Kafe itu terletak tidak jauh dari jalan raya, tetapi mobil Asta harus memasuki salah satu gang yang cukup besar untuk sampai di sana. Sebuah kafe kecil dengan bagian depan yang cantik dan bergaya Jepang. Ada beberapa lonceng angin yang dipasang di depan pintu kafe.
"Yuk!" ajak Asta setelah pria itu berhasil memarkirkan mobil.
Kaia mengikuti keluar dari mobil dan masuk ke kafe itu.
"Mau duduk sini?" tanya Asta sembari menunjuk sepasang kursi dan sebuah meja di dekat jendela.
"Boleh."
Pria itu dengan sigap mempersilakan Kaia duduk di kursi, membuat gadis itu tersipu. Lantas, Asta duduk di seberangnya dan memberikan buku menu.
"Gih, kamu pilih dulu mau makan apa?" Pria itu membiarkan Kaia memilih menu lebih dahulu.
"Hmm, kamu punya rekomendasi?" Kaia bertanya balik sembari membolak-balik buku menu.
"Aku menyarankan katsudon." Asta mengerling.
"Apa seenak itu?"
"Kamu bisa mencobanya dulu."
Kaia tertawa saat mendengar suara Asta yang terdengar bangga dan percaya diri. "Baiklah, dan minumnya aku akan memesan lime squash."
"Oke." Setelah mengatakan itu, Asta memanggil salah satu pramuniaga dan melakukan pemesanan.
Kaia tanpa sadar memperhatikan bagaimana Asta berbicara. Bibir tipisnya yang bergerak dan tersenyum saat mengatakan pesanan. Netranya yang sedalam lautan. Alisnya yang tebal dan hidung mancung dengan garis rahang cukup tajam. Dia bertanya-tanya, mengapa wajah pria itu berubah dewasa dengan begitu cepat.
Lantas, saat Asta tiba-tiba menoleh, Kaia buru-buru memalingkan wajah dan melihat keluar jendela. Tidak ingin pria itu mengetahui bahwa dia memerhatikan sejak tadi.
"Jadi, apa aja yang kamu lakukan hari ini, Kai?" Asta tiba-tiba bertanya dan saat dia menoleh, sang pramuniaga telah meninggalkan mereka.
"Hmm, ya begitulah. Aku selalu disibukkan dengan laporan yang tiada habisnya," jawab Kaia.
"Itu aja? Oh ya, aku nggak mengganggu kamu dengan tiba-tiba mengajak makan siang bersama kan? Barangkali sebelumnya kamu udah memiliki rencana."
Kaia menggeleng. "Aku nggak memiliki rencana apa pun selain makan siang di kafetaria kantor."
"Syukurlah kalau begitu."
"Sekarang, ceritakan. Bagaimana kabar Tante?"
"Kabar Mama baik-baik aja. Oh, kemarin Mama sempat marah karena Rena mengadopsi kucing lagi."
"Kenapa begitu?"
"Masalahnya, Rena udah punya tiga kucing dan dia memaksa untuk mengadopsi satu kucing lagi. Rumah kami jadi seperti shelter, meski kucingnya memang lucu-lucu dan Mama akan luluh pada akhirnya," ujar Asta panjang lebar.
"Pasti menyenangkan, meski agak chaos. Sejak dulu aku juga ingin pelihara kucing, tapi nggak punya waktu untuk merawat. Takutnya malah kutelantarkan." Kaia tertawa setelah mengatakan itu.
"Lain kali kamu pasti bisa melakukannya," ujar Asta berusaha meyakinkan.
"Yah, nanti saat aku tinggal sendiri." Kaia berkata pelan, ada nada getir dalam suaranya.
Sebelumnya, Kaia telah menceritakan apa yang terjadi padanya di pertemuan mereka kembali. Jadi, kurang lebih pria itu mengetahui situasinya saat ini.
"Kamu berencana tinggal berapa lama memangnya di apartemen sepupumu?" tanya Asta dengan hati-hati, tampak jelas bahwa pria itu berusaha untuk tidak menyinggung Kaia.
Dia paham itu dan tidak keberatan jika Asta menanyakan sedikit lebih jauh tentang kondisinya saat ini.
"Mungkin satu bulan atau lebih jika keadaannya nggak memungkinkan," jawab Kaia sembari mengedikkan bahu tidak yakin.
"Mau kubantu cari apartemen atau kamu mau cari tempat tinggal yang bagaimana?" Asta menawarkan diri untuk membantu.
Mendengarkan itu, Kaia buru-buru menggeleng. "Aku masih belun yakin langkah selanjutnya, jadi mungkin nggak begitu terburu-buru kecuali ada hal mendesak yang membuatku harus pindah dari apartemen sepupuku."
"Baiklah, katakan padaku kapan pun jika kamu butuh bantuan."
"Tentu."
Sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan, seorang pramuniaga tiba membawa pesanan mereka. Keduanya pun membiarkan obrolan itu terjeda. Wangi masakan yang baru saja datang dan dihidangkan seperti membangkitkan rasa lapar mereka yang sebelumnya tidak begitu mereka rasakan. Akhirnya, mereka mulai menikmati makanan itu.
***
"Sepotong es krim aja dan aku akan mengantarkanmu kembali." Itu yang Asta katakan setelah mereka selesai makan siang dan Kaia berniat untuk segera kembali ke kantor.
Akhirnya, gadis itu tidak mampu menolak permintaan Asta dan membiarkan si pria mengemudikan mobil ke sebuah minimarket terdekat.
Asta memintanya tetap berada di mobil, sementara pria itu turun dan masuk ke dalam minimarket. Kaia mengecek ponselnya sembari menunggu Asta kembali. Tidak lama kemudian, pria itu muncul dari balik pintu minimarket dan kembali ke mobil dengan senyum ceria.
"Nah, ini dia. Kamu suka rasa apa?" tanya Asta sembari menyerahkan sekantong es krim krim pada Kaia.
"Kenapa kamu membeli banyak sekali?" Kaia bertanya dengan nada terkejut karena melihat kantong plastik yang berisi beberapa jenis es krim itu.
"Nggak apa-apa. Aku nggak tahu es krim kesukaanmu dan lupa bertanya, jadi kubeli beberapa jenis. Ambil yang kamu suka, Kai," kata Asta dengan entengnya sembari mengemudikan mobil untuk kembali mengantarnya ke kantor.
"Astaga, aku bisa makan es krim apa pun. Memangnya siapa yang akan menghabiskan es krim sebanyak ini?"
"Kita," jawab Asta singkat dan tertawa lepas.
"Aku nggak, ya. Perutku udah kenyang, ini mungkin cuma bisa makan satu es krim aja."
"Kita harus habiskan semuanya."
Kaia menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya, sedangkan Asta sibuk tertawa kecil.
"Oke, oke, kalau begitu. Sekarang, kamu mau rasa apa? Biar kubantu bukakan," tawar Kaia.
"Aku mau mencoba rasa mangga. Apakah itu enak?"
Kaia segera membuka bungkus es krim itu dan menyodorkan pada Asta. "Aku juga nggak tahu dan kamu bisa membuktikannya sekarang.
Asta menyambut es krim itu dengan senang hati dan tiba-tiba saja tampak terkejut. "Ini enak."
"Oh, ya?"
"Iya. Ayo, dimakan, Kai!" titah Asta saat melihat Kaia belum juga mengambil es krim dan menikmatinya.
Gadis itu mengangguk dan merasakan salah satu es krim rasa melon.
"Ini juga enak," kata Kaia antusias.
"Nah, habiskan."
"Hei, kamu yang membeli sebegini banyaknya. Jadi, kamu yang harus menghabiskannya," protes Kaia dengan ekspresi yang refleks cemberut.
"Iya, iya, aku akan membantu menghabiskan." Asta tertawa melihat reaksi Kaia.
Hal itulah yang membuat Kaia terpana dan untuk sesaat tenggelam kembali dalam pesona Asta yang tertawa begitu tampan. Mungkin, rasa itu tidak menghilang dan kini kembali mendesak muncul meski mereka terpisah selama beberapa tahun terakhir.
Namun, sering kali Kaia merasa bahwa tidak seharusnya dia memiliki perasaan itu sehingga dia berusaha untuk menyangkal. Begitu pula kali ini, dia berusaha untuk tidak memperlihatkan perasaan itu dan ikut tertawa bersama Asta.
Ketakutan terbesarnya adalah jika teman masa kecil yang lama tidak dia temui ini akan merasa tidak nyaman jika mengetahui perasaan Kaia. Oleh karena itu, dia berusaha untuk memendamnya agar semua baim-baik saja.[]