Kehidupan memang tidak pernah menjanjikan kebahagiaan, tetapi Kaia tidak menyangka kehidupan akan membuatnya begitu tidak berdaya. Cobaan yang dia rasakan seperti tiada habisnya. Setelah kepergian Mama begitu saja dari dunia dan dia harus melunasi tagihan rumah sakit, Kaia justru mendapat kabar mengejutkan lainnya.
Dia sedang membereskan barang dan ingin bergegas pulang setelah seharian bekerja saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Kaia mengangkat telepon dengan ekspresi heran karena tidak biasanya pengelola apartemen menghubungi jika memang tidak ada urgensi tertentu menyangkut apartemen yang dia sewa.
“Halo, Pak Sena! Ada apa, ya?” tanya Kaia setelah panggilan tersambung.
Pengelola apartemen yang Kaia kenal sebagai seorang pria paruh baya itu, terdengar agak ragu untuk menjawab. “Iya, Kak Kaia. Begini, saya harus menyampaikan informasi yang cukup mendadak. Saya paham Kak Kaia dan Bu Safira udah lama menyewa dan tinggal di apartemen kami, tetapi karena saat ini kami tidak bisa lagi mengelola apartemen sehingga besok kami harus mengosongkan gedung apartemennya, Kak.”
Suara Pak Sena yang menginformasikan kabar itu seperti menghantam kepala Kaia yang sudah sangat pusing dengan berbagai hal akhir-akhir ini. Gadis itu kembali terduduk di kursi kerjanya dan memijat pelipis.
“Kenapa mendadak sekali, Pak? Saya tidak bisa pergi begitu saja besok,” kata Kaia dengan nada memelas.
Tidak ada jawaban, hanya helaan napas dari Pak Sena yang terdengar dari seberang. Namun, Kaia juga berada di posisi yang sulit. Tidak mudah mencari apartemen murah dan cepat di tengah kepadatan ibukota ini. Apalagi, Kaia dan mamanya memang sudah lama menyewa dan menempati apartemen itu. Dia tidak mungkin bisa dengan mudah meninggalkan apartemen yang ditinggalinya bertahun-tahun bersama Mama begitu saja. Dia perlu waktu.
Meski apartemen lima lantai itu memang tidak banyak disewa karena kasus pembunuhan yang sebelumnya sempat terjadi. Namun, apartemen itu masih lebih baik dan lebih murah dari tempat lain.
“Tapi, Pak, begini saya juga udah lama menyewa dan menempati di sana. Memangnya kenapa tiba-tiba harus pindah?”
Terdengar helaan napas lagi dari seberang. “Apartemen kami itu udah agak tua dan kami memang berencana untuk menghentikannya setelah insiden beberapa tahun lalu itu, Kak. Penghuni lain juga udah kami beritahu dan mulai meninggalkan kamar sewa. Sekarang tinggal beberapa penghuni termasuk Kak Kaia.”
“Saya nggak bisa pergi dengan mendadak seperti ini, Pak. Lagi pula saya udah membayar biaya sewa bulan ini.”
“Kami akan mengembalikan sisa uangnya, Kak. Tolong, besok saya minta udah mengosongkan kamar, ya. Jika tidak, terpaksa kami harus memindahkan paksa barang-barang Anda.”
“Apa tidak bisa—”
“Pokoknya, saya mau besok kamar sudah dikosongkan.”
Panggilan telah ditutup sebelum Kaia sempat berbicara lagi. Keputusan pengelola apartemen sudah final. Dia menatap layar ponselnya yang telah mati, kemudian menutup wajah dengan kedua telapak tangan sembari menghela napas lelah.
“Kai, mau ikut makan malam bareng kita, nggak?” Seorang gadis dengan blus biru menghampiri meja Kaia, membuat si empunya meja menoleh.
“Ah, sorry, Grace hari ini aku skip dulu, ya.” Kaia berusaha menolak dengan halus. Dia tersenyum paksa.
“Ah, sayang sekali. Okay, kalau begitu hati-hati pulangnya, ya.” Grace—gadis dengan blus biru yang merupakan rekan kerja Kaia—mengangguk dan meninggalkan Kaia yang menjawab dengan anggukan seadanya.
Dia tahu beberapa rekan kerja yang dekat dengannya berusaha untuk menghibur dengan mengajak makan malam, tetapi saat ini pikirannya terlalu kalut untuk berbincang dengan mereka. Dia bisa melihat Grace kembali ke meja yang telah ditunggu beberapa rekan kerja lain dan berbincang pelan. Kaia tidak ingin berlama-lama di kantor dan harus segera memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini. Jadi, dia mengambil tas di meja untuk bergegas pulang.
Gadis itu melangkah gontai meninggalkan gedung perkantoran tempatnya bekerja. Tubuhnya terasa begitu lelah dan mengantuk, tetapi sejak kepergian Mama dia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Alhasil, jam tidurnya menjadi lebih berantakan dan dia tidak bisa beristirahat dengan cukup.
Kaia mendudukkan diri di kursi halte yang tersisa sembari mengecek arlojinya. Masih ada sekitar sepuluh menit lagi sebelum bus selanjutnya tiba. Kini, dia hanya melamun memikirkan nasibnya yang begitu buruk.
Ke mana dia harus pergi setelah ini? Dia tidak bisa meninggalkan apartemen tanpa kehilangan kenangan-kenangan bersama Mama. Sudah hampir tujuh tahun dia dan Mama menempati apartemen itu. Lalu, tiba-tiba saja dia harus pindah.
Satu-satunya orang yang saat ini terlintas di kepalanya untuk dimintai bantuan adalah Rere. Namun, dia sudah terlalu banyak merepotkan sepupunya itu. Belum lama Rere menemani dia di masa berkabung dan sekarang harus menampungnya. Kebimbangan menguasai pikiran Kaia karena dia tidak mungkin menemukan apartemen atau kos untuk tinggal sementara dengan uang yang tersisa di rekeningnya.
Di tengah lamunannya, bus yang dia nantikan telah tiba. Orang-orang yang menunggu mulai berhamburan menaiki bus tersebut, termasuk Kaia. Lantas, bus mulai meninggalkan halte menuju tujuan berikutnya. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di halte dekat gedung apartemen tempat dia tinggal.
Berkali-kali Kaia mengecek ponsel dengan ekspresi ragu. Dia membuka kotak pesan dan menatap roomchat bersama Rere dengan bimbang. Terakhir kali Rere mengirim pesan agar Kaia menjaga kesehatan dan tidak melupakan makan. Sepupunya itu memang sering kali khawatir cukup berlebihan padanya. Namun, dia tidak merasa terganggu.
Gadis itu mengetik beberapa kata di kolom pesan, tetapi menghapusnya kembali. Dia mengetuk-ngetukkan kaki hingga penumpang yang duduk di sebelahnya menatap dengan ekspresi terganggu. Kaia hanya bisa tersenyum sambil meminta maaf dengan pelan.
***
Lorong apartemen begitu sepi saat Kaia akhirnya tiba di sana. Tidak heran, mengingat penghuni di lantai ini hanya lima kamar dari lima belas kamar yang tersedia dan dia tidak tahu apakah tetangga apartemennya sudah meninggalkan kamar sewa atau belum. Kaia berusaha menyeret kakinya hingga memasuki kamar.
Dia menggantung tas kerjanya dan duduk di ranjang dengan perlahan. Netra gadis itu menatap ke sekeliling apartemen yang masih penuh dengan barang-barang. Dia tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengemasi barang-barangnya.
Kaia akhirnya mengirim pesan pada Rere. Dia meminta pertolongan pada sepupunya untuk ke sekian kali karena tidak tahu harus pergi ke mana. Saat ini, dia masih menunggu jawaban dari sang sepupu. Jawaban itu dia terima saat panggilan telepon dari Rere masuk ke notifikasi ponsel.
“Halo, Kai! Kamu udah pulang ke apartemen?”
“Halo, udah, Re.” Suara Kaia terdengar lemah dan lelah.
Seperti mengetahui bagaimana kondisi Kaia, Rere kembali menjawab, “Ya udah, tunggu aku ke situ, ya. Aku bantu beresin barang-barangnya.”
“Eh, kamu nggak perlu ke sini, Re. Kalau emang boleh untuk sementara waktu aku tinggal di apartemen kamu, aku—"
“Sst, udah. Kamu nurut sama aku dulu, Kai. Tunggu, aku udah dapat ojolnya, nih. Aku matikan dulu panggilannya, ya.”
“Iya. Terima kasih, Re.”
Panggilan ditutup, meninggalkan Kaia yang kembali terdiam. Beberapa waktu terakhir, gadis itu merasa begitu tidak berdaya. Dia selalu bertumpu pada sepupunya dan itulah yang membuatnya semakin tidak enak hati.
Kaia menahan sesak di dadanya yang kembali datang. Air matanya berusaha dia tahan sekuat tenaga. Akan tetapi, saat pintu apartemen terbuka dan dia melihat Rere, tangis Kaia akhirnya pecah. Sepupunya segera menghambur dan memeluk Kaia dengan erat.
“Sshh … Nggak apa-apa, Kai.”[]