Eps. 20 Akhir Sebuah Pilihan

1121 Words
Aku yang masih merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi hanyut dalam pikiranku sendiri, entah kenapa perasaanku menjadi gelisah, seharusnya aku bahagia sekarang, kenapa semua malah menjadi seperti ini?, karena kebenaran itu. Kebenaran yang tidak aku harapkan terjadi, selama ini apa yang aku cari terasa sia-sia, aku teringat dengan kalimat yang ada di buku Kebahagiaan, buku itu seolah mengingatkanku bahwa kebahagian datang bukan dari orang lain, tapi dari diri sendiri, dan kebahagiaanku di sini datang dari orang lain, bukan aku yang membuatnya. Semua yang ada di sini disusun sedemikian rupa untuk membuat aku bahagia, bukan aku yang membuat diriku sendiri bahagia. Semua orang-orang yang dekat denganku berada dirumah sekarang, hal ini juga yang membuatku merasa ada yang aneh seperti mereka sedang menunggu sesuatu. Aku merasa sangat yakin dengan perasaanku ini, dengan semua ketidaknyamanan ku sekarang, aku memanggil Ken dan Hans untuk membicarakan hal ini, ku ajak mereka ke kamarku agar pembicaraan kami tidak didengar oleh yang lain. "Ken aku rasa ada yang salah dengan semua ini" sambil memandang ke arah Ken. "Apa maksudmu?, aku rasa semua baik-baik saja seperti biasa." "Sebentar lagi kalian akan terperangkap di dalam tubuh barbie ini, seperti aku" ucap Hans. "Apa maksudmu Hans? kamu tidak berkata ini sebelumnya?" dengan nada yang sedikit tinggi. "Tenang Ken, dia tidak bisa memberitahu kita karena dia sudah diatur oleh seseorang," ucapku menenangkan. "Iya sebentar lagi kalian akan membeku dan melihat orang yang menggerakkan kita" "kita akan membeku?" aku dan Ken spontan menjawab bersama. "Itulah yang terjadi, kita akan kembali bergerak setelah manusia lain masuk ke dunia ini, tapi kita ada di tempat kita masing-masing, karena kita barbie yang dimainkan oleh seseorang agar manusia mendapatkan kebahagiaan." "Bagaimana dengan Ken? dia menjadi manusia terlebih dahulu tapi kita tidak membeku." Bingungku. "Karena kotak barbie itu ditutup setelah orang yang menggerakkan kita merasa cukup dengan orang-orang yang dia pilih." "Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya" ucapku kecewa. "Karena kalian sudah menjadi barbie, seperti itulah aturannya" Aku dan Ken hanya bisa terdiam memikirkan nasib kami, aku tidak percaya dengan apa yang terjadi, memang semua ini pasti ada konsekuensinya. Seharusnya aku lebih memilih menjadi manusia dan memikirkan Ken, mungkin bisa saja dia menjadi manusia kembali. Pikiranku terlalu kalut untuk dapat berpikir jernih saat itu. Dengan pikiran yang berkecamuk tiba-tiba aku merasa tubuhku mulai mengeras, aku tidak bisa menggerakkan kaki ku. "Ken kakiku tidak bisa digerakkan!" dengan perasaan takut. "Aku juga, bagaimana ini?" "Sudah waktunya" ucap Hans dengan santai "Aku harap kita dapat bertemu lagi." Perlahan tubuhku juga tidak dapat digerakkan, hampir menuju ke seluruh tubuhku seperti patung. Ini semua tidak seperti yang diucapkan oleh Ales, dia tidak mengatakan kehidupanku akan diatur setelah memilih dunia ini, Apa jangan-jangan, Ales yang membuat ini semua!, tapi aku berusaha untuk tidak berpikir menyalahkannya, karena tidak mungkin dia bersangkut paut dengan hal ini, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa Ales hanya menyampaikan pesan. Walau sebenarnya semua pernyataan yang diberikan Hans, dan melihat kembali apa yang diucapkan Ales. Membuatku berpikir bahwa perkataannya itu seperti mengisyaratkan bahwa dunia barbie ini memang seperti dunia mainan, hampir tidak ada yang jejak dari dunia ini. Sekarang aku hanyut dalam pikiranku tanpa bisa menggerakkan badanku, aku hanya bisa berbicara dan menggerakkan kepala, kulihat Ken yang ketakutan dan Hans yang terlihat biasa saja membuatku mengkhawatirkan Ken. "Ken kau tak apa kan?" "Rachel aku sekarang tidak bisa bergerak, bagaimana ini?" "Tenang Ken semua akan baik-baik saja" ucapku positif meskipun tidak yakin. "Apakah kamu yakin?" Ketika ingin menenangkan Ken mulutku terasa kaku, bibirku tidak bisa digerakkan, semua tubuhku sudah tidak dapat digerakkan lagi, aku hanya dapat melihat Ken yang sangat takut dengan keadaan ini, sedangkan Hans dia hanya berdiam diri melihat kami berdua, tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Sekarang semua tubuhku sudah tidak dapat bergerak, bahkan mataku saja sudah tidak bisa berkedip. Tubuhku sekaku mainan barbie, aku hanya dapat pasrah dengan keadaan ini. Tiba-tiba saja tempat ini bergetar dinding kamarku perlahan memudar, satu demi satu ruangan ini menjadi tembus pandang, dinding yang asalnya berwarna pink menghilang.  Kamarku di dunia nyata sekarang terlihat sangat jelas, aku melihat kamarku dari dunia barbie ini, terlintas dipikiranku membayangkan diriku yang memandang ke kotak ini. Dari sini aku melihat ruangan kamarku menjadi besar dan terlihat seperti dunia raksasa.  Dari kejauhan aku mendengar langkah kaki seseorang menuju ke kamarku, mungkin itu ibu atau ayah orang itu perlahan membuka pintu dan menutupnya kembali, langkah kaki itu semakin terdengar jelas dan sebuah bayangan besar berdiri di depan kotak ini, aku yang tidak dapat menggerakkan mataku tidak bisa melihat orang ini. "Akhirnya aku punya mainan baru" ucap seseorang itu, suara yang sangat familiar aku dengar, suara perempuan yang biasa memanggilku, tiba-tiba dia menundukkan kepalanya dan melihat aku, sekarang wajahnya tepat dihadapanku yang tidak lain adalah orang yang sangat ku kenal, Ales! pikirku. Hatiku terasa dihantam batu yang besar, semua yang tidak ku harapkan menjadi kenyataan. Melihat wajahnya tersenyum membuatku merasa takut, seolah dia seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.  Dia mengangkat kotak barbie ini dan ditutupnya dengan kain hitam, dia membawanya pergi ke suatu tempat yang tidak aku ketahui, jiwaku terperangkap di dalam tubuh barbie ini membuatku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa pasrah dengan keadaan yang terjadi karena merasa penyesalan terbesar dalam hidupku terjadi saat untuk memilih dunia barbie ini. Kain hitam yang menutupi kotak ini dibukanya, aku melihat tempat yang penuh dengan lemari kaca yang sangat besar di dalamnya aku lihat banyak Barbie yang berjajar satu-persatu, mereka tidak seperti boneka barbie pada umumnya yang sangat bahagia, raut wajah mereka seperti sekelompok Barbie yang selalu digunakan secara paksa. Dia membuka kotak ini dan aku diletakkan di dalam ruangan kaca itu bersama dengan Hans dan juga Ken, dia berpaling setelah meletakkan kami bertiga.  Kami terjebak di dalam ruangan ini bersama, Aku hanya bisa melihat dari kejauhan Ales tertawa dengan sangat bahagia, tawanya seperti memiliki mainan baru yang tidak dimiliki oleh orang lain, kemudian dia berbalik lagi ke arahku sembari berkata "Rachel sebenarnya kebahagiaan itu sudah ada di dunia ini tapi kamu saja yang menutup mata seolah kebahagiaan itu tidak ada, maka dari itu kamu melihat Dunia Barbie ini dan hasratmu untuk memiliki kebahagiaan yang tidak nyata ini membuat dirimu menjadi seperti sekarang, kamu jangan pernah salahkan aku atas apa yang terjadi, ini semua adalah pilihan yang kamu buat, dengan perhitungan yang sangat besar dari kesalahan-kesalahan kecil kamu tidak bisa melihat hal-hal yang baik terjadi di sekitarmu, penderitaan itu berasal dirimu sendiri, seolah kamu tidak dipedulikan padahal itu semua karena kamu" ucapnya. Mendengar perkataan Ales membuatku terdiam semua perkataannya sangat benar aku hanya bisa menyesal. Sekarang aku tidak bisa mengulang waktu padahal kesempatanku melihat semua itu sangat banyak, Aku harap tidak ada lagi orang seperti aku, yang menginginkan kebahagiaan dari orang lain tapi yang seharusnya dilakukan adalah mencari kebahagiaan dari diri sendiri. Selamat tinggal duniaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD