Siang itu V tertidur pulas hingga 5 jam di kamarnya. Seperti terlepas dari beban berat, ia meregangkan otot lehernya ke kanan dan ke kiri, lalu berjalan gontai ke arah dapur.
"Noona, akhirnya kau bangun juga! Lihat... Jung Hyung membuatkan kita makanan Italia! Kelihatannya enak!!" Sahut J sumringah sembari memandangi Jung yang tengah mengaduk pasta di penggorengan.
Dengan malas, V membaringkan kepalanya di meja makan, matanya bahkan belum sepenuhnya terbuka. "Kau tidak pulang, Jung? Kau bilang akan pulang jika sudah siang."
"Tega sekali Noona mengusir Jung Hyung!!" Tukas J tidak terima. Anak itu sepertinya memang sudah jatuh hati pada pria yang tengah memasak di depannya ini. "Sudah Hyung, jangan dengarkan Noona... Kau mau menginap selamanya di sini juga tidak apa-apa, biar aku bisa makan yang enak-enak tiap hari."
"Enak saja! Kalau begitu kenapa kau tidak suruh saja dia menginap di rumah agar kau betah tinggal disana selama ada Jung! Anggap saja dia koki gratismu." Timpal V seraya bangkit dari duduknya. "Ngomong-ngomong, kau masak apa sih? Baunya enak, jadi penasaran."
V berjalan mendekati tempat dimana Jung berdiri. Namun belum sempat V menengok, Jung terlonjak dan sudah terlebih dahulu menjauh dari V.
"Apa-apaan kau?! Bikin kaget saja!! Jangan dekat-dekat!!" Seru Jung sembari membentuk kedua lengan menjadi tanda silang untuk melindungi tubuhnya dari V.
Gadis itu hanya bisa melongo melihat kelakuan aneh Jung barusan.
Dari sekian banyak keanehan pada sikap Jung yang selalu berubah setiap hari, inilah yang teraneh.
V mengangkat sebelah alisnya, bingung. "Hey, aku hanya--"
"Kubilang jangan dekat-dekat!! Kau tuli?" Sergah Jung memotong pembicaraan. Kepanikannya benar-benar terlihat seperti tengah berpapasan dengan hantu.
V semakin bingung melihat Jung yang seolah menghindarinya seakan-akan ia adalah penyakit menular.
Setelah menerima penolakan, V akhirnya kembali duduk di meja makan. Melihat wanita berambut lurus itu sudah pergi, Jung melanjutkan aktivitasnya dengan hati yang was-was dan lebih waspada dari sebelumnya.
V terus menatap Jung sambil memikirkan berbagai hal yang telah terjadi dari kemarin hingga hari ini. Apa dia berbuat suatu kesalahan hingga membuat Jung menghindarinya sampai seperti itu?
J, yang sedari tadi melihat kekakuan di antara mereka, hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, "Inilah alasannya mengapa aku tidak ingin menjadi dewasa… Karena jadi orang dewasa itu mem-bingungkan, merepotkan juga."
“Kalau begitu, jadi bayi saja sana.” V mencibir dengan raut wajah tak peduli.
“Apa sih, Noona! Nyahut aja!”
***
Suara garpu yang beradu dengan piring di atas meja bundar itu terdengar bersahut-sahutan menggaduhkan satu ruangan. Karena lapar, pasta buatan Jung kini ludes tak bersisa dari piring saji.
"Uwaahhh... Pastanya enak sekali! Kau pintar memasak juga ya!!" Seru V sembari menepuk pundak Jung yang duduk di sebelahnya dengan perasaan bangga.
Namun kala itu, seolah sentuhannya mengandung tegangan listrik, Jung tersentak seketika hingga melemparkan garpunya ke udara tanpa sengaja. "Jangan sentuh aku!!" Jung terlihat panik.
V kembali melongo melihat Jung yang biasanya sangat kecanduan sentuhan itu kini menjadi seperti alergi terhadapnya.
"Kau kenapa sih?" Tanya V ketika sudah tak bisa lagi mengendalikan rasa penasarannya, "biasanya kau yang mendekat dan akulah yang selalu berusaha menghindarimu, kenapa sekarang malah jadi terbalik? Apa kau sedang mengerjaiku? Apakah kau sedang melakukan prank dan menyembunyikan sebuah hidden camera di sekitar sini? Apakah sekarang sedang diadakan hari kebalikan? Apa kau sakit?" V meracau menumpahkan seluruh pertanyaan yang memenuhi isi pikirannya seraya menyentuh kening Jung dengan telapak tangan, mengecek apakah pria itu terkena demam atau tidak.
Menerima sentuhan itu, dengan segera Jung menarik diri serta berdiri mundur menjauhi V. Lagi. "Aish!! Sudah kubilang jangan dekat-dekat, apalagi sampai menyentuhku! Kau membuatku takut tahu!" Sahut Jung seperti orang kesetanan.
"Aigoo aigoo... Segitu jijiknya kah kau padaku? Kenapa tidak sekalian saja kau mengenakan baju besi untuk membentengi tubuh sucimu itu dari sentuhanku?” Ucap V yang pada akhirnya berinisiatif menggeser kursi menjauhi tempat duduk Jung. “Oke... Oke!! Aku tidak akan mendekatimu lagi. Anggap saja aku vas bunga, tidak usah pedulikan aku."
Setelah melihat V beringsut menjauh, Jung kembali duduk di tempatnya dengan tenang.
"Ngomong-ngomong, J... Kenapa kau kembali kesini cepat sekali?" Tanya V kemudian untuk memecah suasana kaku.
"Eomma ternyata tidak jadi pulang. Daripada kesepian di rumah, lebih baik aku kesini. Untung saja aku kemari lho, kalau tidak, aku pasti tidak akan bertemu dengan orang sebaik Jung Hyung." Jawab J senang sambil menyantap lahap hidangannya.
"Memangnya kau disuap apa saja sih oleh Jung sampai kau bertekuk lutut padanya begini, hei bocah?" Tanya V lagi pada adik satu-satunya tersebut.
"Kau pikir aku bayi sampai aku harus disuapi?"
"Capek juga ngomong sama anak yang otaknya ketinggalan di rahim saat lahir!"
"Aku juga capek ngomong sama Noona yang otaknya lebih suka ditaruh di mata kaki!"
Melihat pertengkaran kakak beradik yang sepertinya akan berkelanjutan tersebut, Jung berinisiatif untuk mengalihkan mereka. "Hei, J... kau sudah punya pacar? Kalau belum, mau kukenalkan dengan salah satu kenalanku? Dia masih berumur 17 tahun, sama sepertimu... Tapi dia sudah menjadi model. Mau lihat?" Tawarnya sembari menyalakan smartphone.
"Mau dong, Hyung!! Sini sini lihat fotonya!"
"Tentu saja cantik!! Kan dia model!!"
Ketika melihat foto wanita yang dimaksud, mata J terlihat berbinar. "Uwaaahhh... seksi juga ya…"
"Coba lihat!!" Seru V penasaran.
"Tidak boleh!!" Bantah Jung.
"Sini lihat!!" Desak V lagi.
"Kalau begitu, kau harus panggil aku 'Oppa' dulu, baru aku perlihatkan." Sergah Jung sambil terkekeh meledek V.
"Tidak mau!!"
"Ya sudah, kalau begitu tidak usah lihat." Sahut Jung yang langsung menutupi layar smartphone-nya menggunakan tangan.
"Sini lihat!! Begitu saja tidak boleh!!" Desak V seraya menempelkan dagunya ke pundak Jung dan menarik tangan yang menutupi layar ponsel itu untuk mengintip.
Seketika jantung Jung berdebar-debar. Wajahnya mulai memerah, Jung merasa bahwa ini pertanda bahaya.
Dengan tergesa-gesa, Jung berdiri dan menjauh dari V. "Apa-apaan kau ini?! Jangan dekat-dekat denganku!!" Tukas Jung sambil memegang dadanya untuk menahan pemberontakan degup jantung yang membuat dadanya sakit.
"Wuuaaaa!! Kenapa dia? Gila ya? Atau kesurupan? Kenapa sedari tadi dia tidak mau dekat-dekat denganku? Apa karena salah makan? Jayden Park, tadi siang kau makan apa saja bersama Jung?" Seru V menyuarakan semua keganjilan yang ia lihat pada diri Jung saat ini.
J hanya mengangkat bahunya dan enggan bicara.
"Cepat muntahkan makanannya sekarang!! Kau benar-benar membuatku merinding!!" Perintah V seraya mendekati Jung lagi dan mencoba menepuk-nepuk leher belakangnya, menyuruhnya untuk segera muntah.
Namun belum sedetik saja Jung sudah beringsut menjauh. Dahinya berkerut namun wajahnya memerah seperti udang rebus. "Mulai sekarang jangan pernah mendekatiku lagi, wanita aneh!! Awas saja jika kau sampai berani menyentuhku!!" Tukasnya marah-marah yang lalu berlari ke kamar J.
V benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi."Wuah... Aku merasa seolah telah menjadi pelaku pelecehan."
“Tadi siang kan kau memang sudah melecehkan Hyung, Noona… Untung saja aku datang. Kalau tidak, Jung Hyung mungkin bisa sampai lapor polisi untuk menuntutmu. Lihat saja, sekarang saja dia seperti sudah mengusirmu jauh-jauh dari kehidupannya.” J menyahut.
Mendengar itu, kedua alis V terangkat, “Apa benar, gara-gara yang tadi siang itu? Kalau begitu, kenapa dia masih disini dan bukannya kabur?”
“Sebentar lagi juga kabur, lihat saja!”
***
Sembari bergegas menutup pintu, Jung bersandar di baliknya seraya mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
"Jantungku!! Astaga! Ada apa dengan jantungku?! Mengapa sejak kejadian tadi siang, tubuhku selalu jadi mendadak aneh begini jika ia mendekat?"
Jung terduduk disana, melayangkan pikirannya kembali pada kejadian di kamar V siang tadi…
Setelah pergi mentraktir J, Jung pulang seorang diri sementara partnernya malah mampir ke warnet begitu ia mendapati pengumuman sedang adanya diskon special anniversary. Sesampainya di rumah, V sudah terlelap dalam kamarnya.
Wajah gadis berambut hitam itu terlihat damai, seperti putri tidur yang hanya akan terbangun jika ada pangeran yang mencium. Bahkan ketika J beranjak duduk di tepi ranjang tua hingga menimbulkan suara deritan yang cukup nyaring, pun, V tidak bergeming sama sekali.
Punggung tangan Jung mulai menelusuri pipinya yang sedikit chubby, menikmati setiap sentuhan dan sensasi di setiap gerakannya.
Tangan itu merayap hingga ke bawah, menyibakkan rambut V yang menutupi kulit lehernya. Pada saat itu juga, aroma V menguar diterpa angin laut yang menyusup masuk dari jendela yang terbuka, membuat dahaga Jung semakin menggila.
Matanya memicing ke arah leher itu, insting predatornya menguasai sekujur tubuh yang kini dibuat gemetar menuntut untuk segera memangsa korban yang tengah terlelap di depannya ini.
‘Dia tak akan menyadarinya. Cukup buat dia terlena, dan terhanyut dalam sentuhanmu, maka dia pasti akan menyerahkan energinya padamu dengan suka rela. Dicoba saja…’ Setan dalam diri Jung membuatnya semakin merasa lapar.
Secara perlahan, Jung mulai mendekatkan wajahnya kearah leher jenjang gadis itu, untuk sementara waktu dia hanya ingin menghirup aromanya saja.
Layaknya seorang pelanggan restoran yang menikmati aroma masakannya terlebih dahulu sebelum menyuapnya ke dalam mulut.
“Aku mencintaimu…” Tiba-tiba saja V berbisik pelan, “Jung.”
DEG!
Mata jung terbelalak lebar mendengar namanya disebut. Dengan segera ia menarik mundur kepalanya untuk menatap wajah V, memastikan gadis itu belum terbangun.
Benar saja, V hanya mengigau kala mengatakan hal itu. Bibirnya sedikit terbuka, alisnya berkerut gelisah. Mimpi apa dia sebenarnya? Mengapa ia sampai mengatakan…
Mengatakan…
Mengingat bisikan V tadi, Jung merasa tiba-tiba saja suhu tubuhnya memanas. Di dalam matanya yang masih terbelalak lebar dan terpaku pada sosok gadis di depannya itu, ia merasakan dahaganya memuncak, pada tingkatan yang sudah tak dapat tertahan lagi.
Seolah jika ia tidak ‘menyantap’ gadis itu sekarang juga, maka ia akan mati.
Dengan putus asa, Jung kembali meletakkan telapak tangannya merengkuh leher V. Namun rupanya itu tidak cukup, sangat tidak cukup. Matanya yang berkunang-kunang seperti bergerak sendiri memandangi tubuh V dari kepala hingga ujung kaki, seperti orang m***m.
Padahal selama ini, ia selalu berusaha untuk menjadi predator yang berkelas, bukannya makhluk buas mata keranjang.
Sekuat tenaga, ia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah seraya menahan napas, mencoba melawan hasratnya yang membuncah dan bergegas lari keluar rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
***
Sejak saat itulah, setiap sentuhan dari gadis itu membuatnya gila. Rasanya sangat menyiksa, mengingat ia yang tak boleh melakukan hal lebih jauh dari ciuman dan harus menahan diri jika ingin bertahan hidup lebih lama lagi.
Dengan wanita itu, ia merasa bahwa ia tak bisa lagi bersabar seperti dulu. Bahkan hanya dengan kata sederhana seperti ‘aku mencintaimu’, mampu membuat hewan buas dalam dirinya meronta-ronta, menggila minta segera dilepaskan.
Sembari termenung, raut wajahnya menyiratkan rasa gelisah. “Jangan! Aku tidak boleh jatuh cinta… Sekali aku ‘menyatu’ dengan manusia, maka nyawaku akan bergantung padanya selamanya… Ini tidak boleh terjadi!”
Demi kebaikannya sendiri, malam itu ia memutuskan untuk pergi secara diam-diam.
Dan tidak pernah kembali lagi.