Hani hanya dapat berdecak kagum ketika melihat Jung datang. Mulutnya yang menganga lebar hampir saja meneteskan air liur jika V tidak segera menyumpalnya dengan pangsit.
"Dasar geumsappa!! Auh..." Seru V mengomentari temannya yang sedari tadi tidak dapat berkedip. (Geumsappa: Sebutan bagi orang yang mudah jatuh cinta)
"Kau? Dicium olehnya? Eiyyy… Kau pasti bermimpi!! Tidak mungkin..." Pungkas Hani tanpa menoleh ke arah V sedikitpun. Tatapannya masih terpaku ke arah pria yang kini tengah mencari tempat duduk kosong di restoran ramai pengunjung itu.
"Aku juga tidak akan percaya jika saja aku tidak mengalaminya sendiri." Sahut V murung mendukung argumen temannya.
Tiba-tiba handphone Hani berdering, dan sesaat kemudian terdengar suara ayah Hani yang marah-marah menyuruhnya untuk lekas pulang. Dengan berat hati gadis berwajah cantik itu pamit pada V untuk meninggalkan restoran. Padahal ia masih ingin memandangi kerupawanan pria asing yang masih berdiri mencari kursi itu lebih lama lagi.
Setelah Hani pergi, V menghampiri Jung di tempatnya duduk untuk menagih janjinya tentang alasan mengapa ia tiba-tiba menciumnya waktu itu jika mereka bertemu lagi, namun seakan tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka, Jung mengabaikannya tanpa mengucapkan satu katapun. Menatapnya seperti orang asing.
"Hei, Tuan! Kau Jung kan? Berani-beraninya kau mengabaikanku!! Kau mau lari dari janjimu sendiri, hah?" Tanya V ketus. Padahal jantungnya kini sedang berdebar.
Namun, Jung hanya diam tanpa berkata sepatahpun. Sekali menatap ke arah V, sorot matanya begitu dingin dan menyeramkan.
"Aish!! Jika saja wanita itu tidak mengajakku bertemu di tempat ini, aku pasti tidak akan pernah bertemu dengannya lagi." Gerutu Jung dengan suara yang begitu lirih hingga V sama sekali tidak bisa mendengarnya.
"Cepat beritahu aku!! Jika tidak, kau akan kuusir dari sini!!" Tukas V seraya memukul meja.
Kesabarannya kini benar-benar sudah mencapai ambang batas. Suara keras dari gebrakan mejanya tadi membuat para pengunjung lain seketika terdiam dan menaruh perhatian ke arah mereka.
Karena telah menjadi pusat perhatian, Jung menjadi murka dan berdiri dengan tetap melayangkan tatapan defensif pada V.
"Mana pemilik restoran ini?! Berani-beraninya pegawai anda mengusir saya!!" Seru Jung dengan kemarahan yang meluap-luap.
Karena pengaduan negatif itu, sang pemilik restoran pada akhirnya memberi teguran keras pada V. Baru kali ini V dimarahi oleh majikan yang biasanya selalu baik hati, dan semua itu tak lain adalah karena pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya yang berharga.
Setelah dimarahi, V berlari ke kamar mandi karyawan. Di sana ia menangis sekencang-kencangnya. Hati V tercabik seperti ada hewan bercakar tajam yang tengah mengais di dalamnya.
Baginya, hari ini merupakan hari tersial seumur hidup. Sekarang ia menyadari bahwa semua dugaannya mengenai Jung telah sepenuhnya keliru. Ia juga semakin yakin bahwa Jung benar-benar hanya main-main ketika menciumnya waktu itu.
Saat hatinya sudah lebih tenang, V kembali keluar dan melayani tamu-tamu yang lain. Namun di sana, ia melihat Jung tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik. Rambutnya yang dicat pirang berkali-kali ia selipkan di belakang telinga untuk menarik perhatian lawan bicaranya yang mempesona.
"Cih... Memang sih, wanita seperti itulah yang cocok denganmu!! Aku harusnya tahu diri dan tidak usah memikirkanmu sampai aku sulit tidur dalam tiga minggu ini. Buang-buang waktu saja!" Gumam V menyeringai, kemudian mengambil kembali peralatan untuk mengepel lantai.
Selama mengepel, V tak bisa sedetikpun memalingkan pandangannya dari Jung. Diperhatikannya pria itu lekat-lekat, sambil sedikit menguping pembicaraan mereka.
Mendengarnya saja sudah membuat V mengeritingkan jari-jarinya, "Heol!! Dia memang pangeran penggoda!! Lihat saja kata-katanya, semua yang dia ucapkan adalah rayuan mematikan!!" Geramnya sembari menghentak-hentakkan kain pel pada lantai restoran.
"Hei, kau tidak lihat air pelnya muncrat sampai kesini?" Tegur Jaeguk, salah satu karyawan restoran yang tengah asyik mengelap meja.
"Maaf!!"
Saat itu, V merasakan tatapan Jung melirik ke arahnya, kemudian menyeringai. Seperti sedang menertawakan seseorang yang telah dibuatnya menjadi terlihat seperti orang bodoh.
Selang beberapa saat, V melihat Jung berpindah tempat duduk ke samping wanita yang menjadi teman ngobrolnya. Dan perlahan... Jung mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu didampingi dengan senyuman yang seduktif. Seperti biasa.
V memutar bola matanya, "Wah!! Lihat saja!! Bahkan senyumannya sama dengan yang ia tunjukkan padaku malam itu!! Dasar player!!"
Wajah Jung semakin dekat dengan si wanita, tatapan iblisnya terlihat semakin liar memandangi wajah sang pasangan. Satu tangannya yang bertengger di tengkuk wanita itu menariknya mendekat secara perlahan. V sudah menduga bahwa Jung memang berniat untuk mempermainkannya sebentar. Melakukan sebuah cara licik yang dapat membuat si wanita semakin tersiksa oleh penantiannya dengan gairah yang semakin memuncak.
Namun ketika beberapa senti lagi bibir mereka bersentuhan...
Byuuuuurrrrrrrrr.
V menyiramkan air bekas pel ke arah mereka berdua dengan geram.
Mereka sontak terhenti dari aktivitas intimnya dan saling menjauhkan diri sambil memasang wajah terkejut.
"Aku sudah ditegur oleh bos karena dia!! Jadi sekalian saja aku memberinya pelajaran!!" Gumam V sembari meninggalkan kedua pasangan--yang entah benar-benar pasangan atau bukan--itu dengan rasa puas, tanpa rasa bersalah.
"APA-APAAN INI!!!!" Teriak si wanita dengan nada murka.
V menoleh sebentar, "Maaf. Aku tidak sengaja. Airnya tumpah sendiri." Sahutnya singkat sambil cekikikan yang lalu melangkah menuju ke dapur.
Setelah melakukan itu, entah kenapa hati V menjadi lega seolah semua bebannya telah menghilang. Tak berapa lama kemudian, diam-diam ia mengintip ke arah Jung dan si wanita yang mulai pergi meninggalkan restoran dengan wajah merah karena marah.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, saatnya V berpamitan pulang pada sang pemilik yang kini tengah duduk di meja kasir restoran sambil menghitung pendapatan hari ini.
"Ahjussi, Aku pulang dulu ya... Sampai bertemu besok." Seru V tersenyum simpul. Ia bahkan sudah lupa bahwa beberapa jam yang lalu ia habis dimarahi oleh pria paruh baya tersebut.
"Iya, V.... Maafkan aku karena sudah memarahimu tadi. Harusnya aku bertanya padamu terlebih dahulu mengapa kau bertingkah kasar padanya dan bukannya malah langsung memarahimu. Setelah aku lihat kau menyiram pria itu saat ia hampir berciuman dengan wanita lain, aku sadar bahwa kau melakukannya atas dasar kecemburuan. Kau bertengkar dengannya karena dia selingkuh, bukan?" Tanyanya.
Mendengar itu, wajah V memerah, kemudian berusaha menutupi rasa gugupnya dengan tawa datar, "Hahaha... Ahjussi, kau terlalu mengada-ada! Mana mungkin pria setampan itu mau dengan jomblo abadi sepertiku? Dan lagipula, aku? Cemburu? Pada lelaki b******k seperti dia? Hhah.. Buang-buang waktu saja."
"Jangan malu untuk mengakui bahwa kau cemburu, dari semua sikapmu saja sudah jelas menggambarkannya. Kalau kau tidak cemburu, lalu apa alasanmu menyiram pria itu? Dan mengapa wajahmu memerah sekarang?" Ucap sang majikan, lagi-lagi meledek V yang semakin salah tingkah.
"Itu semua aku lakukan karena aku punya dendam masa lalu padanya... Jangan salah paham dulu, Ahjussi. Dan.. Wajahku memerah, mungkin karena tadi aku minum soju sedikit untuk meredakan kemarahanku. Hahhahha."
Setelah percakapan basa-basi itu, V meninggalkan restoran yang semakin malam semakin ramai oleh pengunjung. Namun, ketika baru saja sampai di ambang pintu, secara tiba-tiba seseorang menarik tangan V dari arah samping dan menyeretnya ke lorong di sela-sela ruko.
Suasana begitu gelap dan hening, hanya suara tikus-tikus yang terdengar seperti decitan rem mobil serta kayu-kayu berderit dari sebuah bangunan lapuk di samping mereka yang dapat terdengar kala itu.
V merasa heran, mengapa ada lorong sehening itu di tengah pasar yang selalu ramai pengunjung?
Namun bukan itu permasalahannya. Seseorang yang tengah mengapit tubuhnya ini, apa yang hendak dia lakukan terhadap V?
Pendaran cahaya bulan mulai menyinari lorong gelap itu setelah awan hitam bergeser. Kini V dapat melihat samar-samar wajah seseorang yang ia kenal.
Jung?!