Karena bicara dengan Jung semalaman, hal itu membuat V pada akhirnya terjaga hingga dini hari. Sebenarnya sih ia memang sudah tak mengantuk lagi karena tidur sorenya yang panjang tadi. Untunglah besok adalah hari minggu, setidaknya V bisa tidur seharian nanti siang.
Waktu telah menunjukkan pukul 4 dini hari, berhubung matanya masih terbuka lebar, V memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliahnya saja sambuil menunggu pagi tiba.
Karena Jung ada di kamar sebelah, V sama sekali tidak dapat berkonsentrasi. Jantungnya terus berdebar, benaknya berkali-kali memikirkan pembicaraan dan berbagai kejadian semalam.
Karena dirasa tak bisa lagi berkonsentrasi, V menutup laptop dan mengambil lip balm untuk sekedar melembabkan bibirnya yang terasa kering.
Sambil membalurkan lip balm, pikirannya melayang ke arah pria di kamar sebelah. Tadi malam itu... Jung nampak sangat berbeda. Bagaimana bisa seorang penjahat wanita sepertinya sampai seserius itu ketika membicarakan tentang pernikahan.
“Aku kan jadi salah sangka dibuatnya. Merayu dengan ekspresi serius begitu lebih menyeramkan dibandingkan jika ia memasang wajah jahilnya, ouch!" Gumam V, "Seandainya dia tetap lembut seperti itu... pesonanya pasti jadi lebih mematikan lagi. Sangat disayangkan beberapa saat kemudian ia berubah menjadi cheesy lagi."
"Apa kau sedang mengenang kembali hal-hal yang pernah kita lakukan bersama hingga kau terus membelai bibirmu seperti itu?" Seru Jung secara tiba-tiba hingga membuat V nyaris terlonjak dari duduknya. Jung sendiri kini tengah berdiri dan bersandar di pintu kamar V. Entah sejak kapan ia sudah berada disana.
V mencoba mengatur kembali ritme detak jantungnya dengan menepuk-nepuk d**a pelan, tatkala matanya menyorot tajam ke arah laki-laki berbadan besar di depannya dengan tatapan jengkel, "Kalau datang bilang-bilang dong! Jangan membuat orang lain jadi terkena serangan jantung! Kau tidak lihat? Aku ini sedang menggunakan lip balm, bukannya mengenang hal m***m seperti itu!"
"Untuk apa memakai benda itu? Mengapa, bahkan laki-lakipun kini sering menggunakannya? Aku benar-benar tidak mengerti." Tanya Jung penasaran.
"Benda ini fungsinya untuk melembabkan bibir… Tadi bibirku kering, jadi aku harus memakainya."
"Mau kubuat basah?" Tanya Jung iseng menggodanya. Sudut bibirnya terangkat, menunjukkan seringaian.
"Heol! Si bastard mulai lagi." Sahut V datar. "Ngomong-ngomong soal ini, aku kira kau juga memakai lip balm. Habisnya bibirmu selalu kelihatan lembab dan merah merona. Jadi itu alami? Beruntungnya dirimu."
"Bahkan pelembab bibirku pun alami lho." Jung melirik jahil ke arah bibir V.
Gadis bermata sipit itu menyilangkan tangannya di depan perut, "Kumohon... Kau sudah manis sekali tadi malam. Kenapa kau kambuh lagi sih?"
"Manis apanya? Kau mau merasakan manisnya lagi?" Jung malah balik menggoda V dengan memberikan tatapan seduktif dan senyum andalannya yang tentu saja tak pernah gagal membuat wanita jadi menganga.
V yang langsung mengerti arah pembicaraan Jung segera membantah asumsi itu, "Sikapmu yang manis... Bukan bibirmu! Dasar m***m!"
"Ah... Sekarang kau menjadi lebih peka terhadap perkataanku rupanya. Senang rasanya aku jadi tidak perlu repot-repot menjelaskan terlebih dahulu." Ucap lelaki jangkung itu tergelak sampai kepalanya bersandar di pinggir pintu.
"Ngomong-ngomong aku baru sadar jika baju itu cocok sekali di tubuhmu." Ujar V mengalihkan pembicaraan. "Aku menyukainya..."
Mendengar itu, Jung menghentikan tawanya. "Hei.. Barusan itu, kau sedang menyatakan cinta padaku ya?"
"Kenapa jadi Menyatakan cinta? Siapa? Aku? Kapan? Bagaimana bisa?" Tanya V bingung.
"Barusan tadi kau bilang ‘suka’ kan?" Jung balik bertanya seraya berjalan menghampiri V.
Melihat Jung semakin mendekatinya, V beringsut di tempatnya duduk dengan jantung yang lagi-lagi berdebar terlalu kencang, "Si-siapa yang bilang suka padamu?! Aku suka pada bajunya, bukan padamu, i***t!!" Bantahnya.
Sudut bibir Jung terangkat lagi, lalu mencondongkan kepalanya ke telinga V secara perlahan, menambahkan kadar terror yang membuat gadis berambut lurus itu semakin tersiksa. Melihat V gelisah, ia mulai berbisik, "Maaf, aku salah sangka lagi. Tadi aku hanya terlalu senang mendengarmu mengucapkan kata 'suka', walau nyatanya hanya kau tujukan untuk penaampilanku saja."
Merasakan suasana semakin tidak terkendali, V pun berdiri dan beranjak keluar kamar untuk menghindari lelaki yang hobi mengintimidasi itu.
"Hei... Kenapa kau malah pergi?”
"Untuk menghindari situasi tidak sehat!" Teriak V dari arah dapur. Di depan kulkas ia menyandarkan diri, 'Rasanya aku bisa gila kalau dia terlalu lama berada disini!'
Jung, seraya menyentuhkan stik lip balm tersebut di bibirnya, terkikik gemas melihat ‘mangsa’nya seperti sedang berusaha menampik daya tariknya. "Imutnya rusaku... Aku jadi ingin memakannya..."
***
Ketika pagi menjelang, Jung dan V menyantap roti tawar dengan selai coklat. Dalam jamuan sarapan yang hening itu, sesekali V melirik ke arah Jung yang tengah fokus mengoleskan selai.
'Kalau sedang diam begitu, dia kelihatan seperti pria baik-baik.' Batin V, tanpa terasa pipinya tertarik mengukir sebuah senyuman ringan.
Sial bagi V, lelaki itu sepertinya sadar akan perhatiannya yang tak lama kemudian membalas tatapan itu seolah sedang berkata ‘Hey, girl! I see you…’ menggunakan sorot tajamnya. V merasa seperti sedang kepergok telah mencuri, dengan buru-buru ia memalingkan wajah untuk kabur dari tatapan maut pria berbahaya di depannya tersebut.
Seraya memalingkan wajah untuk menutupi rona pipinya yang mulai memerah karena malu, V kembali bertanya, "Hei... Kapan kau akan membayar dua jawabanmu? Kau ingin membuatku mati penasaran ya?"
"Lebih baik kau mati penasaran saja daripada aku menjawabnya tanpa mendapatkan 'barter' darimu." Jawab Jung dengan mimik acuh tak acuh, kembali fokus pada rotinya.
"Yaaakkk!!" Teriak V geram, "Memangnya apa susahnya sih menjawab pertanyaan yang kau bahkan sudah tau sendiri penjelasannya? Toh aku tidak menyuruhmu menjawab soal fisika kan?!"
"Kau juga, apa susahnya tinggal menciumku dua kali saja untuk membayar hutangmu? Toh aku tidak menyuruhmu memakanku hidup-hidup kan?"
Mendengar perkataan Jung yang malah membalikkan argumennya, V hanya bisa menggigit bibir, mencoba menahan emosi. "Oke... Berhubung kita juga sudah cukup sering melakukannya, lebih baik sekalian saja menghancurkan harga diriku sekarang!!"
Secara tiba-tiba, V menghampiri Jung dan meraih wajahnya dengan satu kali hentakan kasar.
Jung mendadak tertegun seketika saat V menyentuh kedua pipinya. Selama ini ia memang telah berkali-kali menggoda V supaya gadis itu mau mendatanginya duluan, namun begitu harapannya menjadi kenyataan seperti ini, entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa cemas sendiri.
Kali ini V benar-benar serius. Sudah terlalu lama ia tak dapat tidur nyenyak lagi setelah pria ini datang dan membuatnya selalu dihantui rasa ingin tahu. Untuk sekarang, ia sudah tak dapat lagi menahan diri. Ia harus segera menyelesaikannya, lalu mengusir pria itu sejauh mungkin dari kehidupannya supaya dapat kembali hidup dengan tenang seperti dulu.
"Oke... Ini adalah untuk pertanyaan pertama, mengapa kau menciumku di jalan." Seru V mendekatkan wajahnya dengan cepat agar dapat menyentuh bibir Jung dan segera mengakhiri kegiatan memalukan ini.
Namun ketika seinci lagi bersentuhan... "EOMMMAAAAAAAAAA!!!!" Teriakan J yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan menyaksikan adegan itu, membuat V terkejut hingga dengan refleks mendorong Jung sampai pria berpundak lebar itu jatuh terjengkang ke belakang bersama kursinya.
"Aisshhh!! Anak ini!!" Gerutu V dengan kesal.
J melayangkan tatapan menghakimi, lalu berlari keluar rumah, "APA INI?! EOMMAA!! PAGI-PAGI MATAKU SUDAH DINODAI OLEH NOONA!!! OH NOOOO..." Rengek J dengan suaranya yang berat namun cukup melengking.
V bergegas mengejar adiknya yang mulai menggila, sampai tidak sadar telah melangkahi, bahkan menginjak jemari Jung yang masih tersungkur di lantai sembari mengerang kesakitan setelah kepalanya terbentur cukup keras.
Jung hanya bisa terdiam sambil menatap langit-langit, “Aku salah apa duh gusti…”
"Eommaaaaa!!! Noona berbuat m***m di hmp--" V segera membungkam mulut J agar berhenti berteriak, lalu menyeretnya secara paksa ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat.
"Woy, adek jahannam! Bagaimana jika para tetangga jadi salah paham karena teriakanmu? Kau mau Noona diusir dari sini, hah?"
"Lalu apa itu tadi?! Aku lihat sendiri Noona sedang memaksa untuk menciumnya!! Kau tahu itu namanya pemerkosaan? Ya ampun... Hyung yang malang!!" J kembali merengek seperti anak kecil. (Hyung: sebutan 'kakak' laki-laki yang berlaku untuk laki-laki lebih muda)
Kemudian dengan tatapan sedih, J berjalan ke arah meja makan, menghampiri Jung yang masih terbaring di lantai dan menolongnya untuk bangun.
"Hyung!! Kau tidak apa-apa?" J terlihat cemas, alisnya sampai berkerut, "Cepat lari dari sini!! Selamatkan dirimu!! Tapi jangan pernah panggil polisi ya… Maklumilah Noona-ku... Mungkin karena dia jomblo dari lahir makanya dia melakukan ini. Lagipula salahmu sendiri sih, kenapa jadi pria kok punya wajah yang terlalu tampan begitu, jadi bukan sepenuhnya Noona-ku yang salah jika dia menyerangmu." racaunya menunjukan ungkapan penuh kekhawatiran—walaupun entah siapa sebenarnya yang paling ia khawatirkan disini.
"Hei... Jangan menolongnya, dia itu ular berbisa!" Ujar V sembari duduk kembali menyantap sarapan.
Laki-laki berwajah blasteran itu melirik kakaknya tajam, "Jahat sekali kau, Noona! Sudah berusaha menodainya, dan sekarang kau malah mengumpat padanya. Tidak kusangka Noona-ku adalah manusia tak berhati. Ish ish ish."
"Heol!! Kau membuatku seolah akulah penjahatnya di sini."
"Kau memang jahat. Baru sadar?" Sahut J lagi, dan beberapa saat kemudian beralih kembali pada Jung. "Mau kuambilkan es batu untuk mengkompres kepalamu, Hyung?"
"Tidak usah... Aku tidak apa-apa. Ngomong-ngomong siapa namamu, bro?" Tanya Jung sambil merangkul pundak J dengan akrab.
"Jayden Park... Tapi lebih sering dipanggil J. Kalau Hyung sendiri?"
"Jung Nam."
Mata J tiba-tiba saja berbinar-binar, "Sudah kuduga!! Jika pria memiliki awalan huruf J pada namanya, sudah pasti pria itu ganteng!!"
V mengerutkan kening melihat keakraban mereka yang tak terduga, "Cih!! Jadi adiknya Jung saja sana!!"
"Oke, J!! Sesama orang ganteng, ayo kita beli s**u coklat di minimarket!!" Seru Jung beranjak dari tempat duduknya.
"Aku lebih suka s**u rasa stroberi, Hyung! Belikan aku yang rasa stroberi saja ya... Kalau Hyung memberikanku satu kotak besar, maka akan kuangkat Hyung menjadi kakakku saat itu juga."
Jung menepuk pundak lelaki muda yang sedikit lebih jangkung darinya tersebut, "Oke!! Tapi yakin nih hanya minta satu? Aku bisa saja lho membelikanmu 10 kotak, asalkan dibelakang kata ‘kakak’ yang tadi, tambahkan kata ‘ipar’ ya!!"
"Heol!! Terus saja membual!! Dasar ular!" V mengumpat, mencoba untuk tetap fokus pada makanannya dan mengabaikan mereka.
Semangat J mendadak meledak-ledak, "Yang benar, Hyung? Oke!! Let’s go!!" Kakinya melompat-lompat girang. Sikapnya sekarang benar-benar tidak mencirikan sama sekali bahwa tahun depan anak ini akan segera lulus SMA.
'Karena kau telah menyelamatkanku dari tuntutan untuk mengungkapkan siapa aku sebenarnya di depan kakakmu, jadi aku ingin berterima kasih. Dengan mentraktirmu, setidaknya sekarang kita impas.'