Aku masuk ke sebuah rumah yang besarnya tak lebih besar dari halaman rumahku. Mang Asep pulang setelah mengantarkan baju ganti untukku yang hanya dua koper. Pasti mami yang beresin baju-baju Alia, niat banget mau cepet-cepet ngusir Alia.
"Alia seriusan mesti tinggal di sini, Ma?" tanyaku tak ingin percaya. Bagaimana bisa levelku turun sedrastis ini? Mataku melihat sekeliling, tidak ada barang-barang mewah seperti di rumahku. Bahkan, ruang tamunya tak lebih besar dapur mami.
"Iya, Sayang. Kamu 'kan sekarang sudah jadi anak mama sama papa. Seneng, deh. Dari dulu mama udah pengen banget punya anak perempuan.
Pak Bejo-nya mana lagi? Masak koper Alia ditinggal di luar. Kalau ilang gimana?
Seneng juga sebenarnya dapat kata-kata seperti itu dari mama. Tapi, untuk tinggal di tempat seperti ini, membuatku ingin pulang ke rumah saat ini juga.
Aku masih mengamat-amati sekitar, seketika aku merasa sesak karena terlalu sempit.
"Ya sudah, kamu buruan ke kamar. Mandi terus kita makan. Kamu pasti belum makan 'kan?"
Tentu saja aku ingat jika belum makan. Rasanya perutku sedari tadi sudah berdisko.
Aku cuma nyengir dan segera beranjak menuruti omongan mama, tapi di mana kamarku?
"Mah, aku masuk kamar yang mana?" tanyaku ketika melihat 3 kamar yang letaknya berjejeran. Nggak nyaman banget, apa nggak bakal pada denger kalau nanti ada adegan malam pertama di kamar kami.
"Bejo! Bejo!" teriak mama meski masih dalam mode kalem.
Pak Bejo keluar dari sebuah kamar dan segera menghampiri mama.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanyanya saat sudah berada di depan mama, dan jangan lupakan logat medhok-nya yang sudah mendarah daging.
"Kamu gimana, sih? Kok Alia ditinggal sendirian." Kudengar mama menghela napas, mungkin kesal dengan kelakuan Pak Bejo yang selalu tak menghiraukanku.
"Ajak dia ke kamar!" titah mama pada dosen ganteng yang sekarang menjadi suamiku itu.
"Ke kamar yang mana, Ma?" Ini orang udah tua tapi nggak pekanya udah parah banget. Ya kali aku harus tidur sama mama sama papa. Emang nggak ada niatan untuk ngapa-ngapain aku apa? Aku aja udah niat banget mau diapa-apain.
"Ya ke kamar kamu, dong. Masak Alia kamu suruh tidur sendiri? Kalian 'kan juga udah sah gitu secara hukum dan agama."
Tos, Ma. Aku senyum-senyum sendiri mendengar perkataan mama. Dia benar-benar mertua yang sangat pengertian.
"Kita tidur bareng, Ma?!" Kok kesannya terkejut banget, ya? Benar nggak sih dia umur 35 tahun? Apa yang sudah terjadi dengan masa pubernya? Kenapa masalah seperti ini Pak Bejo nggak gercep, sih?
"Nggak usah kaget kayak gitu juga Pak. Aku udah siap kok. Nggak usah sungkan juga." Meski dengan malu-malu, aku pun mengatakan hal itu. Ya setidaknya, Pak Bejo tidak perlu minta ijin lagi soal itu.
Seketika aku menundukkan pandanganku, karena kuyakin saat ini wajahku telah memerah. Telingaku pun juga mulai memanas. Gugup banget rasanya mau malam pertama.
"Kamu ngomong apa, to? Kamu sudah siap untuk apa?" Sontak aku mengangkat wajahku dan menatap lelaki itu dengan tatapan tak percaya.
Apa dia tidak peka dengan kode yang sudah kubuat? Apa nanti harus aku dulu yang mengambil inisiatif?
"Sudah! Sudah! Bertengkarnya nanti di kamar saja. Mau guling-gulingan atau teriak-teriak, mama dan papa nggak bakal ganggu. Sekarang, kamu bawa Alia ke kamar!" Tuh 'kan, mama aja paham dan udah ngasih lampu hijau, masak kamunya nggak peka sih, Pak?
Kulirik Pak Bejo yang tampaknya masih mencerna kata-kata mama. Mikir apalagi sih, Pak?
Mama sudah menghilang begitu saja dan aku juga melihat kepergiannya.
"Sini! Ikut aku!" Muka judesnya itu sungguh membuatku penasaran.
"Tapi, Pak ...."
"Tapi apalagi ...?" Rupanya Pak Bejo sudah mulai kehilangan kesabaran. Dia nampak begitu kesal saat mendengar kata 'tapi'.
"Koper saya masih di luar." Masak aku mesti bawa sendiri koper segede itu. Mana ada dua lagi.
"Ck!"
"Ambil sendiri sana, jangan manja!" Kenapa sikapnya berubah ketus jika tidak ada mama.
Hiks! Ma, menantumu ini dijutekin ama anakmu, lho.
"Tapi, Pak ..."
"Apalagi, sih?" tanyanya dengan nada kesal. Harusnya 'kan aku yang kesal, kenapa malah jadi dia?
"Berat, Pak. Berat. Seperti rindu Dilan pada Milea," kataku dengan wajah memelas.
"Ck!" Meski berdecak, nyatanya suami tampanku itu tetap keluar untuk mengambilkan koper yang berisi baju-bajuku. Tenang saja Pak Bejo, kamu tetap idolaku.
Dengan sekali angkat, kedua koperku itu dia panggul di atas bahunya. Selain sebagai dosen, ternyata pekerjaan sampingan Pak Bejo adalah sebagai Hercules, atau Samson, atau Rambo. Entahlah, apa pun pekerjaannya, pekerjaan utamanya adalah sebagai suamiku.
Mengingat aku telah menikah dengan pria tampan seperti Pak Bejo membuat pipiku kembali merona.
Kini kami telah berada di kamar yang akan kami tempati. Aku mengekorinya karena takut kesasar. Emang bisa kesasar di rumah sekecil ini?
Aku membuang napas kasar melihat ruangan ini. Besarnya hanya 3x4 meter, dengan sebuah single bed yang berada di pojok ruangan. Ada satu lemari dua pintu di kamar itu. Tak ada AC ataupun TV, apalagi kamar mandi dalam.
"Kenapa kamu cuma bengong? Ini!" Jari telunjuk Pak Bejo mengarah pada kedua koper yang sudah berada di lantai, "baju-baju kamu diberesin dulu. Taruh di lemari sebelah kanan karena yang kiri sudah ada baju-bajuku." Aku hanya menghela napas. Benarkah aku harus hidup seperti ini mulai sekarang?
"Aku mau mandi dulu. Kamu bisa mandi setelahku. Kamar mandinya cuma satu di luar. Sementara aku mandi, rapikan dulu baju-baju kamu."
Seusai mengucapkan kalimat yang lebih seperti perintah itu, Pak Bejo segera keluar kamar meninggalkanku sendiri yang masih tidak percaya dengan kehidupanku yang berubah drastis.
Awalnya, aku kira mami dan papi pasti menjodohkanku dengan anak pengusaha seperti mereka. Minimal seperti Ken, lah. Tak kusangka, mereka memberikanku pada keluarga seperti mereka. Hiks!
"Ini gimana caranya nyusun baju-baju ini biar muat di lemari sekecil ini?" Aku masih terus mengamati jalan yang mesti kutempuh untuk pekerjaan yang menguras otak ini.
Lama aku dalam posisi seperti ini. Akhirnya aku hanya duduk-duduk di pinggir ranjang sembari terus mengamati ke arah kedua benda itu, koper dan lemari.
Berkali-kali aku menghela napas, membandingkan dengan kehidupanku bersama mami. Di rumah aku tidak perlu pusing memikirkan tempat untuk baju-bajuku yang banyaknya tak terkira itu.
Bahkan ada ruangan khusus sebesar kamar ini guna meletakkan semua baju yang kebanyakan hanya kupakai sekali.
Sebuah aroma maskulin yang kuat menggelitik indera penciumanku. Seketika saja aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu, sumber aroma itu.
"Ya Tuhan!" Sontak aku menutup kedua mataku dengan tanganku meski masih bisa mengintip dari sela-sela jariku. Benar-benar ini sebuah rejeki yang kuterima atas kesabaranku.
Sesosok serupa jelmaan Gumiho sudah berdiri di depanku. Dengan tak tahu malunya dia menampakkan penampakan roti sobeknya di depan seorang wanita.
"Kamu kenapa? Biasa aja juga nggak usah kayak gitu," katanya santai. Gimana mau biasa coba, Pak Bejo hanya memakai handuk yang dia lilitkan di pinggang saat memasuki kamar.
"Takut khilaf, Pak," jawabku sekenanya. Baru ngebayangin aja jantungku udah mau copot, gimana disuguhi langsung kayak gini? Beneran disko di dalam.
"Khilaf? Kenapa bisa khilaf?" Emang nggak ada peka-pekanya manusia satu ini. Gini-gini aku masih wanita normal yang pengen pegang kalau disuguhi kayak gitu.
"Udah sana Bapak pake baju dulu, biar nggak jadi khilaf." Aku segera memalingkan wajahku agar tak perlu lagi melihat otot perut yang udah bikin aku senam jantung.
"Ini kenapa belum kau masukin bajunya?"
"Aku bingung, Pak," jawabku masih dalam posisi tak melihat ke arahnya.
"Juga kenapa kamu masih panggil 'pak'?"
"Terus, Alia mesti manggil apa?" Jujur aku heran harus memanggil Pak Bejo dengan sebutan apa. Mas, Kak, Abang, oppa.
"Panggil 'mas' saja. Tidak enak sama mama papa dan mami papi, kalau mereka tahu kamu manggil aku 'pak'."
Aku hanya mengangguk meski tahu Mas Bejo nggak bakal melihatnya.
"Oh, iya. Ini baju-baju bereskan dulu. Saya nggak mau berantakan seperti ini."
Aku menoleh lagi ke arahnya. Kini Mas Bejo-ku telah memakai kaos dan celana kolor motif bunga.
Apa?! Motif bunga? Beneran itu Mas Bejo pakai celana seperti itu?
"Aku bingung, Mas ...." Selain nggak peka apakah Mas Bejo juga nggak denger?
"Bingung kenapa? Tinggal masukin ke lemari saja bingung. Kerjaan kamu apa selama ini?" Kudengar Mas Bejo menghela napas. Apa yang mesti dia sesalkan coba, sampai segitunya.
"Kan kalau di rumah udah ada Bik Gita yang khusus ngurus baju-baju aku. Dari nyuci sampai masuk lemari. Jadi, aku sama sekali nggak bisa ngerjain itu," lirihku.
"Sekarang kamu tinggal di sini, jadinya jangan bawa kebiasaan kamu ke rumah ini. Karena nggak ada lagi yang bakal mengurus baju-baju kamu ini." Meski sambil mengomel, Mas bejo tetap memasukkan baju-bajuku itu ke dalam lemari.
"Jangan hanya bengong di situ. Sini lihat saya, saya hanya akan mengajari kamu sekali."
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, aku langsung menghampiri Mas Bejo dan berdiri di hadapannya. Seperti memiliki kemampuan mengendalikan orang lain, aku pun dengan rela mengikuti perintahnya.
Dengan telaten, Mas bejo memasukkan bajuku satu per satu ke dalam lemari. Benar-benar suami idaman. Asal bukan idaman wanita lain aja.
"Nih! Yang koper satunya kamu sendiri yang memasukkannya." Mungkin dia salah tingkah diperhatikan oleh wanita secantik aku, jadinya agak sedikit gugup saat mengatakannya.
Iyalah. Nggak mungkin bisa menolak pesona Alia. Begitu juga Mas Bejo. Lambat laun pasti bakal tergila-gila sama aku.
"Kruuk ...!" Dengan tidak sopannya, perutku ini berbunyi lagi. Baru ingat aku belum jadi makan semenjak tadi pagi. Aku malu setengah mati karena Mas Bejo nampak tersenyum geli sambil melihatku.
"Kenapa ketawa, Mas?" tanyaku dengan nada galak.
"Habisnya, perut kamu itu udah bunyi dua kali hari ini. Udah-udah. Letakkan kembali baju-baju itu. Kamu mandi dulu, habis itu makan bersama. Mama sedang masak."
Merdeka! Tanpa pikir dua kali, aku langsung meletakkan kembali baju yang sudah ada di tangan. Bergegas keluar untuk mandi.
Tak perlu waktu lama, aku sudah ada di meja makan bersama keluarga baruku. Ternyata mama selera masaknya hampir sama seperti mami. Untung saja aku di rumah terbiasa dengan masakan mami. Sayur lodeh, sayur nangka, sayur bayam, dan semua jenis sayur-sayuran lainnya yang sering dimasak mami.
Di meja makan tersaji sayur bayam dan tempe goreng. Ada juga ayam goreng dan juga sambal.
Jarang sekali mami memasak menu kebarat-baratan yang namanya saja sulit untuk disebutkan. Hanya sesekali kami makan makanan itu, jika mami sedang khilaf dan mengajak kami makan di luar.
Entah karena lapar atau karena masakan mama enak, aku menyantapnya dengan lahap. Kulirik suami tampanku itu, kulihat dia juga sangat menikmatinya.
Tak ada yang berbeda dengan acara makan di rumah ini, sama-sama hangat.
Akhirnya kenyang juga. Setelah setengah hari menahan lapar, perutku kini telah terisi. Tiba-tiba saja aku menjadi ngantuk.
"Aku ke kamar dulu ya, Ma, Pa," pamitku pada kedua mertuaku itu. Sedang Mas Bejo ... aku masih bingung mesti berucap apa.
Mau aku ajak bobok sekalian tapi kok masih jutek orangnya? Mending nggak usah dipamitin.
Aku beranjak dari dudukku dan bersiap melangkahkan kaki menuju kamar.
Tiba-tiba Mas Bejo menarik tanganku, hatiku benar-benar berdebar saat ini. Apakah dia hendak bilang 'tunggu aku'. Ah, so sweet, deh.