Dunia terkadang bisa terasa sangat sempit dan luas secara bersamaan. Setelah acara tur buku Hiraeth berakhir dan Kaia berkesempatan untuk meminta tanda tangan, tiba-tiba hujan turun begitu deras. Alhasil, dia harus menunggu hujan agak mereda sebelum pulang.
Beberapa peserta yang tersisa tampak mulai meninggalkan kafe, sedangkan yang lain memilih untuk berteduh. Kaia sendiri mengambil tempat duduk di dekat jendela setelah memesan satu coffee latte sembari menununggu hujan yang tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Kafe ini terasa tenang dan nyaman saat hujan turun, jika tempatnya tidak begitu jauh mungkin dia akan sering datang kemari. Selagi berada di sini, dia akan menghabiskan waktu sepuasnya. Kaia agak menyesal karena tidak membawa laptop, barangkali dia bisa sembari mengerjakan sesuatu.
Ah, lagi-lagi dia masih memikirkan pekerjaan di tengah cuti. Jika Rere mengetahui itu, dia pasti mendapat omelan panjang.
Kaia mengamati interior kafe dan baru menyadari bahwa di sini mereka juga menjual buku. Dia refleks bangkit untuk mendekati rak yang berjejer buku-buku. Dia melihat beberapa buku yang dikenalnya dipajang di etalase. Beberapa buku menarik minatnya.
"Silakan, Kak. Kita menyediakan beberapa buku lain milik Diamara juga yang baru saja mengadakan tur buku di sini."
Tiba-tiba seseorang bersuara dari belakangnya. Kaia menoleh dengan sedikit terkejut.
"Oh, ya ... Eh—" Kata-kata Kaia tertahan begitu mengenali seseorang yang berbicara padanya.
Dia kira orang itu pramuniaga atau pegawai kafe lainnya, tetapi betapa terkejutnya dia saat menemukan seseorang yang tidak dia sangka-sangka. Pria tinggi berkacamata itu juga menampakkan wajah yang sama terkejutnya.
"Kaia?"
Kaia tiba-tiba saja gugup. "Asta ..."
Seseorang yang sudah lama tidak dia temui sekaligus tidak pernah dia kira akan bertemu lagi tiba-tiba berada di depan matanya. Pemuda yang dulu tampak agak berandal dengan tatapan mata tengil itu kini berubah menjadi pria berkacamata dengan pakaian yang rapi. Kaia tidak siap mengetahui perubahan itu. Jantungnya kembali berdegup dengan cepat dan dia merasa salah tingkah.
"Kamu apa kabar, Kai?" tanya pria itu dengan antusias dan tersenyum lebar.
"A-aku, baik. Ya, aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana kabarnya, Ta?" Kaia bertanya balik. Dia merutuki dirinya yang tergagap dan pasti terlihat sangat bodoh di depan Asta.
"Syukurlah, aku juga masih sama saja seperti dulu. Senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Aku juga, senang bertemu denganmu lagi."
Andai, Asta tahu bahwa jantung Kaia hampir meloncat keluar saking senangnya bisa bertemu kembali dengan pria yang semula sudah berusaha dia lupakan. Namun, pertemuan ini seolah memberi tanda bahwa dia tidak boleh melupakan pria itu. Betapa naifnya Kaia.
"Kamu kerja di sini?" tanya Kaia setelah keheningan yang cukup panjang karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Oh, ya ... Bisa dibilang begitu, aku mengelola kafe ini," jawab Asta masih dengan senyum ramah.
"Wow, jadi kamu pemilik kafe ini?" tanya Kaia, terkejut.
Asta tersenyum dan mengangguk malu-malu sambil menggaruk rambut. "Begitulah."
"Keren. Aku tidak tahu kamu akan tertarik mendirikan kafe, kukira dulu kamu ingin menjadi arsitek?" goda Kaia, berusaha mencairkan suasana agar tidak canggung.
Asta tertawa malu. "Yah, ini untuk penghasilan tambahan aja. Kamu mau minum atau makan?"
"Ah, aku udah memesan tadi." Kaia menunjuk secangkir coffee latte di meja dekat jendela yang dia tinggalkan. "Tadi aku melihat rak buku ini dan baru menyadari kalau ternyata kafe ini juga menjual buku."
"Iya ... Belum lama ini aku menambahkan rak dan menyediakan beberapa buku yang bisa dibeli di sini. Bagaimana kalau kita duduk? Aku masih ingin menanyakan kabarmu." Kaia mengangguk menjawab pertanyaan itu.
Mereka akhirnya kembali ke bangku yang semula Kaia pilih. Lantas, Asta justru berpamitan ke meja pemesanan dan kembali dengan membawa sepotong cheesecake.
"Kamu suka cheesecake?" tanya Asta tiba-tiba.
"Ya? Oh, lumayan."
"Bagus, karena aku mau kamu merasakan resep baru kami." Pria itu tersenyum tulus.
"Eh, kenapa?"
"Nggak apa-apa, kalau kamu berkenan mencoba ini. Nggak perlu bayar."
"Oke ... Kamu nggak perlu repot-repot."
"Tentu aja nggak merepotkan. Aku senang kalau kamu mau memberi saran karena kami berniat meluncurkan menu ini mulai hari ini."
Kaia tertawa kecil. Asta masih tidak pandai berbohong hingga saat ini. Pria itu hanya ingin berbuat baik di pertemuan mereka kembali, mungkin.
"Aku paham. So, thank you, i guess?"
"My pleasure. Nah, sekarang kamu bisa menikmati kue ini dan kita lanjutkan obrolan."
"Baiklah. Bagaimana kabar keluarga kamu dan Rika?" Kaia akhirnya menanyakan tentang keluarga dan adik Asta yang dulu pernah begitu dekat dengannya.
Tidak hanya satu atau dua tahun mereka menghabiskan waktu bersama sehingga Kaia bisa begitu dekat dengan keluarga Asta. Keluarga pria itu dulunya tinggal bersebelahan dengan rumahnya yang lama. Namun, karena satu dua alasan, Kaia harus meninggalkan rumah itu dan tidak bisa menghubungi Asta.
"Kami sekeluarga juga baik-baik aja. Rika sekarang udah jadi mahasiswa, bisakah kamu membayangkan anak remaja itu sekarang mulai tumbuh dewasa. Dia semakin susah diatur."
Kaia tertawa. Dia jelas mengingat bagaimana Asta dan sang adik yang dulu sulit untuk akur. Rika yang dulu masih SMP dan remaja labil kini sudah tumbuh dewasa. Remaja itu pasti telah tumbuh menjadi gadis cantik.
"Dia pasti udah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik."
Asta memutar bola mata mendengar perkataan Kaia. "Yaa ... Begitulah, dia jadi semakin sulit dijahili dan mudah marah."
"Tentu, kamu masih suka menjahili Rika."
"Itu adalah kepuasan tersendiri ketika menjadi seorang kakak."
Mereka tertawa bersama.
"Sekarang aku yang bertanya, bagaimana kabar Tante?" Pertanyaan Asta membuat Kaia terenyak.
Dia kembali mengingat bagaimana Mama terbaring pucat dan telah tiada.
"Hmm, Mama sempat sakit, tapi sekarang udah bahagia di tempat lain," jawab Kaia dengan suara yang terdengar bergetar. Dia berusaha agar tidak tampak bersedih dan membuat Asta merasa bersalah.
Akan tetapi, sepertinya sudah terlambat karena pria itu tampak terkejut dan ekspresinya menjadi serius.
Asta berdeham sebelum mengatakan, "Sorry, Kai. Aku nggak tahu kalau Tante sempat sakit. Jadi, Tante sekarang udah tiada?"
Kaia mengangguk. Dia merasa tenggorokannya tiba-tiba terganjal dan buru-buru meneguk coffee latte-nya, menahan kesedihan yang mendesak keluar. Dia tidak ingin dikasihani, terlebih oleh Asta yang mengetahui kisah-kisah kelamnya di masa lalu.
"Tapi, aku udah baik-baik aja, Ta. Aku lebih suka melihat Mama nggak sakit lagi," ujarnya sambil berusaha tersenyum ceria.
"Semoga Tante bahagia di atas sana, Kai."
"Aku juga selalu mendoakan Mama begitu. Terima kasih, Ta. Nah, sekarang aku udah baik-baik aja. Ceritakan, jadi kamu mengelola kafe ini dan bekerja sebagai arsitek?" Kaia berusaha mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin pertemuan mereka justru diisi dengan ingatan tentang dukanya.
Asta tampaknya juga mengerti dan tidak mengatakan atau menanyakan apa pun lebih jauh tentang Mama Kaia. Mereka kembali berbagi cerita dan kabar selama tidak bertemu. Bahkan, Kaia tidak lagi memperhatikan hujan yang mereda sepenuhnya. Dia seperti terhipnotis oleh keberadaan Asta saat ini dan membiarkan obrolan terus mengalir.[]