Kupu-Kupu

1026 Words
Obrolan itu mengalir begitu saja sampai Kaia tidak menyadari bahwa dia sudah berjam-jam di Orion. Sesekali mereka tertawa karena candaan Asta yang masih saja menggelitik. Bahkan, pria itu masih tidak banyak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. "Aku benar-benar heran dengan tingkah mereka. Lain kali kamu harus bertemu lagi dengan Rania dan Ghian," kata Asta, setelah mengabarkan tentang kawan lama mereka di masa sekolah. "Mereka masih aja banyak tingkah, ya?" "Aku udah nggak heran. Bisa-bisanya pembukaan kafe mereka justru cosplay maskot." Kaia tertawa mendengarnya. Sudah lama sekali dia tidak mengetahui kabar teman-teman sekolahnya. Dulu saat di SMA, Kaia, Asta, Rania, dan Ghian biasanya memang bermain bersama. Mereka banyak menghabiskan waktu belajar kelompok, pergi menongkrong, atau sekadar makan di kantin bersama. Namun, setelah itu Kaia pindah dan tidak bisa menghubungi mereka lagi. Ternyata, hingga saat ini pertemanan Asta dengan keduanya masih terjalin dengan baik. Dia merasa senang. "Artinya, mereka mendukung penuh usaha kamu," ujar Kaia setelah tawanya mereda. "Yah, aku senang, tapi malu dengan tingkah mereka." "Berarti kabar mereka baik-baik aja, ya?" "Tentu, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Ghian untuk menongkrong bersama." "Syukurlah kalau begitu." Percakapan mereka terhenti saat tiba-tiba ponsel Asta berbunyi dan mengalihkan perhatian mereka. "Sebentar ya, Kai. Kamu enjoy aja dulu di sini, aku izin angkat telepon dulu," pamit Asta yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Kaia. Pria itu pasti sebenarnya sibuk, tetapi justru terlalu asyik mengobrol dengannya. Dia menatap dari jauh bagaimana Asta berbincang melalui ponsel. Figur pemuda dalam pria itu benar-benar mulai menghilang dan berubah menjadi pria dewasa. Waktu delapan tahun ternyata begitu cepat untuk mengubah penampilan seseorang. Namun, bahkan jantung Kaia masih tetap berdegup kencang sama seperti saat mereka masih bermain bersama dulu. Dia dapat merasakan wajahnya memerah saat melihat Asta menyugar rambut. Padahal, Kaia tidak pernah merasa suka atau jatuh cinta dengan seseorang hingga saat ini. Akan tetapi, saat dia bertemu kembali dengan Asta kenapa perasaan aneh itu kembali muncul? Dia sendiri ragu harus menamai perasaan ini dengan apa. "Sorry ya, Kai, obrolan kita jadi terjeda." Tiba-tiba, Asta telah kembali duduk di seberang Kaia. Gadis itu berdeham gugup. "Santai aja, kamu pasti sibuk. Lanjut aja kalau ada pekerjaan lain, Ta." "Yah, masih nanti juga, sih. Bagaimana cheesecake-nya? Apakah sesuai sama seleramu?" tanya Asta. "Hmm, aku bukan penggemar kue-kue sebenarnya, tapi menurutku ini enak dari cheesecake yang pernah aku rasakan sebelum-sebelumnya," jawab Kaia jujur. "Be honest," balas Asta. "Aku serius. Bukan karena aku nggak enak sama kamu, tapi ini benar-benar enak. Aku juga udah mencoba pastry coklat tadi dan menurutku rasanya pas karena aku menyukai coklat yang tidak terlalu manis." Kaia benar-benar tidak berbohong karena dia hampir menghabiskan kue di piring kecil itu. Dia benar-benar jujur soal bukan penggemar kue dan menurutnya cheesecake pun pastry di Orion cocok di lidahnya. "Terima kasih. Aku menganggapnya sebagai sebuah review yang berharga kalau begitu," ujar Asta. "Dengan senang hati, tapi aku sepertinya harus membayar cheesecake ini." Asta langsung memberikan gestur menolak. Pria itu tampak tidak setuju dengan ide Kaia. "Sudah kukatakan, kamu tidak perlu melakukannya. Anggap saja karena kamu juga udah memberikan review yang bagus." Kaia ingin mendebat, tetapi Asta sudah menunjukkan bahwa pria itu memaksa. "Okay, then ... Thank you." Asta tersenyum setelah mendengar itu. "Oh, ya. Kamu sekarang tinggal di mana, Kai? Bagaimana bisa kita nggak pernah bertemu padahal di kota yang sama?" "Aku juga nggak tahu. Saat ini, aku tinggal bersama sepupuku di daerah Kebayoran." "Benarkah?" Asta terlihat terkejut. "Kalau kamu mau pulang akan kuantar kalau begitu, kebetulan aku ada beberapa urusan di daerah sana." "Jangan, Ta. Aku tidak ingin merepotkan kamu lebih banyak." "Siapa bilang? Kamu harus merasakan bagaimana aku menjadi sopirmu. Kali ini, aku lebih baik dalam menyetir mobil daripada menyetir motor. Kuharap kamu nggak mengalami trauma karena kejadian sembilan tahun lalu," kata Asta dengan nada setengah menggoda. Kaia mengernyitkan kening, berusaha mengingat yang terjadi sembilan tahun lalu. Sebab, sejujurnya gadis itu memang hanya tidak ingin merepotkan Asta lebih banyak lagi. Lantas, dia menutup mulut tidak percaya saat mengingat mereka pernah jatuh naik motor bersama saat masih berada di bangku kelas dua SMA. "Aku bahkan benar-benar lupa sama kejadian itu. Tentu bukan karena trauma, aku hanya nggak mau merepotkanmu lebih jauh." Dia tertawa mengingat kekonyolan itu. Mereka yang saat itu masih suka membangkang, terutama Asta sebagai seorang pemuda dengan adrenalin tinggi. Saat itu, sore hari setelah pulang sekolah seperti biasa Kaia akan belajar bersama di rumah Asta dan tiba-tiba saja pemuda itu masuk kamar sembari membawa kunci dan dua helm di tangan. Asta mengatakan bahwa dia diizinkan meminjam sepeda motor milik sepupunya yang saat itu tengah singgah. Semula, Kaia sempat ragu, tetapi karena Asta berusaha meyakinkan akhirnya dia setuju saja diajak bersepeda motor. Namun, yang tak disangka justru mereka mengalami kecelakaan tunggal karena Asta yang belum terlalu terbiasa mengendarai sepeda motor justru kehilangan keseimbangan. Beruntung tidak ada luka yang serius. "Kali ini aku janji akan mengantarkanmu dengan aman dan selamat karena aku tidak seceroboh dulu," kata Asta, berusaha meyakinkan. Kaia tertawa kecil sebelum menjawab, "Baiklah. Aku percaya padamu." "Bagus. Nah, katakan kapan pun kamu akan pulang." "Kapan kamu harus pergi?" "Bisa kapan aja." "Mungkin, sekarang aja? Sepertinya kamu buru-buru," kata Kaia sungkan. "Hei, nggak sama sekali." Gadis itu mengecek arlojinya dan waktu sudah mulai petang. Dia mungkin harus pulang secepatnya jika tidak ingin membuat Rere khawatir. "Udah mulai petang juga, aku berniat pulang sekarang." "Kamu yakin?" tanya Asta sekali lagi. "Okay, yuk." Mereka pun meninggalkan kafe. Asta sempat berbincang sebentar dengan pegawainya sebelum menyusul Kaia yang menunggu di luar kafe. Dia berusaha menyiapkan diri karena akan berada di mobil yang sama dengan Asta selama beberapa puluh menit ke depan. Dia tidak ingin terlihat terlalu senang atau terlihat aneh di depan pria itu. Kegelisahan tentang sang mama sejenak mampu dia pendam ketika bertemu kembali dengan Asta. Dia merasakan harapan baru saat mengetahui bahwa pria itu masih mengenal dan mengingatnya. Hari ini benar-benar penuh kejutan tak terduga yang membuat jantungnya serasa meletup. Namun, Kaia berpikir apakah benar jika dia merasakan perasaan ini? "Yuk, Kai!" Kaia mengangguk dan mengikuti menuju tempat mobil pemuda itu terparkir. Kali ini, dia berharap wajahnya tidak memerah saat mereka berada di mobil yang sama dan membuat Asta tersadar akan hal itu.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD