Melanggar

1938 Words
Dia benar-benar kayak bukan Gary yang biasa Kin lihat. Entah apa yang sebenarnya tengah merasuki cowok itu, sampai-sampai, ia bahkan tak segan mendekat hingga menyudutkan Kin yang bergidik ngeri karena matanya itu, loh, punya bakat ; m***m. Makanya, Kin hanya bisa merem melek. Takut kalau tiba-tiba si cowok ini lantas justru berubah menajdi Mega Mind yang tentu aja berbahaya demi kesalamatan hidupnya. Maka, Kin bilang, dengan bodohnya, “Om jangan apa-apain aku, Om.” DEG. Cowok itu kontan berhenti. “Om?” Lalu, beberapa detik setelahnya, ia berhasil menetralkan wajahnya. “Ah, iya lupa. Kamu, kan, satu-satunya reporter bodoh ingusan yang bahkan nggak riset sama sekali soal saya.” ‘Dih,’ civbir Kin. ‘Bukan bodoh dan ingusan, ya. Tapi, emang nggak tertarik buat riset orang gila macam Anda. Emang Anda pikir saya pawing yang nyediain obat penjinak atau yang mampu membuat Anda nggak buas, eh?’ Tapi, bodoamat. Begitu Kin melihat salah satu mall besar Ibu Kota, yang emang nomplok dan kebetulan banget, tuh, bisa Kin turun dari ini mobil dan ngacir buat nyari busway. Seenggaknya, tadi dia sudah berusaha untuk bisa mengantongi semua fakta dari lelaki itu. Termasuk … hzzzz … skincare? Wahhh, itu sungguh gila! “Yaudah, Pak, turun aja nanti kiri,” kata Kin ke Pak Supir. Pak Supir cuman ngangguk aja. “Baik, Non,” balasnya. “Saya belum bilang ke kamu.” Eh, tahu-tahu si terduga kasus hampir ‘nyesss’ tadi, menghalang Kin untuk pergi. Digenggam tangannya. “Maaf.” ‘Nyosor wae.’ Kin pengen ngomong gitu, tapi dia stay cool. “Saya belum ngasih tahu kamu, kalau saya bukan Om-Om. Umur saya bahkan hanya 25.” “Ya, yang penting Mas-mas, kan?” Bisa dilihat, Gray bahkan menutup wajahnya tak menyangka oleh jawaban gadis itu. “Ya, memang kamu pikir saya Mbak-Mbak.” “Kali ajaaa …” Kin menatapnya ujung kepala ujung kaki. Yang itu, justru membuat Gray makin tersenyum akan hadirnya gadis itu. “Tapi, saya sangat menyukai dengan seseorang yang suka memancing.” Kali ini, karena Kin merasa kecantikannya yang amaizing melebihi Cleopatra itu ternoda, ia pun memutuskan untuk memperjuangkannya, dengan … bar-bar. “Maksud saya, kamu dari awal menunjukkan kalau kamu menyukai saya.” “Heh?” Itu reflex. Kin histeris. "Ketiga, di bab tiga dalam penelitian kamu, kamu tidak memasukkan analisis deksirptifnya. Makanya saya bertanya tadi kamu sudah mengikuti seminar proposal atau belum, kok bisa dengan kesalahan sefatal ini kamu lulus" “Sudahlah anggap saja kamu sedang beruntung kemarin. Sekarang kamu perbaiki dulu sebelum kita masuk ke bab selanjutnya" Gantari menyerahkan kembali skripsi Kinan Sabrina Tanjung yang sudah penuh dengan coretannya dan kartu bimbingan Kin. Rara seperti habis ditampar bolak-balik mendengar penjelasan panjang-lebar dari Gantari. Tidak mau berlama-lama, Kin menerima kembali skripsi dan kartu bimbingannya. Tanpa bertanya lagi, Kin mengucapkan terima kasih dan langsung keluar dari ruangan Gantari. Begitu keluar dari ruangan Gantari, Kin bertemu dengan Alora dan Agrya. "Eh, Ra!" Sapa Agrya. Rara yang sempat lesu bersemangat lagi melihat dua sahabatnya ternyata juga ke kampus hari ini. "Hei! Kalian abis bimbingan juga?” tanyanya. "lya. Gimana bimbingan sama Pak Graydebara? Enak gak?" Goda Alora. Kin mendengus kesal. "Boro-boro, lo liat ni skripsi gue abis dicoret-coret. Mana judes banget lagi!" Gerutu Kin. "Hahaha, santai dong. Gimana kalau kita nongki? Biar dingin kepala lo, Ra" Alora yang dijawab anggukan oleh Alora dan Kin. Tiga sekawan ini sudah duduk di tempat tongkrongan langganan mereka. Setelah pesanan mereka datang, mereka mulai mengobrol, membahas semua hal yang bisa dibahas. "Eh tapi serius deh, Pak Graydebara itu beneran belum nikah, ya?" Adelia kembali bertanya. Sedari tadi Gray menjadi topik hangat pembahasan mereka bertiga. Alora mengedikkan bahunya. "Banyak banget gosipnya. Tapi berita terbaru yang gue denger, katanya dia pernah tunangan terus batal, semenjak itu Pak Gantari jadi dingin banget ke orang-orang." "Oh ya??" Kin terlihat tidak percaya. *** Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka. Masih. Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu. Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun. Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu. Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah. Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas. Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda. Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah. Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya. Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya. "Surprise!" Teriak semua orang. Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang seharian ini menjadi sumber masalah harinya. "Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya. Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara. kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran. Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini, menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan, seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu. "Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha. "Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..." Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray. Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta. Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung. Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela. Namun, yang kocak dari itu adalah betapa Graydebara begitu menghayati dengan narcissuss dan kerennya, bahwa, dirinya ini, memang pantas untuk dijatuh cintai bahkan dibucinin. Itu membuat Kin sungguhan nggak mengerti, soal … makhluk apa, sih, yang sebenarnya ada di hadapannya saat itu? Aneh bener. “Saya memang sepeka itu.” Tuh, kan. Tangannya bahkan meminta Kin untuk tidak berbicara apapun. Oke, ini akan semakin pelik. “Kamu enggak perlu khawatir kalau kamu tidak mendapatkan apapun.” Nada suara Graydebara merendah. Di jarak sedekat ini, yang mana mereka bahkan duduk di belakang di mana supir ambil bagian menyetir, itu membuat Kin menyadari pantas saja lelaki korslet ini begitu digilai kaum wanita. Bulu matanya yang lentik, garis rahang tajam wibawa dan ekspresi melindungi yang begitu menguasai. Oh, ya … dan, jangan lupa bagaimana Graydebara menyerukan betapa fashion-ablenya dirinya. Dia bahkan sangat luar biasa untuk menjadi sekedar biasa-biasa saja. Belum lagi, suara rendah yang menurut dari tuturan Alora yang semalaman suntuk nyariin berita lengkap dan fakta unik si bos—bego—urusan kasih nama perusahaan itu, dia juga merdu berkat cukup khatam dalam skill nyanyi-bernyanyi. Hm, paket lengkap sekali. Berduit, bisa seni, dan pengertian. Tapi … korslet. Di situ, Kin hanya mampu menyudutkan dirinya. “Tuan, istighfar, Tuan.” Entah itu bentuk keperdulian atau enggak. Yang jelas, setahu Kin, saat seseorang melakukan hal yang di luar batas, itu artinya, dia emang lagi kerasukan ‘se-tan.’ “Tuan, tarik napas, keluarkan, rileks, tahan, tarik napas, keluarkan, rileks.” “Hahaha.” Graydebara yang tadinya udah begitu menghayati dengan sampai melepaskan dasi di kerah leher kemeja yang mengunci kini hanya mampu tertawa lepas. Mata mereka kini bahkan benar-benar semakin dekat. “Dan, kamu sekarang malah menujukkan kalau kamu bisa jadi tutor Ibu melahirkan?” Kin nggak mau kalah. “Lagian Tuan ngapain ndusel-ndusel kayak gitu? Kan, jadinya saya mau …” Oke. Tertahan. Enggak mungkin soalnya Kin bilang dia benar-benar bernapsu untuk menabok CEO paling tampan se-Indonesia Raya itu. Bisa-bisa jadi headline umat dia. Jadi Warning! Wanted! Atas nama … Kinan Sabrina Tanjung a.k.a Alora KW. Haduhhhh … hidupnya yang udah ‘geprek’, bisa-bisa makin tambah kegeprek. “Udah, deh, ya, Tuan, saya mau turun, Pak.” Namun, kali ini, dengan posisi penahanan yang lebih teranalisir, Graydebara mengeksekusinya justru dengan membuat Kin untuk tidur di bawahnya. Gray mendominasi di atas meski mereka tak sebenar-benar tidur. Hanya begitu menempel dan teramat intens. Makanya, dari jarak yang jauh lebih dekat bahkan sejengkal lagi bibir soetjihhh Kin ternodai, Kin bisa melihat smirk namun berbalut wajah teduh si Tuan Graydebara—bego—ini. “Kamu pernah dengar kalimat ‘pembalas cinta dengan radikal’?” Melihat Kin yang cengo, Graydebara pun makin memperlihatkan bulan sabit di bibir. “Itu adalah salah satu fakta unik saya.” “Ohhh, jadi Tuan ini minta saya jadi Mamih yang ternyata …” Kin setengah berbisik. “Tuan itu Jijolo, ya?” “Kok Ji?” “No sebut merk, sensor.” “Hahaha.” Gray untuk kali itu benar-benar lepas. Tawanya membumbung. Baru kali ini, saat ia harus menghadapi rutintas menyebalkan ngumpul mulu sama rapat, dia menikmati pembicaraan dengan gadis korslet yang bar-bar itu. “Dengar, Alora, tidak ada satu pun orang paling kaya di dunia ini yang nyambi pake itu pekerjaan hina.” Namun, Kin acuh. Dia udah mau ambil kuda-kuda kalau memang harus memecahkan kaca mobil di sana, toh, Kin sudah mengantongi voice recorder yang akan menjadi barang bukti sedang ‘se-pepes’ apa dirinya sekarang. “Dan, ada satu hal yang telah kamu langgar mengenai fakta unik saya sebagai ‘pembalas cinta radikal’.” “Lah?” Kin mode mikir hard. Dia perasaan menggoda juga enggak. Kecentilan apa lagi. Minta ditoel boro-boro. “Apa yang buat saya lantas jadi melanggar? Dan, sepihak, dong, ini. Kan, saya nggak tahu.” “Tapi, di salah satu pertanyaan kamu seputar Tuan lebih suka berbalas atau Tuan yang membalas, apa kamu juga buruk dalam insting?” “Ah, nggak mau tahu. Pokonya, saya mau ke-lu-ar!” Kin kini membantu. Sampai akhirnya … CHUUU. Graydebara, CEO Perminyakan dengan pendapatan perusahaan tertinggi di dunia, kini … mencium pipinya. Yang itu sembari memegang pipi kiri gadis itu. Dan, saat Kin hendak menamparnya, Gray bilang, “Yang berarti, saat kamu butuh rangkulan, jangankan bahu, seluruh apa yang ada dirinya dikasih. Tapi, ya, itu, debaran, kan, cuma berlangsung sepersekian menit, jadi, doi, sangat nggak pantas diletakkan di level kepastian. Walhasil, aku adalah cerminan bagaimana wanita tidak boleh hiperbola dengan laki-laki manapun.” “Dan, kamu …” Gray menekan. “Jenis perempuan yang tak henti-hentinya menekan bahwa kamu berfantasi lebih denganku.” WHAAAAATTTTT????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD