Dani memeluk tubuh sang istri ketika dia mengantarkan Zea ke bandara Juanda. Hari ini adalah hari di mana dia harus ke puncak tempat dia harus menghadiri acara untuk bertemu dengan penulis idolanya---KingDark. "Hati-hati di sana. Maaf untuk kejadian semalam," ucap Pria itu yang mencium pucuk kepala sang istri.
Zea hanya diam dengan mengangguk dalam pelukan suaminya. Dia masih tidak mood untuk berbicara dengan Dani akibat pertengkaran semalam.
Dani melepaskan pelukan. Dia menangkup wajah Zea dengan senyuman yang selalu dia berikan untuk istri tercinta. "Hati-hati di jalan." Dilabuhkan ciuman di kening Zea.
Zea mengangguk kembali. "Ya."
Suara panggilan keberangkatan sudah terdengar. Keduanya terpisah dengan Zea yang mulai meninggalkan keberadaan Dani.
Sekuat tenaga wanita itu mengembalikan moodnya karena apa yang telah lama dinginkan akan tercapai. Perjalanan yang memakan waktu delapan jam lebih membuat tubuhnya benar-benar merasa lelah karena hanya bisa duduk di dalam pesawat.
Tiba di bandara Soekarno Hatta, dia mendapati seorang pria paruh baya menghampiri. "Dengan Nona Grizealla?" tanya pria itu.
Zea mengangguk dengan senyuman. "Iya."
"Mari. Mobil jemputan ada di sebelah sini." Pria di hadapannya menunjuk suatu arah di mana Zea langsung mengikuti.
Memang, setelah pengumuman pemenang dulu, semua diminta data untuk mengetahui tempat tinggal asal. Supaya panitia bisa menyediakan kendaraan yang memang diperlukan.
Kembali. Zea harus menempuh perjalanan melelahkan menggunakan mobil untuk sapai ke puncak. Apalagi dengan kemacetan yang terjadi. Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta membuat dirinya sempat terkejut dengan jalanan di sini.
Dua jam lebih akhirnya dia sampai di sebuah villa. Tidak terlalu besar, tetapi tempatnya yang asri mampu memanjakan mata. Zea menuruni mobil dan mulai melangkah memasuki villa itu. Pandangannya mengedar mencari peserta lain. "Sepi sekali. Apa tidak ada yang datang?"
"Hampir semua peserta sudah beristirahat di kamar masing-masing." Zea sempat terkejut dengan suara yang menimpali pertanyaannya. Terlihat seorang wanita mendekat dengan sebuah bola kaca di tangan.
"Silakan pilih kamar yang akan Anda tempati." Wanita itu mengulurkan bola kaca di tangannya yang berisi busa-busa putih ke arah Zea.
Kening Zea terlipat. "Harus?"
Wanita itu mengangguk. "Iya. Jika beruntung kamar Anda bisa saja berada di samping kamar KingDark," jelas wanita itu.
"Benarkah?" tanya Zea yang sudah mengubah mimik wajahnya. Rasa lelah tadi seolah sirna karena penjelasan barusan. Berada di kamar berdampingan dengan penulis idolanya. Siapa yang tidak mau?
Wanita dengan kaus biru yang memperlihatkan pusar itu mulai memasukkan tangannya ke bola kaca di mana dia akan memilih kamar yang akan ditempati. Sebuah kertas dalam sedotan dia dapat. Tidak sabar Zea mulai membuka dan membacanya.
"Nomor dua," ucapnya sembari memandang wanita yang memegang bola kaca di hadapannya.
Wanita itu tersenyum. "Kalau begitu di sebelah sini. Ada di lantai dua." Zea mulai mengikuti langkah dari wanita yang belum dia tahu siapa namanya itu setelah sosok di hadapannya meletakkan bola kaca pada meja.
Zea mulai menaiki tangga dan melihat ada empat kamar di lantai dua ini. Angkanya dari satu sampai empat. Dia berhenti di depan pintu nomor dua, angka yang beberapa waktu lalu didapatkan.
"Anda bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum acara nanti malan, Nona. Nanti akan ada pelayan yang mengantarkan makan siang Anda." Wanita tadi kembali menjelaskan saat dia masih memperhatikan kamar lainnya.
"Apa KingDark ada di dalam salah satu kamar ini?" tanya Zea dengan menunjuk satu persatu kamar yang ada.
Sayangnya, wanita tadi hanya melempar senyum mengembang. "Itu masih menjadi rahasia, Nona. KingDark bisa tidur di mana saja yang dia mau."
Semangat yang sebelumnya hadir kini seakan menipis. Ya. Jawaban itu memang benar. Kini kecil kemungkinan kalau dirinya akan bisa tidur di kamar yang bersebelahan dengan penulis misterius itu. Sosoknya bisa saja tidur di mana saja. Bahkan di lantai bawah yang dia lihat tadi juga ada beberapa pintu dengan nomor yang menempel.
"Acara akan dilaksanakan jam 7 malam, Nona." Zea mengangguk. Dia memasuki kamar dengan lesu karena lelah yang dirasa juga hal yang barusan didengar. Tidak ingin berlarut dalam kebimbangan, dia mulai membersihkan diri.
Menikmati makan siang saat dia mendapatkannya dan mulai terlelap dalam kasur empuk di kamar.
***
Zea mematut dirinya di depan cermin. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan penulis idolanya. Tentunya dia akan berpenampilan dengan baik agar tidak mengecewakan. Memangnya siapa yang akan dia kecewakan? Kenapa begitu takut?
Menggunakan dress ketat berwarna hitam, Zea mulai menuruni tangga saat seseorang mengetuk pintu kamarnya dan mengajak dirinya turun. Itu adalah wanita yang tadi siang.
Zea tidak tahu siapa pemilik kamar di lantai dua lainnya karena dia belum bertemu dengan siapa pun di sini. Langkahnya diajak ke arah belakang vila di mana sudah banyak orang yang berdiri di sebuah taman.
Rupanya tidak hanya ada perempuan saja, laki-laki pun juga ada. Memang tidak heran jika ada seorang pria di sini mengingat novel yang ditulis oleh KingDark sangat mudah membuat pembaca jatuh hati.
Zea mulai berbaur dengan yang lain. Saling menyapa dan saling berkenalan. Beberapa kudapan kecil juga bisa disantap. Zea merasa ini lebih bisa disebut sebuah pesta.
"Mohon perhatian." Suara seseorang yang berdiri beranda villa membuat semua orang mengalihkan atensi ke arah wanita yang tadi menuntun Zea. "Perkenalkan nama saya Nadine. Saya di sini adalah asisten dari KingDark yang akan mewakili beliau dalam segala urusan."
"Ah. Ternyata namanya Nadine," bisik Zea pada dirinya sendiri.
"Terima kasih untuk yang sudah hadir di tempat ini malam ini. Kalian rela jauh-jauh untuk datang ke sini. Sayangnya, dari dua puluh orang yang terpilih, hanya lima belas yang bisa datang. Tapi tidak apa. KingDark sangat berterima kasih akan hal itu.
"Acara ini akan berjalan tiga hari. Akan ada beberapa game nantinya. Setiap orang yang menang dalam satu game, maka ada poin yang mereka dapat. Dan poin ini akan diakumulasi di hari terakhir. Siapa yang mendapatkan poin tertinggi, kalian akan mendapatkan hadiah istimewa dari KingDark." Semua bersorak bahagia dengan apa yang baru saja didengar.
Wanita itu melempar senyum ke arah semua peserta acara ini. "Apakah kalian sudah siap untuk bertemu dengan KingDark?"
"Sangat siap!" teriak semua peserta termasuk Zea yang kini sudah berdiri dengan dua wanita lain yang baru dikenalnya.
"Menurut kalian, KingDark itu seorang pria atau seorang wanita?" tanya Nadine dengan melempar pandangan ke semua peserta.
"Pria." Jawaban itu sangat kompak diucapkan semua peserta. Ralat, didominasi oleh para wanita.
Kerutan di kening Nadine tercipta. "Kalian yakin?"
"Sangat yakin." Lagi-lagi jawaban itu begitu lantang diucapkan.
"Baiklah. Kalau begitu, kita sambut saja KingDark untuk segera datang ke sini." Semua mulai memanggil nama KingDark secara serentak dengan sebuah tepuk tangan.
"Aku penasaran sekali." Seorang wanita bernama Laisa yang baru saja dikenal Zea berujar dengan tatapan haru. "Rasanya sudah lama aku ingin bertemu dengan penulis yang karyanya mampu menghipnotis itu." Zea tersenyum karena dia juga merasakan hal yang sama.
Semua mata tertuju ke arah villa yang diduga dari sanalah KingDark akan hadir. Wajah-wajah semua baik laki-laki dan wanita menunjukkan rasa tidak sabarnya.
"Kita sambut penulis kita. KingDark!" teriak Nadine dengan membuka tangan di hadapan pintu villa seolah sedang menyambut kedatangan seseorang.
Pintu kaca villa terbuka, menampilkan sosok pria dengan balutan jas rapi berwarna hitam dan celana kain dengan warna senada, kemeja di dalamnya terlihat berwarna putih. Melangkah begitu tegap keluar dari dalam villa menyapa para peserta yang hadir.
"Selamat malam," sapanya dengan suara yang berat dan dalam. Senyum tipis terpatri di sana. Katakan wanita mana yang tidak akan terhipnotis dengan pria itu.
"Aa! KingDark!" teriak para wanita yang hadir di sana dengan sorakan yang sangat memekakkan telinga.
Akan tetapi, tidak bagi Zea. Wanita itu malah melotot dengan mulut yang menganga. Dia seakan tidak percaya dengan sosok yang dia lihat berdiri di depan sana. Dia mengerjapkan mata beberapa kali berharap bahwa dirinya salah.
Namun, apa yang dia lihat benar adanya.
Bagaimana wajah dengan jambang tipis itu mengulas senyum. Sorotan mata tajam yang memang mampu menghipnotis. Sedikit berbeda. Belum lagi sebuah tato elang yang bisa dia lihat bagian sayapnya pada tangan sebelah kiri. Lidah Zea terasa keluh dengan siapa yang dilihatnya. Tubuhnya terasa kaku dengan kenyataan ini.
Beruntung ia tidak sedang memegang sebuah gelas. "Bara?" ucapnya lirih.