"Menikahlah denganku." Ucap Jung, ekspresinya sarat akan keseriusan. Tak ada lagi senyum licik yang biasanya dia tunjukkan ketika sedang merayu.
Kali ini rupanya dia sedang tidak main-main.
Deg!
V tertegun di tempatnya duduk. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan menduga bahwa pria ini akan mengucapkan 'maukah kau jadi pacarku' pun, nyaris tidak pernah. Lalu bagaimana bisa, ternyata dia malah langsung mengajak menikah? Apa motif dibalik ungkapannya ini?
"Mengapa kau diam?" Desak Jung menuntut jawaban, "Menikahlah denganku, dengan begitu aku akan menjadi milikmu satu-satunya."
V masih terdiam.
Karena tak tahan lagi, akhirnya Jung merengkuh leher V dengan kedua tangannya, menarik kepala V lebih dekat dengan wajahnya, lalu mengunci arah fokus wanita itu hanya padanya sementara ia sendiri mengarahkan wajah ke samping, "Jika kau ingin aku berubah menjadi orang baik, menikahlah denganku, V." Bisik Jung di telinga V dengan suara lembut namun begitu menggoda.
Hampir saja dibuat V kehilangan akal dan menjawab ‘iya’.
Jung mulai menyapu leher V dengan bibirnya, menjelajah hingga bagian pangkal rahang seraya berbisik lagi, "Aku lelah menahan diri setiap kali di sampingmu... Aku selalu menginginkan hal yang lebih dari ini. Aku sendiri tak tahu kapan aku akan kehilangan akal sehatku dan lepas kendali, karena sesungguhnya kesabaran makhluk sepertiku ini jauh lebih sedikit dibandingkan kalian. Bisa jadi besok ketika kita bertemu lagi di studio, atau bahkan saat ini, sekarang juga... Ketika kau sudah berada di depanku seperti ini, aku tak tahu kapan instingku akan mengambil kontrol sepenuhnya lalu menyerangmu... Jadi, sebelum aku hilang kendali, menikahlah denganku... V."
Dibalik kata-kata yang tak dapat V mengerti, hal yang tengah dilakukan Jung di atas kulitnya sekarang membuat V semakin gila. Sekujur tubuhnya merinding, jujur saja sedari tadi setan dalam dirinya juga sedang berusaha mati-matian, terus membisikinya untuk segera menghambur pada pria ini sebelum ia nantinya pergi lagi.
V benar-benar sangat ingin menjawab iya, namun dia sendiri sangat takut jikalau ternyata alasan Jung menikahinya hanyalah semata karena kepuasan nafsu belaka. Ia tidak ingin dicampakkan, ia tidak ingin lagi merasakan sakitnya ditinggalkan.
"Aku tidak menyangka ternyata kau orangnya cukup kuno, ya... Mengajak menikah, hanya karena kau menghindari s*x diluar nikah. Padahal selama ini, bibirmu saja sudah tak lagi mampu mengingat sudah berapa banyak wanita yang telah kau cumbu tubuhnya, mengapa tidak sekalian saja?"
"Aku... Tidak bisa. Ah, bukan, aku memang tidak boleh..."
"Memangnya kau pikir pria selain kamu itu boleh? Kau bukan orang suci, kau bahkan jauh lebih b******k daripada semua pria m***m yang pernah aku temui."
Jung hanya menunduk. Ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskan alasan kuat mengapa ia tidak boleh sembarangan meniduri seorang wanita, supaya dapat terdengar masuk akal. Sedangkan alasan ini sendiri jelas-jelas berada di luar nalar.
Tak bisa dipungkiri, V masih belum bisa mempercayai pria penuh tipu daya di depannya ini. Melihat Jung yang terdiam, akhirnya V memutuskan untuk mengubah pertanyaan, “Mengapa kau tiba-tiba mengajakku menikah, setelah 5 tahun yang lalu kau seperti membuangku begitu saja? Apa motif dibalik ajakanmu itu?”
Jung memundurkan kepalanya sampai menyentuh sandaran kursi, “Aku… sepertinya tak bisa lagi hidup tanpamu.”
V terkekeh, “Kau? Womanizer yang selalu dikelilingi gadis-gadis cantik sepertimu? Hah! Di antara mereka semua, mengapa harus aku?”
“Aku juga tidak mengerti dengan semua ini. Mengapa harus dirimu, aku sendiri tidak tau alasannya…” Jung menghela napas, pandangannya terarah ke atap mobil.
V memperhatikan ekspresi clueless yang tergambar di wajah pria berbahu lebar itu. Ucapannya tadi terlalu meyakinkan untuk dianggap sebagai ‘bualan’.
“Aku memang bukan pria yang dapat dipercaya. Tapi untuk kali ini, maukah kau mempercayaiku?”
V hanya terdiam.
“Aku mempertimbangkan keputusanku selama 5 tahun, karena hidupku akan bergantung seluruhnya pada keputusan ini, jadi aku tak bisa lagi main-main. Kau mungkin tidak mengerti maksud dari ucapanku, tapi percayalah, keputusan ini lebih fatal daripada yang kau duga.”
V menunduk, “Jadi kau kembali kesini, bukan karena dipindahtugaskan, melainkan untuk mengajakku menikah?”
“Kau boleh meragukannya, tapi itu benar.”
"Berikan aku waktu untuk memastikan sendiri bagaimana perasaanmu." Jawab V pada akhirnya.
"Berapa lama aku harus menunggu?"
"1 tahun."
"Selama 1 tahun penantian itu, bolehkah aku menjadi kekasihmu saja?" Ujar Jung lagi, kembali ke pembahasan awal. "Aku hanya ingin semua orang tahu dari sekarang, bahwa kau adalah milikku."
Dengan pasrah, V mengangguk.
Melihat respon V barusan, seketika ekspresi Jung berubah cerah kembali. "Terima kasih, Valerian…" Seru Jung antusias seraya mengecup kening gadis itu, kemudian memeluknya. Kala itu juga, Jung menyeringai licik seraya membelai rambut pendek V dengan lembut, 'Sudah kuduga, ini akan sangat mudah... Daripada dengan rayuan, wanita akan lebih cepat luluh jika dimintai belas kasihan.'
V melepaskan pelukan itu, “Jika kau pergi lagi, akan kukejar kau sampai ke ujung dunia lalu kupenggal kepalamu! Sekarang ini aku sudah punya ongkos untuk keluar negeri, jadi berhati-hatilah!”
Jung terkikik, “Dengan senang hati aku akan menyiapkan pisaunya sendiri.”
Sesaat kemudian, Jung menautkan jemarinya di antara jari-jari mungil wanita itu.
Jika saja saat ini V masih menjadi gadis naif seperti dulu, ia pasti sudah terkejut. Namun sekarang, seperti yang Jung rasakan, tubuh wanita ini rupanya sudah dapat lebih tenang menerima perlakuan seperti itu. Seiring bertambah dewasa, ia menjadi semakin ahli dalam mengendalikan ekspresinya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Jung kemudian.
“Mengapa kau… sangat suka sentuhan?”
“Karena dengan cara inilah aku hidup." Jung tergelak, "Anggap saja aku ini seorang maniak, hahaha… Apa kau tidak menyukainya?”
“Jika saja kau tidak setampan itu, semua orang pasti akan merasa jijik padamu.” Sahut V ikut tertawa.
“Dalam standar manusia, apakah semuanya bisa ditoleransi jika kita memiliki wajah rupawan?”
V mengangguk, “Sepertinya begitu.”
“Berat juga ya…”
“Kau ini bicara apa sih dari tadi? Seperti kau bukan manusia saja—“ Ucapan V terhenti, saat tiba-tiba ia mulai menyadari sesuatu.
Melihat wanita itu mematung seraya menatapnya dengan pandangan curiga, tiba-tiba saja Jung merasa gugup.
‘Mengapa aku baru sadar sekarang? Sejak dulu, dia selalu memanggilku ‘manusia’, namun menyebut dirinya sebagai ‘makhluk’… Dari fisiknya yang tidak manusiawi dan usia yang seolah tak pernah menua saja, dia sama sekali tidak terlihat seperti‘manusia’. Apa aku akan dianggap gila jika aku menyimpulkan bahwa dia mungkin saja memang benar-benar berasal dari dunia lain?’
“Kau tidak sedang memikirkan hal-hal yang tak masuk akal kan?” Tegur Jung membuyarkan lamunannya.
‘Bahkan suaranya… mana mungkin ada manusia yang punya suara seindah ini?’
“Hey, Valerian park! Sampai kapan kau mau melamun sambil memandangiku?”
‘Bisa jadi, dia adalah dewa… yang turun ke bumi seperti dalam cerita-cerita fiksi. Ya! Dia pasti dewa! Lihat saja, kesempurnaan seperti itu hanya dewalah yang bisa memilikinya!’
Secara tiba-tiba, V merengkuh wajah Jung dengan kedua tangannya, lalu menariknya mendekat supaya dapat melihat wajah pria itu lebih jelas seraya mengingat-ingat deretan nama dewa dalam mitologi yunani yang digambarkan memiliki ketampanan yang luar biasa.
“Apollo? Ares? Hades? Eros? Hermes?”
Jung mengangkat sebelah alisnya, “Apa kau sedang mengabsen nama-nama teman sekelasmu di sekolah dulu?” Tanyanya dengan wajah yang polos.
“Karena kau akan jadi suamiku, katakan saja… siapa sebenarnya nama aslimu. Tidak apa-apa…”
Jung semakin tidak mengerti, “Kau kan sudah tahu sendiri! Kenapa bertanya lagi?”
“Dari nama-nama yang kusebutkan tadi, apakah ada salah satunya?”
“Kau ngomong apa sih dari tadi?” Jung melepaskan rengkuhan tangan V dari wajahnya, “Mana ada dewa yang merupakan seorang b******n sepertiku! Jangan mengada-ada… sudah kubilang kan untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal!”
“Jadi kau bukan dewa ya?” Ujar V kecewa.
Mendengar nada lesu dari wanitanya itu, Jung tertawa, “Sudah jelas kan?”
‘Oke! Kalau begitu, aku tinggal cari tahu tentang makhluk-makhluk lain yang punya penampilan sempurna seperti itu selain dewa…”
***
Di sisi lain...
J yang tengah asik bermain game di ponselnya dibuat risih dengan pesan masuk bertubi-tubi di handphone Jung yang tertinggal di atas meja sedari tadi.
Dengan berat hati, J akhirnya mem-pause game untuk sekedar menyalakan mode senyap pada ponsel Jung.
Ketika ia membuka layar, terlihat disana puluhan notifikasi pesan yang rupanya dari seorang wanita. Lalu dengan tanpa sepengetahuan pemiliknya, J membuka pesan tersebut.
Dari: Model 31
Oppa~
---------
Jungie Oppa...
---------
Aku dengar kau sekarang sudah ada di Korea ^_^
---------
Kyaaaa... Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi
---------
Maukah kau menemuiku malam ini?
---------
Aku merindukanmu, Oppa~
---------
Kali ini aku tidak akan memaksamu untuk mau tidur denganku kok
---------
Asalkan kau tidak pergi meninggalkanku lagi T_T
---------
Saranghae ❤❤
---------
Kau merindukanku juga kan?
---------
Aku tak sabar ingin menciummu lagi...
---------
Cepatlah datang ke apartemenku
---------
Aku tunggu ya...
---------
Sampai bertemu, sayang
Membaca deretan pesan-pesan itu, emosi J naik hingga mendidih di ubun-ubun. "Berani-beraninya si model 31 ini menggoda Hyung di saat Hyung sudah jatuh cinta pada Noona! Ini tidak bisa dibiarkan! Jangan sampai ada pihak ketiga dan akhirnya posisi Noona malah jadi terancam--cih, seperti di film-film saja!! Oke, akan kuberi dia pelajaran!"
Lalu dengan amarah yang meletup-letup seperti popcorn, J membalas pesan tersebut.
Dari: Jung Nam
LU JANGAN GANGGU KAKAK IPAR GUE, BGST!!
----------------------
Seketika terdengar suara 'krik... krik...' yang mengiringi ternganganya si Model 31 setelah membaca balasan tersebut.