Bab 2

1073 Words
Seolah ditikam berkali-kali, Rosalina merasa dadanya sesak. “Jadi begini caramu mengakhiri? Dengan perselingkuhan di belakangku? Dengan menginjak harga diriku sebagai istrimu?” Serena mengambil dasi Devan yang ada di atas nakas, dengan perlahan ia mendekati Devan dan memasangkannya dengan tanpa rasa takut meski Rosalina ada di sana mempeperhatikan. “Kenapa kau memerahi suamimu hanya karena dia tidak mencintaimu lagi?” ucap Serena tanpa menoleh dan terus memasang dasi Devan dengan memberikan sedikit sentuhan yang membuat Devan menatap wajah Serena tepat di depannya. “Seharusnya kau mengaca pada diri sendiri, alasan kenapa Devan berpaling adalah ... karena dirimu sendiri,” lanjut Serena lalu berbalik dengan wajah dinginnya. Rosalina yang emosi berjalan cepat dan mengangkat tangannya untuk menampar Serena. “Kau bilang ap –“ Tapi tangannya terhenti karena Devan menahannya dengan matanya yang menatap dingin. “Rosa, aku tidak ingin terus saling menyakiti. Aku pikir... sebaiknya kita pisah,” ucap Devan mengakhiri hubungannya dengan Rosalina. Rosalina menatapnya dengan pandangan kosong. Kata-kata itu terasa seperti palu godam yang menghancurkan seluruh harapan. “Pisah? Kau ingin bercerai... setelah kau selingkuh di depan mataku?” Devan hanya terdiam, wajahnya menegang tanpa keberanian untuk menatap istrinya lebih lama. Perlahan Devan melepaskan tangan Rosalina dan mundur selangkah, menarik Serena untuk berdiri di belakang tubuhnya. Rosalina tertawa pahit melihat kejadian itu. Ia tak menyangka suaminya akan lebih memilih Serena di hadapannya langsung. Rosalina menyeka air mata dengan tangan gemetar. “Tidak, Devan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, sekalipun kau menyakitiku. Jangan pernah kau berpikir telah kehilangan seorang istri yang tulus mencintaimu. Aku akan membuat kau menyesal karena sudah memilih wanita yang hanya bisa menjual tubuhnya.” Ia menatap Serena sekali lagi, penuh kebencian. “Dan kau... ingatlah. Pengkhianatan takkan pernah membawa kebahagiaan. Kau akan segera mendapatkan karma dari apa yang sudah kau lakukan padaku.” “Devan ... sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu, bahkan saat kau memohon-mohon padaku,” ucapnya lagi sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu. Pintu tertutup dengan keras, meninggalkan Devan dan Serena dalam keheningan yang menyesakkan d**a. Terlihat wajah Devan yang merasakan penyesalan. Entah kenapa rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya. Tapi sentuhan Serena pada tangannya membuat Devan menoleh dan menatap Serena dengan senyuman yang muncul di wajahnya. “Jangan sesali apa yang sudah kita lakukan, Devan. Istrimu ... bukanlah wanita yang pantas mendapatkan cinta dari seorang pria yang sudah berjuang untuk membuktikan pada dunia, bahwa kau adalah pria yang hebat,” ucap Serena lembut menembus jantung Devan. “Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, kau tidak pernah tau kebusukan apa yang sudah istrimu perbuat di masa lalu. Pelan tapi pasti, semua itu akan terungkap dan kau pasti akan berterimakasih padaku, karena sudah membuka mata batinmu,” lanjut Serena lagi dan perlahan mencium bibir Devan dengan lembut. Devan menutup matanya, merasakan ciuman Serena yang penuh dengan perasaan. Kelembutan yang Serena berikan membuat hati Devan tidak ragu lagi. Ia tak memperdulikan Rosalina yang menangis saat pergi dari kamar hotel itu. Tubuh Devan kembali merasakan ketegangan yang ingin ia rasakan sekali lagi. Tanpa ragu, Devan membalas ciuman itu lagi dan melonggarkan dasi yang dipasang Serena tadi. Membawa Serena kembali ke atas ranjang dengan nafsu dan gairah yang mulai menguasai pikirannya. Sementara itu, Rosalina terus menangis sepanjang langkah yang ia ambil. Rosalina tidak pernah menyangka akan mendapatkan pengkhianatan dari pria yang sangat ia cintai. Kakinya melemah saat menuruni tangga, air matanya pecah merasakan sakit yang luar biasa mengoyak hatinya. “Bagaimana bisa ... kau melakukan ini padaku, Devan?” lirihnya dalam tangis pilu. Tangannya mengepal kuat mencoba untuk menguatkan diri. Perlahan Rosalina kembali bangkit dan menghela napas panjang. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu, apa pun yang terjadi. Serena ... kau akan menyesali semuanya,” ucap Rosalina dengan penuh tekad. Ia kembali melangkah meninggalkan hotel yang menjadi saksi bisu perselingkuhan yang dilakukan suaminya. *** Serena memasuki sebuah rumah sederhana, cat dinding luarnya sudah mulai pudar, dan halaman kecilnya dipenuhi rumput liar yang tak terurus. Begitu pintu terbuka, kegelapan langsung menyambutnya. Tidak ada cahaya, tidak ada kehangatan. Hanya kesepian. Serena menghela napas, lalu menyalakan lampu ruang tamu seadanya. Ia berjalan ke dapur, membuka lemari kecil, lalu menuang air ke gelas bening yang sudah agak buram. Setelah meneguknya hingga dahaga reda, ia melangkah pelan ke ruang tengah. Kakinya berhenti di depan jendela besar yang tertutup tirai cokelat tua. Dengan senyum samar, ia meraih tirai itu dan menariknya perlahan. Dan di balik tirai, tampak dinding yang penuh ditempeli foto-foto. Ada potret Rosalina dan Devan di hari pernikahan mereka, foto keluarga Rosalina saat liburan, hingga gambar Rosalina bersama kedua orang tuanya, Widya dan Teddy. Tatapan Serena mengeras. Tangannya menyentuh sebuah foto yang lebih kecil, memperlihatkan Teddy dengan senyuman lebar di samping Widya. Air matanya hampir jatuh, tapi ia buru-buru menahannya. “Ayah, akhirnya aku berhasil merebut apa yang dia miliki. Aku berhasil mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal.” Serena menarik napas panjang. Ingatannya kembali ke masa kecil, ketika ia masih bernama Renata Kusmanto. Usianya baru sepuluh tahun saat dunia runtuh. Ayahnya, Teddy, yang selalu ia banggakan, tiba-tiba meninggalkan ibunya demi seorang janda bernama Widya. Dan janda itu sudah punya anak perempuan kecil seumuran dengannya bernama Rosalina. Serena atau Renata hanya bisa melihat ibunya yang perlahan melemah karena sakit dan kesepian yang dirasakannya. Tak hanya kebahagiaan sang ibu, tapi kehidupannya sebagai putri kesayangan Teddy, perlahan direbut oleh Rosalina. Hingga akhirnya, sang ibu pergi meninggalkan Renata dalam kepedihan dan balas dendam yang menguasai hatinya. “Semua karena mereka,” ucap Serena dengan suara penuh kebencian. Ia menggenggam foto Rosalina dengan Devan hingga hampir merobeknya. “Widya, perempuan yang merebut ayahku. Rosalina, anak manja yang selalu hidup di atas penderitaanku. Kalian hidup bahagia, sementara ibuku mati dalam kesepian.” Matanya berkilat penuh dendam. Ia menempelkan kembali foto itu dengan hati-hati, lalu menyapu pandangan ke seluruh dinding. Foto-foto itu adalah saksi bisu obsesinya, bukti kebencian yang ia pelihara selama bertahun-tahun. “Aku bukanlah Renata Kusmanto lagi, gadis lemah itu sudah mati.” Serena memandang cermin yang ada di sana dengan senyum getir. “Yang ada sekarang hanyalah Serena. Wanita yang akan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku.” Serena berjalan ke meja kecil di samping jendela, mengambil sebuah kotak kayu. Dari dalamnya, ia mengeluarkan selembar foto tua saat dirinya kecil bersama sang ibu. Senyum hangat ibunya terasa begitu jauh, tapi sakit yang ditinggalkan tetap nyata. “Aku janji, Bu. Aku akan membuat mereka merasakan sakit yang sama. Aku akan merebut semua kebahagiaan mereka, sama seperti mereka merebutmu dariku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD