"Ya ampun!"
Kin menjauhkan kepala muka Bos paling berkuasa di muka bumi itu beberapa senti dari telinganya. Yang malah asik meniup dirinya."Untuk menghindari serangan tuli mendadak karena khawatir nanti Tuan Gray malah bakal nyanyi sopran."
Namun, Gray sudah maklum dengan kelakuan Kin yang sering mendadak lebay, apalagi sampai salah sangka salah tempat begitu.
Namun, meski begitu, tetap saja Kin merasa berhak kesal kalau cowok paling nggak jelas di dunia itu mulai berteriak terus mengacaukannya, terus aja memaksanya agar tetap tinggal padahal jelas-jelas saja mau Kin adalah 'minggat'.
"Tuan, kebanyakan pengen nanti malah maag Tuan jadi kambuh, nanti diwakilin aja pembalas cinta saja jodoh saya. Saya dianterin mas gojek aja, deh."
"Gimana, sih? Saya, kan, tempay training kamu sebelum ketemu sama jodoh kamu entar. Masa gitu aja saya tega biarinin kamu sama Mas-Mas gojek sendiri."
Sejujurnya, Kin sama sekali enggak bahkan ogah bajget mengharapkan hal itu.
Apa guna nya sih trainee bareng Tuan paling nggak jelas sedunia yang jelas aja bisa kek gitu ke siapapun cewek, tapí dirinya juga nggak bisa lepas ke mana-mana?
Kan emosi ...
Toh, mau Kin bukannya mau bermanja-manja dengan cowok yang disepelekannya itu. Paling tidak, Kin sudah berhasil mengantongi pengen mendapat perhatian ekstra milik Alora yang sebentar lagi akan ia transferkan.
Atau sebagai contoh, nanti dia bisa minta Alora berkorban sedikit waktu dari seluruh harta benda termasuk makanan buat biaya jasa bengek dan mual bekerja-demi dirinya.
"Tenang, aja. Saya masih kuat, kok." Gray menggenggamnya, menjawab dengan nada mantap supaya rasa cemas di suara Audrey bisa sedikit berkurang. "Lagian saya bisa kalau kamu memang ingin 45 jam bersama saya"
"Alesan! Emang kerjaan lebih penting dari training?"
"Kamu benar. Makanya saya nggak bisa buat buang-buang waktu." Graydebara yang kemudian nyosor kepada Kin, kini, makin tak terbendung pula betapa ilfeel Kin kepadanya.
Yang sampai-sampai, Kin bahkan menghajar Graydebara dengan begitu bar-bar.Yang mudahnya, didefinisikan seperti ... menabok hingga mencincangnya tanpa perduli bahwa kodratnya adalah seroang cewek yang anggun. Bukan makhluk dengan kekuatan jadi-jadian. Itu sungguh tindakan di luar batas yang membuat diri Kin, jangankan terancam, lebih tepatnya, mateng dia kalau orang kaya kayak Graydebara menuntut dan memalsukan barang bukti dan memojokkan dirinya. Bisa hangus kuliahnya, gosong pula riwayat kuliah Matematikanya, dan diamuk fans Gray se-Indonesia berkat Gray punya riwayat anak selebrita terkemuka. "Aww, sakittt, ampunnn ..."
Kesempatan itu pun, Kin gunakan untuk ... kabur.
***
“Apa? Koma?”
Kin alias Kinan Sabrina Tanjung menganga, betuk-betul tak bisa menahan keterkejutannya.
Ini gila!
Masa, iya, di saat ia harus menggantikan tugas Alora, si sahabat tercinta yang begitu menggilai profesi Jurnalistik buat wawancara sama Bos m***m yang hiiiihhh banget, sekarang tiba-tiba dia mendengar kabar kalau sahabat tercintanya itu ditabrak mobil sampai parah?
Yasssalam.
Kin pun melajukan langkahnya, memberhentikan taksi dengan asal.
Persetan dengan pekerjaannya hari ini.
Dia harus menengok sahabatnya.
Tapi, kegilaan ini rupanya berlanjut, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depannya.
“Apa-apaan ini?” Kin protes. Tentu saja.
Dia tidak bersalah dan memang nggak punya masalah apa-apa tapi lantas tiba-tiba tangannya dijegat.
Ini pasti karena tadi di kantor Kin nggak mau melayani Bos m***m itu, ya? Makanya ada ajudan berkemeja hitam seragam ini menculiknya?
Huh! Dasar biadab!
“Lepas! Lepaskan saya! Lepas!”
Kin terus memberontak. Menendang sebisa mungkin. Tapi, percuma. Hingga ...
“Euhm, euhm!”
Para ajudan tersebut membekap mulutnya, Kin sampai jatuh pingsan. Dan segera dipotong tubuh gadis itu menuju ke mobil.
***
“Tuan, saya pastikan ini tidak akan mengecewakan Tuan. Sesuai janji saya tentunya, Tuan. Dan, ya, Tuan juga pastinya tidak akan keberatan menendatangani surat perjanjian kita, kan?”
Itu suara Gun sementara Dewangga melenguh malas.
Hari ini, hari kematian Istrinya.
Laki-laki bernetra cokelat itu jelas masih mendamba dan kehilangan.
Hingga hampir semua perkataan Gun, si materialilistis tidak tahu malu, sama sekali tidak masuk ke telinganya.
Tentu karena faktor utama, dia busuk seperti yang bisa dikira. Jadi, Dewa memilih tidak mau banyak percaya.
“Kalau begitu, apa yang akan kamu persembahkan untuk jadi tumbalku? Seperti yang kita tahu, you can get that one what you want when you give the one that you have.” Dewangga bertanya. Ia meneguk wine untuk yang kesekian kalinya.
Sengaja, agar mabuk. Dan, agar bayangan almarhumah isterinya itu bisa kalap dan segera kabur dari kepalanya.
“Pacarku, Tuan.”
Benar saja. Sedetik kemudian, muncul kawanan laki-laki tengah menggotong seorang perempuan yang tengah pingsan.
“Anda bisa mencicipinya sendiri dan merasakan betapa lezatnya dia.”
Dewa, sekali lagi, tak mengindahkan kalimat iklan Gun.
Dia justru terfokus pada para anak buah Gun yang membawa satu wanita yang... Hei, bukankah itu wajah isteri yang begitu amat dirindukannya?
Bagimana mungkin wanita itu datang ke sini?
Apa ia sebenarnya masih hidup?
Atau justru dihidupkan lagi?
Gun yang tak menangka tatapan pesona berkat Tuan Dewangga ini memang sebegitu ‘dinginnya’ , memilik untuk undur diri, “Kalau begitu saya permisi, Tuan. Semoga Tuan bisa menikmati hari Tuan.”
Persetan! Wanita ini ... miliknya!
Seutuhnya!
Sampai, gelas wine yang tadi dipakainya, kini, lepas entah ke mana ...
Sebab, seluruh fokus Dewangga sudah tersita oleh wajah gadis ini.
Dewa pun menjelajahi setiap inchi gadis wajah itu.
"Ketiga, di bab tiga dalam penelitian kamu, kamu tidak memasukkan analisis deksirptifnya. Makanya saya bertanya tadi kamu sudah mengikuti seminar proposal atau belum, kok bisa dengan kesalahan sefatal ini kamu lulus"
“Sudahlah anggap saja kamu sedang beruntung kemarin. Sekarang kamu perbaiki dulu sebelum kita masuk ke bab selanjutnya"
Gantari menyerahkan kembali skripsi Kinan Sabrina Tanjung yang sudah penuh dengan coretannya dan kartu bimbingan Kin.
Rara seperti habis ditampar bolak-balik mendengar penjelasan panjang-lebar dari Gantari. Tidak mau berlama-lama, Kin menerima kembali skripsi dan kartu bimbingannya. Tanpa bertanya lagi, Kin mengucapkan terima kasih dan langsung keluar dari ruangan Gantari.
Begitu keluar dari ruangan Gantari, Kin bertemu dengan Alora dan Agrya.
"Eh, Ra!" Sapa Agrya.
Rara yang sempat lesu bersemangat lagi melihat dua sahabatnya ternyata juga ke kampus hari ini.
"Hei! Kalian abis bimbingan juga?” tanyanya.
"lya. Gimana bimbingan sama Pak Graydebara? Enak gak?"
Goda Alora.
Kin mendengus kesal. "Boro-boro, lo liat ni skripsi gue abis dicoret-coret. Mana judes banget lagi!" Gerutu Kin.
"Hahaha, santai dong. Gimana kalau kita nongki? Biar dingin kepala lo, Ra" Alora yang dijawab anggukan oleh
Alora dan Kin.
Tiga sekawan ini sudah duduk di tempat tongkrongan langganan mereka. Setelah pesanan mereka datang, mereka mulai mengobrol, membahas semua hal yang bisa dibahas.
"Eh tapi serius deh, Pak Graydebara itu beneran belum nikah, ya?" Adelia kembali bertanya. Sedari tadi Gray menjadi topik hangat pembahasan mereka bertiga.
Alora mengedikkan bahunya. "Banyak banget gosipnya. Tapi berita terbaru yang gue denger, katanya dia pernah tunangan terus batal, semenjak itu Pak Gantari jadi dingin banget ke orang-orang."
"Oh ya??" Kin terlihat tidak percaya.
***
Cerita Alora dengan dua pacarnya tadi terus berputar ulang dibenak Kin. Kalau memang Gray pernah bertunangan dan pertunangannya harus batal, kasihan sekali dosennya itu. Kin memang tidak mengetahui apa masalahnya, tapi tetap saja sebuah perpisahan sedikit banyak pasti akan meninggalkan luka.
Masih.
Jangankan pertunangan batal, putus saat berpacaran saja terasa sakit. Meskipun tidak semuanya akan terus terasa sakit, ada kalanya terasa sakit di awal, namun melegakan pada akhirnya. Apapun masalahnya, Rara jadi menaruh simpati dengan dosennya itu.
Rasa simpati Rara dengan Gantari hanya bertahan beberapa hari dan digantikan dengan rasa kesal. Bagaimana tidak, Gantari tidak pernah membalas pesan Rara sekali pun.
Kalau seperti ini terus bagaimana bisa Rara lulus tepat waktu.
Tetapi bukan Kin namanya kalau harus menyerah.
Meskipun tak kunjung dibalas, Dewangga tetap mengirimkan pesan kepada Kin dan terus berharap ada mukjizat pesannya dibalas.
Tepat seminggu lamanya, akhirnya pesan Kin mendapat balasan juga. Namun bukannya senang, rasa kesal R Kin justru semakin berlipat ganda.
Tentu saja Kin tidak ikut dengan berpura-pura masih lelah.
Sementara Dimitri dan Randra pergi, Rara langsung menjalankan
Tak lama setelah adiknya rencana. Meninggalkan rumah, Raksaka ayah Rara datang untuk membantu dia dan Vena ibunya menyiapkan kejutan untuk Randra. Disusul dengan teman-teman dekat Randra yang datang berikutnya.
Setelah mendapatkan pesan dari Rara, Dimitri langsung buru-buru mengajak Randra pulang. Rasa kesal Randra semakin bertambah, padahal mereka baru saja memesan makan. Namun rasa kesal Randra tak berlangsung lama karena ketika dia pulang, rumahnya sudah ramai dengan keluarga serta teman dekatnya.
"Surprise!" Teriak semua orang.
Asha terperangah. la dipanggil sesore ini hanya untuk
mendengar lagi ceramah tentang kartu karyawan? Astaga ... ia hanya
menghilangkan kartu karyawan, bukan berlian! Namun keterkejutan
Asha bertambah, saat tangah Leon mengulurkan barang yang
seharian ini menjadi sumber masalah harinya.
"Kok. kok ... bisa?" Asha mengerjap menatap Leon Wicaragenara tak percaya.
Tidak usah banyak tanya! Cepat ambil dan ucapkan terima
Selesai acara, Rara bukannya langsung beristirahat, dia malah sibuk membereskan kamarnya karena Dimitri akan tidur bersamanya malam ini. Ini semua gara-gara Randra yang dengan tidak tahu dirinya mengajak temannya menginap. Tidak mungkin mereka tidur berdesakan di kamar
Randra, jadi mau tidak mau Dimitri tidur di kamar Rara.
kasih pada Leon!" perintah Hazel pada Asha yang masih dilanda penasaran.
Leon, yang tersenyum bak pahlawan kesiangan sore ini,
menatap Asha seraya menahan tawa melihat raut wajah lugu adik
ipar mantan kekasihnya itu. Namun senyum dan tawa yang ia tahan,
seketika lenyap berganti kebingungan dan prasangka buruk saat dua
tangan Asha terulur untuk menerima kartu milik gadis itu.
"Hazel," panggil Leon Wicaragenara tanpa melepas tatapannya pada salah satu tangan Asha.
"Gue penasaran, berapa lo gaji karyawan lo sampai mereka..."
Sejak perceraian kedua orang tuanya, Rara hampir tidak pernah kembali ke Bandung kalau bukan karena satu hari spesial. Tidak, hari itu bukanlah hari ulang tahunnya, melainkan hari ulang tahun Gray.
Sesibuk apapun Kin dengan kegiatan kuliahnya, dia pasti selalu menyempatkan pulang untuk merayakan hari ulang tahun Kin. Dan tahun ini perayaannya akan sedikit berbeda karena tahun ini kemungkinan tahun terakhir Gray merayakan ulang tahunnya di Bandung, karena adiknya ini berniat untuk menyusul Rara kuliah di Jakarta.
Beruntungnya Gray mau membantu Kin menyiapkan kejutan untuk Kin. Sejak pagi dua anak muda ini sudah tiba di stasiun dan akan segera berangkat menuju Bandung.
Saat diperjalanan Kin hanya menatap ke arah jendela.
Berkat kelebatan wajah sang istri memupuk kepalanya.
Bibirnya mengantup, kecil, dia merasa perih karena bayangan wanita yang dicintainya itu sedemikian merasuknya hingga ke ulu hati.
Astaga, Dewangga amat ... rindu.
Teramat sangat rindu.
Dan, ini membuatnya makin tak bisa untuk menahan apa yang sudah membara dari dalam dadanya.
“Tunggu aku sayang, jangan pergi lagi.”
Itu menjadi malam amat bersejarah karena ada yang tanpa sengaja ternoda.
DEG.
Pagi tiba.
Dan, matahari tak pernah malu-malu untuk menyembulkan sinarnya yang menyehatkan.
Kin melenguh.
Tak pernah ia rasakan sensasi nyeri sekujur tubuh yang menggerogoti ujung tubuh hingga ke ujung tubuh yang lain.
Namun, beberapa detik setelahnya, mata gadis itu membulat sempurna.
Gila!
Ada apa ini?
Kenapa seluruh tubuhnya lantas tanpa sehelai benangpun tanpa adanya seseorang yang pantas ia amuki?
Alias ia cuma sendiri di kasur king size ini?
Oke, Kin, tenang.
Sekarang coba kita koreksi apa yang sebenarnya telah terjadi.
Nah, iya, dia baru ingat kalau kemarin diculik.
Lalu, yang kedua, dia di ... astaga, disumpal banyak alkohol? Pantas saja ia tidak sadar dan kepalanya terasa nyut-nyutan.
“Dasar gila!”