Rania pulang ke rumah saat hari sudah malam, ia tampak biasa saja.
Seluruh keluarga kaget karena Rania baru pulang dari siang mengantarkan bekal, " sayang, kamu darimana saja nak? " Tanya ibunya.
"Habis dari rumah teman Bu," jawab Rania bohong, Ibunya mengangguk.
Rania pamit ingin ke kamar, setibanya di kamar Rania melihat Ran sedang duduk di tepi ranjang.
Bahkan Rania enggan membalas tatapan suaminya, dia lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi.
Air shower ia hidupkan lalu kembali menangis tersedu-sedu mengingat kejadian siang tadi, hatinya begitu terluka lagi saat melihat wajah tak berdosa suaminya, tubuhnya jatuh luruh ke bawah.
Cukup lama Rania berada di kamar mandi sampai dia pun menggigil kedinginan, Ran yang masih setia menunggu di kamar pun mulai khawatir karena Rania tak kunjung keluar.
Dia menghampiri pintu, "Rania." Tidak ada sahutan dari dalam.
Ran terus memanggil nama Rania tapi hasilnya tetap sama, dengan kepanikan yang melanda, Ran pun mendobrak pintu kamar mandi.
Setelah terbuka Ran tercengang melihat istrinya yang menggigil kedinginan, dan terus menatap lurus kosong tanpa ekspresi.
"Rania," Ran mencoba memanggil namanya lagi bahkan mendekatinya, namun tak lupa Ran mematikan shower terlebih dahulu.
Di sentuhnya bahu Rania, lalu diputarnya tubuh sang istri menghadap dirinya, Rania masih sama tidak berekspresi sama sekali.
Ran melepaskan pakaian basah yang di pakai Rania tanpa meminta izin dulu, baginya Rania sudah halal untuknya, tentu saja tidak apa-apa bukan?
Ran menelan Saliva-nya kuat-kuat melihat keindahan tubuh istrinya yang masih basah, di tariknya Rania untuk berdiri dan digendong ala bridal.
Dengan posisi telentang, dan tanpa sehelai benang pun Rania tidak bergeming, sementara Ran membuka seluruh pakaiannya hingga sama polosnya dengan Rania.
Ran merangkak naik menindih tubuh Rania, di cumbunya habis-habisan tubuh Rania, namun tiba-tiba Ran menghentikan aksinya.
"Kalau kamu marah bicaralah, hina aku, maki aku asalkan ..,"
"Asalkan jangan diam begini Rania, MAAFKAN AKU!!!" Ucap Ran dengan menegaskan kata permohonan maafnya.
Rania tetap tidak bergeming, sebenarnya ia ingin teriak di depan Ran, tapi ia urungkan, ia terlalu kalut untuk berbicara.
Ran akhirnya pun menyelimuti tubuh telanjang Rania dengan selimut tebal, memakai kembali pakaiannya lalu pergi meninggalkannya.
Rania menatap kosong pada pintu, ia tersenyum kecut untuk semua masalah ini.
Ran sebenarnya memang merencanakan ini, untuk membuat hidup Rania bagai neraka, namun tidak sinkron dengan hati dan tubuhnya yang tak tega melihat Rania rapuh begitu.
"Shiiiiiiittttt," umpat Ran kesal.
Ran turun ke bawah untuk makan malam, "Ran, dimana Rania? Tidak ikut makan malam?" Ayah dan Ibu bertanya.
"Tidak Ayah Ibu, Rania sudah makan tadi di rumah temannya, dan sekarang dia kelelahan."
Kedua orangtua Rania mengangguk, dan mereka pun makan malam bertiga dalam diam.
Selesai makan malam Ran tadinya ingin menuju kamar, namun ia urungkan dan berbalik ke arah ruang kerja.
Ini sebenernya ruang khusus tamu, namun di sulap Ran menjadi ruang kerjanya selama disini, ia mulai mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk.
Sampai akhirnya dia mengantuk dan ketiduran di ruang kerja, Ran mengerjapkan matanya, melihat jam masih sekitar pukul setengah 6 pagi, Ran pun berniat Jogging di pagi hari.
Kembali ke kamar, Ran melihat istrinya masih dalam posisi yang sama, masih tidak berpakaian.
Ran ingin sekali menyentuh bahkan memakaikan baju untuknya, tapi dia cukup sadar diri.
Sehingga dengan cepat dia memakai pakaian olahraganya, dan kemudian pergi Jogging.
Setelah pulang Jogging, Ran tersentak melihat sikap Rania yang berubah kembali seperti biasa, "ini kopinya," Rania memberikan kopi Hitam yang selalu Ran minum di pagi hari.
"Terima kasih," Rania hanya tersenyum tipis dan mengangguk, kemudian berbalik ingin pergi.
"Tunggu dulu," lengan Rania di cekal Ran. "Apa kau sudah tidak marah lagi?" Ucapan suaminya kembali membuat mata Rania berkaca-kaca.
Dengan berusaha menutupi kesedihannya Rania berbalik menatap Ran. "Marah? Kenapa aku harus marah?" Tanyanya yang membuat Ran kebingungan.
"Bukankah kau yang mengatakan padaku, bahwa kita hanyalah teman tidur di ranjang?"
"Kau juga bilang, bahwa kau akan membuat hidup ku bagai neraka bila kita menikah bukan? jadi Ran, aku tidak berhak marah jika memang tidak ada rasa di Antara kita!"
Rania berusaha sekuat tenaga, menahan tangisnya juga amarahnya, dia pun tersenyum ceria lalu berbalik pergi.
Ran terdiam seribu bahasa, benar memang apa yang di katakan Rania. Tapi entah kenapa kata-katanya begitu menusuk hatinya.
Seharusnya dia senang, karena memang inikan yang di inginkannya.
Ran memakai dasinya namun dia kesulitan, Rania yang baru masuk ke kamar pun melihat suaminya yang susah memakai dasi.
Dia mendekati Ran berdiri di hadapannya, mulai memasangkan dasinya dengan lembut, Ran melihat pemandangan itu dengan senyum yang mengembang.
Di tariknya pinggang istrinya posesif, "selesai." Ucap Rania agar Ran melepaskan pelukannya.
Namun Ran malah memeluknya erat, "lepaskan Ran!"
Cup.
Ran mencium bibirnya, melumatnya dengan lembut dan bernafsu, Rania pun terbuai membalas ciumannya dan mengalungkan tangannya ke leher Ran, bahkan Rania berjinjit mengimbangi tinggi badan Ran.
Dirasa pasokan oksigen mulai habis Ran melepaskan ciumannya namun hanya sebentar, kembali dia melumat bibir mungil Merah merekah Rania.
Tahu kakinya melemah seperti jelly, Ran dengan sigap menggendong Rania, Rania pun mengaitkan kedua kakinya di pinggang Ran.
"Emmmmppphhh," erang Rania di sela-sela ciumannya.
Cumbuan Ran turun ke leher putihnya, "aaahh sssshhh." Ran semakin Sangat bernafsu.
"Ah Rania aku ingin sekali memasuki mu sayang," Mereka saling tatap.
"Main cepat?" Tanya Rania menggoda yang langsung di angguki Ran.
Ran langsung membawa tubuh Rania di tengah ranjang besar mereka, tak lupa Ran menutup pintu takut tiba-tiba Ibu mertuanya masuk.
Ran tak perlu repot-repot hanya perlu membuka resletingnya dan mengeluarkan juniornya yang sudah sangat menegang, sementara Rania di lepaskan semua yang melekat di tubuhnya.
Waktu Ran sangat singkat dan untuk itu dia langsung melesakkan juniornya ke dalam v****a Rania yang telah basah oleh cairannya.
Blessshhh.
"Aaaaahhh," erang Rania merasa puas, entah kenapa pagi ini gairah Rania sangat tinggi.
Ran asyik memaju mundurkan tubuhnya seiring keluar masuk juniornya di lubang nikmat Rania.
"Aahh lebih cepat Ran uuuhhh," bahkan Rania mengimbangi gerakan Ran, mereka terus berpacu tanpa henti.
"Raniaaaaaaaa kenapa kau begitu sempit, milikmu menjepit kuat milik-ku ooouuggghh."
"Ah yes Ran, milik mu besar sekali ah ah ahhh." Ran benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.
Melihat kedua p******a Rania bergoyang kesana kemari membuat Ran tidak tahan untuk melumatnya, memelintir bahkan menggigit p****g merah kecoklatan milik Rania.
Ran sungguh gemas sekali, dia mengentak-hentakan tusukannya semakin dalam dan kuat, membuat Rania menjerit nikmat.
"Rania, Rania, Rania," ucap Ran di setiap sodokannya. "Kau nikmat sekali, kau milikku." Racau Ran yang terus menggempur milik Rania
Setelah beberapa menit kemudian Ran dan Rania mengalami o*****e mereka barengan, "aaaaaaaahhhhhhh." Tubuh Ran jatuh lemas di atas tubuh Rania.
"Tadi malam aku tidak mendapatkan jatah ku!" Tuntut Ran pada Rania sambil mengecup puncak kepalanya.
Rania yang masih di landa sisa-sisa orgasmenya pun hanya diam dan tersenyum, karena berhasil membuat gairah suaminya terpancing.
Dalam hati Rania berharap suaminya selalu bisa mengalahkan nafsunya pada wanita lain, dengan cara selalu mengingat percintaan panas mereka.
Ran juga sangat menikmati sekali tiap dirinya bercinta dengan Rania, Ran heran dengan milik Rania yang masih sempit, padahal hampir tiap hari dirinya memasuki lubang surgawi Rania.
Baru saja Ran melangkahkan kakinya di kantor namun dia bertatap muka dengan papanya.
"Masuk ke ruangan ku!!" Perintah Abi.
Ran menghela nafas berat, tahu betul apa permasalahannya, Karena kemarin Abi tahu mengenai Rania yang memergoki dirinya saat sedang asyik bercinta dengan sekretaris baru, Nadia.
Abi menyuruh anaknya untuk duduk, dan mulai pembicaraan. "Apa yang sebenarnya terjadi kemarin siang?" Tanya Abi langsung to the point.
"Rania memergoki diriku yang sedang bercinta dengan sekretaris baru," jawab Ran tanpa rasa takut.
Abi tampak menggetarkan giginya menahan amarah, "papa minta sama kamu buat ngehargain dia sebagai istri kamu Ran!" Ran hanya diam mendengarkan.
"Tapi kalau memang kamu begini terus maka papa akan langsung memisahkan kamu dari Rania!!" Ucapan papanya begitu menyakiti hati Ran.
Ran tanpa menjawab papanya langsung pergi dari ruangan Abi dan menuju ruangannya, saat sampai di ruangannya ia melihat Nadia yang tersenyum nakal ke arahnya.
Ran hanya balas tersenyum tipis, dia tidak b*******h melihat keseksian Nadia kali ini, Karena dia sudah mendapatkan energi efek dari percintaan panasnya bersama Rania.
Mengingat itu dia jadi menginginkan lagi, bercinta bersama Rania dengan panas, liar dan terus-menerus.
Sedangkan di rumah Rania tersenyum bangga melihat kissmark yang melekat di tubuhnya, hasil dari perbuatan Ran tadi.
Dia berjanji mulai saat ini dia akan tetap mempertahankan rumah tangganya, apapun yang terjadi dia akan berusaha sebaik mungkin.
Rania akan membuat Ran mencintainya dan selalu ketagihan dengan dirinya.