Hari-hari kerja setelah kembali dari cuti tidak begitu berbeda dari sebelumnya. Hanya saja, Kaia merasa sedikit lebih baik dan rileks daripada sebelumnya. Namun, tetap saja melihat sejumlah laporan yang menumpuk di meja sudah cukup membuatnya menghela napas.
"Permisi, Kak Kaia," sapa Nata, juniornya itu berdiri di samping meja kubikel dengan senyum sungkan.
"Oh, halo, Nata."
"Maaf mengganggu, Kak. Bagaimana kondisi dan cuti Kakak?" tanya gadis itu.
"Ah, kondisiku udah lebih baik. Terima kasih udah peduli. Cuti juga terasa cukup menyenangkan," jawab Kaia.
"Aku senang Kakak menikmati waktu istirahat."
Kaia tertawa. "Terima kasih."
"Jadi, maaf mengganggumu setelah kamu kembali dari cuti, Kak. Ehm, Pak Dion meminta supaya laporan dari cabang Pontianak dicek oleh Kakak," kata Nata, jelas terlihat tampak tidak enak hati karena menemuinya segera setelah kembali dari cuti pendek.
"Oke, terima kasih ya, Nat," ujar Kaia dan menerima dokumen dari tangan juniornya.
"Aku harap selanjutnya Kakak mendapat waktu cuti yang lebih panjang ya, Kak."
Kaia tertawa. "Terima kasih, ya."
"Kalau begitu, aku permisi, Kak," pamit Nata takut-takut.
"Iya, selamat bekerja ya, Nata."
Setelah itu, Kaia kembali disibukkan dengan berkas-berkas yang telah menggunung untuk dicek dan direvisi karena terjeda oleh cuti. Hari ini dia harus kembali bekerja ekstra keras.
***
Kaia memasang klip terakhir pada laporan yang akan dia kumpulkan ke Pak Dion tatkala ponselnya bergetar dan sebuah pesan baru muncul di notifikasi. Gadis itu merapikan lembar-lembar laporan dan menyimpannya dalam sebuah map. Dia tersenyum pada beberapa rekan kerja yang menyapa saat pergi makan siang. Lantas, diambilnya air minum dalam botol dan diteguknya dengan cepat sebelum meninggalkan meja sembari mengecek ponsel.
Pesan itu ternyata berasal dari nomor yang belum dia simpan.
"Hai, Kai, ini Asta. Simpan nomorku, ya."
Kaia cukup terkejut membaca pesan itu. Semalam dia memang sedikit memikirkan kenapa Asta tidak juga mengirim pesan, siang ini pertanyaan itu terjawab. Akan tetapi, sebelum dia sempat menjawab pesan itu, Asta telah mengirimkan pesan baru.
"Apa ini jam istirahat kantormu?"
Pesan itu membuat Kaia terdiam sejenak, kemudian dia membalas, "Hai, oke, Ta. Saved. Iya, ini jam istirahatku. Ada apa?"
Tidak sampai tiga menit, pesan balasan masuk.
"Aku ada urusan di sekitar kantormu, kalau nggak keberatan mau makan siang bersama? Biar kujemput."
Kaia menimbang-nimbang ajakan itu. Waktu kini semakin bergulir dan jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih. Tidak banyak waktu untuk makan siang, tetapi kapan lagi bisa makan siang dengan Asta.
"Boleh, Ta, tapi aku nggak bisa terlalu jauh dan pukul 1 harus sudah tiba di kantor kalau kamu nggak keberatan juga." Akhirnya dia membalas.
"Oke, share lokasi kantormu, ya. Kujemput sekarang."
Pesan diakhiri dengan Kaia yang mengirimkan lokasi kantornya pasa Asta. Senyuman dan rona di wajah tidak dapat dia sembunyikan lagi.
Pintu lift berdenting dan Kaia mengikuti serombongan pegawai menuju lantai bawah. Biasanya dia akan makan di kafetaria atau pantry saat membawa bekal. Hari ini rencananya dia akan membeli makan di kafetaria yang berada di lantai dasar. Namun, dia harus mengurungkan niatnya karena kali ini dia turun untuk menemui Asta dan makan siang bersama.
Gadis itu menunggu di lobi dengan perasaan yang tidak dapat digambarkan dengan apa pun karena demi Tuhan dia sangat gugup. Dia pikir setelah bertemu dan bertukar kontak kemarin, Asta hanya akan sesekali mengajaknya berkumpul dengan kawan-kawan lama. Akan tetapi, ternyata pria itu justru menghubungi lebih dulu dan mengajaknya makan siang bersama. Apakah dia bermimpi? Bolehkah dia sesenang ini?
Saat dia masih tenggelam dalam lamunan di kursi lobi, tiba-tiba Asta meneleponnya. Sontak, dia mengangkat panggilan itu dengan cepat. Diam-diam merutuki diri sendiri karena terlalu bersemangat.
"Ya, halo, Ta. Ada masalah?"
"Halo, Kai. Nggak, bukan ada masalah, tapi aku udah sampai di depan lobi," jawab Asta dari seberang.
"Oh, ya? Tunggu, aku keluar dari lobi. Kamu naik apa?"
Kaia bergegas bangkit dan netranya mencari-cari keberadaan mobil Asta. Dia keluar dari lobi dan melihat Asta melambaikan tangan dari dalam sebuah HRV.
"Kamu melihatku?" tanya Asta.
"Ya, ya. Aku segera ke sana, kututup, ya." Kaia menutup telepon dan menghampiri mobil Asta yang mengantre di antara mobil-mobil lain di depan lobi. Sementara itu, si pengemudi dengan kemeja flanel biru dan kaus hitam telah menunggu di luar mobil.
"Hai," sapa Kaia begitu tiba di hadapan Asta.
Pria itu tersenyum senang. "Hai, yuk! Berangkat sekarang?"
Kaia mengangguk dan mengikuti Asta yang membukakan pintu penumpang depan untuknya. Sementara Asta memutar untuk kembali ke kursi pengemudi, Kaia berusaha menenangkan jantungnya yang bertalu cepat saat menerima perhatian dari pria itu. Dia belum pernah dekat lagi dengan seorang pria dan melihat bagaimana Asta memperlakukannya dengan baik membuatnya sangat berdebar. Mau tidak mau, dia berusaha mengusir rona merah di pipinya dengan menatap keluar jendela sembari mengipas wajah.
"Nah, jadi ... Aku tanya dulu, kamu mau makan apa?" tanya Asta begitu duduk dengan nyaman di kursi pengemudi dan menjalankan mobil keluar dari kantor Kaia.
Gadis itu belum menjawab dan tampak berpikir. "Hmm, aku bisa makan apa pun. Lagi pula aku biasanya hanya mengisi perut dengan masakan kafetaria, jadi nggak terlalu banyak tahu soal makanan di luar kantor kecuali mi ayam Pak Mur."
Dia tertawa canggung. "Sorry, Ta. Aku nggak begitu tahu tempat makan enak di sekitar sini."
"No, don't be, Kai. Aku tahu kalau makan keluar juga cukup merepotkan karena waktu istirahat yang terbatas," Pria itu tertawa renyah dan melanjutkan, "Aku pernah makan di salah satu kafe yang menjual katsu enak, kamu mau?"
Kaia mengangguk. "Boleh."
"Oke. Sudah diputuskan."
"Omong-omong, kamu ada urusan apa di sekitar sini, Ta?" tanya Kaia berusaha memecah keheningan setelah topik makan siang berakhir.
"Ada klien yang harus kutemui. Lalu, aku ingat kemarin kamu bilang bekerja di perusahaan sekitar sini. Jadi, kupikir akan menyenangkan kalau bisa makan siang dan mengobrol lagi denganmu." Jawaban Asta begiru sederhana, tetapi Kaia yang dibuat terlena.
Cukup. Dia tidak boleh berharap banyak. Memang kebetulan saja Asta merasa menjadikannya teman makan siang akan menyenangkan. Kaia tidak berani untuk berharap lebih jauh.
"Ah, begitu. Urusanmu dengan klien udah selesai?"
Asta mengangguk. "Setelah ini mungkin aku akan kembali dan mengecek kafe. Kamu sendiri bagaimana hari ini?"
"Baik, kembali bekerja setelah cuti ternyata tidak begitu berubah," jawabnya sambil tertawa kecil.
"Kamu mungkin butuh lebih banyak cuti untuk beristirahat dan membaca banyak buku seperti yang kamu lakukan dulu saat masih sekolah," timpal Asta yang membuat Kaia tersipu karena pria itu masih mengingat hobinya sampai sekarang.
Dan, hari itu Kaia membiarkan percakapan mengalir lagi untuk saling membagi kabar serta mengembalikan keakraban yang terlewat.[]