Rasa

1021 Words
"Selamat pagi!" sapa Kaia pada Rere yang baru saja keluar dari kamar. Sepupunya masih setengah sadar ketika menuju dapur. "Pagi, Kai. Apa yang kamu lakukan?" tanya Rere dengan suara serak dan tampak menghampiri kulkas. Sementara itu, gadis yang ditanyai sibuk membolak-balik omelette di atas teflon. Dengan cekatan dia meniriskan omelette dan menyiapkan di piring. "Memasak sarapan, apa lagi?" Kaia menjawab sembari menghidangkan dua piring omelette dengan nasi hangat ke atas meja. "Terima kasih, Kai." Kaia mengangguk dan duduk di kursi seberang Rere. "Kamu jadi mau mengunjungi makam tante?" tanya Rere di tengah-tengah sarapan itu. "Ya, setelah ini mungkin." "Maaf, aku nggak bisa mengantarmu, Kai," ujar Rere dengan nada penyesalan. "Bukan masalah, Re. Lagi pula, Asta menawarkan untuk menemani karena dia ingin mengunjungi makam Mama. Kamu juga katanya harus bertemu klien kan, Re." "Oh, ya? Baiklah kalau begitu." Mereka lantas melanjutkan sarapan sembari mengobrol santai. Usai menyelesaikan sarapan akhirnya mereka melanjutkan kegiatan masing-masing. Kaia sendiri bergegas bersiap untuk pergi. Asta mengabari akan segera menjemputnya. Pria itu sendiri yang menawarkan untuk menemani Kaia mengunjungi makam Mama. Ingin bertemy Tante setelah sekian lama, katanya. Memang sejak dahulu Asta mengenal baik mamanya saat mereka bertetangga. Dia keluar dari kompleks apartemen tatkala mobil Asta datang. Dia segera menghampiri pria itu dan tersenyum saat memasuki mobil. "Hei, selamat pagi!" sapa Asta. "Selamat pagi, Ta." "Jadi, kita harus pergi ke mana?" "Hmm, aku akan membeli bunga dulu. Bagaimana?" "Baiklah." Mereka lantas meninggalkan kompleks apartemen Rere. Mobil Asta membelah jalanan kota Jakarta yang macet karena akhir pekan. Sementara dua orang di dalamnya sibuk mengobrol dan sesekali bercanda. Rasanya menyenangkan. Ketika mengingat bahwa dirinya sering pergi bersama Asta, Kaia berharap waktu bisa berhenti. Namun, diam-diam dia juga menyimpan kebimbangan. Dia sebenarnya ingin tahu alasan Asta mendekatinya dan mengajaknya pergi. Bahkan, sampai repot-repot menemani mengunjungi makam Mama. Akan tetapi, gadis itu juga takut jika meminta penjelasan justru akan membuat hubungan mereka berubah. Lebih buruk lagi, Asta mungkin bisa saja menjaga jarak. Jadi, saat ini dia berusaha menjadi teman yang baik. "Kamu mau membeli bunga seberapa?" tanya Asta, membuyarkan lamunan Kaia. Mereka akhirnya telah tiba di salah satu toko bunga langganan Kaia. "Ah, aku akan memesan seperti biasa. Kamu tunggulah di sini." Gadis itu turun dari mobil sendirian, membiarkan Asta menunggunya. Sementara itu, dia menghampiri toko bunga. "Selamat pagi! Saya mau memesan bunga yang seperti biasa, ya," pinta Kaia pada si pemilik toko yang tengah merangkai bunga. "Oh, Kaia," ujar perempuan yang berusia tampak lebih tua beberapa tahun darinya itu. "Mau ke makam mamanya lagi, Kak? Sebentar saya siapkan dulu, ya." "Iya, Kak. Tolong, ya." Si pemilik toko mengangguk dan masuk ke toko untuk menyiapkan pesanan Kaia. Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga si pemilik toko kembali membawa plastik berisi bunga-bunga mawar. "Ini, Kai. Harganya masih seperti biasa, ya." "Baiklah. Terima kasih ya, Kak. Ini uangnya," ujar Kaia sembari menyerahkan uang itu pada si pemilik toko. "Sama-sama." Dia kembali ke mobil dan mendapati Asta yang tengah menjawab panggilan telepon. Pria itu tampak membicarakan pekerjaan dengan lawan bicaranya di ponsel. "Kamu tampak sibuk, Ta," ujar Kaia setelah telepon itu berakhir. "Bukan apa-apa, Kai. Aku hanya harus stand by via telepon aja, kok." "Benarkah?" "Iyaa ... Jadi, bagaimana? Siap melanjutkan?" "Yuk!" Kali ini mobil itu benar-benar menuju pemakaman yang berjarak sekitar 3 kilometer. Sepanjang perjalanan, Kaia mengagumi Asta yang tengah menyetir dan mereka mengobrol dengan santai. Mereka membiarkan topik itu mengalir begitu saja. "Lain kali, kamu juga harus main ke rumah. Meski, sebenarnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di apartemenku dan jarang pulang ke rumah," ujar Asta. "Aku tahu itu. Ya, aku ingin bertemu Tane dan Om. Rasanya lama sekali." "Iyalah, kamu tiba-tiba pergi begitu aja dan nggak berpamitan ke kami." Kaia merasa bersalah. Namun, apa daya dulu dirinya masih remaja yang hanya bisa mengikuti mamanya. Perpisahan Mama dan Papa juga menjadi hal berat yang cukup mengguncangnya. Dia pun tidak terpikirkan akan mengalami hal buruk itu. Jika boleh memilih, Kaia akan memilih hidup lebih baik lagi dari sekarang. "Situasinya cukup rumit saat itu, Ta. Maafkan kami pergi begitu aja." "Aku nggak bermaksud mengingatkanmu pada hal itu. Maaf, Kai." Asta buru-buru meminta maaf karena merasa bersalah telah mengungkit hal itu. "Bukan apa-apa, Ta. Lagi pula aku nggak kenapa-napa. Jadi, nggak perlh minta maaf." "Aku mengingatkanmu pada kenangan yang rentan." Kaia tertawa, melihat Asta yang merasa bersalah karena hal kecil justru membuatnya tertawa. Itu berarti, lrua tersebut benar-benar menghargai perasaannya. Sudah lama sekali rasanya dia tidak pernah merasakan itu. Kehadiran Asta benar-benar terasa bagai angin sejuk untuknya di tengah kenyataan hidup yang berat. "Di sini pemakamannya, Kai?" tanya Asta begitu kompleks pemakaman sudah mulai terlihat dari jalab yang mereka lewati. "Benar. Kamu parkir depan itu aja, Ta." Asta menurut. Pria itu memarkirkan mobil di salah satu lahan parkir di luar kompleks pemakaman. Lantas, mereka turun bersama dan mempersiapkan bunga yang telah dibeli. Setelah itu, mereka beriringan melewati makam-makam menuju makam milik mama Kaia. "Nah, akhirnya kita sampai. Hai, Ma!" Kaia tiba-tiba berubah menjadi lebih sendu saat tiba di makam mamanya. Asta tetap setia mendampingi gadis itu. Mereka menaburkan bungan dan berdoa bersama. Pria itu sesekali mencabuti rumput liar yang tumbuh di atas makam, membuat Kaia merasa sangat berterima kasih. "Kali ini aku membawa Asta, Ma. Mama masih ingat, nggak?" "Halo, Tante," sapa Asta sembari tersenyum. "Asta teman kecil Kaia dulu saat kita masih tinggal di Jalan Pemuda, Ma. Dia dan keluarganya masih tinggal di rumah itu," ujar Kaia menjelaskan pada Mama yang seolah-olah berada di sana dan mendengarkannya. "Aku yang pernah mengajak Kaia pergi ke warung internet sampai Tante kebingungan itu. Maafkan kenakalanku saat itu ya, Tan," ujar Asta. Kaia senang melihat pria itu ikut berbicara. Hal ini seperti mengingatkannya pada masa-masa mereka bersama dulu dan Asta harus berbicara pada mamanya untuk meminta izin atau meminta maaf saat tiba-tiba mengajaknya bermain. "Kaia baik-baik aja, Tante. Kuharap Tante nggak perlu khawatir dan bisa beristirahat dengan tenang. Tenang aja, Tan. Aku akan melindungi dia dan memarahinya kalau dia membahayakan diri," ujar Asta panjang lebar dan membuat Kaia mau tidak mau tertawa. Asta di sampingnya saat ini benar-benar mengingatkannya pada kejadian dulu. Kali ini, dia bisa mengunjungi makam Mama dengan sedikit tawa berkat Asta. Kaia sangat bersyukur untuk itu.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD