Chapter 4

1176 Words
Naya kini seorang diri berjongkok di sisi mobil, tangannya mengepal, membayangkan jika ia punya tempat untuk kabur. Saat ini dirinya tengah menunggu kekasihnya, menyebutnya sebagai kekasih bahkan terasa tak lagi pantas. Ia tengah menunggu Reza yang sedang berpamitan pada orang tuanya. Helaan nafasnya terasa berat karena tak menemukan solusi sedikitpun. Pikirannya begitu buntu, jari telunjuknya bahkan penuh debu karena sedari tadi ia melukis tanah dengan jarinya. Ia mencoba untuk meredakan tekanan yang ada pada dirinya dan gagal. Perasaannya masih berat dan menyesakan. "Aku harus kabur kemana ya?" gumamnya sembari membuka saldo rekeningnya, nominalnya bukan angka kecil, tapi ia juga tak memiliki nyali besar untuk merantau jauh seorang diri. "Nanti aku nyambi apa yah kalau merantau," gumamnya masih dengan memandangi nominal yang ada di ponselnya. Sepasang sepatu tiba-tiba berada di depannya diiringi suara berat yang dikenalnya, "Kukira dimana, pulang sekarang?" "Ibu titip Naya ya nak, Naya emang agak bandel dari dulu, tapi udah ibu nasihati kok, jaga kesehatan ya kalian," ucap Ibunya membuat Naya memutar bola matanya jengah dengan basa-basi yang tak perlu. "Bukain pintu!" titah Naya mundur dari jongkoknya, meminta dibukakan pintu belakang yang masih terkunci. "Duduk disampingku," pinta Reza yang langsung dibalas tatapan tajam. "Naya!" teriak ayah dan ibunya berbarengan menegur putrinya yang dirasa tidak sopan. Reza campur aduk melihat ketiganya. Dua orang yang hampir meledak karena amarahnya sedang satu orang hampir meledak karena kesedihannya. "Biar Reza yang bujuk Naya," pinta Reza menenangkan calon mertuanya dan kedua orang tua itu akhirnya kembali masuk kerumahnya. Naya menyeret kopernya, jalannya tak semulus jalan tol, penuh batu yang membuat langkahnya begitu kesusahan. "Sayang, kamu mau kemana?" susul Reza saat mendapati Naya justru berbelok ke arah yang berbeda. "Nay." "Oke tunggu disini, kau bisa duduk di kursi belakang, jangan kabur dariku," ucap Reza dengan nafas memburu, tangannya mengambil alih kopernya. Aset berharga kekasihnya. Reza kembali ke mobilnya dengan Naya yang mengekor dibelakangnya. Sesuai permintaan, Naya duduk di kursi belakang. Dari bangkunya Reza tak bisa melihat keberadaan Naya, karena ia duduk tepat di belakangnya, dari kaca spion pun ia tidak terlihat. "Ada tempat yang ingin kamu datangi?" Sia-sia Reza bertanya, karena Naya tidak menyahuti ucapannya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Apa ada yang ingin kamu makan? Camilan mungkin atau es krim." Naya lagi-lagi bungkam ucapan kekasihnya tak lebih dari angin lalu. Padahal perjalanan yang dilalui belum sampai lima menit namun Reza sudah lebih dulu mengajaknya berbicara, karena ia tidak terlalu suka keheningan. Tanpa seijin kekasihnya, ia memutar setirnya kearah yang berbeda dari jalan pulang, Naya merasakan kekhawatiran namun di saat itu pula ia memejamkan matanya, pura-pura tidur. Membiarkan tubuhnya bergoyang dari jalanan yang tidak rata sampai mobil benar-benar berhenti. Naya membuka matanya sedikit. "Pantai?" gumamnya melirik ke sekelilingnya. Ramai, dan sukar untuk membuat kejahatan. "Apa ini aman," gumamnya lagi menoleh ke kanan dan kiri. Meskipun bukan akhir pekan, tapi pantai yang ia kunjungi cukup ramai, beberapa pejual seperti sate lontong, gorengan dan kelapa muda nampak berjejer. "Aku memikirkannya bagaimana aga—" Reza menghela nafas melihat Naya yang kini memejamkan matanya kembali, pura-pura tidur jelas sekali di lihat dari deru nafasnya yang tidak teratur, namun itu juga sebagai tanda jika Naya tidak ingin mendengar ucapannya. "Nay, kumohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan," pintanya lirih. Reza, pria itu menyadari kesalahan ada pada dirinya yang tidak berterus terang dari awal. Ia juga melakukan itu, karena khawatir jika Naya akan lari darinya. "Aku hanya ingin membantu, aku gak bisa biarin dia hidup kayak gitu, saat orang lain minta tolong kepadaku, apa aku harus menolak disaat aku masih bisa membantunya?" Darah Naya mendesir, kesal mendengar penjelasan tanpa nada penyesalan. Matanya terpejam, berharap ia bisa tidur. Alasan apapun, ia tak bisa membenarkan yang dilakukan kekasihnya. "Kau tahu sendiri, kehidupan seperti apa yang dilalui sahabatmu." Naya tidak peduli. Naya juga tidak ingin tahu apapun alasannya. Yang membuat dirinya amat kesal saat ini ialah keluarganya yang tidak memihak dirinya, seperti membuangnya, menjualnya. Ia membiarkan telinganya terus mendengar alasan dari kekasihnya. Sungguh, ia tidak peduli. Ia merasakan kegelisahan, "Aku harap kamu bisa mengerti, aku juga tidak ingin menyakitimu tapi a—aku, seperti katamu, egois." Naya menyamankan pejaman matanya, pikirannya berkelana indah berharap ia bisa terlelap, untuk selamanya pun untuk saat ini, ia merasa baik-baik saja. Hidup pun ... untuk apa? "Naya, aku tahu kamu ga tidur, jawab aku," pinta Reza. "Nay," panggilnya lagi, menyentuh punggung tangan yang langsung di tepis. "Terserah! Kau mau menikah dengan dua, tiga atau empat wanita pun aku udah gak peduli!" Reza terhenyak. "Naya ...." Yang dipanggil kini membuang muka, rasanya ingin kabur dari kehidupan, ditelan bumi pun jika ada kesempatan, ia sangat ingin mendaftar. "Mau turun dulu?" tawar Reza. Ia sengaja membawa kekasihnya ke pantai karena ini tempat kesukaannya. Usahanya sia-sia karena Naya tak melirik sedikit pun. Matanya kembali terpejam. "Kalau gitu kita pulang," putus Reza akhirnya. Naya bernafas lega kala mobil yang ditumpanginya kembali jalan. Nafasnya sesak karena ia harus menahannya. 'Jika kau tak mau, pergilah! Orang tuamu pasti akan sangat menyesal mendengar anaknya yang begitu membangkang!' Ucapan kekasihnya terus terngiang. "Apa yang harus kuputuskan," gumam Naya menatap pemandangan laut dari kaca jendelanya. "Aku sudah bergerak sejauh ini," gumamnya lagi frustasi. Perjalanan mereka hanya dibuat hening dengan Naya memikirkan kehidupan kedepannya dan Reza yang memikirkan keadaan Naya saat ini. Sampai mobilnya terparkir tepat di depan rumahnya, Naya keluar tanpa salam. Melenggang masuk mengabaikan sapaan dari karyawan yang tengah membersihkan rumah. "Nay kamu akhirnya pu—" ucapan Dara terhenti saat Naya langsung membanting pintu kamar dan menguncinya. Batang hidungnya bahkan terkena pintu. "Mas gimana Naya?" "Udah biarin aja," sahut Reza yang langsung menuju lantai dua, menuju kamarnya. Hari itu, Naya terus mengurung dirinya di kamar. Bagi Naya kamarnya tak jauh berbeda dengan tempat kosnya dulu, ia bahkan bisa hidup lama di kos dengan mengurung diri di kamar. Kamar mandi, alat mandi semua lengkap. Camilan bahkan sudah ada di kamarnya. Pandangannya mengedar. "Aku harus berhenti bekerja dengan Reza,gumamnya untuk meminimalisir dirinya bertemu. 'Tolong carikan tiga box kardus ukuran besar.' Naya mengirimi pesan pada salah satu asisten rumah tangga dirumahnya. Hal yang berbau pekerjaan akan ia singkirkan semua. Tak butuh waktu lama, dalam lima belas menit, pintunya di ketuk. Asisten rumah tangga berhasil membawa tiga kardus. "Terima ka—" "Mba Naya, kata mas Reza dari siang belum makan." "Udah di rumah ibu tadi, mungkin dia lupa," jawab Naya sekenanya dan menutup kamarnya pelan. Asisten rumah tangga, ia tak boleh memiliki hubungan buruk dengan mereka karena ia masih membutuhkannya. Tanpa rasa lelah, ia langsung membereskan barang-barang yang berkaitan dengan kantor. Jangan lupakan seperangkat PC yang digunakan. Ia juga melepas itu. Tak peduli jika nanti akan terjadi eror karena ia mencabutnya dengan brutal. Tamparan dan ucapan Reza masih sangat menyakitinya. Dua jam ia berhasil mengeluarkan tumpukan sampah—baginya ke luar kamarnya. Ia langsung mengistirahatkan tubuhnya, mengunci pintu kamar dan mematikan lampu. Hari ini, ia akan berhibernasi agar besok ia bisa berfikir jernih tentang apa yang harus ia lakukan ke depannya. Abaikan gedoran pintu dan suara berat Reza yang pasti marah, aset perusahannya ia letakan begitu saja di lantai depan pintu kamarnya. Ponselnya tak akan mengganggu karena mode silent yang sangat berguna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD