Abbey membuat nasi goreng pagi ini untuk sarapan. Tentu dengan bahan nasi sisa kemarin seperti biasanya. Setelah selesai memasak dan berganti pakaian, dia mendengar pintu rumah diketuk. Eidwen muncul di ambang pintu.
“Ada apa?” tanya Abbey. Cowok itu juga sudah berpakaian rapi dan tampak siap berangkat ke kampus.
“Sarapan,” balas Eidwen singkat.
Abbey mengerutkan dahi.
“Sarapan,” ujar Eidwen lagi tanpa intonasi dan dengan wajah segar serta rambut depan yang sedikit basah. Dia tampak segar seperti model iklan shampoo cowok dengan rambut panjang seleher yang berkibar-kibar lembut.
Abbey memasang wajah bingung. “Lo minta sarapan ke gue?”
“Terus ke siapa lagi?” balas Eidwen. “Uang gue udah habis buat bayar sewa rumah atap. Tarif sewa dua kali lipat ditambah setengah itu bikin gue bangkrut. Jadi. lo kudu nanggung kebutuhan makan gue sampai gue dapat pekerjaan paruh waktu.”
Abbey melongo.
“Lo masak apa?” lanjut Eidwen tak peduli dengan keheranan Abbey. “Gue cium bau masakan dari atap. Gue belum makan sejak kemarin. Semalam maag gue kambuh. Gue nggak ada uang buat beli makanan jadi gue beli obat maag doang di warung depan.”
Baru kali ini Abbey tak bisa menemukan satu pun kata yang ada di pikirannya. Dia hanya menatap Eidwen dengan pandangan melongo seperti orang bodoh. Perasaannya campur aduk antara keheranan, kecurigaan, kekesalan dan sedikit kasihan.
“Lo ngarang, ya?” balas Abbey hati-hati.
Eidwen merogoh sakunya, mengeluarkan obat maag, kemudian membuka kantong-kantong tasnya yang cuma berisi buku dan dompetnya yang hanya berisi uang seribu perak.
“Gue nggak ngarang. Gue emang lagi bangkrut dan lo harus nanggung kebutuhan hidup gue buat sementara, mengingat kebangkrutan gue karena membayar sewa rumah atap lo.”
Abbey membuka mulut lalu menutupnya lagi. Eidwen ini sedang sakit jiwa atau bagaimana?
“Kenapa lo nyalahin gue? Lo sendiri yang maksa buat sewa rumah atap.”
“Gue nggak lagi nyalahin, lo,” suara Eidwen masih tenang seolah sedang menjelaskan kenapa bulan mengelilingi bumi, tanpa tampak mengerti keanehan yang sedang dia tunjukkan pada Abbey. “Gue cuma lagi memaparkan kondisi keuangan gue ke lo dengan sejujur-jujurnya.”
Abbey kembali membeku, tak tahu harus menjawab seperti apa.
“Gue harus sarapan. Kalau nggak, maag gue bakal kumat lagi,” lanjut Eidwen dengan percaya diri. “Dan kalau gue sakit, lo juga yang repot.”
“Kenapa jadi gue yang repot?” sambar Abbey makin heran dengan kelakukan cowok di hadapannya itu.
“Karena gue bakal minta tolong lo buat rawat gue dan kalau lo nggak peduli, gue bakal kena penyakit lambung akut, gue sekarat terus gue mati. Kalau gue mati, lo yang paling repot keluar masuk kantor polisi. Belum lagi dugaan pembunuhan dan sebagainya.”
Demi Tuhan yang menciptakan semua umat di dunia, kenapa dia harus bertemu dengan cowok aneh seperti Eidwen? Eluh Abbey dalam hati. Dan bagaimana bisa Eidwen berpikir sejauh itu dan mengucapkan kalimat yang membuat Abbey merasa menjadi seseorang yang paling bersalah atas kebangkrutan dan hidupnya yang mengenaskan?
“Kalau gitu hubungi keluarga lo. Minta bantuan,” balas Abbey.
“Nggak akan.”
“Ada kartu kredit di dompet lo.”
“Nggak bisa dipakai.”
Abbey menatap tajam Eidwen penuh kecurigaan. “Lo minggat gara-gara ada masalah sama keluarga lo, ya?”
“Gue tambah bayar setengah tarif sewa buat lo agar nggak banyak tanya. Lo lupa?”
Abbey memutar bola mata, namun dia membuka pintu lebih lebar untuk mempersilakan Eidwen makan nasi goreng bersamanya.
Cowok itu masuk ke dalam rumah, matanya menjelajahi ruangan. Abbey memimpin langkah menujuk ke meja makan, sambil sesekali melirik Eidwen yang berjalan di belakangnya. Cowok itu tinggi sekali.
“Tahun berapa rumah ini dibangun?” celetuk Eidwen.
“Mau apa? Mau sensus?” balas Abbey yang tidak bisa menahan diri untuk tidak ketus pada cowok itu.
“Rumah lo kayak rumah nenek gue di kampung,” balas Eidwen ringan, namun Abbey malas mengomentari.
Mereka tiba di meja makan. Abbey mengambil tambahan piring lalu mengisinya dengan nasi goreng dari wajan.
“Gue bikin nasi goreng,” ujarnya pada Eidwen.
Cowok itu duduk di kursi di depan piring itu terletak, matanya mengamati nasi goreng yang terlihat pucat. Keningnya berkerut.
“Lo yakin ini nasi goreng?” komentarnya. “Kenapa warnanya begini?”
Abbey mengisi piringnya sendiri dengan nasi lalu duduk di seberang Eidwen yang masih menanti jawaban gadis yang tampak uring-uringan itu.
“Kalau nggak suka nggak usah dimakan,” balas Abbey sambil sedikit membanting piring.
“Nggak ada lauknya,” komentar Eidwen lagi sambil membandingkan nasi gorengnya yang tanpa telur mata sapi seperti milik Abbey.
Abbey mendengus, lalu membelah telur mata sapinya menjadi dua. Setengah porsi dia berikan ke piring cowok itu.
“Gue nggak tahu kalau gue bakal makan sama tamu yang nggak diundang,” balas Abbey sinis.
Eidwen tampak tidak mendengarkan. Dia membolak-balik setengah porsi telur mata sapinya.
“Besok, gue mau telurnya utuh dan setengah mateng aja,” ujarnya kemudian dengan santai, membuat Abbey ingin melempar cowok itu dengan sendok.
Eidwen makan dengan lahap tanpa berkomentar apa pun. Setelah sesi sarapan yang membuat Abbey kesal sementara Eidwen bersikap santai dan tak tahu malu, mereka berdua keluar dari rumah. Abbey mengeluarkan motor dari garasi.
“Lo ngapain di situ? Nggak kuliah?” tanya Abbey saat melihat Eidwen berdiri sambil menyandar di tiang kanopi halaman. Tidak ada tanda-tanda dia akan berangkat ke kampus.
“Kuliah. Kan berangkat bareng lo,” balas Eidwen dengan enteng.
Abbey kembali bengong.
“Ingat, gue lagi bangkrut karena bayar sewa rumah atap lo. Jadi lo harus tanggung kebutuhan hidup gue sementara, termasuk makan dan transportasi.”
Selama dua puluh tahun Abbey hidup di dunia ini, tidak ada manusia menyebalkan selain Casandra yang pernah dia temui. Sekarang dia malah bertemu dengan Eidwen Saki.
“Lo nggak mau, ya? Kalau gitu, lo balikin aja duit gue. Gue nggak jadi sewa tempat lo,” tambah Eidwen dengan niat sedikit mengancam.
Uang Eidwen sepenuhnya sudah mengalir ke dalam tabungan Abbey untuk membayar SPP. Ditilik dari ekspresi menang Eidwen, sepertinya cowok itu sudah tahu kalau Abbey tak akan bisa mengembalikan uang sewa miliknya.
“Kalau gitu minta tolong teman lo,” balas Abbey. “Suruh jemput atau gimana kek.”
“Gue nggak punya teman.”
“Terus kenapa harus gue yang nanggung penderitaan lo?” protes Abbey dengan gemas.
Eidwen terdiam sesaat lalu menjawab. “Karena saat ini hanya lo yang gue punya.”
Sunyi, senyap.
“Lo pinter berkata manis, ya?” balas Abbey kemudian.
“Aku serius. Aku nggak bohong kalau gue benar-benar lagi sendirian sekarang. Dan gue cuma punya lo doang,” balas Eidwen dengan serius dan sorot mata yang jujur.
Kalimat itu membuat Abbey mendadak merasa terjebak. Pertahanannya kalah karena rasa iba. Ada malam-malam yang membuatnya merasa begitu sendirian setelah papa meninggal dunia, juga setelah mama pergi bekerja ke luar kota. Ketika Egra mulai dekat dengan Casandra dan melupakan dirinya, serta persoalan yang harus dia selesaikan sendirian. Entah mengapa, dia kembali merasakan semua hal itu ketika mendengar ucapan Eidwen barusan. Dia mengela napas lalu kembali ke garasi untuk mengambil helm.
“Gue yang bonceng,” kata Abbey seraya menyerahkan helm ke Eidwen.
“Kenapa?”
“Nggak usah protes. Lo mau berangkat kuliah atau nggak?” Sergah Abbey jengkel lalu menyalakan mesin motor.
“Oke. Nggak masalah. Omong-omong masakan lo tadi nggak enak. Tapi gue laper.”
Abbey mendengus kesal. Eidwen Saki benar-benar definisi cowok menyebalkan dalam segi totalitas.