Second Meeting

1159 Words
Hingga pukul 3 dini hari, V masih saja terjaga. Berkali-kali ia melihat bibirnya yang masih berdenyut dari pantulan cermin. Ia sama sekali belum melupakan sedikitpun momentum dari kejadian di pasar malam tadi malam, hal ini membuat perasaannya campur aduk. Kesal karena pria itu telah dengan seenaknya mencium tanpa izin. Marah karena mereka bahkan belum saling mengenal satu sama lain untuk melakukan hal seimtim itu. Dan... agak senang, mungkin, karena dicium lelaki tampan tentulah menjadi impian mayoritas wanita dalam fantasi liar mereka. V, yang bahkan tak pernah sekalipun merasakan rasanya ditaksir oleh seorang pria, mengingat fakta bahwa ia baru saja dicium pria tampan membuat jantungnya berpacu seperti suara kaki kuda berlari. Tapi… "Pria tampan? Hhah!! Aku bahkan tidak pernah sama sekali bermimpi untuk memiliki pacar seorang pria tampan!! Pria yang mau menerimaku apa adanya saja sepertinya sudah lebih dari cukup bagiku, itupun kalau ada. Bukankah ini terlalu melampaui realita yang seharusnya terjadi pada ‘si-bukan-siapa-siapa’ sepertiku ini? Ini kan bukan negeri dongeng! Tapi kenapa aku bahagia? Hahaha.. Aku pasti sudah gila!!" Seru V disusul dengan gelak tawanya. "JANGAN BERISIIIIKKKKK!!! MAU MATI??" Teriak adiknya, J, dari kamar sebelah, merasa terganggu dengan suara tawa V yang membahana. V sama sekali tidak menggubris peringatan adiknya yang baru saja terbangun karena kehebohannya itu. Bukannya tidak peduli, hanya saja V bahkan benar-benar tidak mendengar suara adik laki-lakinya tersebut. V terlalu hanyut dalam pikirannya sendiri saat ini. "Pria itu pasti tidak waras!! Pasti matanya terserang glukoma sampai hampir buta dan tidak bisa melihat wajahku dengan benar!! Tapi..." Tiba-tiba V teringat sepatah kata manis dari Jung 'terima kasih atas ciuman pertamamu', sontak saja timbul pertanyaan baru dalam benak gadis berusia 20 tahun itu. "Astaga!! Darimana dia tahu bahwa itu adalah ciuman pertamaku? Dia pasti orang yang benar-benar berpengalaman dalam melakukan hal-hal begituan!! YA AMPUN.. AKU MALU!!! HWAAAA!!!" Teriak V lagi hingga memenuhi seantero rumah dimana hanya ada ia dan adiknya yang sedari tadi mencoba untuk terlelap namun selalu gagal karena kakaknya yang terus meracau sendirian seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya. Kali ini V benar-benar memancing emosi J. Dengan derap langkah penuh kemarahan, J mendatangi kamar V kemudian melempar bantal yang ia bawa ke wajah kakaknya. "Noona!! Kau tahu ini sudah jam berapa? Berisik sekali kau!! Sekali lagi kau berteriak, aku tidak akan segan-segan menyekapmu dengan bantal sampai kau tak bisa bernapas dan berteriak lagi untuk selamanya!! Mengerti?" Geramnya dengan nada penuh ancaman. Setelah itu J menutup pintu kamar V keras-keras dan kembali tidur. (Noona: sebutan kakak perempuan bagi laki-laki). "Nanti kau bakal masuk penjara!!!" Sahut V dengan lantang. "Bodo amat!!" Balas J. "Heol!! Galak sekali adikku yang satu itu!!" Sampai saat matahari sudah menggantung di ufuk timur, V masih berkutat dengan pertanyaan besar dalam pikirannya yang semrawut. Apa alasan pria bernama Jung itu menciumnya? *** Sudah seminggu berlalu semenjak insiden di pasar malam yang membuat V kesulitan tertidur nyenyak hingga sekarang. Kantung matanya semakin menghitam menyerupai mata sadako, wajahnya yang memang biasa-biasa saja kini menjadi semakin terlihat luar biasa--kacaunya. "Ada apa sih denganmu akhir-akhir ini?" Tanya Hani--teman setia V di kampus--saat makan siang di kantin. "Kalaupun aku memberitahumu alasannya, kau pasti tidak akan mempercayaiku." Jawab V malas sambil memainkan makanan di piringnya. "Apa kau begadang selama seminggu ini untuk mengerjakan tugas penelitian ilmiah? Uangmu habis hingga kau tidak tahu lagi harus makan apa besok? Kau habis dipecat dari tempatmu bekerja paruh waktu? Atau kau habis bertengkar dengan adikmu yang super galak?" Hani melayangkan pertanyaan bertubi-tubi, berupaya untuk menebak permasalahan yang membuat V sampai tidak bisa tidur nyenyak selama seminggu ini. "Sudah kubilang, ini tidak seperti yang kau pikirkan!! Karena ini semua bahkan mungkin hampir mustahil untuk terjadi padaku." Tukas V seraya membaringkan kepalanya di atas meja. "Apa kau habis ditembak oleh cowok tampan?" Tebak Hani menerka-nerka setelah mendengar kata 'mustahil' dari mulut V. Seketika V mengangkat kepalanya dan menatap Hani tajam, "Bagaimana kau bisa tahu?" Tanyanya skeptis. "Jadi tebakanku benar? Seriusan? Heol!!" Sahut Hani tidak percaya dengan perkataannya sendiri. "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi pada dirimu yang berwajah flat ini?" Sambungnya. "Kira-kira dong kalau menghina." Sergah V tidak terima, "Lebih tepatnya bukan menembak, tapi..." V benar-benar tidak mau mengucapkan kata itu, namun mau bagaimana lagi, teman di sampingnya ini pasti tidak akan berhenti membombardirnya dengan pertanyaan apabila ia tidak memberikan jawaban saat itu juga, "Dia melakukan hal yang lebih jauh dari itu." Jawab V pada akhirnya. "Apa dia menciummu?" Tebak Hani yang lagi-lagi tepat sasaran. Baginya tidak sulit menerka apabila hal itu berkaitan dengan romansa. V hanya bisa mengangguk pelan, sebuah bahasa nonverbal yang berhasil membuat Hani terlonjak berdiri dari tempat duduknya. "APA???" Sahut Hani dengan suara lantang hingga mengundang atensi orang-orang yang ada di sana. "Sudah kubilang, kau tidak akan percaya." *** Setelah bercerita pada Hani tentang detail dari tragedi yang membuat wajah V berubah menyerupai zombie karena susah tidur itu, kini Hani selalu membuntutinya di tempat kerja dengan harapan bahwa ia dapat melihat lelaki 'kurang waras' yang mencium V. "Percuma saja kau mengikutiku, sudah kubilang dia mungkin hanya cowok iseng yang sengaja mengerjaiku atau kalah taruhan dengan temannya lalu menciumku sebagai hukuman. Aku yakin cowok itu tidak akan kembali lagi. Mana mungkin." Ujar V sembari mengelap meja restoran. "Sudah kuduga sih--" Jawab Hani menyahuti perkataan V barusan, lalu mendadak diam ketika V melemparkan lap yang tengah ia pegang ke wajahnya. "Sudahlah... Sia-sia kau membuntutiku. Bahkan setelah dua minggu ini kau mengikutiku saja, pria itu sama sekali belum muncul kan?" Lanjut V sembari mengambil kain pel. Hani beranjak dari tempat duduknya, dengan nada menyerah ia berpamitan pada V, "Kalau begitu aku pulang saja ya... Melelahkan juga melihatmu bekerja. Dah..." Ujar Hani seraya mengambil tas selempangnya untuk bersiap pergi. Namun sebelum Hani beranjak keluar, seorang pria mengenakan coat hitam selutut datang memasuki restoran. V yang tadinya hendak menyambut tamu restoran itu seketika melepaskan gagang pel yang sedang ia pegang tanpa ia sadari karena terkejut luar biasa. "Dia!! Itu dia!! Jung!! Pria tak dikenal yang menciumku 3 minggu yang lalu!!" Bisik V pada Hani seraya menunjuk pria yang baru saja datang dengan lirikan matanya. "Dia sih dia... Tapi tolong singkirkan benda ini dari wajahku!!" Pungkas Hani sembari memelototi V untuk menyuruhnya mengambil kembali gagang pel yang baru saja V lepaskan, namun mendarat tepat mengenai wajah Hani. Dengan tatapan merasa bersalah, V menjauhkan gagang pel dari wajah temannya itu sambil nyengir kuda. V hanya benar-benar tidak percaya saja bahwa ia akan bertemu Jung lagi hingga berkali-kali ia menampar wajahnya sendiri. Pria itu... Masih terlihat rupawan dan seksi seperti pada saat mereka pertama kali bertemu. Dia sama sekali tidak berubah... Sorot mata bak iblis yang menggoda, seringaiannya yang terlihat antagonis namun  terkesan manis, dan keindahan fisik yang tak memiliki satupun kekurangan, hanya kali ini dengan pesona yang bertambah berkali-kali lipat karena setelan coat yang terlihat pas di tubuhnya. Dan lagi, pikiran V dibuatnya melayang kembali pada kejadian itu. Tiba-tiba tatapan mata mereka berdua bertemu. Namun kali ini, hal itu membuat raut wajah Jung berubah menjadi gelap. Jung mendadak melunturkan senyumannya, lalu memandang V dengan tatapan tidak suka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD