Aku nggak pernah ngebayangin hari ini bakal beneran terjadi. Dengan kebaya warna putih papi sama mami nganter aku ke KUA. Disusul kakek dan nenek menggunakan mobil yang berbeda.
Nggak ada pesta, nggak ada tamu undangan. Bahkan Bora dan Helen mereka nggak aku undang. Malu dengan acara yang nggak ada acara ini.
Aku hanya mengenakan kebaya warna putih sederhana, sedang Pak Bejo mengenakan setelan jas warna hitam yang sangat pas di tubuhnya. Betapa kerennya calon suamiku ini.
"Saya terima, nikah dan kawinnya Alia Hadi wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar ... TUNAI!" Dengan lantang, lelaki di sampingku ini mengucapkan ikrar ijab qobul yang menandakan bahwa kini aku telah menjadi istri seseorang.
"Bagaimana para saksi? SAH?"
"SAH!"
"SAH!"
"SAH!"
"Alhamdulillah." Semuanya pun merasa lega setelah pernikahan ini dinyatakan sah oleh para saksi.
Kulirik papi dan mami tersenyum haru melihatku yang kini telah menyandang status sebagai seorang istri
Seperti instruksi mami, aku segera mencium punggung tangan Pak Bejo yang kini telah berstatus sebagai suamiku. Aku masih nggak percaya dengan semua ini. Pernikahan impian yang pernah ada dalam pikiran tidak pernah terwujud.
Bahkan untuk mas kawin pun hanya seperangkat alat sholat yang harganya tak lebih dari satu juta rupiah. Papi dan mami sama sekali tidak protes dengan hal itu. Semurah itukah nilai anaknya?
Pernikahanku ini hanya dihadiri keluarga inti dari kedua belah pihak. Aku sampai tidak yakin jika aku ini menikah.
Kulirik Pak Bejo yang masih tanpa ekspresi. Aku tidak bisa tahu, apakah dia bahagia atau tidak?
Papi dan mami segera menghampiriku dan memelukku bergantian. Entah bagaimana perasaan mereka, senang atau sedih?
Mami memelukku lama kemudian menciumiku seperti kepada anak kecil. Aku sangat menikmati hal itu. Sedang papi hanya mengecup keningku singkat. Ah papi, nggak romantis.
Setelah berpelukan dengan mereka, aku lantas mencium punggung tangan Om Burhan dan Tante Zainab, yang kini telah resmi menjadi mertuaku. Begitu pula Pak Bejo melakukan hal yang sama denganku.
Bahkan kami sama sekali belum pernah berbicara sejak saat lamaran seminggu yang lalu. Berpapasan di kampus saja, dia seolah tidak mengenaliku.
Setelah selesai menandatangani surat-surat, akhirnya kami semua meninggalkan KUA dengan perasaan masing-masing. Karena aku sendiri nggak tahu pasti gimana perasaanku.
Masih seperti mimpi di siang bolong, saat terbangun rasanya masih melayang.
Dengan langkah gontai aku mengikuti mereka menuju parkiran. Hari sudah agak siang, karena memang kami mendapat jatah jam 10. Sungguh tidak mencerminkan bahwa yang menikah adalah anak orang kaya. Pikiranku tentang bukan anak kandung mereka muncul lagi.
Aku mengikuti mami yang kini telah berada di depan pintu mobil. Tanpa memperhatikan Pak Bejo yang entah memperhatikanku atau tidak. Jika sedingin itu, bagaimana nasib malam pertamaku? Hiks!
"Alia ... Sayang. Kenapa kamu ikut kami ke sini?" Mami berbalik dan menanyakan sesuatu yang tidak kusangka-sangka. Aku 'kan anak mereka, ya ikut mereka dong.
"Lha, Alia mesti ikut siapa, Ma?" tanyaku penasaran.
"Tu!" kata mami seraya menunjuk ke arah Pak Bejo yang sedang bersandar dengan tampannya di sisi mobil.
Entah titisan dewa mana yang merasuki Pak Bejo. Dia terlihat begitu menawan dan seksi. Seketika jantungku mau copot saat melihatnya. Tahan Alia, kalau copot sekarang gimana nasib malam pertama kamu dengan pemilik roti sobek itu?
Apa dia menungguku? Tak ingin kupercaya, tapi dia segera tersenyum setelah tahu mami memperhatikannya. Dia lalu menghampiri kami dan kini sudah berada di sampingku.
Wangi parfum maskulin, menggelitik indera penciumanku. Sepertinya aku jatuh cinta dengan aroma ini.
"Om, Tante ...," sapanya pada kedua orang tuaku.
"Kok Om sama Tante, sih? Mami Papi, dong," protes papi pada Pak Bejo.
"Eh! Papi ... Mami ...." Nurut! Pak Bejo langsung manggil orang tuaku dengan sebutan papi mami.
"Lho, masih pada di sini?" Tante Zainab dan Om Burhan tiba-tiba saja sudah ada di belakang kami.
"Iya, Jenk. Ini Alia masih ngintilin maminya aja." Ish! Mami apa-apaan, sih. Kan malu. Aku hanya bisa cemberut mendengar omongan mami.
"Al ... Al ...."
"Eh! Iya, Mi." Ternyata sedari tadi mami manggil aku. Aku sama sekali nggak dengar.
"Salim, dong."
"Eh!" Kenapa aku mendadak oon gini, ya? Apakah efek karena sudah membayangkan roti sobeknya Pak Bejo?
Aku segera menyalami kedua orang tua Pak Bejo, seperti yang tadi dilakukan Pak Bejo terhadap orang tuaku.
"Nak Alia, Sayang. Ikut kami pulang, yuk ...." Tante Zainab berkata begitu lembut padaku. Aku begitu merasakan kasih sayang tulus yang terpancar dari matanya.
"Eh! Tapi Tante--"
"Kok masih manggil tante, sih. Mama gitu, kayak Bejo. Kita udah jadi keluarga, bukan orang lain lagi," protes Tan, eh mama padaku. Persis seperti papi tadi yang protes ke Pak Bejo.
"Tapi Tan eh Ma. Alia 'kan masih punya rumah dan mami papi, kenapa mesti pulang ke rumah mama?" Aku bingung dengan hubungan ini. Apa benar, aku mesti ikut pulang ke rumah mama?
Mendengar perkataanku itu, papi malah ketawa. Emang ada yang lucu, ya? Perasaan yang kuomongin benar 'kan?
"Sayang, sekarang kamu 'kan udah nikah. Sudah kewajiban bagi kamu buat ikut kemana suami kamu pergi." Mami memegang pundakku dan berusaha memberi pengertian padaku.
Aku berusaha mencerna kalimat mami. Nikah, jadi satu kayak mami sama papi. Mami aja nggak sama-sama kakek nenek lagi dan tinggal sama kami. Begitukah intinya nikah?
Aku hanya mengangguk, memahami perkataan mami, "Tapi, Mi. Nggak bisakah, kami tinggal sama Mami dan Papi?" Kata Bora, selain ibu tiri, satu lagi yang kejam adalah ibu mertua. Seketika aku melihat ke arah mama dan mencoba menyelami, adakah hal ganjil yang kulihat darinya?
Mami tak langsung menjawab pertanyaanku, dia menatap ke arah kedua mertuaku baru kemudian menatapku lagi.
"Sayang, itu tergantung suami kamu. Maunya gimana?"
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Pak Bejo, tapi dia malah kelihatan salah tingkah. Aku mulai memikirkan hari-hariku bersama pria nggak peka sepertinya.
"Ehm ... Bejo rencananya ajak tinggal Alia di rumah Bejo sendiri, Mi. Kebetulan Bejo sudah memiliki rumah dari hasil jerih payah Bejo sendiri. Tapi, sementara tinggal di rumah Mama dulu, karena belum terlalu lengkap isinya."
Aku hanya menghela napas. Aku terbiasa menuruti semua perkataan mami, begitu pula saat ini. Dia ingin aku mengikuti suamiku pun, aku menurutinya. Tapi, apakah kehidupanku akan sama seperti sebelumnya?
"Nah! Princess, kamu udah dengar 'kan apa kata suami kamu. Kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawabnya, papi dan mami tidak berhak ikut campur." Apa yang kurasakan saat ini, aku begitu lesu nyaris tak punya tenaga.
"Kruuk ...!" Aku baru ingat, ternyata aku belum sempat sarapan karena bangun kesiangan. Tanpa sadar aku memegang perutku yang sudah protes minta diisi.
Sepertinya suaranya cukup keras hingga membuat orang-orang tertawa. Aku pun malu setengah mati karena mereka dapat mendengar bunyi perutku. Kulirik Pak Bejo ikut tersenyum saat itu. Baru kali ini kulihat dia tersenyum setulus ini.
"Mari, Nak Alia." Mama Zainab segera menuntunku menuju mobil mereka. Sesekali aku menoleh ke arah papi dan mami. Mereka masih berdiri di tempatnya sambil terus menatapku. Kulihat mami dan papi mengusap kedua sudut matanya. Kutahu mereka juga berat melepasku.
Aku kini duduk di belakang bersama Pak Bejo yang nampak begitu dingin. Panas dikit dong, Pak biar lebih hot. Papa dan mama duduk di depan. Papa menyetir sendiri mobil ini.
Aku kembali memikirkan omongan Bora minggu lalu. Katanya kalau cowok dingin bakal panas di atas ranjang. Benarkah seperti itu?
Nanti malam aku harus membuktikannya. Tapi, ngobrol aja nggak pernah gimana bisa saling menghangatkan coba. Ini pasti gara-gara Bora, tingkat kemesumanku meningkat. Beneran, deh damage mesumnya nggak kira-kira.
"Alia, Sayang. Kamu nggak usah sungkan, ya sama kami. Anggap seperti orang tua kamu sendiri." Mama Zainab menengok ke arahku. Aku merasakan aura kasih sayang mami dalam dirinya. Benarkah semua mertua sama seperti yang Bora omongin?
"Iya, Ma," jawabku seraya tersenyum pada mama.
"Bejo!" Kulirik Pak Bejo saat mama memanggilnya. Sedang mikirin apa, sih, sampai tidak mendengar saat dipanggil mama.
Pak Bejo masih melihat ke arah luar, seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Bejo!"
"Eh! Iya, Ma?" Pak Bejo baru menoleh ketika intonasi suara mama sedikit meninggi. Ternyata emak-emak sama saja kalau dalam mode kesel.
"Kamu mikirin apa, sih? Kayak nggak fokus gitu?"
"E-enggak kok, Ma. Bejo lagi capek saja."
"Kasihan tu Alia, kamu anggurin. Ajak ngobrol kek." Yes! Mama emang mami kedua Alia, paling ngerti isi hati Alia.
Pak Bejo sekilas menoleh ke arahku, tersenyum.
What! Pak Bejo tersenyum padaku. Ternyata kalau disenyumi langsung gini, rasanya bikin jantung rasanya mau copot.
"Nama kamu Alia 'kan?" Pertanyaan macam apa ini? Bukannya tadi ijab qobul juga nyebut namaku?
"Iya, Pak. Bukannya Bapak juga tadi nyebutin namaku dengan jelas?" Kesel! Emang siapa yang bisa ganti nama dalam kurun waktu beberapa jam?
"Ah, iya. Maaf, saya lupa."
Enak saja bapak bilang lupa. Aku saja nggak bisa lupain bapak sejak pertama ketemu. Untung ini cuma aku ucapin dalam hati.
"Hehe. Bisa aja Bapak ini." Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Mencoba mengontrol degup jantung yang sudah tak terkontrol.
"Tapi, kenapa kamu terus panggil saya 'pak'?" Pak Bejo heran, aku lebih heran lagi.
"Lha 'kan Bapak, dosen saya."
Mendengar ucapanku, mama dan papa segera menoleh ke belakang.
"Kamu mahasiswi saya?"
"Kamu muridnya Bejo?" tanya Pak Bejo dan mama bersamaan.
Kalau mama wajar nggak tahu, tapi kalau Pak Bejo yang nggak tahu, sepertinya agak keterlaluan, deh. Memang, sih, baru sekali pertemuan pas perkenalan dulu. Masak sama sekali nggak ingat.
"Ehm ... Bapak beneran nggak ingat Alia?"
"Enggak!" Dengan polosnya Pak Bejo 'enggak'.
Tuhan ... ini beneran aku nikah sama manusia model gini?
"Bapak yang gantiin Pak Januar 'kan?" Pak Bejo hanya mengangguk. Dia mengerutkan dahinya, seolah sedang mengingat-ingat di mana melihat wajahku.
"Ya sudahlah, kalau nggak ingat. Nggak perlu dipikirin." Entah kenapa rasanya kecewa. Masak cewek cantik gini nggak diinget, sih?
"Bejo, kamu gimana, sih? Bisa nggak ingat mahasiswi sendiri." Kali ini mama yang mengajukan protes.
"Bejo di universitas itu masih baru, Ma. Baru seminggu. Jadi masih adaptasi dan pengenalan."
"Maaf ya, Al." Mama menatapku dan meminta maaf akan kesalahan anaknya. Entah bisa disebut kesalahan atau tidak,. Tapi, yang jelas aku masih kesel.
"Iya, Ma. nggak papa." Meski aslinya aku dongkol banget sama Pak Bejo.
Papa sedari tadi hanya diam menyimak obrolan kami, meski sesekali menoleh dan tersenyum. Setelah obrolan terakhir, tak ada suara lagi di antara kami. Mungkin saja Pak Bejo merasa bersalah karena tidak bisa mengingat mahasiswi secantik aku.
"Nah! Kita sudah sampai, Al," ucap mama padaku.
Aku segera turun mengikuti mereka yang sudah turun terlebih dahulu. Sudah ada Mang Asep yang menungguku di depan rumah itu.
Tapi, ada satu hal yang membuatku kaget.