Bab 9. RUANG UNTUK PULANG

1163 Words
“Lis, apa kamu tau Ibu memintaku untuk menikahimu?” tanyaku saat kami berdua sudah duduk di kursi yang ada di taman di area rumah sakit. Kulihat gadis itu menghela nafasnya. “Lilis tau, Mas. Ibu pun sudah mengatakannya pada Lilis,” jawabnya lirih. “Lalu bagaimana tanggapanmu, Lis?” “Aku tak tau, Mas. Masa depanku terasa gelap saat Mas Fadli meninggalkanku bersama impian-impian yang sudah kami bangun berdua. Aku merasa aku hidup, tapi terasa mati. Mas Fadli nyaris membawa pergi semua gairah hidupku.” Gadis itu menyeka sudut matanya. Aku terdiam, menunggunya meneruskan kalimatnya. “Yang kuinginkan saat ini hanyalah berada di sekitar Ibu, walaupun mungkin orang-orang akan memandang aneh padaku. Tapi tinggal di rumah Ibu dan melihat Ibu setiap hari membuatku merasa Mas Fadli tak pergi jauh-jauh dariku. Maka, ketika Ibu mengatakan niatnya meminangku untuk Mas Wildan, aku tak bisa mengiyakan maupun menolaknya. Sungguh, aku hanya ingin berpasrah karena aku pun tak tau mau ke mana arah hidupku sekarang.” “Kamu masih muda, Lis. Jalanmu masih panjang jika kamu ingin maju,” ucapku sambil menatap matanya yang terlihat hanya menerawang tanpa fokus. “Tapi aku tak ingin maju dan menjauh, Mas. Aku hanya ingin di sini, dan berhenti di sini agar kenangan-kenanganku bersama Mas Fadli tidak memudar. Maafkan aku jika kehadiranku di rumah Ibu membuat Ibu berpikiran untuk menikahkanku dengan Mas Wildan. Aku tau Mas Wildan sudah memiliki rumah tangga yang bahagia. Jadi sekali lagi aku tak ingin mengiyakan ataupun menolak, aku akan menuruti apapun keputusan yang Ibu dan Mas Wildan sepakati. Hanya satu keinginanku, jangan menyuruhku meninggalkan Ibu, aku sudah sangat menyayangi Ibu seperti Ibuku sendiri. Terlebih aku selalu melihat cinta Mas Fadli di mata Ibu.” Lilis kembali menyeka air matanya yang kali ini tidak hanya di sudut matanya, tapi bahkan menetes beberapa butir di pipinya. Kuraih pundaknya dan merengkuhnya dalam dekapanku. “Jangan menangis, Lis. Aku tau kamu sangat kehilangan Fadli. Ibu dan aku tak mungkin memintamu pergi dari rumah. Kulihat Ibu pun sangat menyayangimu, bahkan kamu sekarang terlihat lebih dekat dengan Ibu dibanding aku dan Alana, istriku.” Kulihat Lilis memejamkan matanya saat aku memeluk pundaknya. Ini kali kedua aku memeluknya. Saat pertama adalah pada waktu Ibu pertama kali mengenalkannya padaku. Aku sangat iba melihat gadis yang telah mengisi hari-hari adikku disaat-saat terakhir hidupnya itu, sehingga dengan spontan waktu itu aku mendekapnya dalam pelukanku. Awalnya Lilis kaget, kemudian terdiam beberapa saat, lalu kemudian malah berontak berusaha melepaskan diri dariku. Namun malam ini, kulihat Lilis memejamkan matanya seolah menikmati rengkuhanku di bahunya. “Mas Wildan jangan terbebani dengan keinginan Ibu, ya. Jika Mas Wildan menolaknya maka itu tak akan terjadi,” ucapnya lirih, masih dengan mata terpejam. “Mas akan memikirkannya, Lis. Ayo kita kembali ke ruangan Ibu, takutya Ibu bangun dan mencari kita.” *** Aku terpaksa mengajukan cuti beberapa hari karena tak ingin meninggalkan Ibu yang masih dalam kondisi lemah. Meskipun Ibu sekarang sudah kembali ke rumah dan menjalani rawat jalan setelah dua hari dirawat inap di rumah sakit. Alana sendiri masih berada di Bandung, keluarganya sedang berkunpul dalam rangka persiapan syukuuran sunatan putra dari Mas Sofyan, kakak Alana satu-satunya yang merupakan seorang perwira polisi. Ayah Alana sendiri juga adalah pensiunan POLRI, mereka memilih tinggal di Bandung setelah pensiun karena Bandung adalah kota dimana Ayah Alana bertugas. Ayah dan Ibu Alana pun sudah merasa cocok tinggal di sana sehingga mereka memilih tak kembali ke Jakarta lagi setelah pensiun. 2 hari menemani Ibu selama di rumah sakit membuat mataku terbuka melihat bagaimana dengan telatennya Lilis merawat Ibuku. Aku selalu memperhatikannya diam-diam, tatapannya pada Ibu begitu tulus. Mungkin benar apa yang diucapkannya waktu itu, gadis itu merasa dekat dengan Fadli saat dia berada di sekitar Ibu. Maka merawat Ibuku membuatnya bahagia karena merasa sedang berada bersama kekasihnya. Ah, seandainya saja Allah memberi waktu sedikit lagi pada adikku di dunia ini. Kurasa mereka berdua akan menjadi pasangan yang saling mencintai, sama sepertiku dan Alana. Akhirnya, aku harus menepati janjiku pada Ibu untuk memberi keputusan sebelum masa cutiku habis dan aku kembali ke Jakarta. Malam ini setelah mengimami Ibu dan Lilis sholat Isya, aku menahan mereka berdua dan mengatakan apa yang sudah aku pikirkan selama 2 hari belakangan ini. “Bu, Wildan mau ngomong sesuatu,” ucapku. Ibu tersenyum. “Ibu mendengarkannya, Nak.” “Kalau begitu Lilis masuk ke kamar dulu, ya,” sahut Lilis buru-buru melipat mukenanya. “Tetaplah di sini, Lis. Ini juga tentangmu, jadi kamu juga berhak untuk mendengarkan,” ucapku. Lilis pun kembali duduk di samping Ibu. Kehela napasku panjang-panjang sambil memejamkan mata. “Wildan sudah mengambil keputusan, Bu. Wildan akan memenuhi keinginan Ibu untuk menikahi Lilis.” Suaraku pelan nyaris tak terdengar bahkan olehku sendiri. Namun kurasa Ibu dan Lilis mendengarnya dengan sangat jelas. Kedua wanita berbeda generasi itu terlihat menangis di hadapanku, meski dengan tangisan yang berbeda. Mungkin Ibu menangis terharu karena aku memenuhi apa yang diingikannya. Namun aku yakin, Lilis menangis karena dia merasa akan mengkhianati Fadli jika aku menikahinya. “Tapi, aku tak mau Alana tau tentang ini, Bu. Toh, Wildan juga akan tetap seperti dulu, tidak bisa ke sini setiap saat. Semua akan berjalan seperti biasa, hanya saja aku akan memberikan status istri pada Lilis agar Lilis bisa tetap di sini menemani Ibu.” Semua terjadi begitu cepat, hingga akhirnya aku pun dengan lantang mengucapkan Ijab Kabul atas Lilis Andriani. Paman Lilis, adik dari ayahnya menjadi wali nikah gadis itu. Akhirnya, akupun resmi menjadi suami dari 2 orang wanita, yaitu Alana dan Lilis. Ah, pikiranku serasa kosong. Entah bagaimana hidupku setelah ini. Aku hanya berharap Alana tidak mengetahui semua ini, walaupun aku ragu, sampai kapan aku akan menutupi ini darinya. Syukuran sederhana yang digelar di rumah Ibu atas pernikahanku dengan Lilis pun telah usai, hanya tersisa beberapa kerabat dan tetangga yang membantu membereskan sisa-sisa acara tadi. “Istirahat di kamar toh, Nak,” Ibu membangunkanku saat aku sudah hampir terlelap di sofa. Dengan langkah gontai dan mata merah menahan kantuk akupun melangkah ke arah kamarku. “Wil, kamu kok malah ke kamar itu sih, masuk ke kamar Lilis sana! Lagian di kamarmu banyak barang yang tadi di masukkan ke sana agar rumah ini lapang untuk acara syukuran tadi.” Ibu kembali memprotesku. Aku hanya menggumam kemudian melangkah ke arah kamar Lilis. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling bekas kamar adikku ini, tidak ada yang berubah di dalam kamar ini. Nampaknya Lilis benar-benar membiarkan semua kenangannya tentang Fadli abadi. Di atas meja bahkan masih terpampang foto Fadli dan Lilis berlatar belakang debur ombak di pantai. Entah di pantai mana mereka berdua berfoto, yang pasti pose dan ekspresi mereka di foto itu menunjukkan betapa mereka berdua saling mencintai. Kurebahkan tubuh di tempat tidur, tubuhku benar-benar lelah. Hari ini aku benar-benar lelah dalam arti yang sesungguhnya, lelah fisik dan pikiran. Aku hanya ingin beristirahat, aku bahkan tak sempat menghubungi Alana hari ini. Biarlah, toh Alana pun sedang berkumpul bersama keluarga besarnya di Bandung. Kupejamkan mataku yang sudah terasa berat karena mengantuk. Aku merindukanmu, Alana. Kamu selalu menjadi ruang untukku pulang. ?Bersambung?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD