Bab 8. HARUSKAH MEMBUKA HATI

1216 Words
Lilis Subuh itu, saat aku hendak membangunkan ibu untuk sholat subuh bersama, aku terkejut mendapati tubuh renta ibu tergeletak di lantai kamarnya. Dengan panik aku berusaha mengangkat tubuh ibu ke atas tempat tidurnya. Subuh-subuh aku terpaksa menggedor-gedor rumah tetangga untuk meminta pertolongan. Ditengah kepanikanku, aku teringat untuk memberi kabar tentang ibu pada Mas Wildan. Kuraih ponselku kemudian mencari-cari kontak Mas Wildan. "Halo! Ini siapa?" Aku terkejut mendengar suara Mas Wildan yang terdengar setengah berteriak. “Aku ... aku Lilis, Mas. Maaf harus menelpon subuh-subuh. Lilis cuma mau mengabari Mas Wildan kalau Ibu pingsan, Mas.” “Astaghfirullah, Lilis! Kamu ngagetin aku tau nggak! Kamu pakai nomor Fadli? Aku kaget sekali ada panggilan dari nomor ponsel almarhum, nggak taunya kamu yang nelpon.” Suara Mas Wildan masih terdengar sedikit berteriak, mungkin dia memang sedang kaget karena aku memang menelpon pakai ponsel Mas Fadli. Saat kecelakaan motor waktu itu, ponsel Mas Fadli terlempar keluar dari sakunya dan hanya retak di bagian casingnya. Maka ketika ibu menyerahkan ponsel itu padaku, aku memilih memakainya tanpa mengganti nomornya, bahkan aku juga membiarkan casingnya yang retak tanpa menggantinya. Ya, semua tentang Mas Fadli rasanya ingin selalu kuabadikan, agar aku selalu merasa bahwa dia masih ada di dekatku. "Lis! Kok kamu malah diam? Dan apa katamu tadi? Ibu pingsan?" “Eh, iya. Maaf, Mas. Iya Lilis pakai ponsel dan nomor Mas Fadli. Maafkan Lilis sudah membuat Mas Wildan kaget. Iya, Mas, Ibu pingsan. Tadi pagi saat akan membangunkan beliau salat subuh, Ibu sudah tergeletak di lantai kamarnya, Mas.” “Sudah berapa lama ibu pingsan, Lis? Terus sekarang ibu sudah ditangani apa belum?” “Lilis nggak tau sudah berapa lama ibu tergeletak di lantai kamarnya saat Lilis menemukannya. Sekarang Ibu sedang diperiksa oleh Mantri Desa, Mas.” “Baiklah, Lis. Terimakasih sudah mengabariku. Aku akan segera ke sana. Oiya, pagi ini kamu benar-benar berhasil membuat jantungku hampir copot karena menelponku dengan nomor Fadli.” *** Wildan. “Kamu datang, Nak?” lirih Ibu menoleh ketika aku tiba di rumah sakit. Ibu memang dibawa ke rumah sakit di ibukota kabupaten dengan bantuan fasililitas Puskesmas Desa. “Iya, Bu. Wildan di sini. Ibu baik-baik saja kan? Ya Allah, Wildan khawatir sekali tadi ketika Lilis menelpon dan mengabari.” Aku meraih tangan ibuku yang sudah keriput. Mencium dan mengusap-usap punggung tangan wanita yang sudah melahirkanku itu. Ibu hanya mengangguk lemah. “Alana nggak ikut, Nak?” "Alana sedang berada di Bandung, Bu. Hari minggu nanti keponakannya akan disunat dan akan ada acara syukuran di rumah orang tuanya. Wildan akan mengabarinya nanti, Bu.” Berikutnya, aku hanya duduk dan menunggu Ibu yang terbaring lemah di ranjang pasien. Menurut dokter tadi, tekanan darah ibu sangat rendah. Kemungkinan ibu kecapean dan kurang istirahat atau banyak pikiran sehingga tekanan darahnya drop. Aku menatap sayu wajah wanita yang sangat kucintai itu, matanya yang terpejam membuat wajah ibu terlihat sangat tenang. Kurasa ibu bukan kecapean, karena tidak terlalu banyak aktifitas harian ibu. Di toko sembako peninggalan ayah, ibu hanya duduk di meja kasir. Karena aku mempekerjakan beberapa orang di sana untuk membantu ibu. Meskipun ibu menolaknya, namun demi ibuku, aku diam-diam mengupah beberapa orang pekerja toko yang mungkin hasil toko bahkan tak cukup menutupi gaji mereka. Namun, aku diam-diam melakukannya demi ibuku. Pekerjaan ibu di rumah sehari-hari pun dibantu Lilis. Bahkan kudengar dari cerita ibu, beliau tak pernah lagi memasak ataupun mencuci pakaiannya karena semua sudah dikerjakan oleh Lilis. Aku melirik sekilas ke arah Lilis, gadis itu terlihat sedang mengupas beberapa buah apel agak jauh dari tempatku duduk. “Mas, Lilis mau ke minimarket sebentar ya. Ini buah apel sudah Lilis kupas, nanti kalau Ibu sudah bangun boleh disuapin,” ucap Lilis padaku. “Iya, Lis. Terima kasih, ya.” “Terima kasih untuk apa, Mas?” “Terima kasih karena kamu sudah menemani Ibu, merawatnya dengan begitu baik.” “Oh, nggak perlu berterima kasih untuk itu, Mas. Lilis juga punya banyak utang budi pada Ibu.” Gadis itu tersenyum, kemudian keluar dan menghilang di balik pintu. “Istrinya telaten sekali ngerawat ibunya, Mas,” ucap ibu-ibu di ranjang pasien sebelah, satu ruangan dengan ibuku. “Beruntung sekali Mas nya punya istri perhatian gitu sama mertua. Lah, kayak saya ini. Boro-boro diperhatiin, pas lagi sakit gini aja dibiarin sendirian gini,” lanjutnya lagi. Aku hanya tersenyum, tak berniat menanggapi ucapan ibu-ibu itu. Terlihat memang ibu itu hanya sendirian, tak ada yang menunggui. Tadi pagi sempat kulihat seorang pria berseragam PNS datang sebentar menjenguknya dan membawa beberapa macam makanan dan buah. Mungkin pria tadi adalah anaknya si ibu itu. Kulihat tadi Lilis bahkan ikut membantu mengupaskan beberapa buah untuk ibu itu. “Wildan ...” panggil ibu dengan suara lemah. “Iya, Bu,” sahutku. “Apa kamu sudah memikirkan tentang permintaan Ibu, Nak?” “Permintaan yang mana, Bu?” “Permintaan Ibu agar kamu mau menikahi Lilis.” Aku menarik nafas panjang. “Ibu nggak usah mikir yang nggak-nggak dulu, ya. Lebih baik Ibu istirahat biar segera pulih dan bisa pulang ke rumah.” “Ibu beberapa hari ini nggak bisa tidur, Nak. Ibu terus memikirkan keinginan Ibu itu, agar kamu mau menikahi Lilis. Tak bisakah kamu mengabulkan keinginan Ibu yang satu itu, Nak.” “Astaghfirullah, Bu. Jadi Ibu sampai jatuh sakit gini gara-gara itu? Kenapa memaksakan diri sih, Bu?” “Bagaimana lagi Ibu harus memohon agar kamu mau memenuhi keinginan Ibu, Nak?” Aku meremas rambutku kuat-kuat. Sungguh keinginan Ibu kali ini membuatku sangat frustasi. Kutatap wajah Ibu yang terlihat sayu. “Baiklah, Bu. Wildan akan memikirkannya,” lirihku. Ibu tersenyum, akupun membalas senyum ibu sambil mengusap-usap lengan ibu. Aku frustasi membayangkan keinginan ibu, membayangkan jika aku harus menikahi Lilis. Lalu bagaimana dengan Alana? Istriku yang selalu cantik dan menawan bagiku. Ah, mengingat tentang Alana membuatku sangat merindukannya, merindukan kehangatan tubuhnya yang selalu saja membuatku mabuk kepayang. “Mas Wildan kok senyum-senyum sendiri?” Aku terkejut ketika Lilis tiba-tiba sudah berdiri di dekatku. “Eh ... kamu, Lis,” jawabku grogi. “Habis belanja apa?” tanyaku melihat plastik berlogo indo*aret di tangannya. “Nih, beli air mineral, beberapa cemilan dan obat nyamuk. Di sini banyak nyamuk kalau malam, Mas,” jawabnya terkekeh. “Kamu tau dari mana di sini banyak nyamuk?” tanyaku lagi. “Dulu waktu aku cidera waktu kecelakaan motor dengan Mas Fadli, aku dirawat lama selama seminggu lebih di rumah sakit ini, Mas,” jawabnya datar. “Ohh, maaf,” sahutku. “Enggak apa, Mas.” “Oiya, aku sudah mengajukan ibu untuk pindah ke kamar perawatan VIP, tapi sepertinya kamarnya full. Jadi kamu sabar aja dulu di sini ya,” ucapku padanya, gadis itu hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum dan mengangkat jempolnya padaku. Kami pun terdiam. Lilis menyusun beberapa barang belanjaannya tadi di lemari kecil di samping ranjang pasien. “Lis, bisa bicara sebentar?” tanyaku. “Lah, ini dari tadi kan udah bicara, Mas,” jawabnya terkekeh. “Ehm ... maksudku bicara berdua, Lis.” “Dari tadi juga kita bicara berdua, Mas.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Ah, gadis ini pintar sekali membuatku salah tingkah begini. “Aku tunggu di luar ya, Lis. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Kalau di sini takutnya mengganggu Ibu dan pasien lainnya yang mau istirahat,” ucapku. “Baiklah, Mas. Nanti Lilis menyusul.” ?Bersambung?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD