Bab 3

1084 Words
Di rumah mewah yang sunyi, Rosalina duduk di sofa dengan wajah muram. Ia sudah menunggu berjam-jam, sementara telepon Devan tak diangkat sama sekali. Hatinya digelayuti marah dan sakit hati yang masih membekas sejak kejadian di hotel kemarin. Pukul sebelas malam lewat, suara pintu utama akhirnya terdengar. Devan masuk dengan langkah santai, kemeja setengah terbuka, wajahnya sama sekali tak menunjukkan penyesalan. Rosalina yang sedari tadi menunggu langsung bangkit. Tanpa banyak bicara, ia menampar wajah suaminya dengan keras. Plak! Tamparan itu berbunyi nyaring di udara. “Dari mana saja kau! Kenapa jam segini baru pulang huh?” Rosalina berteriak, lalu memukul d**a Devan dengan tangannya yang gemetar. “Bagaimana bisa kau tega mengkhianatiku seperti ini, Devan?!” tanyanya. Suaranya bergetar menahan tangis. Devan segera menahan kedua tangan istrinya, mencengkeram erat agar Rosalina tidak bisa memukul lagi. “Cukup, Rosa! Kau tidak berhak memukulku. Bukankah sudah kukatakan, aku ingin kita bercerai?” ucap Devan dingin tanpa ada tatapan hangat seperti dulu lagi. Rosalina menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya jatuh, tapi suaranya tetap tegas. “Tidak! Aku tidak akan pernah setuju dengan perceraian itu, Devan. Aku istrimu, dan aku akan tetap jadi istrimu sampai kapan pun,” suara Rosalina mulai meninggi. Air mata semakin deras mengalir di pipinya. “Aku tidak akan menyerahkanmu, kau ingin pergi dariku? Tidak akan bisa! Kau tidak akan bisa melakukan apa pun yang kau inginkan tanpa seijinku!” Rosalina mulai mengamuk, ia berteriak histeris merasakan sakit dan sesak dalam dadanya. Rosalina bahkan memecahkan vas bunga yang ada di dekatnya. Mengambil tongkat golf dan memecahkan televisi. Devan hanya bisa berdiri terpaku, menghela napas berat melihat kekacauan yang melanda rumah. Namun, detak jantungnya melonjak panik ketika Rosalina tiba-tiba melangkah mendekati akuarium besar di ruang tamu. Akuarium yang berisi ikan-ikan mahal, peliharaan kesayangannya selama bertahun-tahun. “Jangan gila, Rosa!” seru Devan panik, segera bergerak mendekat. Tangannya cepat menahan dari belakang tubuh Rosalina yang sudah mengangkat tongkat golf, berusaha merebutnya sebelum terlambat. Rosalina menoleh dengan wajah penuh amarah, matanya berkilat bagai api yang menyala. “Kau pikir dengan mengkhianati aku, aku akan diam saja?!” teriaknya penuh emosi. “Apa kau pikir dengan mengamuk seperti ini, aku akan berubah pikiran? Jangan harap, Rosa!” Kata-kata itu justru menyulut kemarahan Rosalina semakin dalam. Dengan tenaga yang dipenuhi luapan sakit hati, ia mendorong tubuh Devan hingga terhuyung ke belakang. Dalam sekejap, ayunan tongkat golf Rosalina meluncur kuat. Brakkk!!! Suara kaca pecah menggema, memecah keheningan rumah. Akuarium besar itu retak, lalu hancur berantakan. Air membludak, mengalir deras membanjiri lantai marmer. Ikan-ikan mahal yang selama ini dirawat Devan dengan penuh kebanggaan, kini terkapar sekarat di lantai, berloncatan tak berdaya. Devan menatap pemandangan itu dengan wajah terperanjat, tak percaya. Seluruh tubuhnya menegang, darahnya mendidih. Ia terjatuh berlutut, meraih ikan-ikan kesayangannya dengan tangan gemetar, sementara emosi yang menyesakkan dadanya meledak dalam diam. “Rosa...” suara Devan pecah, penuh amarah yang ditahan. Ia menoleh ke arah istrinya dengan tatapan tajam. “Kau... berani sekali melakukan ini.” Rosalina berdiri terengah, napasnya memburu, mata masih basah oleh air mata. “Sekarang kau tahu rasanya kehilangan sesuatu yang kau cintai, Devan. Sama seperti aku kehilangan cintamu.” “Aku benar-benar tidak mengerti denganmu, Rosa. Aku sudah terang-terangan berselingkuh, aku sudah menunjukkan semuanya di depan matamu. Tapi kenapa kau masih keras kepala seperti ini?” Rosalina berjalan sembarangan, tak perduli dengan kakinya yang terluka karena menginjak pecahan kaca, “Kau boleh menghina perasaan dan pengorbananku, tapi aku tidak akan membiarkan rumah tangga ini hancur hanya karena perempuan murahan itu. Serena akan kupecat! Aku akan pastikan dia dipermalukan di depan semua orang!” Rosalina berteriak, ia kembali histeris merasakan amarah yang berkumpul dalam hatinya. Suaranya sampai serak meluapkan seluruh emosi yang membakar hatinya. Devan langsung menatap tajam. Ia bangkit dan menghampiri Rosalina. Dengan sekali tarikan, Rosalina menghadap Devan dengan tubuh yang lemah. “Jangan coba-coba, Rosa. Kalau kau berani menyentuh Serena, kalau kau berani mempermalukannya, maka kau akan berurusan denganku. Aku tidak akan tinggal diam,” ancam Devan dengan menekan suaranya. Rosalina tertegun. Ancaman itu membuat dadanya makin sesak. “Jadi sekarang kau lebih membela dia daripada aku, istrimu sendiri?” suaranya bergetar. “Ya,” jawab Devan singkat. “Aku tidak akan membiarkanmu mengusiknya sedikit pun.” Tangisan Rosalina pecah, tapi ia segera menyeka air matanya dengan kasar. “Baik. Kalau begitu,” ucapnya menepis tangan Devan dan berjalan mundur menjauh. “Aku akan melaporkan semua ini pada orang tuaku. Biar mereka tahu siapa sebenarnya dirimu, Devan. Mereka akan menghancurkanmu, menarik semua saham yang mereka tanam pada perusahaanmu. Dan membuat kau bangkrut dalam semalam.” Devan terkekeh dingin mendengar balasan Rosalina. “Laporkan saja. Aku tidak takut pada orang tuamu. Mereka mungkin memang sangat berpengaruh, tapi apakah mereka berani menarik sahamnya pada perusahaan yang sudah aku bangun hingga sebesar ini?” Rosalina terdiam, hatinya kian remuk. Selama ini ia berpikir ancaman orang tuanya akan cukup untuk menggoyahkan Devan. Namun kini jelas, suaminya sudah kehilangan rasa hormat, bahkan keberanian itu justru menguat karena Serena di sisinya. “Kau benar-bena sudah tidak lagi takut pada ayahku? Kenapa kau berubah seperti ini?” tanya Rosalina. Devan menatap istrinya dengan ekspresi datar. “Karena aku tidak lagi mencintaimu, Rosa. Dan aku tidak akan membohongi diriku sendiri.” “Bohong! Aku tidak percaya, kau ... tidak mungkin melakukan itu,” ucap Rosalina menolak pernyataan Devan. Ia bahkan mendekat dan meraih tangan Devan dengan gemetar. “Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mencintaiku lagi. Devan ... aku mohon, jangan tinggalkan aku seperti ini. Aku tidak bisa hidup tanpamu,” ucap Rosalina memohon. Suaranya terdengar sangat putus asa. Tapi Devan segera melepaskan tangan Rosalina dengan hingga Rosalina tersungkur di lantai. “Tak ada yang harus kau lakukan Rosa. Kau hanya perlu kembali pada orang tuamu,” ucap Devan lalu melewati Rosalina, melangkah ke kamar tanpa peduli pada istri yang masih berdiri kaku di ruang tamu. Rosalina terduduk lemas di lantai, tubuhnya gemetar. Ia merasa seluruh dunia sedang menutup pintu padanya. Namun, rasa putus asa yang menggerogotinya membuat Rosalina gelap mata. Ia melihat pecahan kaca di dekat kakinya. Perlahan dengan tangan gemetar, Rosalina mengambil pecahan kaca itu. Dengan keraguan yang mulai muncul, Rosalina menempelkan pecahan kaca itu pada pergelangan tangannya. Tepat di urat nadinya, dengan air mata yang terus mengalir dan perselingkuhan Devan yang berputar. Mata Rosalina terpejam dan mulai menggoreskan pecahan kaca itu. Tes ... tes ... Darah mengalir perlahan dari tangannya, jatuh ke lantai marmer itu dan menyatu dengan genangan air akuarium yang pecah. Dengan harapan yang menghilang, Rosalina jatuh terbaring di atas lantai yang dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD