Clue

1065 Words
Beberapa hari terakhir, Kaia merasa lebih baik sejak kepergian Mama. Dia akhirnya perlahan dapat menenangkan hati dan mengikhlaskan sang mama. Mungkin, karena keberadaan Asta juga yang semakin akrab dengannya. Sejak terakhir kali mereka pergi makan siang, Asta menjadi semakin sering mengajak untuk makan siang bersama. Kaia sendiri tidak merasa keberatan dan merasa senang bisa kembali akrab dengannya. "Hari ini mau makan siang bersama?" Dia baru tiba di kantor ketika pesan itu masuk ke ponselnya. Senyumnya tidak lagi bisa disembunyikan karena merasa senang. Kini, hari-harinya dipenuhi dengan pesan dari Asta dan sesekali pergi bersama pria itu. Gadis itu tersenyum saat membalas, "Boleh aja. Kali ini biar aku yang mentraktir." Kaia lantas membersihkan dan merapikan mejanya—kegiatan yang selalu dilakukan setiap pagi sebelum memulai bekerja. Tidak lama kemudian, sebuah balasan masuk ke ponselnya. "Big no. Aku tahu kamu bisa mentraktir, tapi biar aku aja yang membayar. Oke atau nggak sama sekali?" Balasan dari Asta membuat Kaia menghela napas. Dia merasa tidak enak hati dengan pria itu. Pasalnya, setiap kali mereka pergi makan selalu Asta yang membayar. Namun, pria itu memang selalu keras kepala dan membuatnya mau tidak mau menuruti saja aturan itu. "Oke, kalau begitu. Terima kasih." "Yes. See you nanti siang, akan kujemput seperti biasa, ya." Kaia membalas untuk terakhir kali sebelum akhirnya dia mulai bekerja. Seperti mendapat suntikan semangat, dia bekerja dengan lebih tekun hari ini. *** "Bagaimana pekerjaan kamu hari ini?" tanya Asta. Pria itu sibuk membantu membukakan air mineral dan memberikannya pada Kaia. "Terima kasih. Hmm, nggak banyak. Aku tadi sempat ditegur karena kesalahan beberapa data, tapi sebenarnya bukan kesalahanku. Yah, aku udah terbiasa mendapat semprotan, meski kali ini agak lelah juga," curhat Kaia. Semakin sering bertemu dengan Asta, gadis itu kini mulai kembali akrab dan menyampaikan curhat pada pria tersebut. "Kamu udah coba berkomunikasi dengan atasanmu?" tanya Asta. Kaia tertawa getir. "Justru aku ditegur oleh atasanku." "Ah ..." Asta mengangguk-angguk. "Itu akan menjadi masalah yang sulit." "Yah, aku nggak bisa melakukan apa pun selain menerima itu semua." "Kamu cukup membuktikan bahwa dirimu benar maka biar dia yang menyadari itu sendiri sehingga dia nggak melampiaskan emosi padamu. Pasti sebenarnya bukan cuma karena itu, mungkin ada hal lain yang membuatnya kesal, tapi karena saat itu harus berurusan dengan kamu, dia bersikap begitu," ujar Asta menyampaikan pendapatnya. "Bisa jadi mungkin begitu, aku juga nggak terlalu memikirkan itu. Semakin lama, aku cuma mendengarkan aja dan berusaha introspeksi diri." Asta menghentikan aktivitas menyendok makanannya dan tersenyum dengan bangga. "Kamu hebat." Kaia tertawa kecil. "Apaan? Kamu cuma mau membesarkan hatiku aja, kan." "Aku jujur. Lama tidak melihatmu, sekarang kamu tumbuh semakin bijak, padahal dulu kamu sering menangis karena hal kecil." "Itu karena aku masih remaja labil." Kaia hampir memukul Asta yang berada di seberangnya dengan main-main. "Loh, sekarang kamu udah nggak labil." Asta tertawa menggoda. "Menurutmu saja bagaimana?" jawab Kaia dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat. Pria itu tidak juga menghentikan tawa dan Kaia merasa hatinya penuh saat melihat itu. Dia teringat kembali masa-masa ketika mereka masih remaja dulu. Saat mereka masih begitu awam dengan apa saja yang dialami orang dewasa. Saat hanya ada waktu-waktu bahagia di antara mereka. Mereka masih tertawa bersama saat ponsel Asta di atas meja tiba-tiba bergetar. "Sebentar, ada telepon dari Ghian," ujar Asta, meminta izin untuk mengangkat panggilan itu. Kaia mengangguk dan membiarkan Asta mengangkat panggilan. Sementara itu, dia kembali fokus pada makanannya. Dia dapat melihat pemuda itu bangkit menjawab panggilan dan sesekali tertawa. Entah panggilan dari siapa yang jelas Kaia tidak mungkin bertanya. Beberapa menit kemudian, pria itu kembali duduk di kursi seberangnya dan bertanya dengan agak ragu, "Ghian ada di sekitar sini. Apakah boleh kalau dia bergabung makan siang dengan kita?" Kaia belum sempat menjawab saat Asta kembali melanjutkan, "Tapi, kalau kamu kurang nyaman selain bersamaku nggak apa-apa. Katakan aja." Mendengar perkataan Asta, gadis itu menggeleng dan tersenyum. "Nggak apa-apa kalau Ghian mau bergabung." Kaia mengingat pemuda berkacamata yang dulu dekat dengan Asta dan mereka sering bermain bersama. Dia tidak membenci ataupun suka jika harus bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya ketika remaja, tetapi dia tidak mungkin menolak Ghian yang ingin bergabung bersama. "Terima kasih atas pengertian kamu, Kai. Aku udah berusaha menolak, tapi dia bersikeras." "Santai aja, Ta." "Bagus kalau begitu, mungkin kamu udah lupa wajahnya. Oh, itu dia." Asta melambaikan tangan dan seseorang dari arah pintu mendekat pada mereka. "Udah lama sekali, aku nggak pernah bertemu denganmu. Dasar orang sibuk," ujar seorang pria berkacamata dengan pakaian batik. Pria itu menepuk punggung Asta dengan akrab. "Ya, ya, kamu sendiri pun sibuk, dasar pegawai pemerintah," balas Asta. Mereka berbincang-bincang dengan asyik, sedangkan Kaia masih menikmati makan siangnya dalam diam. Dia tidak berniat untuk menginterupsi apa pun yang sedang dibicarakan oleh kedua pria itu. Selain itu, meski dekat dengan Asta, sejak dulu Kaia juga tidak bisa berteman dekat dengan Ghian. Lagi pula, dirinya dulu hanya diajak Asta saat bermain bersama setiap pulang sekolah. "Oh, ya, kamu masih ingat dia, Ghi?" tanya Asta, begitu percakapan selesai. Akhirnya, mereka melihat keberadaan Kaia yang kini menghentikan suapan makan siangnya dengan agak canggung. Dia menatap Ghian dan tersenyum tipis. Tidak banyak perbedaan Ghian yang dia ketahui dulu sekali, pria itu masih sama saja berkacamata dan tampaknya berhasil meraih keinginan untuk bekerja di instansi pemerintah. Pria berkemeja batik itu menatap Kaia dengan penuh tanda tanya karena merasa asing. "Siapa?" tanya Ghian. "Parah, bisa-bisanya kamu melupakan dia?" Asta meledek sambil tertawa kecil. "Ingatanku nggak begitu baik akhir-akhir ini," timpal Ghian. Kaia berusaha agar tetap ramah dan berniat memperkenalkan dirinya saat Asta menahan. Pria itu berkata dengan nada main-main, "Kau benar-benar nggak mengingatnya? "Oh, Jasmine? Mantan Asta?" tebak Ghian yang langsung mendapat tepukan di bahu dari Asta. "Ngawur." "Aku Kaia." Gadis itu menjabat tangan Ghian singkat setelah memperkenalkan diri. "Kaia?" Pria itu masih tampak berpikir. "Ah, tetangga Asta dulu?" Kaia mengangguk. "Tentu aku mengingatmu, kamu selalu menempel Asta dulu. Lama nggak melihatmu, Kai," ujar Ghian. "Hei, perhatikan bahasamu. Aku emang mengajak dia bergabung untuk bermain bersama," tegur Asta. Ghian justru tertawa. "Ya, ya. Kupikir saat kamu bilang sedang makan siang, kamu bersama mantan terindahmu itu." Kaia bisa melihat Asta memukul kepala Ghian dengan telinga yang memerah—kebiasaan kecil yang masih dia ingat ketika Asta merasa tersipu. Dia tidak begitu memperhatikan lagi apa yang mereka bicarakan. Namun, merasa penasaran dengan mantan terindah Asta yang Ghian maksud. Akan tetapi, toh, pada akhirnya dia hanya diam sembari berusaha menghabiskan makan siangnya dengan agak terburu-buru. Dia ingin segera kembali ke kantor secepatnya.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD