Heart Attack

1580 Words
Satu jam sebelumnya... Kala itu Jung sedang menunggu V di beranda perusahaan, sengaja duduk di balik pilar agar tidak terlalu menarik banyak perhatian. Sambil menatap ke arah jalanan yang hiruk pikuk malam itu, Jung menghabiskan waktu penantiannya dengan menghitung jumlah kendaraan yang melintasi aspal. Ditengah kegiatan isengnya, tiba-tiba saja mata Jung berbinar ketika melihat J yang tengah berjalan di trotoar seberang jalan sembari menggunakan headphonenya untuk meredam kebisingan jalanan dengan musik, sepulang dari kampus. Saat itu juga Jung berlari menghampiri J. Ia baru sadar bahwa ia sudah serindu ini pada anak periang pecinta s**u stoberi yang kini telah menjadi seorang pria berumur 22 tahun itu. "Hey, bro!!" Sapa Jung dengan meninju lengan J, "Sudah lama juga ya kita tidak bertemu." J memandang Jung dengan tatapan terkejut yang sedetik kemudian berubah menjadi acuh. "Siapa ya?" Tanya J datar sambil berlalu pergi. Mendengar itu, Jung melongo menyaksikan J yang sedang mengabaikannya sampai berpura-pura tidak kenal. "Masa kau lupa dengan Hyung?" "Maaf ya sebelumnya, sir... Tapi saya memang pandai dalam melupakan orang-orang yang sudah menyakiti kakak saya. Permisi." Sahut J yang lalu melanjutkan langkahnya. Pergi begitu saja. Sebelum anak itu berjalan semakin jauh, Jung buru-buru mencegatnya lagi, "Jadi sekarang kau juga ikut membenciku?" "Harus banget ya? Memangnya anda sepenting itu ya? Minggir minggir! Aku mau rebahan nih!" J malah ngomel-ngomel. Jung menundukkan kepala, menunjukkan ekspresi kecewa. "Aku kira kau merindukanku... Ternyata tidak ya. Huh… Jadi disini hanya aku saja yang sangat merindukanmu." Mendengar itu, tiba-tiba saja raut wajah J berubah menjadi sedih. Yang tadinya berniat membalas dendam, pada akhirnya ia malah berubah pikiran dan seketika memeluk Jung. "Hwaaa... Hyuuuung!!!! Mengapa baru kembali sekarang sih? Aku kangen…" Rengeknya dengan suara keras. Lalu sedetik kemudian, ia kembali melepaskan pelukannya. "Ya ampun!! Apa yang sudah kulakukan? Aku sudah berjanji untuk membenci juga orang yang dibenci Noona!! Mengapa aku malah plinplan begini?!" Melihat kelakuan J yang tidak konsisten membuat Jung tak tahan untuk tertawa. "Kau ini... Hyung juga sangat merindukanmu, tahu!!" Serunya sembari merangkul pundak J. "Lalu kenapa Hyung menghilang? Kenapa juga Hyung meninggalkan Noona begitu saja di saat aku sedang ingin-inginnya menjadikan Hyung sebagai kakak iparku? Kenapa?"  "Kau ini... Sudah besar tetapi tak pernah berubah!! Haha..." Ucap Jung seraya menepuk-nepuk punggung J untuk menenangkan pria yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu, "Begini, Jayden Park... jadi setelah aku pergi, aku mencoba melupakan V dengan pindah kerja ke China. Aku hanya tidak ingin jatuh cinta pada saat itu karena beberapa alasan. Namun sekarang aku sudah menyerah, jadi aku memutuskan untuk kembali. Maafkan aku yang tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada kalian waktu itu... Jika aku menemui kalian terlebih dahulu, aku tidak yakin apakah aku akan bisa pergi atau tidak." Untuk sekian detik, J menatap Jung dengan mata yang berkaca-kaca, lalu menghambur kembali ke dalam pelukan Jung, namun kali ini lebih erat. "Hwaaaa... Hyung... Kenapa kau manis sekali? Maafkan aku sudah ngomel-ngomel tadi." Rengek J lagi dengan suara yang lebih keras hingga mengundang atensi orang-orang di sekelilingnya. "Hei hei... Sudah sudah." Bisik Jung seraya melepas pelukannya. "Ngomong-ngomong, apa sekarang kakakmu sudah punya pacar?" J melirik Jung Jahil, "Kalau sudah punya, bagaimana?" "Aku tinggal membuang pacarnya ke segitiga bermuda." "Hiiiiiiyyyyyy!!! Bagaimana bisa Hyung mengatakan kata seseram itu sambil tersenyum semanis itu. Astaga..." Melihat J bergidik, Jung menepuk pundaknya, "Makanya, jawab yang benar, atau kau juga mau Hyung lempar ke segitig--" "Mana bisa dia punya pacar sementara di pikirannya masih dipenuhi olehmu, Hyung!" J buru-buru memotong pembicaraan supaya ia tidak sampai mendengar kata-kata menakutkan itu lagi. "Dia benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk melupakanmu, dia bahkan sangat tidak mau mendengar namamu disebut agar ia tidak lagi mengingatmu. Sedih sekali kan? Berkali-kali dia bilang padaku bahwa dia sangat membencimu, tapi berkali-kali juga wajahnya memerah saat aku membahas tentangmu. Kau benar-benar menyiksanya selama ini. Tapi aku memaafkanmu karena ternyata kaupun tersiksa sampai kau menyerah. Terima kasih sudah kembali, Hyung." Setelah itu, J mengajak Jung mengunjungi apartemen untuk melanjutkan obrolan panjang lebar di sana. *** "Hyung!! Bagaimana bisa kau sama sekali tidak berubah semenjak terakhir kali kita bertemu? Kau bahkan terlihat sepantaran denganku sekarang…" Seru J ketika ia sudah kehabisan bahan obrolan. Jung tersenyum kaku, "Oh... Ini... Mungkin hanya perasaanmu saja. Aku bertambah tua kok, kau saja yang tidak menyadarinya." Jawabnya dengan sedikit tergagap. Belum sempat J bertanya lebih lanjut, tiba-tiba obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara pintu depan terbuka. Tak lama kemudian, terdengar suara V yang setengah berteriak tatkala semakin mendekat, "J... Buatkan aku ramyeon dong, jangan lupa berikan tel--" Seketika V menghentikan pembicaraannya saat melihat siapa pria yang tengah duduk di ruang tamu bersama J itu. " Halo, V... Akhirnya kau pulang juga! Sudah lama aku menunggumu lho. Kau masih ingat kan janjiku untuk menemuimu sepulang kerja?" Seru Jung seraya tersenyum simpul untuk menyambut kedatangan gadis bermata sipit itu. "Kenapa bisa kau ada di sini?" "Tentu sang malaikat cupid ganteng inilah yang membawanya kemari!” Sela J dengan bangga, V menatap geram. Bisa-bisanya, setelah ia bahkan rela mendekam di toilet selama satu jam untuk menghindar, namun adiknya yang tercinta malah dengan sukarela mengantarnya ke rumah? "Mana ada malaikat cupid pulang-pulang bawa malaikat maut begini!" “Bukankah selama ini kau sangat merindukannya? Jadi sekarang berterima kasihlah padaku!" V hanya melayangkan tatapan kesal pada adiknya itu, lalu dengan tanpa mengatakan apapun, ia menyeret Jung bersamanya menuju ke luar apartemen. Ketika sudah tiba di depan gerbang, wanita itu melepaskan genggamannya lalu berkacak pinggang, "Sekarang aku ingin kau langsung saja memberitahuku inti dari semua ketidakjelasan dari sikapmu selama ini! Tolong katakan, sebenarnya apa maumu?" "Lebih baik kita mengobrol di tempat lain saja, di sini terlalu ramai." "Bagaimana jika aku tidak mau?" "Kalau begitu kau harus mau." Ucap Jung singkat lalu menarik lengan V secara paksa menuju basement dimana ia meletakkan mobilnya. Jung memasukkan V dengan kasar ke dalam mobil, di kursi penumpang bagian depan. Ia sendiri memposisikan dirinya duduk di kursi pengemudi. "Kemana saja kau selama ini?" Tanya V kemudian, setelah pintu mobil tertutup. Jung menatapnya tajam, seolah menyuruhnya untuk tetap diam, "Bagaimana jawabanmu terhadap pernyataanku tadi pagi?" Ia memang sangat pandai dalam mengalihkan situasi. "Jawaban apa?" Tanya V pura-pura tidak mengerti. "'Mulai sekarang, kita adalah sepasang kekasih', bagaimana responmu mengenai pernyataanku itu?" "Jangan mimpi." Dahi Jung berkerut kesal, "Jadi kau tidak mau?" Tanyanya. V hanya menggeleng tanpa bersuara. "Jadi selama ini, kau menganggapku apa?" Mendengar pertanyaan itu, V menoleh dan menatap Jung dengan ekspresi penuh luka, "Harusnya aku yang bertanya seperti itu... Selama ini kau anggap aku apa? b***k nafsumu saat kau ingin mencumbu seorang wanita? Adakah perasaan yang lebih dalam dari itu?" Tanya V seraya mulai menitikkan air mata. Pikirannya benar-benar acak-acakan kala itu. Melihat Jung kembali lagi setelah 5 tahun lamanya menghilang tak ada kabar, memunculkan berbagai perasaan di dalam hati V sampai membuncah begitu saja hingga v sendiri tak dapat lagi mengendalikannya. Marah... Benci... Kecewa... Kagum... Tersiksa... Putus asa... Rindu... Cinta.. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu hingga membentuk sebuah benang kusut yang tak dapat lagi diurai. "Kau akan menyadari bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu setelah ini..." Seru Jung, yang lalu mencium bibir V secara tiba-tiba. Di tengah keputusasaan, keduanya saling berpagut dalam kerinduan yang terpancar dari bibir mereka. Kala itu, V menjadi semakin dilema. Tangan kanannya mendorong Jung kuat-kuat agar menjauh, namun tangan kirinya justru mengunci leher pria itu sama kuatnya agar membuat Jung semakin mendekat. Jung terkejut merasakan respon dari gadis di depannya itu. Dulu ia tidak seperti ini, namun sekarang ia mampu membalasnya dengan luwes seperti sudah ahli. Jung menahan tangan kanan V yang mendorongnya itu dengan genggamannya, hingga tangan tersebut kini lemas tak berdaya di dalam dekapan jemari pria itu. Seiring suara detik jam tangan yang tengah mereka kenakan, ciuman mereka menjadi semakin memanas, semakin dalam, juga semakin putus asa. Mereka seolah tak dapat berhenti. Mereka terlalu rindu untuk berhenti. ‘Benar! Harusnya rasa makanan itu seperti ini! Dia… membuat wanita lain jadi terasa hambar. Dan sekarang aku bisa gila merasakan tubuhku menuntut untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi…’ Perlahan... Tangan Jung mulai merayap masuk ke dalam baju yang dikenakan Valerian. "Berhenti!!" Ujar V kemudian setelah merasakan sentuhan Jung di perutnya, "Apa yang kau lakukan?" "Kau tahu? Ini adalah pertama kalinya bagiku, dimana aku merasa sangat ingin melanggar aturan yang harus selalu kujaga dan tak boleh dilanggar.” Pekik Jung, “Kau membuatku sinting, V! Kau telah meruntuhkan kendali diriku yang sudah sangat lama aku bangun dengan kokoh, kau bahkan dapat membuat jantungku berdetak sekencang ini..." V hanya tertegun mendengar ungkapan Jung barusan. Ia benar-benar tidak percaya, bahwa Jung mungkin telah benar-benar jatuh cinta padanya. "Sekarang, berapa umurmu?" Tanya Jung kemudian, setelah beberapa saat mereka terjebak dalam diam. "26 tahun. Kau?" "Yang pasti aku yakin kau juga sudah tahu bahwa umurku lebih tua darimu." Sahut Jung singkat tanpa memberi jawaban pasti. "Kau menghilang tanpa mengucapkan sepatah katapun." "Ini semua kulakukan demi bisa bertahan hidup." V terkekeh mendengarnya, "Jadi selama ini kau menganggapku sebagai ancaman, huh?" "Ini tidak seperti yang kau bayangkan." Pungkas Jung seraya menundukkan kepala. "Aku tidak akan memaafkanmu, Jung. Tidak akan pernah." Jung mendongakkan kepalanya kembali, "Apa kau membenciku?" "Ya, aku sangat membencimu." Mendengar itu, Jung melembutkan tatapannya, "Bagaimana caranya agar kau berhenti membenciku?" "Berubahlah jadi orang baik. Dan jangan pergi lagi tanpa permisi. Itu sangat menyakitkan." “Kalau begitu, bantu aku…” “Bantu apa?” “Jadi orang baik seperti yang kau inginkan.” V terkekeh, “Itu kan tugasmu! Mengapa meminta bantuanku?“ “Aku membutuhkanmu, supaya aku bisa berhenti menjadi bastard yang suka main perempuan.” “Caranya?” "Menikahlah denganku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD