Kin tidak menyerah.
Bagaimana pun, hasil yang akan terjadi setelah ini, semuanya akan menggantungkan Kin pada hidup dan mati.
Motivasinya, Kin harus dipandang beda.
Salah satu kekuatannya, ya, tak henti berusaha.
Dia harus gencar meski dalam hati tak pernah berhenti dalam diri Kin untuk nggak mencabik ini receh berkedok dollar.
"Tuan, saya bahkan sudah mengirim lampiran dan semua pertanyaan yang konkret dengan citra Tuan. Apa Tuan tidak merasa jika ini adalah investasi yang bagus?"
"Apa saya begitu pentingnya buat kamu, hem?"
Serius.
Gray rasanya ingin memutar bola mata saja.
Gadis ini terlalu merepotkan.
Malas sekali dia harus menghadapi gadis itu yang jelas-jelas, kelas sepertinya tahu, bagaimana kualitas mereka.
Problem solving mereka kacau.
Yang ada, mereka justru bakal ngeluarin banyak statemet gosip yang justru memenjarain dia sama banyak ... cewek.
"Iya! Tuan berharga sekali buat saya! Saya butuh Tuan biar saya bisa buktiin! Kalau—"
"Kalau?" Gray mendekat.
Sebab, semakin dihampiri, gadis itu sama sekali seolah tak bisa tepar pada pesona yang ada dalam dirinya.
Meski, untuk orang asing, Gray jelas meletakkan tahap kenormalan baru.
Yakni : Jarak.
"Kalau Mamah saya haqqul yaqin satu benda bisa dipernakkan menjadi banyak cabang. Iyahh, bener banget."
"Maksudnya?" Gray bingung. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa malah ada gadis seperti ini yang datang di harinya yang padat dan sibuk.
"Ya, Tuan, kan, tukang dagang minyak bumi. Kenapa lantas enggak coba aja gitu minyak sayur? Kan, Mamah saya jadi enggak ngerasa manfaatnya!"
Bego.
"Kamu itu mau demo atau wawancara saya, sih?"
Di situ, untuk kali pertama, Kin menjadi satu-satunya orang yang protes karena nggak ada varian minyak goreng di perusahaan minyak bumi atau pertambangan sejenis milik Graydebara.
'Sial,' serapah Kin dalam hati. 'Masalahnya kalau demi Alora kata Alora, kan, ini makhluk gak demen digantung. Yang ada entar gue makin diusir. Awas aja kau, Kutu! Gue ruqyah lo entar.'
Cowok cool yang sudah mati-matian menjaga citranya itu, lantas harus luluh dan beratarung agar tak 'bablas, slurr' berkat gadis itu.
Maka, bisa Gray, hanya menutup wajahnya dengan tangan.
'Cewek ini, asdfghjkl,' batinnya.
Nggak habis pikir.
***
"Jadi, ya, Tuan Gray, kemarin itu, kan, Tuan menghadiri acara bergengsi untuk semua business man di dunia, dan tentu wajah Tuan lantas menjadi tranding di Indonesia. Baik di channel youtube maupun di akun-akun khususon Makhluk Tamvan semuka bumi."
"Right," angguk Graydebara.
Kini, gara-gara protes nista Kin, ia akhirnya mendapat kesmpatan untuk duduk bareng sang Tuan paling ngehek seantero jagat ini.
Tapi, Kin berulang kali ingin rasanya ia menjadi hulk sebab hampir semua pertanyaan yang ada di sana, jatuhnya, sih, memang wawancara, tapi enggak dengan gaya kuda lumping begini ...
"Jadi, pertanyaan saya ..." Kin tahan napas. Gray sudah menghadap dirinya hingga mata mereka bertemu yang itu makin bikin Kin mengulum bibirnya ke dalam. "... Tuan pakai skincare apa?"
Lagi.
BEGO!
Kin ingin sekali ada gitu hero yang mampu menghentikan waktu, yang lantas membawanya kabur ke waktu di mana ia kembali bersama Alora.
Kin tahu Alora benar-benar tergila-gila dengan Gray yang notabenenya hinggap pada kata sempurna.
Namun, meski Kin memintanya untuk tidak merepotkan Kin bertugas bertanya daftar wawancara berdasarkan riset.
Tapi, ya ... enggak begini juga ...
Lalu, Gray, yang kali itu, Kin merasa antara terhormat dan tidak, dia bisa melihat senyum langka sang pangeran rupawan tersebut.
Dia mengatakan, "Hampir semua pertanyaan kamu, selalu berkaitan dengan pribadi saya."
Dan, Kin mengobrak-abrik perhatiannya dalam hati.
'Ya, iya lah berkaitan dengan lo. Emang siapa lagi yang harus diwawancara di sini, Bud?'
Bud is Budi.
No sebut merk.
Kin harus berperinsip seperti itu.
Sen-sor.
"Ketiga, di bab tiga dalam penelitian kamu, kamu tidak memasukkan analisis deksirptifnya. Makanya saya bertanya tadi kamu sudah mengikuti seminar proposal atau belum, kok bisa dengan kesalahan sefatal ini kamu lulus"
“Sudahlah anggap saja kamu sedang beruntung kemarin. Sekarang kamu perbaiki dulu sebelum kita masuk ke bab selanjutnya"
Gantari menyerahkan kembali skripsi Kinan Sabrina Tanjung yang sudah penuh dengan coretannya dan kartu bimbingan Kin.
Rara seperti habis ditampar bolak-balik mendengar penjelasan panjang-lebar dari Gantari. Tidak mau berlama-lama, Kin menerima kembali skripsi dan kartu bimbingannya. Tanpa bertanya lagi, Kin mengucapkan terima kasih dan langsung keluar dari ruangan Gantari.
Begitu keluar dari ruangan Gantari, Kin bertemu dengan Alora dan Agrya.
"Eh, Ra!" Sapa Agrya.
Rara yang sempat lesu bersemangat lagi melihat dua sahabatnya ternyata juga ke kampus hari ini.
"Hei! Kalian abis bimbingan juga?” tanyanya.
"lya. Gimana bimbingan sama Pak Graydebara? Enak gak?"
Goda Alora.
Kin mendengus kesal. "Boro-boro, lo liat ni skripsi gue abis dicoret-coret. Mana judes banget lagi!" Gerutu Kin.
"Hahaha, santai dong. Gimana kalau kita nongki? Biar dingin kepala lo, Ra" Alora yang dijawab anggukan oleh
Alora dan Kin.
Tiga sekawan ini sudah duduk di tempat tongkrongan langganan mereka. Setelah pesanan mereka datang, mereka mulai mengobrol, membahas semua hal yang bisa dibahas.
"Eh tapi serius deh, Pak Graydebara itu beneran belum nikah, ya?" Adelia kembali bertanya. Sedari tadi Gray menjadi topik hangat pembahasan mereka bertiga.
Alora mengedikkan bahunya. "Banyak banget gosipnya. Tapi berita terbaru yang gue denger, katanya dia pernah tunangan terus batal, semenjak itu Pak Gantari jadi dingin banget ke orang-orang."
"Oh ya??" Kin terlihat tidak percaya.
***
Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka.
Masih.
Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu.
Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun.
Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu.
Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah.
Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas.
Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda.
Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah.
Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan
Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya.
Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya.
"Surprise!" Teriak semua orang.
Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk
mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya
menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan
Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang
seharian ini menjadi sumber masalah harinya.
"Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya.
Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima
Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar
Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara.
kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran.
Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini,
menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik
ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan,
seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua
tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu.
"Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha.
"Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..."
Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray.
Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta.
Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung.
Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.
"Kamu bahkan tanya soal ojol yang saya berikan uang lebih yang justru kamu tanya, 'Are You Okay, Tuan?'. Lalu, setelahnya, kamu tanya es krim favorit saya, yang selanjutnya, kamu malah rekomendasiin, Es Krim Cium-Rindu, Kiss-Miss gitu maksudnya?"
Serius.
Kin rasanya ingin hilang saja dari bumi.
Namun, gadis itu tetap mempertahankan senyum anggun.
Walau sudah jatuh ke kubang lumpur, tak ada salahnya mencari selang, lalu disambungkan ke keran air, dibersihkan.
Maka, Kin pun membalas, dia harus tetap mempertahankan eksklusifitasnya sebagai wanita cerdas reporter yang berkelas.
Meski, nyeri banget, nih, kepalanya gegara kelakuan Alora yang sungguh tidak oye.
"Tuan ... tidakkah Tuan tidak mengambil sisi positif dari hal sederhana yang saya lakukan?"
Dahi Gray mengkerut. "Positive?" Dia kemudian mode berpikir usai. "Hamil?"
"Be—" Terputus. Karena Gray lebih dulu menatapnya intens. Seolah menanti kalimat selanjutnya.
"Be?"
"Be—rarti, Tuan memang be-lajar. Soalnya, seringkali Tuan dari hal-hal sederhana, kita jadi akan mengerti sebuah makna yang besar. Gini, deh. Gunanya Tuan menjawab pakai skincare apa? Itu artinya, saya, One and Only In This World yang teramat perduli dan peka kalau sejatinya, saya nggak cuman bisa jadi reporter."
"Tapi, jadi kepo-pers?"
"No ..." Kin menggeleng. Dia jelas nggak terima. "Namun, membantu Tuan agar bisa berada dalam satu hal yang mana Tuan membantu perekonomian, juga perm—"
"Perminyakan."
"Nah, ya, perminyakan produksi overrated yang sering jadi masalah terjadinya komedo. Siapa lagi coba, Tuan, yang tidak akan bahagia kalau seorang Graydebara ternyata ikhlas membagi rahasia wajah surgawinya?"
Gray tertawa.
Kin, sih, sudah menebak kalau itu bakalan terjadi, ya. Hahaha.
Soalnya, kan, enggak ada di dunia ini pujian yang nggak akan membuatmu enggak meninggi.
"Lalu ice cream? Bukannya di salah satu wawancara di Washington DC saya sudah sempat bilang kalau saya suka ice cream mint?"
'Dih, ngemut sikat gigi.' Kin ingin mencibir. 'Koreksi. Ngemut odol buat gigi. Hehe.'
"Iyaaa, saya tahu." Kin terlihat meyakinkan. "Dan, bukankah akan jauh lebih menyenangkan kalau akhirnya semua orang tahu, jika Tuan Graydebara, pemilik perusahaan Benih Bumi, ternyata terbuka atas segala inovasi dan juga beraneka macam varian."
Lalu, gadis itu melanjutkan ...
"Bukannya ini sangat menguntungkan? Tuan akan menjelma menjadi figur yang ... tak segan untuk mengatasi semuanya dengan baik?"
Di situ, Gray mulai melonggarkan dasinya.
Perjalanannya menuju ke Bandung saat itu, cukup luar biasa menguras. Meski, ia tak bisa bohong jika ia menikmati kekonyolan gadis yang fun factnya, tak menunjukkan ekspresi takjub seperti kebanyakan.
"Terima kasih sebelumnya," ujar Gray. Laki-laki itu melipat bibirnya membentuk smirk yang entah apa artinya. "Tapi, kalau kamu bilang saya akan lebih baik tertarik mencoba hal baru karena itu bentuk daripada menyukai tantangan or whateves, saya pikir saya sudah tahu apa yang mau saya cicipi sekarang."
"Iya, kah?"
'Aseq, teraktiraaan ...' gema Kin dalam hati.
"Apa itu, Tuan?"
"Kamu."
"Apa?"
'Maklum, Vu-DEG.'
"Iya, kamu."
Kali ini, DEG beneran.