Selimut tebal itu tampaknya tak tersentuh cahaya, lihat saja bagaimana wanita yang terbungkus selimut itu masih nyaman dalam tidurnya. Hingga alarm berbunyi cukup keras, wanita itu terbangun, tubuhnya langsung terduduk saat mendengar alarm berbunyi.
Matanya terpejam masih senantiasa terpejam dan membuka kelopak matanya perlahan, beradaptasi dengan cahaya matahari yang ternyata sudah begitu terik.
Pandangannya beralih ke sekeliling ruangan di mana kamarnya menjadi lebih luas. Pangling. Itu yang ia rasakan.
"Ya ampun baru inget."
Ia mengetuk keningnya sendiri dengan keras, baru menyadari jika barang-barang di dalam kamar sudah ia buang ke depan kamarnya.
"Mulai hari ini aku jadi pengangguran." Refleks tubuhnya kembali direbahkan, selimut kembali dinaikkan dengan guling yang kembali masuk ke dalam pelukan.
Hanya sebentar, hanya sebentar karena Naya memilih untuk bangun, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk tidur. Naya berjalan ke arah pintu, membuka pelan pintu kamarnya, dari arah tempat makan terdengar perbincangan dari sahabat dan kekasihnya.
Ada perasaan cemburu dan kesal secara bersamaan. Biasanya ia yang ada disitu, menemani sarapan dan berangkat kerja bersama. "Hebat yah," gumamnya kecil sembari menutup kembali pintunya.
Hatinya hancur. Tubuhnya merosot dibelakang pintu, sembari memandangi langit kamar agar air matanya tak keluar. Orang yang paling dicintainya bersama sahabatnya. Begitu akrab, menggantikan posisinya.
"Nay, hidupmu malang sekali," kekehnya gagal membendung air mata. Sekuat apapun ia menahan air matanya, kini justru tumpah ruah membasahi pipinya. Isaknya tertahan. Terlebih ucapan orang tuanya kemarin, semua orang yang disayanginya melukai hatinya secara bersamaan.
"Jangan terlalu baik, harusnya aku tanamkan itu sejak dulu," sesal Naya masih dalam tangisnya. Mulutnya dibungkam dengan kedua tangannya kala mendengar jelas suara Reza di depan kamarnya.
"Jangan lupa anterin makan buat Naya, aku berangkat kerja dulu," suara Reza terdengar begitu jelas. Naya menahan perih dihatinya. "Iya, hati-hati mas, nanti Dara pastiin Naya sarapan."
Tersentak Naya karena tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu diiringi dengan knop pintu yang di putar, beruntung ia sempat mengunci pintunya. "Sayang ... aku berangkat kerja dulu, jangan lupa makan, ah bentar."
Naya masih terdiam, tubuhnya kaku, bungkaman mulutnya kian erat. "Pastiin Naya makan, aku ga mau sampai dia sakit." pintanya lagi.
"Iya mas ga perlu khawatir."
Manis, ucapan Reza terdengar manis jika ia menjadi satu-satunya orang yang dicintai namun faktanya ia di duakan. Semanis apapun ucapan Reza, tak mengherankan hatinya untuk luluh. Hatinya kian tersayat, air matanya terus mengucur membasahi lengan bajunya.
"Nay, kamu kuat." Naya menguatkan dirinya. Saat ini ia benar-benar sendiri. Tak ada orang yang memihak kepadanya. Ia bahkan tak memiliki seseorang untuk membagi ceritanya. Menahan pilu seorang diri.
Padahal pernikahannya tinggal menghitung hari, lima hari lagi pernikahannya akan berlangsung. "Apa yang harus kulakukan," gumamnya sembari memejamkan mata. Mencari penguatan diri. "Kamu harus tetap hidup Naya!"
Sebuah pesan masuk, dari salah satu asisten rumah tangganya. Naya tersenyum tipis, menyadari ia masih memiliki seseorang yang baik dengannya.
'Mba Naya, ini makanannya saya taruh di luar kamar mba, kalau butuh apa-apa bisa hubungi saya ya mba, ga perlu sungkan. Mba Dara juga keluar ga tahu kemana, ga bilang soalnya.'
Beban dipundaknya luruh, oleh satu pernyataan dari asisten rumah tangganya.
Ia bergegas menuju kamar mandi, mencuci wajahnya. "Semangat Naya, kamu bisa!"
Naya berseru pada dirinya. Bersiap untuk sarapan paginya. Membuka pintu kamarnya perlahan. Pandangannya terkesiap melihat sebuah troli makanan yang ada dikamarnya. Ia segera membawanya masuk dan kembali mengunci pintu kamarnya.
Sebuah pesan kembali masuk, masih dari orang yang sama.
'Mba Naya, kata mas Reza mulai besok bakal ada yang dateng, katanya treatment sebelum pernikahan. Mba Naya yang kuat yah. Semangat!'
Naya tersenyum tipis, jemarinya menari diatas ponsel mengetikan balasan.
'Iya, terima kasih.'
Pandangannya kembali beralih pada hidangan makanan yang membuatnya terdiam. Menunya terlalu banyak. "Satu, dua, tiga, empat, lim— wah.. porsi badak," seru Naya bersemangat. Lupakan masalah yang tak bersolusi. Dari awal ia tak punya pilihan. Ia hanya harus memikirkan bagaimana bisa hidup dengan nyaman.
"Treatment apa yah," pikir Naya masih dengan mulut penuhnya. Matanya memandangi ponsel dimana ada puluhan pesan dari Reza yang belum dibaca.
Ia tersenyum puas mendapati pesan kegelisahan Reza yang kehilangan sekertaris handalnya. Naya memang bukan sekertaris utama, tapi ia melihat bagaimana pesan dari kekasihnya yang kehilangan dirinya. Tak ada lagi Naya yang bisa dilihat di kantornya. Tak ada Naya yang bisa diajak makan siang sekaligus kencan di kantor.
'Sayang, apa-apaan kamu ngeluarin semua barang kantor?'
'Kamu tahu itu barang berharga, gimana kalau ada dokumen yang hilang!'
'Nay!'
'Sayang, kamu mau aku kaya gimana?'
'Nay, kamu ga bisa keluar kerja gitu aja!'
'Naya, apa yang harus kulakukan tanpamu disana?'
'Sayang, bangun ayo berangkat kerja.'
'Masih ga mau keluar kamar? Kamu harus makan sayang, ga papa kamu ga kerja, ayo makan.'
'Sayang, aku kangen kursi kerjamu kosong. Rasanya hampa.'
'Sayang, udah makan?'
Tanpa membalas, ia langsung membersihkan pesan tanpa tanggung ia juga memblokir nomornya. Biarkan saja dirinya tersiksa.
Mungkin juga tidak, bukankah ia juga sudah lama berhubungan dengan sahabatnya. Reza punya dua wanita, diabaikan satu pun tak akan terasa, setidaknya itu yang ada di pikiran Naya.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan Nay," ucapnya kembali menikmati makanannya. Selera makannya menghilang, walaupun mangkuk lauknya sudah banyak yang kosong.
"Apa yang harus kulakukan disini, aku bosan." Naya memilih membuka akun media sosialnya. Scrolling juga bisa menjadi waktu luang untuk mengisi kegabutannya. Raut wajahnya sudah lebih baik saat ini. Hatinya masih lemah, namun ia bisa mencoba untuk tegar.
"Ngapain nyepam sih," gerutu Naya saat mendapati pesan di media sosialnya dari Reza. Ia kembali menghapus pesan kali ini tanpa membacanya terlebih dahulu. Ia langsung memblokir akun kekasihnya.
"Aku kangen tapi bawa cewek lain, jadi pengen selingkuh juga tapi aku bukan orang yang seperti itu."
Naya terus bermonolog seorang diri, lagipula memang tak ada yang bisa diajak mengobrol saat ini. "Ayo kuat Naya! Kita bikin kontrak perjanjian."
Tangannya kini dengan gigih membuka laptop. Kontrak, ia membutuhkan itu. Ia akan bersikap jual mahal, lebih tepatnya menjaga jarak sejauh mungkin dengan calon suaminya nanti. Lagi-lagi notifikasi ponsel mengalihkan perhatiannya.
Kali ini dari Dara. Naya menghela nafas berat mendapati pesan yang sangat tidak menyenangkan untuk dibaca.
'Nay, ga usah sok jual mahal, ga kasihan apa lihat Reza kaya gitu. Tinggal ladenin aja apa susahnya sih. Lagian gue juga cuma buat formalitas, dia cuma mau nolongin gue.'
Kasihan? Naya tertawa dalam hatinya. Dara yang dikenalnya dulu sangat berbeda dengan sahabatnya yang ia kenal. Formalitas katanya, tamparan Reza masih membekas dihatinya. Ia terus merasakan sakit hati saat mengingat tangan ringan calon suaminya. Senyum miring terukir dibibirnya.
Naya langsung memblokir kontak Dara. Senyumnya terukir tipis. "Oke, akan kuperlakukan ia seperti tak kasat mata."