“Oke, Mi. Alia setuju!” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku saat melihat siapa yang tengah berjalan ke arah kami.
Entah dapat bisikan dari mana aku menyetujui lamaran ini?
Tentu saja semua orang yang ada di ruangan itu menatap heran ke arahku. Tadi dengan lantangnya nggak mau dilamar, tapi sekarang langsung saja menyetujui hal itu.
Aku menepuk pelan bibirku yang keceplosan. Bayangan roti sobek sudah ada di depan mata sehingga membuat mulutku tak bisa berkompromi.
“Maaf, Mah. Lama.” Si dia meminta maaf sembari tersenyum pada semua orang.
Tapi, wait! Kenapa aku dilewatin?
Segala bantahan dan alasan yang kembali ingin kugulirkan tiba-tiba hilang begitu saja. Alia, ada apa denganmu? Kenapa gampang sekali luluh oleh senyuman pria itu?
“Ta--”
“Jadi bisa langsung aja ‘kan, Jenk acara akadnya?” Tiba-tiba mami motong omongan Alia. Mami ini pengen buru-buru kayak anaknya nggak laku aja. Kalau sekedar cari suami, Alia juga bisa mi.
“Mi ....” Kembali aku menarik ujung baju mami. Ingin protes tapi ucapan sudah terlanjur keluar dari mulut.
“Nah! Kenalan dulu Nak Alia dengan anak Tante.” Tante Zainab tersenyum ramah ke arahku. Ingin rasanya aku menarik perkataanku tadi, tapi jiwa iblisku melarangnya.
Kalau udah nikah ‘kan bakal bisa liat roti sobek tiap hari. Ngapain nggak jadi? Rugi bakalan kamu, Al. Begitulah kira-kira perkataan hati kecilku.
“Ini anak Tante namanya Bekti Jonathan.”
“Iya, Tante. Alia udah tahu.” Aduh! Keceplosan lagi. Dasar ini mulut nggak ada filternya. Disaring dulu kek kalau ngomong.
“Kebetulan dong kalau kalian udah saling kenal.” Tante Zainab tampak begitu bahagia mendengarnya.
Pak Dosen yang kaku itu memicing menatap ke arahku. Mungkin dia berusaha mencerna perkataanku barusan. Atau mencoba mengingat-ingat kapan kita pernah kenalan?
“Ngomong-ngomong kalian kenal di mana, Nak?” tanyanya pada anak laki-lakinya itu. Tak kusangka gelengan yang diberikan pria tua yang kelihatan muda itu.
“Bejo tidak ingat, Ma.”
Tentu saja aku malu setengah mati karena aku sendiri yang mengingatnya, sedangkan dia tidak.
Kembali mereka menatap ke arahku. Pasti ngiranya aku sedang bohong. Dasar dosen nggak peka. Masak nggak ingat mahasiswi paling cantik ini, sih?
“Ya udahlah. Nggak usah bahas apa kalian kenal atau tidak, yang penting sekarang kalian kenalan dulu.” Akhirnya papi datang sebagai penyelamat putrinya dari tatapan mereka.
Mendengar perkataan papi, mereka hanya mengangguk yang berarti menyetujui usul papi barusan.
“Baiklah Nak Alia, kenalkan ini anak kami. Namanya Raden Mas Bekti Jonathan Hendarto, atau biasa dipanggil Bejo.” Om Burhan menunjuk ke arah anaknya itu. Pak Bejo hanya tersenyum kaku padaku. Ish! Nyebelin.
“Mengulangi maksud kami tadi, kami ke sini untuk melamar Nak Alia menjadi menantu kami. Maaf, tadi Bejo-nya lagi kebelet jadinya baru kelihatan,” sambung Tante Zainab. Entah kenapa, sejak pertama melihat mereka, rasanya adem aja.
“Baiklah … seperti kata kami tadi lamaran ini kami terima, ditambah Alia setuju tentu saja tambah kami terima.” Perkataan papi menimbulkan gelak tawa dari orang-orang di ruangan itu.
“Bagaimana kalau membicarakan tentang ijab qobul sekalian,” usul mami yang disambut antusias oleh semuanya.
“Apa!” Kembali, teriakanku menarik perhatian di ruangan itu. Pandangan mereka kembali mengarah padaku. Perasaan apa ini? Kenapa rasanya seperti ini?
Kulirik ke arah Pak Bejo yang tidak berekspresi sama sekali. Sebenarnya orang ini setuju nggak, sih, dengan rencana para orang tua ini?
Peka dikit dong, Pak.
Mami beneran, deh. Usulnya udah kelewatan. Masak langsung membicarakan perihal ijab qobul. Bukannya kalau udah ijab qobul artinya Alia udah nikah, ya? Emang udah ikhlas gitu, Alia jadi milik orang lain?
“Tunggu, Mi. Ijab qobul? Apa nggak kecepatan? Alia masih kuliah lho, Mi.” Kucoba mengingatkan hal itu pada mami.
“Lebih cepat lebih baik, Sayang,” kata mami lembut. Nggak tahu lagi apa mau mereka. Cepet-cepet mau nikahin anak yang masih kecil gini.
“Tapi, Mi ....” Aku mencoba merajuk, siapa tahu berhasil.
Seolah suaraku tak terdengar lagi oleh mereka, tak ada yang menggubris perkataanku. Hiks … rasanya aku ingin menghilang dari bumi aja. Dan ketemu alien tampan seperti Kim Soo Hyun.
Dan kalian pasti tahu apa apa yang terjadi selanjutnya? Acara sudah ditetapkan seminggu lagi. Tanpa pesta dan tanpa undangan. Kayak lagi nikahin cewek bunting biar nggak ketahuan kalau lagi bunting.
Pagi ini aku bangun dan segera bersiap berangkat ke kampus. Bagaimana nanti kalau ketemu Pak Bejo? Aku bakal gimana?
Ah! Itu pikir nanti saja, yang penting aku bakal kasih pelajaran ke Bora. Seenaknya saja menghilang dan ninggalin aku di tempat seperti itu sendiri.
Nggak ada yang istimewa bagiku pagi ini. Seperti biasa, hanya saja aku sedikit ngambek sama mami gara-gara usulnya mempercepat pernikahan.
Dengan diantar Mang Asep ke kampus, akhirnya aku udah berada di kantin. Tentu saja sebelumnya udah ngirim pesan ke Bora biar nemuin aku di kantin.
Ngomong-ngomong tentang Mang Asep, tenang saja aku nggak marahin dia. Berkatnya juga aku tidak dalam bahaya. Seandainya saja Mang Asep menuruti keinginanku, nggak ngerti lagi jadinya jika beneran aku diculik om-om lalu dan ….
Membayangkannya saja aku udah ngeri duluan. Kehilangan keperawanan oleh orang yang tidak dicintai dan tidak dikenal pula. Meski aku yakin papi bakal bisa bikin orang itu tak bernyawa lagi, tapi sesuatu yang hilang itu nggak bakal bisa kembali.
Ya, meski sekarang udah ada teknologi pembuat selaput dara sintetis, sih. Tapi,aku pikir rasanya nggak akan sama dengan yang asli.
“Alia! Sorry … sorry .… Semalem gue terlanjur mabuk dan nggak inget ama lo.”
Bora langsung saja meminta maaf tentang kejadian semalem sambil kedua tangannya dia satukan di depan d**a sebagai permintaan maaf.
“Lo tahu nggak, apa yang pengen gue lakuin saat ini?” kataku sembari menatap tajam ke arahnya. Biar dia tahu kalau aku lagi mode marah.
“Apa, Al?” tanyanya penasaran.
“Masukin lo ke kandang macan dan biarin lo seminggu di dalam sana.” Aku beneran emosi mengingat kejadian semalam.
“Tinggal bangke dong, gue?”
“Iyalah, lo nggak tahu ‘kan semalem gue gimana? Sendirian di tempat seperti itu. Gimana kalau gue diculik om-om?”
“Iya iya, sorry Al. Gue beneran minta maaf. Tapi, lo nggak kenapa-kenapa ‘kan? Nggak ada yang jahatin lo ‘kan?” Kulihat netra Bora begitu tulus mengucapkannya.
“Sudahlah, males gue bahas itu lagi. Lo semalem ke mana?” Penasaran banget dengan apa yang Bora lakuin. Bora selalu terbuka pada kami.
“Ehm … biasalah. Ketemu someone terus kita cari hotel. Udah gitu aja. Tahu nggak, Al. Semalem beneran gila tu cowok mainnya. Gue sampe KO. Nggak pernah gue terkapar kayak semalem. Gue bakal nyariin dia kalau gini.”
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar cerita Bora, karena nyatanya aku sendiri belum pernah merasakannya. Kepo sih sebenarnya. Tapi, nggak bakal lama lagi juga pasti ngerasain yang sering Bora ceritain.
Membayangkan hal itu saja sudah membuat pipiku memerah.
“Eh, ngomong-ngomong, si Helen nggak masuk lagi, ya?” Pertanyaan dari Bora sontak saja membuyarkan lamunanku tentang malam pertamaku dengan Pak Bejo.
“Gue juga belom lihat Helen. Lo ada dihubungi nggak, sama tu anak?” Aku pun tak kalah khawatir tentang kondisi Helen.
Bora menggeleng. Kami pun sama-sama hanya bisa membuang napas kasar.
Untung hari ini nggak ada mata kuliah Pak Bejo, yang artinya aku nggak perlu bingung mesti bersikap bagaimana di kelasnya.
Dia juga bakalan gimana ya, kalau ketemu aku? Apa dia bakal tersenyum, atau malah kikuk. Kenapa jadinya aku malah nggak sabar buat malam pertama sama Pak Bejo, ya. Ini pasti gara-gara denger cerita Bora tadi. Jadinya aku bayangin yang iya-iya.
“Al! Lo ngapain senyum-senyum sendiri?” Bora mengagetkanku dan sukses membuatku kehilangan fantasi tentang malam pertama kami.
Aku mesti cerita nggak ke Bora, tentang acara lamaran kemarin?
“Lo kenapa, sih? Kayak ada yang mau lo omongin gitu?” Sepertinya indera ketujuh Bora beraksi lagi. Tahu aja ada sesuatu yang hendak aku ceritain.
Matanya tak lepas menatapku, seakan menanti sebuah pengakuan dariku.
“Bo!”
“Hmm ….
”Seandainya gue merid duluan gimana?”
“Lo hamil?”
Dasar somplak. Kenapa pertanyaan itu yang pertama keluar dari mulut Bora? Gawang aja masih rapet, belum dijebol. Gimana bisa bunting coba?
“Sembarangan aja lo. Emang gue lo? Dicelup sana dicelup sini.” Meski omonganku tergolong kasar, gadis itu nggak bakalan marah.
“Hehehe.” Bener ‘kan, malah cengengesan.
“Habis enak,” sambungnya lagi.
“Tapi, ngapain lo nikah duluan kalau nggak hamil? Secara Alia gitu, lho. Masak mau nikah muda?”
Bukan hanya Bora yang heran, aku yang jalanin aja juga heran. Kenapa kemarin main bilang iya saja, gegara melihat dosen tampan itu?
“Gue aja nggak ngerti, Bo. Gimana mau ngejelasin ke lo? Intinya minggu depan gue bakal nikah dan--”
“What! Lo minggu depan bakal nikah? Ama siapa?” Kenceng amat ni anak ngomongnya. Sampai telingaku hampir budheg.
“Biasa aja bisa nggak, sih, ngomongnya. Nggak usah pake teriak segala. Kuping gue masih normal tahu!”
“La habisnya. Lo nikah aja udah bikin jantung gue mau copot, ditambah seminggu lagi. Beneran copot ni jantung.”
“Hah!” Kutatap es jeruk yang sedari tadi hanya kuaduk-aduk nggak jelas, seperti perasaanku saat ini, yang beneran nggak jelas.
“Eh! Itu Pak Bejo, si dosen ganteng.“ Pandangan Bora kini beralih pada sosok Pak Bejo yang sedang lewat di depan kami. Tanpa menoleh apalagi melirikku, dia lewat begitu saja.
“Apa gue yang segede gini nggak kelihatan di matanya?”
“Lo ngomong apa, Al?” Sepertinya Bora denger yang barusan kuomongin.
“Ha!”
“Eh! Gue udah ngebayangin gimana rasanya sama Pak Bejo. Secara ‘kan dia kelihatan dingin banget, pastinya kalau dia atas ranjang bakalan hot banget.”
Kok aku kesel ya, dengernya. Aku aja yang calon istrinya belum pernah dikawinin, Bora udah ngebeyangin duluan.
“Eh, tu mulut dijaga. Jangan asal mangap.”
“Kok lo sewot, sih. Biasanya juga nggak komentar gue ngebayangin ama siapa saja.”
Memang ini bukan pertama kalinya bagi Bora berfantasi dengan seorang pria. Asal dia menarik perhatiannya, pasti dia bakalan ngomongin itu terus. Dan aku nggak pernah pedulikan hal itu.
“Tapi, ini ‘kan beda.”
“Bedanya apa, Al?”
Jika udah gini, Bora nggak bakalan berhenti menginterogasiku. Seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka.
“Ada yang lo sembunyiin ya, Al?” Matanya tajam mengarah ke mataku. Seperti mata elang yang siap menerkam mangsanya.
Tunggu! Kalau gitu, siapa yang jadi elang dan siapa yang jadi mangsa? Aku mangsanya?
“Lo mau tahu?”
Bora mengangguk antusias.
“Beneran mau tahu?”
“Iya! Udah cepetan ngomongnya. Keburu gue jadi arwah.”
“Janji jangan nyesel ya, kalau udah denger.”
“Iya! Iya! Buruan ngomongnya.” Dia sudah bersiap-siap menempatkan kuping-nya di depanku.
“Pak Bejo itu calon suami gue.”
“What?!”