Bab 9 : Terjatuh Ke Dalam Lubang Hitam

1327 Words
Jam istirahat selesai, dan dua jam mata kuliah kembali berlangsung. Eidwen ingin sekali berkonsentrasi dengan teori Kosmologi yang sedang dijelaskan oleh Profesor Yosa, namun perutnya perih sekali. Hampir dua menit sekali dia memegangi perutnya yang melilit. Eidwen selalu merasa seperti itu ketika dia telat makan. Sudah penyakitnya sejak kakaknya Haska meninggal. Dia mengalami gangguan pola makan selama berbulan-bulan karena syok berat sehingga dia sekarang sering terserang penyakit lambung jika makan tidak teratur. Kali ini dia memegangi perutnya sambil meringis ringan. Tampaknya, gerak-geriknya itu tampak oleh seorang gadis yang duduk di bangku sebelahnya. “Lo kenapa, Eid?” tanyanya. Gadis itu Nola, dan dia menyukai Eidwen sejak maba. “Sakit perut?” Nola memandang Eidwen dengan bola matanya yang lebar. Dia gadis yang cantik, berambut panjang lurus, hitam dan berkilau. Tubuhnya tinggi dan langsing, gayanya juga tampak selalu modis karena dia berasal dari keluarga yang kaya raya. Sekaya orangtua Eidwen. Eidwen melirik ringan Nola, menarik tangannya dari perut, kemudian menggeleng ringan. “Nggak apa-apa,” balasnya. “Tapi lo kayak kesakitan sejak setengah jam yang lalu,” balas Nola. “Lo mau diantar ke klinik kampus?” Eidwen kembali menggeleng. DIa adalah tipe cowok yang terkenal jutek dengan gadis mana pun di kampus. Sebenarnya bukan jutek sih, tapi sikapnya selalu terlihat tidak peduli saja, seolah tidak ada gadis mana pun yang cukup menarik bagi cowok tampan berambut panjang itu. Nola masih mengamati Eidwen, saat ini cowok itu sedang mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia mengeluarkan obat maag, membuka bungkusnya dan menelannya sebutir. “Lo belum makan?” tanya Nola lagi. “Gue bawa biskuit, lo mau?” Buru-buru Nola meregoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus kue kering rasa cokelat. Dia menyodorkan makanan itu pada Eidwen. Selama beberapa saat, cowok itu hanya mengamatinya, tampak begitu mempertimbangkan. Kemudian, Eidwen mengulurkan tangan dan menerimanya. “Trims,” ujar Eidwen. Senyum Nola merekah dengan girang. Baru kali ini Eidwen menerima sesuatu darinya, atau menghargai pemberian orang lain. Nola merasa, dia sekarang sedikit tampak di mata Eidwen. Padahal sudah lama sekali dia menanti perhatian Eidwen. *** Eidwen keluar dari kelas setelah mata kuliahnya berakhir. Dia harusnya pulang saat ini tapi karena Abbey belum keluar dari kelasnya dan setelah ini, gadis itu masih bekerja di perpustakaan, berarti Eidwen harus menunggunya. Eidwen sedang melintasi halaman depan ketika dia melihat mobil hitam ayahnya terparkir di tempat parkir pejabat kampus. Dia menoleh ke arah gedung utama. Tiga lantai di atas sana, ayahnya yang seperti batu itu sedang duduk bersama dekan ─mungkin sedang membahas dirinya yang kini telah kabur dari rumah. Dekan dan ayah Eidwen saling kenal sejak kuliah dan ayah Eidwen salah satu penyumbang dana terbesar kampus. Kehadirannya selalu diistimewakan oleh para pengurus yayasan. Terkadang, Eidwen merasa muak dengan semua hal tentang ayahnya itu. Kekuasaannya, sikap politiknya dan lain sebagainya. Apalagi karena sifat kepala batunya lah yang membuat Eidwen merasa, bahwa kakaknya meninggal karena ayahnya itu. Membuat Eidwen membencinya. Eidwen kembali melangkah menyeberangi halaman kampus, lalu berhenti di taman. Dia duduk di bawah pohon yang rindang, merasakan perutnya yang mulai kembali melilit. Betapa tidak memiliki uang membuatnya merasa tidak berdaya. Dia ingin makan sesuatu yang enak. Dia ingin makanan yang dimasak Bibik di rumah. Atau bagaimana jika dia pulang saja sebentar ke rumah untuk makan? Ayahnya kan sedang berada di kampus dan mungkin tidak akan kembali ke rumah dalam waktu dekat. Tapi, tidak, dia tidak akan kembali ke rumah setelah ayahnya membuatnya tidak memiliki apa pun. Ayahnya telah membuangnya. “Krucuk,” perut Eidwen kembali berbunyi. Dia menyandarkan punggungnya di kursi taman, lalu merebahkan kepala menatap matahari yang bersinar melalui celah-celah dahan pohon. Angin berhembus semilir mendinginkan tubuhnya. Sambil menarik napas dalam udara segar, Eidwen menahan nyeri perutnya. Kenapa hidupnya sekarang mengenaskan sekali? Tak pernah sekali pun dia berpikir bahwa dia akan mengalami hidup yang seperti ini. Mau makan pun susah. Dan nyeri di perutnya ini makin luar biasa. Kemudian sesuatu mendadak memblokir pandangannya. Sebuah kotak. Eidwen menegakkan tubuhnya, melihat seseorang yang telah memblokir pandangannya. “Kue sisa rapat dari sekertariat,” ujar Abbey. Eidwen menatap kotak kue yang disodorkan Abbey di tangannya. Lalu menerimanya. “Gue pulang jam 7 malam. Kalau lo mau pulang duluan, jalan kaki aja. Tapi kalau mau nunggu gue, ya nggak apa-apa,” lanjut Abbey dengan ringan. “Gue mau ke perpustakaan dulu, dan lo jangan kayak orang susah. Gue lihat dari jauh, lo kayak gelandangan.” Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, gadis itu pergi menuju ke arah perpustakaan kampus yang terletak di bangunan sayap timur. Eidwen membuka kotak kue di tangannya. Isi kotak itu adalah : sepotong kue lemper, muffin, dan kue sus isi wortel. Dan pisang. Dan segelas air mineral. Melihat semua makanan itu, Eidwen tersenyum, lalu buru-buru dia berdiri dan berteriak. “Abbey, lo mau kue yang mana?” tanya Eidwen. Tangan Abbey melambai menolak. “Lo makan aja semua, karena nanti malam gue nggak masak. Gue capek!” “Oh, trims,” balas Eidwen. Entah kenapa dia senang sekali melihat isi kotak makanan itu. Baru pertama kalinya dia girang melihat camilan. Selama ini, kue-kue seperti itu jarang sekali dia sentuh di rumah. Dia terlalu kenyang makan makanan nikmat yang berkelas yang selalu dihidangkan di meja makannya setiap hari. Kembali Eidwen menatap Abbey yang sedang berjalan menjauh. Ternyata, gadis itu baik juga, pikirnya. *** Pukul setengah tujuh malam, Abbey mulai membersihkan perpustakaan. Dia menyapu, mengelap dan membereskan sisa makanan di meja yang diam-diam diselendupkan mahasiswa tidak bertanggung jawab ke dalam perpustakaan. Setelah itu dia mulai mengembalikan buku-buku yang telah habis masa pinjamannya kembali ke rak-rak. Kemudian Eidwen mendadak muncul di sampingnya. “Lo salah lagi taruh buku,” omelnya langsung. “Lihat itu!” “Lo ngagetin aja, ngapain sih tiba-tiba nongol?” protes Abbey. Eidwen tidak menggubrisnya, dengan pandangan mata serius, dia menunjuk ke rak atas. Bagian buku-buku astronomi favorit Eidwen. “Kenapa lo sempilin buku masak di antara buku-buku langit? Lo bercanda?” Abbey mengerutkan keningnya. Nih, cowok ada-ada saja sih mulutnya. Protes mulu soal buku. Meski begitu, Abbey mendongakkan kepalanya untuk mengecek kesalahan. Matanya pun menemukan buku masak yang berada di rak buku astronomi. “Ini bukan ulah gue, pasti ada orang yang sengaja taruh di situ,” balas Abbey dengan agak kesal. “Gue juga ngapain taruh buku masak di rak astronomi.” “Kalau gitu beresin dong, ganggu pemandangan aja ada buku masak di rak astronomi. Buku-buku astronomi itu penting tahu,” ujar Eidwen minta ditampol. Memang jurusan astronomi saja yang paling penting di kampus ini? Mentang-mentang berotak pintar. Setelah bicara, Eidwen melengos pergi tanpa membantu Abbey mengambil buku masak itu, padahal dia cukup tinggi dan tangannya pasti mudah menjangkau buku itu. Sedangkan Abbey perlu mengambil tangga untuk sampai ke rak atas. “Kalau lo mau cepet diberesin, bantuin dong, lo kan tinggi, tinggal ambil,” seru Abbey. Eidwen berbalik, lalu membalas. “Oh, mau dibantuin toh. Kirain bisa sendiri.” Iih, cowok itu benar-benar bikin geregetan. “Makanya, makan yang banyak biar tinggi,” celetuk cowok itu lagi. Sama sekali tidak sadar diri kalau beberapa jam yang lalu, Abbey lah yang memberinya asupan nutrisi agar dia tidak seperti gelandangan kelaparan. “Lo ngeselin banget sih,” balas Abbey kesal. “Gue nggak ngeselin, gue cuma kasih kritik saran,” komentarnya dengan tenang. Tangannya meraih buku masih yang terjepit di antara buku-buku tebal astronomi. Buku itu tampak susah sekali ditarik, seolah menempel dengan buku-buku di kanan kirinya. Rak itu tampak terlalu penuh, sehingga buku-buku berdesakan. “Bisa nggak, sih?” protes Abbey ketika Eidwen tidak kunjung berhasil mengeluarkan buku masak itu. Eidwen mengerutkan keningnya. “Bisa lah,” katanya dengan percaya diri. “Eh, jangan dipaksa gitu dong, Eid. Nanti jatuh se─” Terlambat. Buku masak itu memang berhasil dikeluarkan Eidwen dari rak, namun puluhan buku-buku astronomi yang lain pun ikut berjatuhan karena kuatnya tarikan Eidwen. Semuanya jatuh di lantai dalam susunan yang berantakan. Mata Eidwen dan Abbey membulat lebar, mengamati kekacauan yang sedang mereka perbuat. “Eidwen, sori, tapi lo bisa nggak kalau pulang nanti jalan kaki aja?” celetuk Abbey sambil menahan emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD