Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang mengisi mobil Asta. Sejak bergabungnya Ghian saat makan siang, Kaia memilih untuk lebih banyak diam dan menjawab pertanyaan seperlunya. Lagi pula, sejak awal dia memang tidak terlalu akrab dengan teman-teman Asta dan saat bertemu kembali hanya kecanggungan yang Kaia rasakan.
"Kamu jangan memikirkan omongan Ghian ya, Kai," ujar Asta, memecah keheningan di antara mereka.
"Hah? Tentu, lagi pula apa yang harus kupikirkan." Kaia tertawa kecil. Seperti biasa, gadis itu akan berakting seolah-olah semua baik-baik saja.
"Yah, aku takut ada omongan dia yang membuatmu kepikiran karena dia memang agak banyak bicara."
"Bukan masalah besar."
Lagi pula, aku juga nggak memiliki hak untuk menanyakan soal mantan terindahmu yang dimaksud Ghian, batin Kaia. Dia menelan kata-kata yang berusaha dipendamnya. Sejak Asta sering mengajaknya pergi makan dan jalan, dia merasa salah paham dengan kedekatan mereka.
"Lain kali kita makan siang tanpa dia tentunya. Apakah kamu masih mau?" tanya Asta dengan nada penuh harap.
Tentu saja, Kaia tidak bisa menolak. "Ya, kabari aku kapan pun."
Asta tersenyum dan menoleh pada Kaia yang juga balas tersenyum. "Bagus."
***
Waktu terasa statis bagi Kaia yang tinggal di ibukota. Kota metropolitan itu tidak pernah tidur atau beristirahat barang sejenak dan selalu ramai sehingga terkadang dia sulit menentukan saat sudah fokus pada pekerjaannya.
Setelah makan siang bersama Asta yang cukup membuatnya kepikiran tentang mantan kekasih pria itu, dia berusaha mengubur diri dengan pikiran tentang laporan-laporan kantor cabang. Meski pada akhirnya, dia akan terus merasa penasaran dengan mantan kekasih Asta.
Kaia menatap langit yang mulai menggelap. Sesekali tubuhnya tergoyang dan hampir kehilangan keseimbangan saat bus Transjakarta tiba-tiba berhenti mendadak karena kemacetan di jam pulang kerja. Dia bertahan dalam keadaan berdiri karena bus yang penuh hingga beberapa menit kemudian, bus tiba di halte tujuannya.
Setelah turun dari bus dia duduk sejenak di halte untuk menatap lalu lalang kendaraan yang begitu ramai. Hatinya tiba-tiba kembali dilanda kebimbangan setelah mendengar informasi mengenai mantan kekasih Asta.
Dia mungkin tidak berhak untuk mencari tahu soal itu karena hubungan mereka hanya sebatas teman. Asta memang sering kali mengajaknya pergi atau makan, tetapi mungkin itu hanya sebatas pertemanan mereka saja yang terjalin sejak kecil. Meski mau tidak mau, perasaan Kaia berharap mereka lebih dari itu. Sebab entah bagaimana perasaan tak bernama itu terus membuatnya berharap begitu.
"Kaia!" panggil seseorang.
Gadis yang dipanggil menoleh, mencari asal suara dan mendapati Rere menenteng plastik mendekat ke arah halte.
"Kamu kenapa kok nggak langsung pulang?" tanya sepupunya begitu tiba di depan Kaia.
Sepupunya masih mengenakan seragam dan tampaknya baru saja kembali dari minimarket yang terletak tidak jauh dari apartemen. Ah, benar biasanya mereka akan memasak makan malam bersama.
"Iya, aku istirahat sebentar. Yuk, naik!" ajak Kaia, bangkit dari duduknya.
"Yuk!"
Mereka lantas bersama-sama menuju apartemen.
"Kamu pulang sejak tadi?" tanya Kaia begitu mereka memasuki lift.
"Baru sekitar lima belas menit yang lalu dan aku teringat kalau kita kehabisan beberapa bahan makanan. Hari ini jadi memasak pasta?"
"Boleh, padahal kamu bisa kabari aku aja kalau butuh membeli bahan makanan. Lagi pula, sekalian dari halte."
Rere mengibaskan tangan. "Kukira kamu juga akan pulang lebih lambat dari seharusnya."
"Nggak, kok. Aku pulang di jam seperti biasa."
"Yah, nggak apa-apa, hitung-hitung aku bisa sekalian berolahraga." Rere tertawa kecil.
"Dasar." Kaia balas tertawa saat lift berdenting dan mereka tiba di lantai tempat apartemen Rere berada.
"Kamu membersihkan diri dulu aja, Kai," ujar Rere setelah memasuki apartemen dan bergegas menuju dapur.
Alih-alih menuruti, Kaia hanya menyimpan tas di sofa dan mencuci tangan serta kaki sebelum bergabung dengan Rere di dapur. "Sekalian, supaya setelah makan kita bisa bersih-bersih."
Tanpa aba-aba, Kaia mengambil panci dan memberikannya pada Rere yang mulai menyiapkan bahan. "Sini, biar aku yang mencincang bawangnya."
Mereka bekerja dalam diam untuk sesaat. Lantas, Rere kembali melemparkan pertanyaan. "Kai, apa terjadi sesuatu?"
Kaia yang tengah mencincang bawang putih, menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh pada Rere yang ternyata tidak menatapnya dan sibuk memasukkan pasta ke dalam air mendidih.
"Hmmm ... Aku nggak tahu kenapa, tapi sejak beberapa tahun lalu aku merasakan perasaan ini. Meski sempat menghilang, tapi akhir-akhir ini perasaan itu muncul kembali," jawab Kaia.
Rere langsung memusatkan perhatian pada Kaia. "Ceritakan aja padaku, Kai."
Tanpa menunggu lebih lama, Kaia akhirnya menceritakan apa yang terjadi dengannya. Sebelumnya dia memang telah bercerita tentang Asta. Kini, dia juga menceritakan tentang bagaimana perasaannya pada Asta. Bagaimana dia tidak bisa memberi nama perasaan itu, atau sebenarnya dia tidak berani memberi nama perasaannya setiap kali bersama Asta.
"Aku merasa sesak saat tiba-tiba teman Asta mengatakan perihal mantan kekasih Asta," ujar Kaia.
Rere tampak tersenyum, seperti telah memahami apa yang dirasakan Kaia. Namun, sepupunya belum mengatakan apa-apa dan masib mendengarkan bagaimana perasaannya ketika makan siang hari ini.
"Apakah wajar kalau aku merasakan sesuatu seperti itu, Re?" tanyanya setelah menceritakan apa yang dia rasakan.
Sepupunya itu belum menjawab dan mengambil jeda untuk mengangkat pasta yang telah masak dari air mendidih. Rere mematikan kompor, kemudian berkata, "Tentu itu hal yang wajar. Lagi pula, seharusnya hubungan kalian saat ini bisa disebut dengan pendekatan. Kalian akhirnya bertemu lagi dan pergi atau makan bersama, apa itu bukan pendekatan namanya?"
"Selain itu, Kai. Perasaan kamu valid, kamu jatuh cinta lagi pada Asta. Apakah kamu nggak menyadarinya?" tanya Rere.
Kaia terdiam, berpikir. Lantas, dia menggeleng. "Apa perasaan ini bisa disebut begitu? Rasanya salah kalah aku menyukai Asta padahal kami teman sejak kecil."
Rere tertawa, jelas tahu bahwa Kaia pasti mengerti apa yang dirasakan dan membutuhkan seseorang untuk memvalidasi. "Ya, memangnya kenapa? Nggak ada yang salah dengan menyukai teman masa kecil, Kai. Selain itu, perasaan yang kamu rasakan saat mendengar tentang mantan Asta, itu adalah perasaan cemburu."
Mendengar hal itu, membuat Kaia merasa sedikit lebih lega. Meski dia merasa ragu, apakah dia benar-benar menyukai Asta? Pria itu sebelumnya seperti dia anggap teman dan saudara. Apakah itu hal benar jika dia menyukai Asta? Apakah Asta akan baik-baik saja jika mengetahui perasaannya? Dia takut rasa suka ink justru akan menghancurkan hubungan dekat mereka di saat mereka akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama.
"Aku merasa takut kalau menyukai Asta. Aku takut hubungan kami berubah atau lebih buruk lagi akan rusak karena perasaan ini."
"Tapi, aku rasa Asta juga menyukaimu, Kai."
Kaia menghela napas. "Aku nggak yakin, Re." []