"Apa yang kamu inginkan? Steak? Atau kamu sedang ingin makan pasta?" Suara Asta terdengar bersemangat.
"Sepertinya aku akan mencoba steak aja," jawab Kaia setelah membolak-balik buku menu.
Mereka baru tiba di sebuah restoran setelah mengunjungi pemakaman dan Kaia menemani Asta mencari bahan bangunan untuk renovasi Kafe Orion. Pria itu bilang bahwa kafe semakin ramai dan dia memikirkan akan membuat konsep outdoor agar tidak membuat pelanggan antre demi menghabiskan waktu di sana. Satu hal yang membuat Kaia mengagumi pria itu lagi, bahwa Asta bahkan tidak segan-segan turun tangan sendiri untuk mengurus keperluan usaha.
"Oke, aku juga akan memesan steak."
Asta lantas memanggil salah seorang pramuniaga dan mulai memesan. Selama pergi bersama Asta, Kaia selalu diperlakukan dan dilayani dengan baik. Meski sebenarnya dia pernah menolak beberapa kali, tetapi pria itu tidak membiarkannya melakukan hal sekecil memesan makanan.
Perlakuan Asta yang sederhana itu terasa berarti sangat besar untuknya. Sejak tinggal berdua saja dengan Mama, dia harus tumbuh menjadi anak yang mandiri dan selalu siap untuk membantu Mama. Kaia terbiasa melakukan semuanya sendirian sehingga keberadaan Asta yang selalu membantu membuatnya terkejut.
"Jadi, setelah makan ada tempat lain yang mau kamu kunjungi?" tanya Asta. Pria itu mengalihkan fokus sepenuhnya pada Kaia. Netra gelap itu menatap lembut pada sang gadis.
"Aku belum ada ide. Sebenarnya aku nggak begitu sering keluar rumah untuk menghabiskan waktu di akhir pekan atau mencari tempat yang menyenangkab untuk dikunjungi," jawab Kaia. Gadis itu merasa sedikit canggung karena tampak tidak tahu tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu.
"Hei, nggak apa-apa. Kamu jangan merasa bersalah atau apa, Kai," ujar Asta buru-buru menenangkan, tidak ingin membuat Kaia berkecil hati. "Bagaimana kalau kita ke museum? Apa kamu suka melihat pameran lukisan?"
Netra Kaia bersinar. "Aku belum pernah pergi melihat pameran, tapi pasti akan sangat menyenangkan kalau bisa melihatnya."
Asta tertawa kecil, gemas pada Kaia yang begitu antusias. "Bagus. Kalau begitu, ini pertama kalinya kamu akan ke museum. Aku akan berusaha jadi pemandu yang baik."
"Terima kasih, Ta. Aku merasa kali pertama melakukan banyak hal saat bersamamu. Ini akan menjadi pengalaman yang nggak terlupakan," kata Kaia dengan sepenuh hati.
"Bagus. Aku senang bisa menjadi yang pertama kali membawamu melakukan banyak hal."
"Yah, tapi apa nggak apa-apa kalau kamu seharian pergi denganku? Kamu nggak ada kesibukan lain?"
Asta menggeleng. "Nggak ada. Kamu jangan khawatir, hari ini kan waktu kencan kita."
"Ya?" Kaia terkejut mendengar apa yang baru saja pria itu katakan. Dia bisa merasakan pipinya memanas, tetapi segera berdeham untuk menutupi agar tidak terlihat salah tingkah.
Sementara itu, Asta justru menatapnya semakin intens. "Iya, ini kencan kita. Kamu kaget?"
"Jangan bercanda, Ta."
"Aku nggak bercanda," jawab Asta sembari tersenyum lembut.
"Oke, aku percaya. Sekarang, jangan menatapku seperti itu. Katakan apa yang kamu lakukan 8 tahun terakhir sejak aku pergi?" Kaia berusaha mengalihkan topik, tetapi Asta sepertinya masih belum mau berhenti menggodanya. Sebab, pria itu justru semakin menatap intens dan menyangga dagu saat menyimak dia berbicara.
Akhirnya, Kaia berusaha menutup wajahnya karena malu. "Jawab aku dan berhenti menatapku seperti itu atau aku pergi sekarang juga."
"Apa salahnya kalau aku ingin menatapmu, sih?" protes Asta, tetapi ada tawa renyah di akhir kalimat pria itu.
"Kamu membuatku salah tingkah."
"Ya, terus kenapa?"
"Stop. Jawab aja pertanyaanku tadi." Kaia menurunkan kedua telapak tangan yang semula menutupi wajah dan menemukan Asta yang tertawa geli.
"Oke, oke. Hmm, apa ya? Aku terkejut saat kamu dan keluargamu pergi tanpa pamit, tapi tetap berusaha melanjutkan hidup sebagaimana mestinya. Pergi ke sekolah dan sesekali bermain, kemudian belajar. Setelah kamu pergi aku udah nggak punya teman belajar di rumah, jadi aku minta Mama supaya bisa mengikuti les di salah satu tempat bimbingan belajar," jawab Asta panjang.
"Bagaimana sama teman-temanmu yang lain? Ghian mungkin, aku rasa kamu punya banyak teman dulu."
"Mereka udah belajar di bimbingan belajar atau les privat. Jarang sekali mau diajak belajar bersama saat di rumah, lebih banyak bermain game saat bermain ke rumahku." Asta menghentikan ceritanya sebelum melanjutkan, "Kalau boleh jujur rasanya bosan saat kamu tiba-tiba pergi, Kai."
"Maafkan aku, Ta." Kaia merasa begitu bersalah, tetapi keadaan yang memaksanya pergi tanpa pamit pada Asta.
"Nggak apa-apa, Kai. Sekarang kita bisa ketemu lagi, kan? Dulu terasa aneh aja tiba-tiba kehilangan sahabat yang begitu dekat denganku."
Sesaat jantung Kaia terasa sesak mendengar kata sahabat dari bibir Asta. Dia merutuk dalam benak, memang tidak boleh menginginkan hal lebih dengan pria itu. Dirinya harus ingat bahwa selama ini dia sahabat Asta.
Percakapan mereka harus berakhir karena pesanan telah datang sehingga mereka hanya mengobrol sesekali sambil menikmati makan siang. Kaia masih berusaha mengenyahkan kata sahabat yang terus terngiang di kepala sejak Asta mengatakannya. Jadi, kencan ini pun adalah bentuk persahabatan mereka.
"Aku udah memesan dua tiket online. Setelah ini mau langsung pergi ke sana?" tanya Asta setelah menyelesaikan makan siang.
Kaia mengangguk setelah meminum jus jeruknya untuk terakhir kali. "Boleh."
"Mau berangkat sekarang? Perjalanannya sekitar 15 menit dari sini." Asta menawarkan.
"Yuk! Aku penasaran bagaimana pameran lukisan itu," kata Kaia dengan penuh semangat.
Mereka pun bangkit dari duduk dan menuju kasir. Kaia berniat untuk membayar makan siang, tetapi seperti biasa Asta menolak dengan keras. Pria itu justru memintanya duduk di salah satu kursi untuk menunggu saat tengah mengantre di kasir.
"Selama kamu pergi denganku, aku yang bayar, oke." Itu adalah perkataan tegas Asta yang tidak bisa dibantah dan Kaia hanya menurut.
Lima menit kemudian, mereka akhirnya bisa meninggalkan restoran.
"Katakan, apakah ada tempat yang belum pernah kamu kunjungi dan kamu ingin mengunjunginya?" tanya Asta sembari menjalankan mobil keluar menuju jalan raya.
Sebelum menjawab, Kaia berpikir. "Ada banyak sebenarnya, tapi aku malu kalau terdengar kekanak-kanakan."
"Kenapa? Jangan malu, katakan aja. Siapa tahu kamu bisa kesana tiba-tiba," ujar Asta. Jelas pria itu sedang berusaha membesarkan hati Kaia.
"Oke ... Apa, ya? Aku ingin ke taman bermain dan merasakan naik roller coaster, kebun binatang, dan konser mungkin. Itu yang aku ingat," jawab Kaia.
Asta mengangguk. "Kamu punya keinginan yang cukup ekstrem juga, merasakan naik roller coaster."
"Aku hanya pernah naik komidi putar dan melihat orang-orang naik itu sepertinya menyenangkan. Soalnya, sekali waktu aku pernah ke taman bermain hanya diperbolehkan naik komidi putar," curhat Kaia mengingat pengalaman pertama sekaligus terburuknya saat pergi ke taman bermain. Sebab, itulah pertama kali Mama dan Papa terlibat pertengkaran yang menjadi semakin panjang.
"Oke, jadi next kita akan coba ke taman bermain, bagaimana?"
"Eh? Kamu jangan seperti berhutang untuk memenuhi keinginanku lho, Ta. Aku hanya menjawab pertanyaanmu."
Asta menggeleng dan mengerem mobil ketika lampu lalu lintas berubah merah. Pria itu kemudian menatap Kaia dengan ekspresi serius. "Aku nggak merasa begitu, Kai. Justru aku ingin membantu kamu mewujudkan itu. Boleh kan?"
Apa yang bisa Kaia lakukan saat pria itu menatap dengan sorot lembut dan tulus? Dia benar-benar buruk jika harus berhadapan dengan Asta. Yang gadis itu lakukan adalah mengangguk.[]