Bab 4

1067 Words
Devan masuk ke kamarnya dengan wajah muram. Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. “Astaga! Kenapa jadi rumit begini?” gumamnya pelan. Ada rasa sesak yang tak bisa ia pahami. Bukan begini caranya ia membayangkan perpisahan mereka. Devan hanya ingin keluar dari rumah tangga tanpa cinta, tanpa drama yang menguras tenaga. Tapi kenyataannya berbeda. Rosalina menolak dengan keras, seakan lebih memilih hancur daripada melepasnya. Devan menghela napas panjang, mencoba meredakan pikirannya. Ia merogoh saku celana, lalu meraba meja nakas di samping ranjang, mencari ponselnya. “Ponselku di mana? Bukannya tadi ada di saku celana?” tanyanya bingung. Ia berdiri, membuka tas kerjanya. Tapi tidak ada juga. Dengan langkah gusar, ia berkeliling kamar, membalik-balik selimut, bahkan menengok bawah ranjang. “Kenapa tiba-tiba hilang sih?” gumamnya kesal. Devan menatap pintu kamarnya, ia berpikir mungkin terjatuh saat bertengkar dengan Rosalina tadi. Akhirnya ia keluar kamar. Namun, langkahnya terhenti. Matanya membelalak saat melihat Rosalina tergeletak tak sadarkan diri. Darah mengalir dari pergelangan tangannya, menyatu dengan genangan air akuarium. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, dan matanya terpejam rapat. “Rosa!!!” teriak Devan panik. Ia berlari menghampiri, langsung berlutut di sisinya. Dengan tangan gemetar, Devan menepuk-nepuk pipi istrinya. “Rosa, buka matamu! Rosa!!!” Tidak ada respon. Nafas Rosalina begitu lemah. Devan kalut. Ia menekan luka di pergelangan tangan istrinya dengan tangan sendiri, darah segera membasahi kemejanya. Tanpa berpikir lebih lama, Devan segera mengangkat tubuh Rosalina. Dengan tergesa, Devan berlari menuju mobil yang masih terparkir di halaman. Ia membuka pintu mobil dengan lutut yang bergetar, menidurkan Rosalina di kursi penumpang, lalu segera menyalakan mesin. Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, Devan mengemudi dengan wajah pucat, keringat dingin bercucuran. Matanya terus melirik ke arah Rosalina yang semakin lemah, sementara mulutnya bergetar melafalkan kata-kata yang ia sendiri tidak sadari. “Bertahanlah, Rosa... tolong bertahan. Jangan buat aku menjadi orang jahat.” *** Devan duduk di depan ruang operasi, kemejanya berlumuran darah yang sudah mengering. Rambutnya berantakan dengan wajah yang kusut. Sudah tiga jam berlalu sejak Rosalina masuk ke dalam ruang operasi. Suara sepatu heels menggema di lorong rumah sakit yang sunyi itu. Devan yang duduk menunduk merasakan sentuhan pada kepalanya. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Serena yang berdiri di depannya dengan senyum menenangkan. “Apa kamu merasa takut?” tanya Serena dengan suara lembut. Tanpa kata Devan memeluk pinggang Serena mencari ketenangan. “A-aku tidak tahu kalau Rosa akan nekat seperti itu. Aku ... hanya tak ingin menyakitinya. Tapi –“ “Susst,” Serena menghentikan ucapan Devan dan menaruh kepalanya di atas kepala Devan. Memeluknya dengan erat seolah memberikan kehangatan yang menenangkan. “Tenanglah ... jangan khawatir. Rosalina pasti akan selamat, dia ... tidak boleh mati semudah itu. Jangan terlalu dipikirkan.” Devan melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Serena dengan penyesalan yang menyerbu dirinya. “Bagaimana caranya? Aku melihat darah itu ... mengalir dari tangannya. Aku ... bahkan tidak tau apa yang aku lakukan saat ini, benar?” tanya Devan lemah. Pikirannya kacau, hatinya bingung. Tapi Serena menarik Devan untuk bangkit dengan senyuman manisnya. Perlahan ia menarik tangan Devan untuk pergi dari sana. Meninggalkan rumah sakit, meski di dalam ruang operasi Rosalina sedang bertarung dalam hidup dan mati. *** Mobil Serena melaju menembus jalan malam, menuju pantai yang sepi. Angin laut menyambut mereka dengan hembusan lembut. Ombak berirama, seakan berusaha meredam kegelisahan hati Devan. Serena menggandeng tangan Devan, mengajaknya berjalan di atas pasir yang lembap. “Devan... kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu terus-menerus. Semua ini bukan salahmu sepenuhnya.” Devan menarik napas panjang, wajahnya menunduk. “Tapi aku sudah membuatnya sampai sejauh itu. Jika aku tidak melakukan pengkhianatan ini, apa Rosa masih akan hidup seperti biasa?” tanya Devan dengan tatapan mata yang kosong. Serena mendekat, menyentuh wajah Devan dengan kedua tangannya. Tatapannya lembut, penuh kehangatan buatan yang ia mainkan dengan lihai. “Lihat aku, Devan. Kau masih punya aku. Apa kau lupa bagaimana perlakukan Rosalina selama ini padamu? Hingga hatimu mulai merasa sesak dan tidak bisa menahan amarah karena sikapnya yang terlalu menuntut dan memonopoli dirimu? Kau bahkan tidak mendapatkan kebebasan yang selama ini kau dambakan, Devan.” Devan terdiam. Ada celah rapuh dalam dirinya yang perlahan-lahan ditelan oleh rayuan Serena. Sentuhan jemari wanita itu di pipinya, suara yang teratur dan tenang, membuat dadanya sedikit lega meski penuh luka. “Kau benar, sudah terlalu lama aku terkekang karena kecemburuan dan ambisi gilanya,” ucap Devan mulai mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Serena tersenyum samar, lalu menempelkan kepalanya di d**a Devan. “Biarkan aku ada untukmu. Biarkan aku yang menghapus semua rasa sakitmu. Jangan biarkan dirimua terluka lagi, Devan. Kau berhak bahagia.” Serena berhasil membuat Devan terbuai. Untuk sesaat, rasa paniknya mereda. Masa-masa sulitnya saat menikahi Rosalina berputar dalam pikirannya. Devan mengepalkan tangannya mengingat bagaimana harga dirinya selalu direndahkan karena Rosalina yang selalu membanggakan orang tuanya. Terutama ayah tirinya, Teddy. Tapi semenjak Serena datang, hidupnya mulai berubah. Devan merasa dihormati, dihargai dan diakui semua kerja kerasnya selama ini. Kelembutan Serena membuat mata batin Devan terbuka, jika dia punya harga diri. Jika Devan mempunyai kehormatan yang harusnya tak pernah Rosalina injak. “Serena ... kenapa aku baru bertemu denganmu sekarang?” tanya Devan dengan memandang langit yang perlahan mulai cerah. Matahari perlahan muncul mengubah langit menjadi biru keorangean. “Kenapa aku harus bertemu dengan Rosalina terlebih dulu, bukan dirimu?” lanjutnya tenggelam dalam penyesalan yang membuat senyum licik Serena perlahan berkembang. Serena menegakkan tubuhnya dan memandang Devan dengan tatapan lembutnya. “Itu karena ... Rosalina telah curang dari awal. Dia ... merebut semua yang harusnya menjadi milikku dari awal. Jika Rosalina tidak melakukan semua itu, kita pasti akan bertemu lebih awal. Dan hidup dalam ketenangan yang penuh bara cinta,” ucapnya menyihir Devan. Devan menatap mata Serena yang terlihat tulus dan penuh keyakinan, tatapan Devan turun pada bibir Serena yang tersenyum begitu manis. Perlahan Devan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Serena. Serena memejamkan matanya, ia membalas ciuman itu yang perlahan berubah menjadi lebih dalam dan intens. Devan menarik tubuh Serena dalam dekapannya, tak melepaskan ciumannya. Seolah ia merasakan ketenangan dari ciuman yang begitu hangat dan dalam itu. Serena mengalungkan kedua tangannya ke leher Devan, menempelkan tubuhnya pada Devan. Mempersempit jarak antara keduanya. Ciuman itu berlangsung lama, seakan menenggelamkan semua rasa panik dan sesal yang sebelumnya menghantui Devan. Dalam dekapan Serena, ia merasa untuk sesaat seluruh beban yang menghimpit dadanya menghilang. Hanya ada bisikan ombak, desir angin, dan hangatnya bibir Serena yang melebur dalam dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD