mengenal suara berat ini, pasti papi.
Kenapa ini? Aku merasa seperti anak gadis yang akan dikenalkan dengan calon besan. Apa?! Besan. Jangan-jangan? Kuberanikan diri menengadah menatap mereka. Ada banyak orang.
Salah duanya teman mami yang kemarin datang ke sini, Om Burhan dan Tante Zainab. Apa kemarin mereka ke sini membahas tentang ini? Tapi, kok nggak ngomong sama Alia, sih? Siapa tahu Alia nggak mau.
Mereka semua tersenyum padaku. Apa juga itu? Mereka bawa banyak bingkisan. Ada sekitar tujuh orang yang datang, aku tadi sempat ngitung sih.
Jika benar ini acara lamaran, siapa yang akan menikah denganku? Dari semua yang datang tak ada yang masih muda. Sudah bapak-bapak semua.
“Ini acara apa, Mi?” bisikku tepat di telinga Mami. Mami hanya menoleh dan tersenyum padaku. Apa sih mami nggak jelas banget? Kenapa cuma senyum doang? Bukannya langsung jawab aja.
“Nah! Berhubung Alia-nya udah di sini, kami hendak mengutarakan maksud kedatangan kami.” Lelaki yang kukenal dengan nama Om Burhan itu membuka percakapan.
Beneran sumpah, perasaanku nggak enak banget masalah ini. Tebakanku kali ini nggak mungkin meleset, melihat semua persiapan yang mereka bawa.
Aku menarik ujung baju yang mami kenakan, persis seperti anak kecil yang mencari perlindungan di balik ketiak ibunya.
Mami sama sekali nggak menoleh padaku. Dia terus saja tersenyum pada tamu-tamu itu.
“Maksud kami datang ke sini, untuk melamar Nak Alia menjadi menantu kami.”
“Apa?!” Tak sadar aku berteriak hingga semua orang di ruangan itu kini menatapku.
Tampaknya mereka pun kaget mendengar teriakanku. Terbukti dengan wajah mereka yang kini bertanya-tanya.
“Mi! Jelasin ke Alia maksud semua ini?” todongku pada mami. Kini aku menatap mami yang terlihat begitu tenang. Kulirik papi juga sepertinya tak menampilkan sebuah kekagetan. Berarti mereka berdua telah mengetahui hal ini.
“Tapi kenapa Alia mesti nikah, Mi? Maksud Alia nikah saat ini.” Umurku saja baru 22 tahun dan masih muda. Aku masih ingin foya-foya dulu, nggak mau mikirin suami.
“Baik Pak Burhan, kami menerima lamaran kalian.” Mataku tambah melotot menatap mami.
Aku melihat sekeliling, yang benar saja Alia suruh menikah dengan salah satu dari mereka, tua semua. Mending ama Ken yang waktu itu nyokapnya pernah nyinggung hal ini sama mami. Tapi, kenapa mami malah menerima yang tua kayak gini.
“Nggak, Mi! Alia nggak mau.” Tentu saja aku sangat marah sama mami. Seenaknya saja menerima lamaran mereka.
“Alia … diem!” Mami tambah melotot menatapku.
“Nah itu anak kami.” Lho, Tante Zainab menunjuk ke arah mana? Aku kira yang mau dinikahkan sama aku yang sedang duduk di sana, Aku segera melihat ke arah yang ditunjuk Tante Zainab.
“Oke, Mi. Alia setuju!”