BAB 53

2275 Words
Adit hadir di rumah sakit jiwa. Pembicaraannya dengan Rasya waktu itu tentanng Alea, membuatnya kini hadir di sini. Sesaat Adit menoleh ke belakang, tampak dua orang bodguardnya berjaga di belakang dengan seorang supir yang siap kapan saja diminta untuk membawa mobiil dengan kecepatan pelan, sedang mau pun cepat. Adit menghela napas, emlangkah masuk ke rumah sakit jiwa tepatnya ke pusat informasi. Sebenarnya dia tidak perlu melakukan penjagaan ketat seperti saat ini. Alea tidak bisa berbat apa-apa dengan kondisi saat ini. Sebelum hadir, Adit sempat menghubungi ihak rumah sakit yang tidak lain adalah sahabat dari Dimas sendiri yang kebetulan menjadi dokter di rumah sakit jiwa tempat Alea dirawat. Menurut informasi darinya, kondisi Alea tetap saja sama, sering mengamuk dan tidak pernah bisa didiamkan kecuali dengan obat penenang. Dan dengan kondisi itu rasanya mustahil jika Alea bisa melawan Adit atau berbuat nekat seperti yang dia lakukan dulu. Namun yang membuat Adit kaget, Eko, dokter sahabat Dimas itu menyebutkan bahwa ada seorang perempuan yang selama ini menjaga Alea. Dia mengaku bahwa dirinya adalah adik kandung dari Alea sendiri. Sejak tadi, Adit berusaha menghubungi Raymond intuk sekedar bertanya tentang silsilah keluarga Alea yang tidak dia ketahui. Namun sayangnya, Raymond tidak mejawab teleponnya yang membuat Adit penasaran dan akhirnya melangkahkan kedua kakinya hadir di rumah sakit jiwa. “Namanya Rachel, dia sudah beberapa kali ke sini, dia juga yang selalu mealkukan terapi untuk Alea, dia juga membantu para suster di sini untuk menenangkan Alea. Berkat dia di sini, Alea sedikit terkontrol saat mengamuk.” Ucapan Eko membuat Adit sedikit was-was. Dia takut jika kehadiran wanita Bernama Racehl akan menjadi momok baru di dalam rumah tangganya bersama Nisa. Apa lagi saat mengingat Nisa sedang hamil muda. Adit takut kejadian yang dulu kembali terjadi, saat Nisa dan dirinya harus menerima kenyataan keguguran yang dialami Nisa, akibat perbuatan nekat Akea saat perniakahan Ameliya berlangsung. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya seorang suster saat Adit sudah berdiri di depan meja informasi. Adit yang semula melamun memikirkan satu nama baru yang sudah berhasil membuatnya cemas bukan main, langsung tersentak. Tersenyum sesaat agar tidak menaruh curiga dari suster yang sejak tadi ternyata sudah memanggilnya. “Eh iya, saya bisa berkunjung ke kamar saudari Alea?” tanya Adit berharap apa yang dia lakukan kali ini, benar dan tidak menimbulkan masalah. “Maaf sebelumnya, anda siapanya Mbak Alea ya?” tanya suster Bernama Neni itu dengan sikap ramah. “Saya … Miko,” jawab Adit ngasal, dia tidak ingin memakai nama aslinya untuk menemui Alea. “Sahabat Alea.” “Baik, Pak Miko, sebelumnya saya mohon maaf kalau saat ini siapa pun tidak diperbolehkan untuk datang berkunjung menemui Mbak Alea. Dan semua ini atas perintah Mbao Rachel selaku keluarga dari Mbak Aleanya sendiri,” ucapnya dengan sangat sopan. “Oh, gitu ya. Kalau begitu, boleh saya tanya-tanya sedikit tentang kondisi Alea?’ tanya Adit. “Saya dulu sahabat dekatnya, dan saya baru pulang dari Jogja, makanya baru sekarang bisa datang berkunjung ke sini. Saya ingin tau. Bagaimana ya kondisi Alea yang sebenarnya? Apa menurut hasil pemerisaan, dia bisa sembuh seperti sediakala?” tanya Adit berharap mendapatkan jawban lagi walau pun sebelumnya sudah mendapatkan jawaban langsung dari dokter yang memeriksa Alea. Rasanya terlalu janggal jika dia langsung pulang begitu saja tanpa basa-basi terlebih dulu. Lagi pula sebenarnya bukan Alea yang ingin ditemui Adit, melainkan Rachel yang sebenarnya ingin dilihat wajahnjya seperti apa. Sejak mengenal Alea, tidak pernah terdengar oleh ADit satu nama itu di telinganya. Nama itu tedengar asing walau sbenarnya antara dirinya dengan Alea tidak terlalu dekat sejak dulu. Namun ADit sangat yakin kalau dirinya tidak pernah mendengar nama itu hadir di telinganya. “Kondisi b+Mbak Alea sebenarnya masih tetap sama. Namun setiap kali MBak Rachel ada di sini, Mbak Alea sedikit lebih tenang. Mbak Rachel cukup membantu kami untuk menennagkan Mmbak Alea saat emosi,” jawabnya dengan tenang dan jawabannya sama seperti Dokter Eko saat di telepon Adit. “Kaalu ditana bisa sembu sembuh seperti semula atau tidak, mudah-mudahan bisa, Mas, asalkan ada kemauan besar dalam diri Mbak Aleanya sendiri untuk bisa sembuh. Saat ini niat itu belum terlalu kuat, doakan saja semoga Mbak Aleanya bisa sehat lagi.” Dia tersenyum ramah. “Sebenarnya ada dua nama yang sering disebut Mbak Alea, dan kami rasa hanya duan ama itu yang bisa menyembuhkan Mbak Aleanya.” “Kalau boleh tau, dua nama itu siapa ya?” tanya Adit penasaran. “Yang satu Raymond, dan yang satunya lagi … Adit. Ya … Adit,” jawabnya sesaat lupa akan satu nama terakhir yang ternyata nama Adit. “Kalau Mas Miko kenal dengan Mas ADit, tolong sampaikan ke dia untuk bisa hadir di sini sekedar membantu penyembuhan Mbak Alea.” “Saya gak kenal,” jawab Adit enggan ikut campur lagi di dalam kehidupan Alea. “Tapi, soal Raymond, kenapa bukan dia yang dmnta datang ke sini?” “Mas Raymond sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan yang saya dengar, penyebab kematiannya adalah karena tertembak senjata yang dibawa Mbak Alea sendiri. Saya merasa Mbak Alea sering memanggil namanya karena merasa bersalah.” Suster itu menghela napas berat. “Kasihan Mbak Alea, seumur hidup dia pasti menyesali perbuatannya karena sudah membunuh orang yang sangat mencintainya.” Adit terdiam. Dia tidak menyangka keberadaan Raymond yang sebenarnya masih belum diketahui siapa pun kecuali dirinya. Adit akhirnya memutuskan untuk pergi. Dia tidak ingin teralu lama berada di rumah sait jiwa. Apa yang dikatakan Raymond memang ada benarnya, lebih baik tidak lagi bersinggungan dengan Alea dari pada harus kembali terjerat dengan ide-ide gila Alea yang tidak semua orang bisa mengelak atau berhadapan langsung dengannya. Adit sendiri merasa keputusannya untuk datang ke sini adalah keputusan yang salah besar. Dia beruntung, tidak bertemu langsungd engan Alea mau pun Rachel. Jika sampai bertemu, Adit tidak akan pernah tahu apay ag akan terjadi di kehidupannya ke depan. Dengan cepat Adit meminta semua pengawal dan supirnya masuk ke mobil. Sang supir langsung melajukan mobilnya ke luar dari lingkungan rumah sakit bertepatan dengan sebuah mobil masuk dan terparkir di tempat Adit semula memarkirkan mobilnya. Mesin mobil itu mati, salah satu pintu terbuma yang ternyata adalah Rachel. Dengan santainya. Rachel melangkah masuk ke dalam dan berniat meelwati meja informasi. Namun suara seruan Suster Neni, membuat Rachel menghentikan langkahnya dan mendekati meja informasi tempat Neni berada. “Mbak tadi ada yang datang mau bertemu dengan Mbak Alea,” ucap Neni yang langsung membuat Rachel kaget. Untuk pertama kalinya ada pengunjung yang datang ingin bertemu denngan Alea. Selama ini tidak ada satu pun yang hadir, bahkan hanya dirnya sajalah yang mungkin masih mengingat Alea dan menganggapnya masih hidup sampai detik ini. “Tumben, siapa?” tanya Rachel. “Kamu sempat nanya namanya, kan?” tanya Rachel berharap Neni tidak sebodoh yang dia bayangkan. “Sempat, Mbak, namanya Miko. Katanya sahabat Mbak Alea yang baru aja kembali dari Jogja,” ucap Suster Neni yang jelas saja membuat Rachel bingung bukan main. Dia tidak pernah mendengar nama itu hadir di telinganya saat Alea bercerita via telepon dengannya. Yura berpikir itu adalah salah satu pelanggan setia Alea yang pernah dia layani secara ngasal di jalanan. Namun yang membuat Rachel merasa aneh bukan main, tidak ada satu pun dari pelanggan Alea yang mengetahui kondisi Alea saat ini. Jadi rasanya mustahil, ada sahabat Alea yang tahu sampai datang ke sini untuk sekedar berkunjung. Rachel menatap Neni yang masih menunggu jawab darinya. “Lain kali kalau ada yang datang mau ketemu sama Alea, diam-diam foto ya, bisa, kan?”m tanya Rachel. “Bisa, Mbak, saya akan coba ambil gambarnya nanti,” jawab Neni. ‘Terima kasih,” ucap Rachel lantas pergi meninggalkan meja informasi menuju ruangan Alea berada. *** Ameliya hanya diam. Semenjak pertemuannya dengan Aurelly hingga diajak makan siang di salah satu café di pusat mall, Ameliya hanya diam saja seolah enggan berbicara. Aurum yang mengerti perasaan Ameliya, langsung meminta Dimas membawanyja keliling mall sedangkan anak-anak tetap bersamanya dan juga Sumi yang kebetulan ikut dan lebih memilih menanti di kantin rumah sakit saat Ameliya menemui Dimas di ruangannya. Atas sarann dari Aurum, Dimas pun akhrnya membawa Ameliya berkeliling untuk melihat-lihat perlengkapan bayi. Walau pun awalnya Ameliya menolak, namun atas desakan Dimas, akhirnya Ameliya menyetujuinya. Ameliya memilih-milih pakaian bayi dengan gerakan malas. Dia sebenarnya ingin pulang saat ini juga, lebih tepatnya setelah pertemuannya dengan Aurelly tadi. Da yang semula begitu semangat ingin mengajak kedua anaknya jalan-jalan di mall, malah enggan. Semangatnya seolah hilang dibawa Aurelly pergi. Dan hal itu membuat Dimas sedikit kebingungan mengatasinya. “Kamu kenapa jad marah sama aku, Sayang?” tanya Dimas mencoba memulai pembicaraan. “Siapa yang marah?” tanya Ameliya santai. “santai aja, udah biasa kok ketemu dan berhadapan sama tuh anak. Cuma heran aja, kok bisa ya dia datang ke rumah sakit bertepatan dengan ingkar janjinya kamu yang katanya mau cepat pulang buat makan siang di rumah.” Dimas akhirnya mengerti apa yang membuat sang istri diam seribu Bahasa sejak tadi. Ameliya ternyata salah paham padanya. Dimas menghela napas panjang, mencoba tetap tenang mengingat saat ini Ameliya sedang hamil besar dan tinggal menghitung hari saja. “Jadi kamu pikir kami janjian ketemu di kantor gitu?” tanya Dimas yang semula dijawab Ameliya dengan mengangkat kedua bahunya sembari beralih ke peralatan kereta dorong bayi. “Ya Allah, Mel, aku gak pernah ngelakuin hal itu. Bahkan komunikasi saja tidak pernah sama dia. Kamu angan seudzon sama aku begitu dong, Sayang,” mohon Dimas yang berusaha tetap berada di dekkat Ameliya meski pun sejak tadi Ameliya terus melangkah ke sana dan ke mari seolah menghindarinya. “Siapa juga yang mau seudzon, tapi kenyataannya membuktikan sepert itu,” ucap Ameliya dengan sedikit menahan nada suaranya. “Terus aku harus percaya siapa coba?” “Tapi aku gak ada ngelakuin hal iitu, Sayang,” ucap Dimas lagi mencoba terus meyakinkan Ameliya yang kini sudah duduk di tempat duduk panjang akibat kelelahan. Ameliya mmengusap keringat di keningnya yang membuat Dimas khawatir, lantas membukakan botol mineral yang sejak tadi dia pegang untuk Ameliya. Ameliya menerimanya dan langsung meminumnya beberapa kali tegukan. “Aku bahkan gak tau kapan dia balik dari Belanda. Kamu kan tau, kalau nomornya sudah aku blokir sejak lama, gimana caranya coba kmunikasi lagi sama dia kalau nomornya saja aku blokir.” “Tapi kan nomor kamu papstinya tetap dia simpan di handphonenya, bisa saja kan dia duluan ngehubungi kamu, terus kalian komunikasi deh, kalian janjian ketemu di rumah sakit makanya kamu ngebatalin janji pulang cepat sama Zyo,” ucap Ameliya. “aku benar, kan?” “Salah, kamu salah besar,” ucap Dimas. “Sudah cukup lama kita menikah, kamu masih belum percaya sama aku, Mel?” Ameliya menghela napas panjang. Beberapa pasanng mata mulai terjurus kea rah dirinya dan sang suami yang membuat Ameliya mulai merasa malu bukan main. Amelliya langsung menggengam tangan Dimas yang membuat Dimas berhenti berbicara. Menyadari dirinya dan Amelliya mulai jadi pusat perhatian, Dimas memutuskan untuk mengajak Ameliya ke luar dari toko bayi itu dan pergi ke toko lainnya. Ameliya yang tidak ingin dipegang, membuat Dimas terus berjalan di dekatnya sekedar berjaga-jaga, jika Ameliya sampai terjatuh atau kepeleset sedikit saja. “Jawab jujur,” ucap Ameliya yang tiba-tia berhenti melangkah. “Diam akin cantik, kan?” tanya Ameliya yang membuat Dimas ingin tertawa, namun dengan cepat Dimas menahannya, sayangnya Ameliya sudah keburu menangkap sikap Dimas yang ingin tertawa saat itu. “Kok malah ketawa?!” tanya Ameliya kesal bukan main. “Enggak,” jawab Dimas. “Enggak apa, itu kamu ketawa! Kamu ngeledek aku yang kalah cantik sama Aurelly itu?” tanya Ameliya yang tampak semaki kesal dengan sang suami yang bukannya menenangkannya, malah tega menertawakanya. Ameliya melipat tangannya di d**a dengan bibir manyun. Dimas lanngsung memegang kedua pipi Ameliya dan mengarahkannjya ke wajahnya. “Dengarin aku, mau diam akin cantik, bohay, tinggi semampai, atau apa pun tu, tetap aja yang cantik kuadrat di mataku ya kamu, bukan dia,” ucap Dimas. “Gak usah gombal, akku serius!” “Aku juga serius, Sayang,” ucap Dimas. “Dengarin aku, aku da Aurelly gak ada komunikasi sama sekali, kamu bisa cek handphone aku, media social atau pribadi dan rumah sakit. Aku tidak ada sekali pun komunikasi dengan wanita itu. Aku juga gak sengaja ketemu dia di rumah sakit, aku baru selesai meriksa pasien, ke luar dari kamar inap tempat pasienku di rawat, berniat masuk ke lift. Eh ternyata dia ada di dalam lift.” “Kalian satu lift?!” tanya Ameliya yang langsunng dijawab Dimas dengan anggukan. “Kok malah naik sih, bukannya naik lift satunya lagi,” ucap Ameliya kesal bukan main. “Kamu kan lihat sendiri tadi, lift satunya di rumah sakit rusak, kan?” tanya Dimas yang langsng membuat Ameliya terdiam saat kembali mengingat kejadian di rumah sakit yang dia harus menunggu lama lift hanya karena yang satunya rusak. “Aku mau cepat pulang mau ambil kunci mobil sama tas di ruangan, makanya aku langsung naik aja. Kalau kamu masih curiga kami ngapain di lift, ya udah kita lihat sekarang CCTV selama aku di lift, kita bisa minta rekaman saat aku dan Aurelly di lift waktu itu, biar kamu bisa percaya.” Ameliya menyerah, dia sadar pikirannya terlalu berlebihan mengartikan pertemuannya dengan Aurelly tadi di rumah sakit. Seharusnya dia bisa sedikit memberikan waktu bagi Dimas untuk menjelaskan semuanya. Namun kecemburuannya membutakannya hingga malah marah-marah tidak jelas pada Dimas. “Percaya sama aku ya?” tanya Dimas yang langsung dijawab Ameliya dengan anggukan kepala. “Jadi ke depannya gimana, kalau sampai dia ganggu kita lagi?” tanya Ameliya tampak cemas. “Tenang saja, dia tidak akan bisa ganggu kita. Aku janji,” ucap Dimas sembari memeluk Ameliya yang berhasil membuat Ameliya tenang bukan main. Dari kejauhan Aurum melihats egalanya. Dia tersenyum lega melihat kedua anaknya bisa kembali akur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD