“Kaia! Kai! Kaia!”
Suara sayup-sayup itu seperti menarik Kaia Paramitha dari alam bawah sadarnya. Gadis itu membuka mata dan mendengar keramaian di sekitarnya. Rere, sang sepupu memeluk dan mengelus punggungnya.
“Kai, aku tahu ini berat buat kamu.”
Lantas, seperti baru saja diguyur oleh air es, gadis itu akhirnya tersadar.
“Mama! Mama gimana?”
“Tante udah dimakamkan, Kai,” jawab Rere dengan nada bergetar.
Apartemen yang biasanya hanya diisi oleh dia dan sang mama kini terdengar cukup ramai. Entah siapa yang berada di apartemennya saat ini. Namun, mengingat kenyataan bagaimana Mama tidak lagi berada di dunia ini membuat air mata gadis itu tidak mampu lagi dibendung.
Ingatan itu datang silih berganti, bagaimana dokter mengabarkan bahwa Mama tidak bisa diselamatkan dan saat dia kehilangan kesadaran setelah melihat tubuh mamanya dimakamkan. Tangisnya semakin keras hingga d**a Kaia terasa begitu sesak.
“Mama, Re. Mama.”
“Iya, Kai. Kamu yang tenang dan tabah, ya.” Rere memeluk dan mengelus punggung Kaia, berusaha menenangkan gadis yang masih menangis sesenggukan itu.
Kaia bisa melakukan apa pun. Dia bisa bekerja tanpa henti demi Mama. Dia rela menambah kerja part time jika bisa menghasilkan banyak uang demi menyembuhkan Mama. Namun, jika Mama—satu-satunya orang yang dia miliki di dunia—meninggalkannya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana menghadapi hari-hari berikutnya. Rasa sesak itu tidak juga meninggalkannya sementara Rere terus memeluk dan berusaha menenangkannya.
“Kai, yang tabah, ya. Tante udah nggak merasa sakit lagi.” Seperti sebuah mantra, Rere mengatakan itu berkali-kali hanya demi menenangkannya yang tidak juga berhenti tersedu.
Rasanya aneh, dia sudah menangisi Mama semalaman, tetapi air mata masih terus mengalir. Kenyataan bahwa dia tidak lagi bisa menemui Mama membuatnya semakin sesak. Rasanya seperti separuh nyawa Kaia ikut pergi dibawa Mama.
Dia tidak ingat berapa lama dirinya menangis. Kaia merasa kepalanya pusing dan air mata tidak lagi bisa keluar. Rere sudah mengambilkan air untuk dia minum beberapa teguk sebelum kembali melamun. Apartemen juga mulai sepi dan hanya tersisa Rere serta ibu Rere yang berada di sana.
“Kai, Tante udah masak makan malam. Makan dulu, yuk! Rere juga udah menyiapkan makanan di meja makan,” bujuk Tante Laila—ibu Rere.
Kaia tidak memiliki tenaga untuk menjawab, tetapi dia mengangguk. Tante Laila menggiringnya menuju ruang makan kecil apartemennya. Dia tidak memiliki nafsu makan, tetapi melihat bagaimana Tante Laila dan Rere repot-repot menyiapkan makanan, dia tidak akan sampai hati jika tidak memakannya.
“Terima kasih, Tante, Rere. Maaf, merepotkan kalian,” kata Kaia pelan.
“Jangan begitu, Tante dan Rere nggak merasa direpotkan.”
“Iya, Kai. Kami akan menemani kamu selama beberapa hari terakhir, ya.”
Kaia mengangguk dan membalas senyum ibu-anak di depannya. Dia beruntung masih memiliki Tante Rere dan Laila yang membantunya mengurus pemakaman Mama juga menemani dia saat ini. Namun, bagaimana pun tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran dan keberadaan Mama saat ini.
Apartemen yang sudah bertahun-tahun ditinggalinya seperti meninggalkan jejak Mama di mana-mana, meski beberapa bulan terakhir Mama menghabiskan waktu di rumah sakit. Peralatan rajut Mama masih tampak di nakas ruang tamu sekaligus ruang tengah mereka. Buku-buku resep milik Mama pun masih berjejer rapi di rak, mengingatkan pada kenangan yang tidak akan bisa terjadi lagi.
“Aku akan menginap beberapa hari di sini,” kata Rere di tengah acara makan mereka.
Kaia menatap khawatir dan menggeleng lemah, “Jangan, jaraknya terlalu jauh dari tempat kamu bekerja, Re. Aku akan baik-baik saja, kok.”
“Kamu mulai keras kepala. Aku mau menginap di sini dulu ya, Kai. Apa salah kalau aku mau menemani kamu?”
“Iya, Tante nggak bisa menemani karena harus pergi ke luar kota, Kai. Biar Rere yang menemani kamu, ya,” bujuk Tante Laila dengan suara lembut.
Melihat bagaimana kedua orang di depannya tetap bersikeras dan begitu peduli, Kaia tidak bisa menolak. Dia mengangguk. “Oke, Tante. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi berterima kasih pada kalian.”
“A, a, a …” Tante Laila menggerakkan telunjuk ke kanan dan kiri, isyarat agar Kaia tidak perlu memikirkan itu.
“Mamamu itu kan juga saudara Tante, kamu jangan sungkan-sungkan buat minta tolong sama Rere atau Tante. Kami pasti akan berusaha membantu selama masih bisa dibantu, Kai.”
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Kaia. “Iya, Tante. Terima kasih banyak.”
“Nah, udah. Kamu mau tambah lagi makannya?” tanya Rere menawarkan, tetapi Kaia menggeleng.
Nasi dan lauk di atas piringnya masih tersisa setengah karena dia tidak terlalu nafsu makan. Ingatan tentang Mama terus terputar di otaknya. Setelah ini, dia hanya ingin menggelung tubuh di balik selimut dan membiarkan rasa sakit di dalam dadanya mereda. Keramaian yang dibuat oleh Rere dan Tante Laila tidak bisa mengobati rasa hampa dan sepi di dalam dadanya begitu saja.
***
Seminggu telah berlalu sejak kepergian Mama dan Kaia masih berusaha mengembalikan rutinitasnya yang kian hari kian hampa. Rere sudah meninggalkan apartemennya semalam dan menyisakan dirinya dalam kesendirian. Meski sebenarnya, Kaia belum terbiasa sendiri karena biasanya dia akan menghabiskan waktu di rumah sakit menunggui sang mama. Kini, kamar apartemen kecil itu terasa sangat luas saat dia meninggalinya seorang diri.
Kaia telah membersihkan dan menyimpan barang-barang Mama yang tertinggal di sebuah kotak penyimpanan. Apartemen itu mulai tampak kosong yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan. Ternyata, dia tidak siap untuk ditinggalkan Mama. Lagipula, siapa yang pernah siap saat ditinggalkan satu-satunya orang yang disayangi dan dimiliki.
Gadis itu bergegas mencuci piring sarapannya dan mengambil tas, sebelum meninggalkan apartemen. Bagaimana pun dia harus kembali bekerja seperti biasa. Kaia berusaha untuk tidak terus terpuruk dengan keadaan dan mulai berusaha mengikhlaskan sang mama. Kini, dia harus tetap menjalankan hidup demi melunasi hutang-hutang yang dahulu digunakan untuk biaya pendidikannya dan hidup sehari-hari.
Pagi di Kota Jakarta sudah begitu sibuk, lalu lalang kendaraan dan lautan manusia sudah memenuhi jalanan. Kaia meninggalkan apartemen dan berjalan beberapa ratus meter menuju halte terdekat. Dia harus menaiki Trans Jakarta untuk tiba di kantor tempatnya bekerja yang berjarak sekitar 30 menit dari apartemen tempatnya tinggal.
Rutinitas seperti ini sebelumnya tidak begitu terasa karena dia akan lebih mengkhawatirkan Mama. Pikirannya akan tersita pada kapan jam pulang tiba dan kembali ke rumah sakit untuk menemani Mama yang pasti merasa kesepian. Saat benar-benar merasakan rutinitas ini, Kaia merasa begitu bosan. Entah, mungkin karena dirinya sedang kehilangan arah sehingga segala hal yang dijalani terasa membosankan.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk di layar ponselnya. Perhatian Kaia terdistraksi, dia mengurungkan niat untuk membuka aplikasi musik dan membaca notifikasi itu. Sebuah pesan tagihan dari rumah sakit masuk beserta rinciannya. Gadis itu menghela napas panjang, hari-harinya mungkin akan lebih berat saat melihat total tagihan yang harus dibayar. Dia menahan air mata yang hampir jatuh kembali.[]