"Aku ke kamar dulu ya, Ma, Pa." Setelah makan rasanya kenyang dan jadinya ngantuk. Tak dapat lagi kubendung rasa kantuk ini. Semoga saja Mas Bejo nggak minta sekarang malam pertamanya, gawat kalau siang-siang panas gini.
Tuh 'kan dibilangin juga apa? Belum juga aku melangkahkan kakiku dari meja makan, Mas Bejo malah menahan tanganku.
Ya udahlah, Alia rela kalau diminta siang ini. Tentu saja pipiku telah memerah kali ini. Selama ini aku hanya bisa mendengarkan setiap Bora cerita, tapi kali ini aku akan mengalaminya langsung. Sungguh, berdebar-debar rasanya jantung ini.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mas Bejo lembut. Suaranya mesti sedikit medhok tetapi tetap saja manis dan menggoda.
"Ke kamar, Mas. Mau tidur. Kalau mau nyusul, nyusul aja," jawabku malu-malu. Untung saja wajahku tidak sedang berhadapan dengannya, bisa-bisa ketahuan kalau aku sedang malu-malu mau.
"Siapa yang suruh kamu langsung tidur?" Suaranya kini tak sehangat tadi. Apa cuma perasaanku saja? Seketika hawa dingin menjadi atmosfer tempat ini. Aku langsung menoleh ke arah Mas Bejo.
Benar, dia seakan sedang menahan amarah. Kemana kehangatan yang baru saja kurasakan? Apa dia marah karena aku meninggalkannya. Nggak perlu marah juga kali, kan udah aku kode biar nyusul.
"Bejo ...," kata mama lembut.
"Ma ...," kata Mas Bejo tak kalah lembut dari mama. Mama hanya menghela napas dan tak melanjutkan perkataannya tadi. Kenapa, sih ini? Aku jadi semakin penasaran.
"Duduk!" titahnya padaku. Entah kenapa aku selalu nurut sama dia. Aku langsung duduk tanpa bantahan apa pun. Pesonanya tak mampu kulawan.
"Piring kotor kamu ini," ucapnya sembari jari telunjuknya mengarah ke piring bekas makanku, "kamu cuci sendiri!" Aku hanya menelan saliva-ku mendengar perkataan Mas Bejo barusan.
"Nyuci ... piring ...?" tanyaku mencoba meyakinkan lagi tentang ucapannya barusan. Yang benar saja, aku 'kan nggak bisa.
"Iya! Kenapa? Nggak bisa juga?" Entah kenapa pertanyaannya melukai harga diriku. Aku tidak suka diremehkan seperti itu.
"Bisa! Siapa bilang nggak bisa!" kataku lantang. Aku nggak mau dianggap terlalu bodoh olehnya.
"Cuma cuci piring, bahkan orang bodoh juga bisa." Aku beranjak membawa piring kotorku ke dapur. Aku sering melihat mami cuci piring di westafel yang ada di sebelah dapur.
Tentu saja aku celingukan sesampainya di dapur.
"Ah! Itu dia." Aku segera menuju tempat cuci piring itu dan menghidupkan keran.
Apalagi, ya? Sabun!
Aku mencari sabun dan kemudian melakukan kegiatan yang sering mami lakukan. Aku udah pernah bilang 'kan, kalau urusan dapur itu kekuasaan mami. Jadi, nggak ada yang berani mendekati daerah itu, Bahkan cuci piring pun mami lakukan sendiri.
"Selesai!" Ternyata segampang ini. Aku tidak boleh kelihatan bodoh di hadapan suamiku itu. Bisa-bisa dia akan mengejekku sepajang hari.
Mama datang dengan membawa piring kotor di tangannya. Sejak kapan Mas Bejo bersandar di sana?
"Sini, Ma. Biar Alia yang cuciin." Tanganku segera menyambut piring-piring kotor itu, tapi mama menahannya.
"Biar Mama saja. Mama tahu kamu nggak terbiasa mengerjakan pekerjaan seperti ini."
Mama emang the best, deh. Emang sangat peka, nggak seperti ....
Aku sedang mencuri-curi pandang pada sosok tampan yang sudah membuatku tergila-gila itu. Tapi, aku masih penasaran waktu di club itu memang Pak Bejo atau bukan, ya?
Aku hampir lupa dengan masalah itu, gegara mabuk ditambah shock dengan acara lamaran dan pernikahan yang mendadak ini.
Nanti atau kapan-kapan bakal aku tanyain. Tapi, jika benar itu Pak Bejo, siapa wanita yang sedang bersamanya dan apa yang mereka lakukan setelahnya.
Apa itu kekasihnya? Apa aku hadir di antara pasangan kekasih? Tapi, jika benar, kenapa Mas Bejo mau saja menikahiku?
Ah! Otakku tak mampu memikirkan masalah berat seperti ini.
"Udah nggak papa, Ma. Alia bisa, kok." Mau tak mau mama menyerahkan tugas itu kepadaku.
Aku pengin membuktikan pada Mas Bejo kalau aku tidak seperti yang dia pikirkan.
Aku mulai melakukan hal yang tadi sudah kulakukan. Tentu saja aku melakukannya dengan sebaik-baiknya, karena nyatanya semua orang sedang memperhatikanku. Eh, tapi kenapa mesti dilihatin coba?
"Beres!" Aku tersenyum dengan bangganya akan hasil kerjaku. Nampak Mas Bejo berjalan ke arahku. Mungkin dia mau memberikan kecupan padaku dan mengatakan bahwa 'aku hebat'.
Salah! Mas Bejo menyedekapkan tangannya dan mengamati hasil cuci piringku. Aura yang terasa saat ini sama seperti di kampus. Dia berlaku seperti dosen yang sedang mengamati ujian. Apa-apaan ini?
"Ck! Apa-apaan ini? Kenapa bekas sabunya masih ada? Ini jadinya nggak bersih. Masih ada kumannya. Minggir!" Mas Bejo segera mengambil alih piring yang sudah kuletakkan di rak sebelah tempat cuci piring.
Meski harus ngomel-ngomel dulu, nyatanya dia membenarkan hasil kerjaku yang dia nilai kurang bersih. Kenapa aku rasanya kayak jadi kambing begok, ya?
Kulihat Mas Bejo sangat cekatan melakukan pekerjaan itu. Benar-benar suami idaman.
"Bagus!" Aku pun mengacungkan kedua ibu jariku bersamaan sebagai tanda aku mengapresiasi pekerjaannya.
"Masak pekerjaan seperti ini kamu masih harus diajari?" Dia berlalu begitu saja dari hadapanku. Nggak sopan banget, ninggalin aku seorang diri seperti ini. Kulihat mama dan papa sudah tak terlihat lagi. Mungkin mereka sudah terlebih dulu beristirahat.
Kami memang sama-sama capek setelah dari KUA tadi. Kini waktunya aku mesti satu kamar sama Mas Bejo.
Sesampainya di kamar aku termenung melihat kasur yang harus kami tempati berdua. Emang muat, ya?
"Kenapa kamu malah bengong di depan pintu seperti itu?" Mas Bejo kini sudah duduk di tepi ranjang sambil melihat ke arahku.
"Ehm ... kasurnya kekecilan," jujurku padanya.
"Oh ... ini sementara saja, kok. Nanti setelah pindah nggak cuma satu kayak gini."
Maksudnya nggak cuma satu apa, ya?
"Sementara kamu saja yang tidur di atas, biar aku yang di bawah." Sementara aku melamun, ternyata Mas Bejo sudah menggelar sebuah alas tidur di lantai
"Mas, mau ngapain?" Tentu saja aku mempertanyakan hal itu.
"Tidurlah. Kata kamu kasurnya kekecilan. Kalau aku tidur di luar, takutnya mama sama papa bakal kepikiran."
"Tunggu! Terus, maksud Mas Bejo apa melamar aku tapi boboknya malah mau sendiri?" Tentu saja hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagiku. JIka nggak mau 'kan tinggal bilang nggak mau, kalau kayak gini akunya yang ngerasa nggak dibutuhin.
Mas Bejo nampak menghela napas panjang, " Aku merasa bersalah sama orang tuaku, jadinya aku menuruti semua keinginan mereka. Termasuk saat mereka mendadak bilang ingin melamar perempuan untukku."
"Bersalah? Apa hubungannya rasa bersalah Mas dengan menikah denganku?"
"Nggak ada hubungannya sama sekali, hanya itu wujud penyesalanku pada mereka."
"Jadi, pernikahan ini sebenarnya bukan mau Mas?" Seharusnya tanpa perlu bertanya pun aku sudah tahu jawabannya. Pernikahan yang begitu mendadak serta sikapnya yang begitu cuek padaku.
Dia tak mampu menjawab, hanya menunduk menandakan bahwa prasangkaku itu benar.
"Aku sendiri heran, bagaimana bisa aku tiba-tiba langsung dilamar seseorang dan menikah seperti ini. Apa ini karena harta kedua orang tuaku?" Aku jadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang alasan terselenggaranya pernikahan ini.
Seketika dia mengangkat wajahnya dan menggeleng, "Bukan! Sama sekali bukan itu." Jika melihat dari ketegasannya saat berbicara, kuyakin dia jujur. Tapi, aku masih bertanya-tanya, alasan apa?
"Terus, Mas menilai pernikahan ini seperti apa?" Entah dengan alasan apa aku begitu kecewa saat tahu dia tak benar-benar menginginkanku. Apa hanya aku yang menginginkannya di sini?
Dia masih bergeming, "Entahlah. Aku sendiri tidak begitu paham dengan pernikahan. yang aku tahu mereka tinggal serumah seperi orang tuaku."
Ih! Polos amat jawabnya, jadi pengen meluk.
"Nggak ngapa-ngapain?" Ketahuan 'kan aku pengen di apa-apain?
"Maksudnya?" Entah kenapa saat ini aku benar-benar pengen nyubit ginjal Mas Bejo.
"Umur Mas berapa, sih?" Seketika aku meragukan tentang umur Mas Bejo sebenarnya.
"35 tahun," jawabnya singkat.
"Selama 35 tahun itu pernah ngapain aja sama cewek Mas?"
Ditanya seperti itu Mas Bejo hanya menghela napas. Dia menggeleng, "Gandengan tangan aja nggak pernah."
"Yakin?" Aku ingin memastikan kembali apa benar yang kulihat waktu di club itu dia atau bukan.
"Seingatku nggak pernah."
"Sudahlah! Aku ngantuk banget. Terserah Mas mau tidur di mana. Mau bobok barengan aku di sini juga boleh."
Aku paling benci perdebatan dan drama ala sinetron. Apalagi aku benar-benar sudah ngantuk saat ini. Tak perlu memaksakan malam pertama saat ini. Toh, masih ada banyak waktu bagi kami menjalin sebuah perasaan.
"Tapi, kalau Mas udah pengen ngapa-ngapain aku, aku udah siap, kok. Lagian udah sah juga, nggak bakal ada yang menggerebek."
Ampun deh Alia, kamu kenapa menawarkan diri gitu? Aku tahu kamu itu sudah terobsesi dengan yang diceritain Bora, tapi nggak perlu murahan juga 'kan?
Setelah mengucapkan kalimat itu, aku segera membaringkan tubuhku dan memunggungi Mas Bejo. Betapa malunya aku saat ini, bisa-bisa Mas Bejo ngiranya aku cewek murahan dan udah biasa main dengan laki-laki.
"Emang ngapa-ngapain yang kamu maksud itu yang seperti apa?"
Ih! Ni cowok. Masa' mesti dijelasin dulu, sih? Aku membalik lagi badanku dan kini kembali menatapnya. Apa iya, aku mesti praktekin yang Bora usulin buat malam pertama.
"Bagaimana perasaan Mas Bejo berduaan denganku saat ini?"
"Tidak merasakan apa-apa." What! Apa jangan-jangan dia itu gay? Masak nggak ngerasain sesuatu gitu?
"Kalau lagi sama cowok gitu deket-deketan, ngerasa deg-degan nggak?" Aku mesti benar-benar tahu tentang Mas Bejo sebelum terlalu jauh.
"Biasa aja. Buat apa saya deg-degan sama lelaki?" Ini benar-benar, deh. Dia mbrojol langsung segede ini apa?
"Kalau sama cewek, pernah nggak ngerasain deg-degan?" Dia nampak gelagapan, tak seperti saat menjawab pertanyaanku yang tadi. Apa tandanya dia pernah merasakan deg-degan ketika bersama cewek?
"Kenapa nggak jawab, Mas?"
"Pernah!" Jawaban singkatnya membuatku lega sekaligus kecewa. Sama cewek pernah tapi sama aku nggak deg-degan.
"Mas Bejo punya pacar?" Kenapa aku jadi sangat kepo dengan kehidupan Mas Bejo?
Dia mengangguk. Hatiku remuk seketika, apa yang kamu harapkan Alia?
"Kalau gitu, kenapa malah menikah dengan Alia?"
"Karena dia bukan calon istri yang baik dan aku nggak mau bikin mama kecewa." Jujur banget sih, Mas. Bisa nggak bohong dikit biar aku nggak terlalu kecewa.
"Terus, gimana Mas jadinya malah mau nikah sama Alia. Padahal belum tentu juga Alia lebih baik dari pacar Mas itu.
"Karena mama sama papa yang minta. Aku yakin pilihan meraka tidak pernah salah."
Aku jadi terharu, memang benar aku wanita baik-baik. Menjadi tidak baik sekali saat sebel sama papi waktu itu. Sama sepertinya, aku juga hanya memenuhi keinginan orang tua.
"Mas nggak pernah ngapa-ngapain gitu sama pacar Mas?" Ingin terus menginterogasinya, karena aku sangat ingin tahu lebih dalam tentang dosen gantengku itu.
"Kami hanya jalan, makan, aku suka keluar keringat dingin jika lagi sama dia. Jadinya aku nggak berani pegang dia."
"Apa pacar Mas nggak protes?"
"Sering, sih. Habis itu dia lama menghilang dan kemudian muncul lagi, menghilang lagi."
Pacaran macam apa itu? Aku jadi penasaran dengan gaya pacaran Mas bejo.
Entah dapat keberanian dari mana, aku mendekati Mas Bejo hingga kini wajah kami hanya berjarak beberapa senti.
"Kamu mau apa?" Nampak Mas Bejo menelan saliva-nya. Jarak kami saat ini begitu dekat hingga aku mampu merasakan hangat hembusan nafasnya.
"Menurut, Mas?