Abbey membonceng Eidwen sampai ke tempat parkir kampus. Di sana mereka mendapatkan pandangan heran oleh orang-orang yang sedang berada di tempat parkir. Dua cewek di sedang melintas di depan mereka, berbisik-bisik.
Saat Abbey melepas helm, dia menangkap beberapa potong percakapan mereka.
“Mereka deket sekarang?”
“Nggak tahu, baru kali ini gue lihat Eidwen sama cewek.”
“Udah jadian?”
“Nggak tahu tuh. Eidwen idolanya anak kampus astronomi. Yang suka banyak.”
Mendengar hal itu, membuat Abbey mengamati Eidwen yang tampak tidak mendengar dan peduli dengan bisik-bisik itu. Dia masih dengan santai meletakkan helm di badan motor. Memangnya cowok ini terkenal?
Abbey sih pernah mendengar nama Eidwen Saki disebut-sebut cewek di perpustakaan, tapi cewek yang berkerumun selalu menyebut nama-nama cowok. Jadi, Abbey tidak pernah memperdulikannya sebelumnya.
“Lo nanti selesai kuliah jam berapa?” tanya Eidwen.
“Gue jaga perpustakaan nanti. Lo pulang duluan aja,” balas Abbey sambil mulai melangkah meninggalkan tempat parkir.
Eidwen berjalan di belakangnya. “Pulang pakai motormu?”
“Nggak, jalan kaki,” balas Abbey dengan ketus lalu berjalan lebih cepat dan meniggalkan si cowok tampan itu.
***
Kelas Pak Hidayat, Seni Eksperimental selalu jadi kelas terlama setiap kali berlangsung. Pria itu selalu memberi mahasiswa pertanyaan satu per satu mengenai penjabaran teori, contoh dan implementasi seni, sehingga kelas selalu selesai nyaris setelah jam istirahat berakhir. Dan itu menyebalkan sekali.
“Jadi, coba terangkan, Gio. Apa itu seni eksperimental,” pinta Pak Hidayat sambil berjalan ke arah bangku Gio. “Jangan buka buku, coba jelaskan dengan pendapatmu. Biar bapak tahu kalau kalian semalam belajar.”
Sebentar lagi, pria itu akan bertanya pada Abbey yang bangkunya bersebelahan dengan Gio. Gadis itu sudah merasa ketar-ketir dengan pertanyaan segunung Pak Hidayat.
Dia sedang membuka dan membaca ulang buku teorinya. Mempersiapkan jawaban. Padahal dua menit lagi kelas berakhir.
“Seni eksperimental adalah sebuah seni yang belum dinamai karena seniman masih sedang melakukan eksplorasi, penjelajahan dan… dan,” Gio pun macet dan bel istirahat berbunyi.
Isi kelas pun mulai mendengung.
“Tidak ada yang boleh keluar sampai Gio menjawab pertanyaan dengan benar,” seru Pak Hidayat menenangkan kelas. “Lanjutkan Gio.”
Lama sekali Gio tidak bersuara. Waktu terus berjalan dan perut Abbey sudah keroncongan.
Abbey melirik teman kelasnya itu dan berusaha membantunya untuk segera menjawab dan semua orang bisa segera makan siang.
“Dan penelitian yang panjang hingga menemukan apa yang sedang dia kerjakan,” ucap Abbey tanpa suara. Namun Gio tampak bingung melihat gerak bibir Abbey.
“Apa?” tanyanya dengan suara agak keras.
“Abbey!” seru Pak Hidayat dengan marah. “Ngapain bantu temanmu? Coba kamu sekarang jelaskan!”
Aku mendengus. Dia menyuarakan kalimat yang dia katakan pada Gio.
“Oke, bagus. Sekarang coba beri tahu contoh tokoh pengemuka teori seni eksperimental,” kata Pak Hidayat.
“James Roose Evans, kemudian… kemudian…” Abbey pun mogok. Dia lupa mengenai contoh-contoh pengemuka teori yang baru saja dia baca dari buku.
“Tidak ada istirahat kalau Abbey tidak bisa menjawab,” seru Pak Hidayat.
“Tapi Pak,” sambar Kenan dengan keberatan. “Kami butuh istirahat makan siang.”
“Kalau begitu, coba jelaskan!”
“Pak, saya sudah memberi satu contoh. Bisa kah kami sekarang keluar kelas? Mata kuliah bapak sudah berakhir lima belas menit yang lalu,” sahut Abbey. Perutnya kembali berbunyi.
“Abbey, kamu itu sudah nggak bisa jawab, minta jam makan siang. Nggak ada istirahat kalau nggak ada yang bisa jawab. Ayo jawab pertanyaan bapak tadi!”
Pak Hidayat memang dosen super duper mengesalkan. Semua orang di kelas kembali berdengung protes. Semua pasti sedang lapar. Apalagi, setelah ini, kelas masih berlanjut dengan mata kuliah yang berbeda.
“Kalau kau nggak bisa jawab, Abbey, maju ke depan. Berdiri di depan kelas!”
Dengan lamat-lamat, Abbey berjalan ke depan kelas dan berdiri di sana seperti patung selamat datang.
“Bapak kan sudah bilang, kalau mata pelajaran saya, kalian harus belajar benar-benar. Lagi pula kalian habis ini ujian. Mau jadi apa kalian kalau jawab teori gampang aja nggak bisa?”
Dan ceramah pun terus berlanjut sampai membuat wajah Abbey memucat karena asam lambungnya naik. Badannya pun mulai berkeringat dingin.
Dia benar-benar ingin pingsan saja sekarang.
“Kalian itu harus memahami apa itu seni eksperimental karena seni itu penting buat karir kalian nanti. Kalian ini mau jadi sarjana kertas? Mahasiswa salah jurusan?” Pak Hidayat terus saja mengomel seperti ibu kos-kosan.
Kemudian, pintu kelas diketuk. Eidwen Saki muncul di ambang pintu. “Maaf, pak, boleh saya bicara sebentar?” ujarnya menginterupsi.
Abbey menatapnya dengan heran. Sama seperti seluruh mata di dalam kelas karena kehadirannya yang tiba-tiba.
“Ada apa?” tanya Pak Hidayat dengan raut wajah terganggu pada Eidwen.
“Maaf, Dekan menyuruh saya untuk mencari Bapak. Bapak ditunggu di aula kampus saat ini juga,” balas Eidwen.
“Sekarang juga?”
Eidwen mengangguk. “Dekan bilang, mau bicara tentang masalah keluarga bapak.”
Mendengar hal itu, mata pak Hidayat langsung melebar. Buru-buru dia mengemasi barangnya.
“Kelas dibubarkan, tapi minggu depan kalian harus belajar, jangan sampai nggak bisa jawab kalau ditanya,” Pak Hidayat terus meraung-raung sambil berjalan meninggalkan kelas.
Isi kelas pun bersorak, Abbey menarik napas panjang.
Akhirnya, dia bisa makan juga. Perlahan dia menuju ke bangkunya, lalu membereskan tasnya dan keluar kelas menuju ke sebuah bangku di taman untuk memakan bekalnya. Namun begitu dia menginjakkan kaki di koridor, dia lupa bahwa ada Eidwen yang ternyata sedang menunggunya di muka kelas. Cowok itu menguncir setengah rambutnya seperti biasa, jaket dilipat dan disampirkan ke bahu dan satu tangan berada di saku. Punggungnya dengan santai, menyandari di tembok.
“Ngapain lo masih di sini?” tanya Abbey.
“Nungguin lo, gue laper,” balas Eidwen.
“Terus?”
“Ya ayo ke kafetaria buat makan siang.”
Abbey menatap Eidwen dengan pandangan putus asa.
“Eid, gue aja nggak makan di kafetaria selama tiga bulan lebih buat berhemat, dan lo tiba-tiba datang minta traktir,” ujar Abbey.
“Gue kan udah bilang kalau sementara ini kebutuhan hidup gue tanggungan lo,” balasnya tanpa ragu. “Jadi, ayo ke kafetaria. Gue pengin makan steak.”
Steak, steak kepalamu? Seru Abbey dalam hati. Dia benar-benar menahan emosi. Kemudian membalas sambil mengertakkan gigi.
“Lo itu ya, kalau di rumah gue masih bisa bagi lo makanan, kalo di sini gue nggak bisa. Ah, urusan lo deh kalau kelaperan. Itu bukan tanggungan gue,” seru Abbey dengan kesal. “Steak, steak, ada tuh steak batu.”
Abbey melangkah pergi, tapi bahunya dihentikan oleh Eidwen. Beberapa orang mengamati mereka dan keributan yang mereka buat.
“Kalau gue udah kerja, gua bakal balikin. Please, gue benar-benar punya sakit lambung.”
Abbey tidak menjawab, dia hanya memutar bola matanya. Dia pikir yang punya sakit lambung dia saja? Abbey pun juga.
“Bagaimana kalau traktir karena gue barusan nolongin lo?” lanjut Eidwen.
Abbey berbalik. “Tolongin apaan?”
“Barusan. Gue ngarang kalau Dekan nyari Pak Hidayat,” balas Eidwen.
Mata Abbey melebar. “Lo ngebohongi dosen?”
Eidwen menggeleng. “Gue cuma mau bantu kalian. Lagian dia udah melanggar peraturan jam makan siang. Semua mahasiswa berhak menggunakan jam makan siang dengan sebaik-baiknya, ditulis di buku peraturan kampus.”
Abbey masih menatap Eidwen dengan tercengang. Betapa cowok ini benar-benar punya nyali di hadapan seorang dosen.
“Jadi, lo traktir gue makan siang kan?” tanya Eidwen.
Abbey tersenyum, lalu menepuk bahu Eidwen. “Makasih bantuannya Eid, tapi nggak ada traktiran buat lo. Jadi, cari aja makan siang sendiri, dan bye.”
Abbey pun pergi meninggalkan Eidwen yang memelas dan kelaparan.
Abbey tidak pernah tahu, bahwa dia akan menyesali keputusannya suatu saat nanti.