Bab 5

1084 Words
Perlahan, kelopak mata Rosalina terbuka. Pandangannya menangkap langit-langit putih bersih dan dinding rumah sakit yang terasa asing. Ia menggerakkan tangan kanannya yang terpasang infus, lalu menatap tangan kirinya yang dibalut perban tebal. Pikirannya melayang pada saat dirinya hilang akal dan menyayat pergelangan tangannya. Ia tidak menyangka masih diberikan hidup. Matanya menyapu ruang kosong itu, tak ada siapa pun di sana. Hanya bunyi beep pada monitor yang terpasang di sebelahnya. Dinginnya ac membuat tubuhnya sedikit mengigil. Wajahnya pucat karena darah yang mengalir dari pergelangan tangannya cukup banyak. Tak lama seorang perawat datang dengan membawa troli obat dan alat cek tensi. “Selamat pagi Bu Rosalina, bagaimana keadaannya? Apa ada yang dirasakan?” tanya perawat ramah. Rosalina melirik ke belakang perawat, seolah berharap seseorang berdiri disana. “Apa ... tidak ada yang menungguku?” tanya Rosalina mengabaikan pertanyaan suster yang mulai memeriksa tekanan darah Rosalina. “Tidak ada Bu,” jawab perawat tenang. “Ah, semalam suami anda datang dengan panik. Tapi setelah operasi anda selesai, saya tidak melihatnya lagi,” lanjut perawat mengingat sempat melihat Devan yang menunggu di depan ruang operasi. Namun, menghilang setelahnya. “Tidak ada keluhan ya Bu? Kalau begitu ini obat untuk dimakan setelah makan. Tolong dihabiskan ya Bu,” ucap perawat lagi dan pergi dari sana. Rosalina menatap pintu yang perlahan tertutup. Ia mendesah sedih karena sepertinya Devan tidak menungguinya. Ia semakin kesal merasa telah ditinggalkan oleh Devan setelah apa yang ia lakukan. Bahkan setelah Rosalina mempertaruhkan hidupnya hanya demi mendapatkan perhatian Devan kembali. “Kenapa ... kau begitu tega padaku, Devan?” gumamnya pelan. Suaranya bergetar menahan tangis. “Apa kau sungguh sudah tidak mencintaiku lagi? Apa ... aku sudah tidak ada artinya bagimu? Sekarang ... apa yang harus aku lakukan?” lanjutnya dengan rasa hampa dan putus asa yang mencekik hatinya. *** Di sebuah kamar vila, suara ombak terdengar lembut, berpadu dengan kicauan burung yang menyapa pagi. Serena perlahan terbangun dari tidurnya dalam pelukkan Devan yang tampak tenang dan damai. Tubuh mereka hanya terbungkus selimut tebal, tanpa sehelai benang di bawahnya. Serena menatap wajah Devan yang tenang meski samar-samar ada gurat lelah dan penyesalan di rautnya. Entah kenapa perasaannya menjadi campur aduk saat melihat Devan yang putus asa dan penuh penyesalan. Mungkin karena Serena tidak menyangka akan melihat sisi lemah dari Devan. Pria yang ia pikir hanya seorang p****************g yang mudah berpaling hatinya. Tapi kini Serena mengerti, Devan mungkin memang sudah muak dengan sikap Rosalina yang terlalu toxic bahkan membuat Devan merasa bersalah dan tenggelam dalam kesedihan. Upaya bunuh diri Rosalina terlalu berbahaya. Serena bahkan hampir sulit untuk menenangkan Devan. Namun, untuk saat ini Serena hanya perlu fokus untuk membuat Devan nyaman dan tergila-gila padanya. Sentuhan lembut dan penuh perhatian darinya sudah membuat Devan perlahan jatuh pada pelukkannya. Perlahan Serena hendak bangkit dari tidurnya, namun tubuh Devan bergerak dan menarik Serena ke dalam pelukkannya. “Jangan pergi,” gumam Devan berbisik di telinga Serena membuat tubuh Serena merasa geli. “Devan, aku lapar,” ucap Serena mencoba untuk melepaskan diri. Tapi Devan semakin mengeratkan pelukkannya dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk bahu Serena. “Lima menit lagi aja. Sebentar saja, aku ingin begini,” pinta Devan dengan suara seraknya. Serena hanya bisa tersenyum dan mengusap lengan Devan yang memeluknya. Ia menatap jendela yang menunjukkan langit yang begitu cerah. Namun, belum ada satu menit ponsel Devan yang berdering mengganggu momen intim itu. “Devan ... ponselmu berdering,” ucap Serena mengingatkan. Dering ponsel itu kembali berdering setelah panggilan pertama berhenti. “Siapa sih yang telepon pagi-pagi begini?” tanya Devan malas-malasan mengambil ponselnya di samping nakas ranjang. Devan menatap nama di layar ponselnya sambil mengerutkan dahi. Ia segera duduk tegak membuat Serena bangkit dari ranjang dan menatap Devan dengan bingung. “Sst..” Devan menaruh jari telunjuknya, menyiratkan agar Serena tidak berisik. “Ehem,” Devan mengangkat telepon itu dengan sedikit keraguan. “Ya, ayah ... kenapa telepon pagi-pagi?” tanya Devan yang rupanya mendapatkan telepon dari ayah mertuanya. Ronald. “Kamu di mana!” bentak Ronald dengan suara yang cukup keras. Bahkan Serena bisa mendengarnya. “Sa-saya ... lagi di luar kota. Tiba-tiba ada pertemuan mendadak dengan klien,” jawab Devan mencari-cari alasan. “Kamu gila! Istrimu lagi berbaring di rumah sakit, tapi kamu malah lebih pentingin pekerjaan? Apa kamu tau Rosa terus menangis dari tadi mencari kamu,” ucap Ronald lagi dengan nada kesal. Wajah Devan berubah datar setelah mendengar nama Rosalina. Ia tau kini alasan kenapa ayah mertuanya itu sudah marah-marah pagi begini. “Iya, saya akan segera kembali,” ucapnya dingin lalu mematikan sambungan itu. “Siapa?” tanya Serena dengan mendekat dan menaruh kepalanya di d**a Devan. “Papa Rosa, aku tidak tau bagaimana dia bercerita sampai-sampai Papa begitu marah seperti itu,” jawabnya tanpa ekspresi. Ayah Rosa, nama itu membuat Serena mengeraskan wajahnya. Hatinya membeku dengan kenangan pahit yang ia rasakan. Serena hanya bisa tertawa pahit mendengar bagaimana paniknya Ronald karena anaknya, Rosalina yang terbaring di rumah sakit. Ia bahkan tega memarahi Devan tanpa bertanya lebih jauh. Bagaimana bisa Ronald begitu khawatir pada anak tirinya, sementara ia tak pernah mencari dirinya, anak kandungnya sendiri. Serena berkata dengan tenang, “Tapi hari ini, kamu memang ada klien yang menunggu jam sepuluh dekat sini,” ucap Serena mengejutkan Devan. “Apa maksudmu?” tanya Devan menatap Serena dengan bingung. “Devan ... aku tahu kamu pasti akan terkena masalah jika pergi begitu saja saat istrimu di rumah sakit. Jadi, aku membuat kesepakatan dengan klien bahwa kita ada temu janji hari ini,” jelas Serena lembut dengan nada penuh rayunya. Devan tersenyum kembali merasa lega karena apa yang ia khawatirkan tidak akan terjadi. Devan merasa Serena memang bisa diandalkan. Bukan hanya tentang kebutuhan batin dan fisiknya. Tapi urusan pekerjaan pun Serena sangat bisa diandalkan. *** Sementara itu di kamarnya, Rosalina masih terbaring lemah di ranjang pasien. Di sampingnya, Ronald dan Widya, kedua orang tuanya, duduk dengan wajah panik dan khawatir. “Rosa… Kenapa kamu bisa melakukan ini?” tanya Ronald cemas, ia mendengar penjelasan dokter alasan Rosalina dioperasi karena luka terbuka di pergelangan tanganya. “Apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu… melukai dirimu sendiri seperti ini?” Pertanyaan itu membuat air mata Rosalina kembali mengalir. Ia menutup wajahnya dengan tangan. “Aku… tidak sanggup lagi, Pa, Ma. Devan…” Rosalina berhenti sejenak, ia mengambil napas dalam lalu melanjutkan dengan berat hai. “Devan selingkuh… Ma, Pa. Dia selingkuh sama sekretarisnya.” Tangis Rosalina pecah setelah mengatakan hal itu. Hatinya yang sesak dan kesedihan yang menimpanya membuatnya tidak kuasa menahan air mata yang sudah membendung matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD