Bab 7. Pelukan Pertama

1120 Words
Tiga bulan setelah kecelakaan yang merenggut nyawa Fadli, putra bungsuku. Kulihat Lilis pun sudah tidak terlalu sedih, gadis malang itu sudah mulai berinteraksi dengan beberapa tetangga yang sebaya dengannya. Lilis meminta izin padaku untuk tetap tinggal di rumah, menurutnya dia tak sanggup tinggal sendirian di rumahnya karena ibunya pun sudah meninggal. Itu akan membuatnya merasa sendiri dan kesepian. Aku pun menyetujuinya, karena selain aku juga merasa kesepian jika harus tinggal sendirian di rumah ini, aku juga sudah menyayangi Lilis, gadis itu sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Sebenarnya, beberapa kali Wildan dan Alana memintaku untuk tinggal bersama mereka, namun aku menolak. Aku lebih suka tinggal di sini, dan masih mengelola toko sembako kecil-kecilan peninggalan suamiku. Hingga suatu hari, ketika Wildan kembali mengunjungiku. Aku kembali mempertanyakan cucu padanya, namun seperti biasa, Wildan hanya menjawab dengan gelengan. “Wildan masih menikmati masa-masa indah pernikahan dengan Alana, Bu,” jawabnya beralasan. “Nak, kehidupan pernikahanmu akan lebih indah jika kalian memiliki anak.” “Perhatian Alana pasti akan terbagi Bu, dan Wildan belum ingin kehilangan perhatian Alana. Sudahlah Bu, tolong jangan bahas ini terus.” Aku menatap dalam mata putra sulungku itu, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kupinta padanya. Hal yang tiba-tiba saja terus melintas di kepalaku sejak beberapa waktu belakangan. Mengetahui aku sedang menatapnya tajam, Wildan menoleh. “Ada apa, Bu?” “Wil, jika ibu meminta sesuatu padamu. Apa kamu mau mengabulkan permintaan Ibu?” “Insya Allah, Bu. Ibu satu-satunya orangtuaku yang tersisa, Wildan akan selalu berusaha mengabulkan permintaan Ibu,” jawabnya tersenyum. “Ibu ingin ... kamu menikahi Lilis, Nak.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Entahlah, aku sendiri merasa heran dengan pemikiran dan ide yang tiba-tiba saja muncul di kepalaku itu. “Bu!!!” seru Wildan terkejut. “Ibu sadar apa yang baru saja Ibu ucapkan?” tanyanya dengan suara meninggi. “Iya, Nak. Ibu sadar. Beberapa hari ini Ibu terus kepikiran tentang rencana Ibu ini. Ibu kasihan pada Lilis, gadis malang itu harus kehilangan orang-orang yang disayanginya dalam waktu yang hampir bersamaan. Ibu ingin Lilis tetap di sini menemani Ibu. Seandainya saja adikmu masih hidup, Nak. Ibu pasti sangat bahagia tinggal dengan mereka berdua di rumah ini.” kuseka sudut mataku, kenangan tentang Fadli putra bungsuku kembali terlintas. Wildan meraih bahuku dan memeluk tubuh rentaku. “Bu, Wildan tau Ibu sedih. Wildan tau Ibu kesepian. Tinggallah bersama kami agar Ibu tidak terlalu merasa sendirian, Alana akan sangat senang jika Ibu mau tinggal di rumah kami.” “Tidak Nak, Ibu mau tetap di sini. Untuk itulah Ibu memintamu menikahi Lilis, jika dia berstatus istrimu, dia bisa terus tinggal bersama Ibu. Ibu menyayangi gadis itu, Ibu seperti sedang bersama Fadli jika sedang bersamanya. Ibu juga membayangkan jika Lilis bisa punya anak darimu, maka rumah ini akan semakin ramai dan tak menyisakan kesedihan lagi. Semoga kamu bisa mengerti maksud Ibu, Nak.” Namun, hingga waktunya pulang kembali, Wildan menolak sama sekali permintaanku untuk menyuruhnya menikahi Lilis. Saat Wildan akan membuka pintu depan, secara kebetulan Lilis juga muncul di depan pintu, sepertinya gadis itu baru pulang dari rumah tetangga sebelah yang akan menggelar hajatan. “Eh, Mas Wildan. Udah mau pulang, Mas?” tanya Lilis tersenyum. Kulihat dari sudut mataku, Wildan melirik sekilas padaku. “Iya, Lis. Oiya, Mas Wildan tititp Ibu, ya.” “Iya, Mas. Jangan khawatir. Salam buat Mbak Alana ya, meskipun Lilis belum pernah bertemu,” ucap Lilis terkekeh. Wildan hanya mengangguk. Masih ku tatap punggung Wildan ketika kemudian putraku itu kembali menoleh dan memperhatikan Lilis diam-diam. Aku mengulum senyum simpul. Seandainya saja Wildan mau mengabulkan permintaanku. Toh, kurasa itu juga tak akan mengganggu hubungannya dengan istrinya. Semua akan berjalan seperti biasa, Wildan tidak harus setiap saat pulang ke sini. Aku hanya ingin status yang jelas untuk Lilis, dan cucu yang lucu yang akan menemani hari-hari kami. *** Lilis. Setelah peristiwa kecelakaan yang menimpaku dan Mas Fadli beberapa bulan yang lalu, kemudian disusul oleh kepergian ibuku untuk selama-lamanya, aku benar-benar merasa terpuruk dan duniaku hancur. Bagaimana tidak, impian pernikahan dan kebahagiaan yang sudah di depan mata bersama lelaki pujaanku harus sirna dalam sekejap karena Mas Fadli meninggal dalam kecelakaan itu. Beruntungnya Ibu Mas Fadli selalu ada di sampingku dan memberiku semangat, padahal aku tau wanita paruh baya itu juga sangat terpukul dengan kematian Mas Fadli. Ibu Mas Fadli bahkan memintaku untuk tinggal di rumahnya, karena kami berdua sekarang sama-sama kesepian dan sendirian, tanpa bepikir panjang akupun setuju, aku juga tak sanggup tinggal sendirian di rumah orangtuaku tanpa ibuku yang juga sudah meninggalkanku tak berapa lama setelah kepergian kekasihku. Mas Fadli sangat dekat dengan Ibunya, itulah sebabnya Mas Fadli memilih tak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi setelah lulus SMU. Dia lebih memilih menemani Ibunya mengelola toko sembako peninggalan ayahnya yang tak jauh dari rumah mereka. Menurut cerita Mas Fadli, dia punya kakak laki-laki yang sangat sukses dan berprestasi sejak dari sekolah. Mas Fadli selalu membanggakan Mas Wildan, kakaknya. Padahal kurasa, Mas Fadli pun bisa sesukses kakaknya jika dia mengejar kesuksesannya. Namun, kenyataannya Mas Fadli lebih memilih tinggal di kampung dan menjaga ibunya. Itulah yang membuatku jatuh hati padanya. Mas Fadli sosok lelaki yang dipenuhi cinta dan kasih sayang. Hingga suatu hari, ibu memperkenalkannya padaku. “Lis, kenalkan ini Wildan, kakaknya Fadli.” Ibu memperkenalkan seorang pria padaku ketika itu. Aku terkesiap menatapnya gugup, pria itu terihat mirip sekali dengan Mas Fadli meskipun terlihat lebih matang, lebih berisi dan lebih rapi khas orang kantoran. Air mataku seketika tumpah, Mas Wildan benar-benar mengingatkanku pada orang yang sangat kucintai. “Eh ... Lis? Kok malah nangis, Nak?” tanya Ibu menepuk-nepuk bahuku. “Maaf, Bu. Lilis keingatan Mas Fadli. Mas Wildan sangat mirip dengan ... dengan ....” Aku tak sanggup lagi meneruskan kalimatku. Aku menangis sesegukan di hadapan Ibu dan Mas Wildan. Namun, aku terkejut ketika merasakan tubuhku didekap dengan hangat oleh sesosok tubuh kekar dan kemudian membenamkan kepalaku di d**a bidangnya. “Sudah, Lis. Jangan menangis, itu akan membuat Ibu juga kembali bersedih. Tetaplah di sini ya, menemani Ibu, dan terima kasih sudah mencintai adikku sedalam ini,” lirih Mas Wildan. Sambil memeluk tubuhku! Nyaman. Aku merasa sangat nyaman dalam dekapannya. Selama kepergian Mas Fadli, belum pernah ada perasaan senyaman ini selain hanya kesedihan dan kepiluan memenuhi hari-hariku. Aku merasa ada yang salah, tapi bolehkah aku menikmati kenyamanan ini beberapa detik saja? Aku berontak berusaha melepaskan diri setelah mengembalikan kewarasanku. Tiba-tiba saja rasa nyaman itu berganti dengan rasa risih. Satu-satunya lelaki yang pernah memelukku adalah Mas Fadli, dan aku masih bisa merasakan dekapan hangatnya ketika aku mengenang kembali kebersamaan kami. Lalu lelaki ini, tiba-tiba saja memelukku. Meskipun merasa sangat nyaman, aku bergidik. Aku tak mau menghkianati Mas Fadli. Mas Wildan melepaskan pelukannya dengan lembut. Matanya berembun, sepertinya dia pun merasakan kesedihan mengenang Mas Fadli, adik satu-satunya. ?Bersambung?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD