SALAH PELARIAN

1078 Words
Pemikirannya selama ini keliru, sejak dulu keluarga menjadi pelarian dari perihnya kehidupan namun Naya harus pahit menelan harapan yang ia bayangkan. Semenjak ia datang, orang tuanya begitu antusias dengan kedatangan mereka namun bukan dirinya yang menjadi pusat perhatian melainkan calon suaminya, Reza Aditya. "Nak Reza kok kayanya kurusan, jangan bilang lagi diet?" tanya Rihanna, ibu dari Naya. "Ah, engga kok bu, sama aja kan ada Naya yang jagain Reza," balasnya dengan senyum yang tak pernah gagal memerangkap orang. Wajahnya terlalu memesona. Terlalu sulit, keluarganya sudah sangat akrab, meskipun hubungan keduanya baru berumur tiga tahun. "Kamu lagi, kenapa bawa koper segala? emang mau berapa lama tinggal disini, emangnya besok ga kerja?" "Naya kalau mau libur sampai kapanpun juga di ijinkan kok yah, Naya punya hak khusus buat itu," sahut Reza membungkam setiap ucapan Naya. "Ayah ... Ibu ... Naya mau bi—" "Ibu masak apa hari ini?" serobot Reza kembali membungkam ucapannya, tangannya mengeratkan genggaman istrinya yang kini menatap sebal kearahnya. "Ah, ibu ga sempet masak, jadinya beli, ga papakan?" "Gak papa, yang penting kebersamaannya," balas Reza mengekor di belakang ibunya. "Jangan langsung bahas, beri jeda dulu," pinta Reza mengukir senyum tipis. Reza, pria itu sama sekali tak berubah. Perlakuannya sama persis seperti sebelumnya. Manis dan meluluhkan. Yang berbeda hanya tamparan keras yang ia dapatkan, hanya itu tak lupa juga dengan bentakan yang ia dapat. Naya hanya mengikuti permainan Reza, memberi jeda waktu sebelum memberi kabar yang mungkin tak akan disukainya. "Ibu gimana kabarnya? maafin Naya yang jarang kasih kabar," ucapnya mengaduk makanannya tak berselera. Pria disampingnya benar-benar menghancurkan dirinya. "Sehat, seperti yang kamu lihat, ibu ga bakal khawatir sama kamu, lagian Reza juga sering ngabarin ibu," balas ibunya membuat Naya mengangguk. Bertanya pun ia hanya basa-basi karena sejak tadi ia diam tak memiliki kesempatan bersuara. "Ayah gimana?" "Modal dari calon mantu sekarang udah berkembang pesat, udah punya karyawan dan ga khawatir lagi besok makan apa." Lagi-lagi Naya mengangguk kecil. Tentu saja ia bisa melihat perbedaan hidup sebelum dan setelah bertemu pria di sampingnya. Tak ada lagi istilah berhemat, rumahnya bahkan kini di penuhi furniture berkelas, dapurnya tertata rapi, rumahnya di renovasi habis olehnya. Naya menoleh ke arah Reza yang tengah melahap makanannya. “Eum ... mas?” panggil Naya pelan membuat pria itu menoleh kearahnya. Naya tersenyum tipis, “Habis makan bisa keluar dulu nanti? Ada yang mau Naya omongin sama ayah dan ibu,” ucapnya to the point, raut lawan bicaranya berubah. Tersentak mendengar penuturannya. Ia memandang ke arah calon mertua yang kini juga memandangnya. Naya mengangguk, “Iya bisa, nanti aku diluar.” “Ga perlu sampai diluar, tunggu diruang tamu atau mau istirahat di kamarku juga ga papa,” tambah Naya lagi, suaranya liirih tak bersemangat, tak ada lagi nada manja yang biasa ia dengar. “Aku akan istirahat setelah ini, bolehkan ayah, ibu? Reza pinjem kamar Naya?” tanyanya sesopan mungkin, ia bertamu dan ijin kepada tuan rumah merupakan suatu kewajiban. “Oh boleh, ibu bersihin dulu gimana barangkali berdebu.” “Ibu ga perlu berlebihan,” sahut Naya cepat membuat ibunya berhenti, ia hampir saja beranjak dari duduknya. Kedua orang tuanya selalu berlebihan jika berkaitan dengan calon menantunya. Tentu saja, dirinya hanya orang biasa yang mendapatkan berlian mewah. Orang tua mana yang rela lepas. Reza menyelesaikan makannya dengan cepat, sedikit khawatir perasaannya namun ia juga percaya diri, hubungan dengan Naya bukan sehari dua hari mereka bangun. Interaksi dengan keluarganya juga terjalin dengan baik. “Kalau gitu Reza pamit istirahat dulu ayah, ibu.” Pamitnya. Tak lupa ia juga pamit pada calon istrinya, tanpa ucapan, hanya menyentuh pundaknya dua kali dan menunjuk ke arah kamar milik calon istrinya. Pandangan Naya terkunci pada Reza sampai ia menutup pintu kamar “Ayah ... Ibu ... Naya ga mau nikah sama mas Reza." Naya to the point. Reaksi keduanya memang terkejut, namun mulut mereka seperti terkunci tak bisa menjawab. “Naya mau batalin pernikahan dengan mas Reza,” ulangnya lagi. “Jangan sembarangan ngomong, gimana kalau Reza denger,” bisik Ayahnya khawatir, matanya melirik ke arah kamarnya. Naya menghela nafas berat. “Ayah ... Naya ga mau nikah sama mas Reza, mas Reza selingkuh sama sahabat Naya sendiri,” jawabanya dengan nada frustasi. “Kamu pasti salah paham, Reza ga mungkin ngelakuin hal itu tanpa alasan.” Kali ini ibunya yang menjawab. “Coba kamu udah diskusiin baik-baik belum sama Reza, jangan ngaco, undangan udah kesebar, ibu udah banggain calon suamimu ke tetangga sampai mereka iri, mau bikin ibu malu?” “Calon suamimu juga udah bantu ayah, lihat usaha yang ayah punya sekarang, udah ada karyawan, apa ayah harus terusin usaha ayah kalau calon mantu yang kasih modal aja gagal nikahin kamu, trus nanti ayah harus pecat karyawan, kasihan ... jaman sekarang cari kerja itu susah.” Naya menahan sesak dadanya. Semua pemberian dari Reza benar-benar berlebihan. Terlalu banyak. Naya tak patah semangat menggagalkan pernikahannya. “Ibu ga malu? Di pelaminan Naya sama siapa? Emang ibu tahu siapa perempuan selingkuhan mas Reza? Dara bu! Dara! Rekan kerja Naya pas di part time!” teriak Naya kesal. “Ibu ... ayah ... Anakmu tak hanya sendiri di pelaminan tapi ada wanita lain.” “Dia sahabatmu, kenapa kamu ga tanyain dulu alasannya, pasti ada kesalahpahaman disini.” “Engga bu! Semuanya udah jelas!” Air mata bahkan mengalir di pipinya. Naya akhirnya diam dalam isaknya, mendengarkan omelan dari kedua orang tuanya yang ternyata, tak ada yang memihak kepadanya. “Coba diskusiin dulu ke calon suamimu, bicarain baik-baik dengan kepala dingin, tanya kejelasan sahabatmu dulu, kamu pasti ga tahu alasannya makannya asal marah-marah kaya sekarang ini,” omel ayahnya. “Iya itu, atau mungkin kamu kurang perhatian ke calon suamimu sampai cari wanita baru, coba renungin dulu apa salahmu.” “Kalau ternyata … murni keinginan mas Reza dan Naya tetap harus diduakan, gimana perasaan ibu?” lirih Naya mengiba, sungguh ia tak kuat jika harus diduakan. “Terima aja, lagipula jaman sekarang sulit untuk hidup tanpa uang, meskipun uang bukan segalanya tapi kenyataannya banyak yang tak bahagia karena kekurangan uang." "Kecuali kalau kamu punya cadangan cowok yang lebih kaya dari Reza, pasti kami pertimbangkan," balas Ayahnya membuat dirinya benar-benar muak. Keputusan untuk pulang sudah sangat salah, jika ia tetap bertahan ditempat ini, orang tuanya akan terus menerus menyalahkannya karena gagal menikahkan putrinya dengan pengusaha muda seperti mas Reza. "Ayah ... Ibu tahu alasan Reza mau nikahin Dara?" Naya mencoba bertanya dengan hati-hati. Anggukan kepala dari keduanya benar-benar menghancurkan dirinya. Alasan, ia tak mau dengar alasan apapun. Menikahi dua wanita sudua bukan hal yang benar. Ia ingin menjadi wanita satu-satunya dalam hidup Reza. Langkahnya gontai menuju kamar, pintunya terbuka lebar dengan suara debuman yang keras. "Ayo pulang," pinta Naya tanpa ekspresi, matanya sembab karena tangisnya, isaknya bahkan masih terdengar. "Sayang, kau-" "Ayo pulang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD