“Vio, lo di mana anjir? Gue disuruh Pak Raka nyari lo ke mana- mana tapi nggak ketemu.” Setelah berusaha menelepon Viona berkali- kali, akhirnya panggilan Shafa diangkat juga oleh wanita itu. Ia sudah lelah berkeliling Kampus hanya untuk mencari temannya dakjalnya itu. Jika bukan karena takut pada Raka, Shafa tak sudi berkeliling Kampus sampai mandi keringat seperti ini. “Hah? Di warung Nyak Sumi?” Shafa memekik dengan keras saat mendengar jawaban dari wanita itu. Sedangkan Sinar hanya melihatnya sambil terduduk lemas di tangga gedung perpustakaan. “b*****t, sialan lo dakjal! Gue capek- capek keliling Kampus, taunya malah di warung Nyak Sumi! Bilang kek dari tadi. Gue telepon nggak diangkat, dichat juga nggak dibales. Pengen gue cekik rasanya,” omel Shafa sambil berjalan dari depan ged

