Bertemu Graydebara

1049 Words
Kin, yang nista dan rempong bener sebenarnya berkat dirinya kini bak embak-embak tukang endorsement skincare yang over glowing dan modis, kini, bergidik nyeri. Bukan karena efek bajunya tentu enggak seselera dengan kesehariannya yang elbih demen pake baju oblong dan celana koboi, emang agak rock and roll juga Madagaskar, sih, emang, kedemanannya si Kin, tapi, yang sebenarnya jadi masalah adalah … betapa jiwa nyinyir dalam dirinya, sungguhan nggak tahan saat disuguhi tulisan besar pamflet dan ornament mewah ertuliskan … “Benih Bumi?” tanyanya. Kemudian, ia mendecih. “Bego juga yang namain.” Oke. Kin mungkin secara tidak resmi berhasil mencetak rekor sebagai satu-satunya orang yang ngajak berantem ini perusahaan. The amaizing VVIP penghujat yang bahkan dari depan aja udah kena kritik. Tapi, semua itu beralasan. Maka, maksud Kin di sini adalah … “Ya, lagian … paling aman dan diusahakan, tuh, ya, ngebor dilautan. Ngatain benih bumi, lo kata perusahaan lo di bidang pertanian? Ahli cocok tanam? Dih, parah banget, sih, nih, idenya nggak right amat. Udeh lah, karena gue berbudi, beriman, dan berbahasa, gue bantu revisi, deh.” Dan, dengan senyum jahil yang tercipta dari bibirnya, Kin pun menghapus pamphlet mini di pintu masuk perusahaan tersebut, yang tentu usai melewati satpam, dengan tulisan : Dengkot Samudera. Plus tambah subtitle, ‘Melayani Kebutuhan Manusia Berencana.’ “Oke, gue terinspirasi dari KB. Semoga mereka bisa belajar betapa amaizingnya KB sukses dipake semua orang.” Kin … betul-betul … nggak jelas. :’(( *** Lalu, selalu saja, sesuai dengan prosedur orang hebat pada umumnya, Kin pun melangkahkan kaki ke meja resepsionis untuk bisa bertemu dengan Grayebara. Yang sebenarnya, sih, dari mini notes bak buku dairy yang dituliskan oleh Alora, Kin jelas sudah tahu letak lokasi pas di mana biasa Tuan Muda Besar Ganteng Pujaan Sejuta Umat—yang di mata Kin bego karena namain perusahaan aja error—akan sangat aneh jika Kin tiba-tiba kabur masuk. Bisa-bisa dituduh maling pake x, malingx nanti dia. Kan, berabe ... Makanya, Kin dengan sopan pun bertanya, "Apa Tuan Graydebara ada di dalam?" Sang resepsionis itu pun, entah apa pemicunya. Mungkin emosi kalah Beauty and The Beast dari Kin, haha, yakali Kin bak makhluk nyeleneh, orang dandannya aja menganut asas gebyar-gebyar. 'Merah pipiku, putih wajahku.' Hehe. Makanya, agak aneh kalau Mbak-Mbak tersebut justru nampangin ekspresi sinis dan jutek abis ke dia. Bilang cuman ... "Nggak ada." Percayalah itu sungguh ketuzz dari babaktuzz. Yakni, bakso bakar tuzzukzz. "Nona juga belum membuat janji, kan, dengan Tuan Graydebara?" Kin pun mengangguk-angguk takzim. "Jadi, apakah Tuan Graydebara selain nyetak rekor sebagai Amaizing Man In The Galaxies ini juga kena pasal 'Bak Alif Lam Syamsiyah'?" "Hah? Maksud Mbaknya?" Tuh, ganti dari Nona jadi Mbak. "Ya, sebenernya ada, tapi tak terdengar di mata Mbaknya." Langsung, deh, itu respsionis emosi. "Mbak ngatain Bos saya ghaib?" "Hehehe." Kin nyengir. Berhasil juga dia tydack menyinyir meski endingnya bisa elegan dan ngajak emosi. 'Enak juga, ya, ternyata jadi Alora. Begini, toh, rasanya,' batinnya. Kapan-kapan mau dia bodoh macam sahabatnya. Seru ... Yang setelah itu, datang lah cowok beserta para staff yang sepertinya hendak buru-buru pergi ke suatu tempat. Kin bisa dengan yakin 100 triliun persen, kalau cowok itu lah yang bernama Graydebara. Karena semenjak dari jabang bayi, meski belum kelihatan skill Ultra Man nya, namun, sungguhan, Graydebara memang setampan itu dan Alora, karena begitu niat dan tergila-gila untuk mewawancarainya, berakhir dengan ... bak jampi-jampi. Hampir semua foto Graydebara di pasang di kamar mereka. "Ini foto dia waktu di Zimbabwe 5 hari lalu, Kin. Kalau yang ini, pas dia makan sate. Nah, ini, nih, pas dia diajak CEO Deor buat jamuan makan malam keluarga. Very Mamba Banget, kan, koneksinya?" Justru, mendengar itu terlalu sering, efeknya sampai bikin Kin nggak bisa tidur. Efek punya temen on the way jadi reporter. Kacaaaauu parah. Stalker kelas kakap. "Tuh, kan, Mbak. Saya bilang apa. Kedengaran dari tadi, loh, suara bincang-bincang. Khatam saya sama suara si Mas Gray-nya." "Mbaknya, wah ... berbahaya sekali. Selain dukun, apakah Mbaknya ini ... stalkernya?" Tuh, dibilang Kin juga apa. Bahaya memang terlalu banyak tahu. Namun, sebelum sang resepsionis itu mengabdikan diri dengan sangat enerjik memberitahu kalau Kin adalah ancaman umat ini, Kin jauhh leeebihh dulu, mendapatkan Graydebara. Gadis itu memasang senyum manis yang begitu lebar. "Halo, Tuan. Saya Alora. Saya dari perwakilan jurusan Komunikasi yang seminggu lalu meletakkan formulir wawancara Tuan. Dan, hari ini—" Belum selesai ngomong, sudah dipotong, Gray bilang, "Kamu enggak punya kompetensi lebih buat ngomong sama saya." DEG. Kin membeku. Ini kah Tuan Bersayap yang didamba-damba oleh Alora? Sang Tuan Berkuda Putih yang bahkan nggak tahu diri yang hell-llo banget? Yang katanya menduniawi dan kritis sama aspek oranglain padahal dirinya hanya manusia kelas cupang? Apa enggak salah seorang Graydebara Tuan Dahsyat justru dinobatkan menjadi mega bintang? Kalau untuk mengorbit yang lain saja jelas ia tepar? Kin sungguh nggak percaya. Maka, sama batunya dengan sahabatnya, Kin yang nggak kehabisan akal, dia menghadang. "Pak, tapi meski kami kelas bubur, kami punya integritas, Tuan. Kami sangat memperhatikan opini netral sebagai hasil." "Ya, tapi, untungnya buat saya apa?" tanya balik Graydebara. Kini, lelaki itu menatap Kin intens. "Apa kamu mau menyebarkan wajah saya, mencetak brosur seperti banyak dilakukan reporter-reporter universitas lain supaya saya dapat berbelas kasih menampung lulusan kamu untuk bekerja di lapang saya?" Kin mengimbuh dengan decah. "Tapi, setahu saya Tuan melebarkan sayapnya di bidang minyak, deh. Apa Bapak memang selalu pakai sistem replay sehingga saya harus ulang kalau ... 'Dear, Tuan Gray, saya berasal dari Ilkom, Universitas Yudhatama, A-Lo-Ra. Enggak ada niatan bahkan terbersit di kepala saya harus mengotori voice recorder saya dengan minyak." Di situ, smirk Graydebara mengembang. "Kamu melanggar aturan jurnalistik." "Apa?" "Harusnya seorang reporter riser dulu dengan baik, kan, seputar pengetahuan up to date narasumbernya? Kenapa yang dari dua hari lalu hingga trending di kanal You Tube dan Twitter, yang semua orang pun tahu kalau saya akan membuka stasiun TV sendiri, yang otomatis akan mempekerjakan banyak sekali reporter, kamu jusru nggak tahu?" DEG. "Sta—stasiun TV?" Dengan detik itu juga, Graydebara yang memang begitu berkelas pun, meletakkan tangannya ke saku celana. Wajahnya yang dingin semakin dingin begitu dirinya tersenyum devil. Lelaki itu kemudian memotong langkahnya dengan menyebut, "Itulah mengapa bodoh sekali mengandalkan pengetahuan tanpa mau belajar." Yang dalam hati, Kin sudah menyumpah. 'Daripada situ. Bodoh sekali perusahaan udah mau beranak, nama masih aja korslet. Sebuah kredibilitas yang harus dipertanyakan.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD